
"Kata orang pemandangan paling indah itu adalah saat matahari terbenam namun,hari ini aku menyadari bahwa keindahan sang jingga tak mampu menandingi keindahan semyummu".
Kini Dimas dan Max sedang berapa di luar *showroom* ponsel itu.
"Dimas,kenapa kamu nggak jadi beli handphone sih terus ngapain sekarang",kata Max yang sejak tadi sudah pusing dengan kelakuan Dimas.
" Ah terserah lo deh kemana,yang penting kita cepat pergi dari sini",
Tak berapa lama Tari dan Bima pun selesai memilih ponsel,mereka berdua keluar dari showroom itu.
"Ah mas Bima saya benar-benar nggak enak benda ini begitu mahal,eh...gimana kalau saya mencicilnya setiap gajian saya janji saya akan terus melunasinya", kata Tari saat hendak memasuki mobil,
" Sudahlah... aku sudah bilang kamu nggak perlu membayarnya",jawab Bima,
"Ta..tapi..."
"Nggak ada tapi-tapian,ah kamu suka ke pantai?", kata Bima mengalihkan pembicaraan.
" I..iya"
__ADS_1
"Kalau gitu kamu mau aku ajak ke pantai?", tanya Bima.Tari sebenarnya masih merasa tak enak,tapi lebih tak enak kalau sampai ia menolak mas Bima untuk kedua kalinya.
" I...iya",jawab Tari dengan menunduk.Bima yang melihat sikap Tari yang selalu lucu saat gelisah membuatnya tertawa pelan.
"Fftt..",
"Kenapa mas Bima tertawa?",tanya Tari bingung sambil ia menggosok-gosok wajahnya.
" Siapa?,siapa yang tertawa?",ucap bima menutup mulutnya dengan ekspresi seperti sedang serius. "Ah sudahlah ayo kita ke pantai.
_ _ _ _ _ _ _
" Hei..coba lihat deh dua cowok yang disana,kok bisa genteng gitu ya..",kata salah seorang dari gerombolan wanita itu.
"Iya dua-duanya ganteng"
"Aku lebih suka yang itu,kayak oppa korea gitu kan". Kata seorang gadis yang menunjuk kearah Dimas.
__ADS_1
Mendengar itu,berbeda dengan Dimas yang kini merasa tak nya,Max malah menikmati pujian itu dan kini sedang menatap Dimas dengan wajah bangga.
" Permisi tuan-tuan ini untu anda berdua",ucap seorang gadis yang tiba-tiba memberi mereka sebuah kue tart,pelayan yang begitu cantik kini sedang tersenyum pada mereka berdua,Max pun sampai menatap nya tanpa berkedip,namun tidak dengan Dimas, ia memandang pelayan itu sekali lalu memalingkan wajah dan menatap kearah luar.
"Maaf,nona..tapi kami sepertinya tidak memesan kue tart", kata Max,memang benar bahwa mereka tidak memesan kue tart itu.
" Ah tidak tuan...maksud saya..tuan memang tidak memesan kue ini tapi atasan kami yang meminta agar memberikan ini sebagai tanda terimakasih karena telah membuat kafe kami menjadi ramai ",jelas pelayan itu panjang lebar
"Ah begitu ya..padahal kami tidak melakukan apa pun,tapi kami akan menerima kue ini,dan sampaikan rasa terimakasih kami pada atasan kalian ya!", ucap Max seraya tersenyum hingga membuat seluruh wanita Yang ada di kafe itu sontak berteriak histeris,sedang Dimas masih tak perduli dan tetap memandang ke arah jalan,entah apa yang sedang ada difikirannya saat ini.
Tari dan Bima kini sedang berjalan menyusuri pinggiran pantai,dengan alas kaki yang sudah dilepas sebelumnya.Bima sesekali memandang wajah Tari dari samping yang kini sedang tersenyum manis,
" Hem..mau bagaimana pun ia tetap terlihat manis",ucap Bima seraya tersenyum.
Waktu sudah menunjukkan pukul empar sore,matahari pun perlahan mulai menuju ke ufuk barat.Tari dan Bima kini sedang duduk di sebuah pondok mereka sedang menyaksikan indahnya pemandangan matahari tenggelam.Berbeda dengan cahaya matahari yang sudah mulai menghilang,wajah Tari kini malah bersinar,senyum saat ia melihat matahari tenggelam itu lantas mampu mengalahkan indahnya pemandangan senja.Tanpa disadari oleh Tari Bima kini memandangi wajahnya dalam.Makin kesini ia makin tertarik dengan gadis belia itu,tidak hanya mempunyai watak yang dewasa, namun jika dilihat dengan seksama,juga memiliki paras yang cantik hidung bengir,bibir yang merah terlihat manis seperti cherry walau tanpa lipstik,dengan wajah dan kulit tubuh yang putih bersih,maklum perubahan secara signifikan itu karena kebutuhannya disediakan oleh ibu Sulis hingga tak ayal jika membeli produk yang berkualitas nan mahal,tubuh dan wajahnya yang dulu agak hitam kini sudah berubah sepenuhnya.
"Sempurna", itulah kesimpulan yang diambil oleh Bima saat melihat sosok Tari.Tanpa diduga Tari pun menghadap kearah Bima karena ia ingin mengatakan sesuatu,sontak saja membuat keduanya terkejut pasalnya kini jarak antara wajah mereka begitu deka hingga nafas pun bisa terasa oleh satu sama lain,wajah Bima perlahan mendekat sambil ia memandangi bibir mungil itu,tentu saja Tari terkejut dan langsung membalikkan wajahnya.Dan sontak saja Bima pun terkejut,suasana di antara mereka pun menjadi canggung,Tari menunduk tak berani menatap kearah Bima.Bima yang juga merasa canggung pun sontak berdiri.
" Ah..Tari,hari sudah semakin gelap,bagaimana kalau kita pulang sekarang",ucap Bima yang masih gugup namun, ia adalah Tipe orang yang pandai menyembunyikan ekspresi.Tari pun mengangguk ia juga berdiri dan mengikuti Bima yang berjalan menuju mobil.
__ADS_1