Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Ingin Meminta Maaf


__ADS_3

"Bagaimana caranya agar gue bisa menghapus coretan yang sudah gue buat di kertas putih lo".


Kini Tari tengah duduk di kelas karena ia sudah selesai membersihkan kelas, seluruh isi kelas sudah ia bersihkan walau pun itu adalah pekerjaan yang harusnya dikerjakan oleh beberapa murid.Setelah agak siang beberapa murid sudah datang dan ada murid yang seharusnya piket bersamanya,bukannya menanyakan atau berterima kasih, murid itu malah langsung duduk tak menghiraukan.Tari tercengang dengan apa yang terjadi pagi ini,bukannya dia ingin mendapat ucapan terimakasih atau pujian,ia hanya bingung ada apa dengan teman-temannya akhir-akhir ini,biasanya temannya ramah padanya namun Semua seakan tak mengenalnya,hatinya berdesir mengapa teman-temannya jadi seperti ini, dia bahkan tak tahu dimana kesalahannya.


 


"Tari...", ucap gadis manis yang satu-satunya tak mengacuhkan dirinya, sahabat baiknya Ningsih.


" Hai Ningsih..",jawab Tari seraya tersenyum dengan susah payah ia menyembunyikan kesedihannya.


"Tari kamu baik-baik saja?"


"Aku...aku baik-baik saja memang kenapa?"


"Tapi kulihat kamu tidak baik-baik saja", kata Ningsih lagi

__ADS_1


" Nggak,sungguh nggak ada apa-apa, mungkin hanya perasaan mu saja",jawab Tari gugup


"Tari...jika ada sesuatu yang mengganjal hatimu jangan sungkan untuk bercerita kepadaku,aku akan selau mendengarkannya,aku tahu kok,kamu sedang menyembunyikan sesuatu, Tari...kamu tak pandai berbohong,tapi aku mengerti pasti kamu belum siap menceritakan nya,tak apa kapan pun kau mau cerita carilah aku aku akan datang". Ucap Ningsih seraya merangkul Tari dari samping.Tari hanya diam,tebakan Ningsih selalu tepat sasaran,Tari memang belum siap untuk menceritakan nya,ia tidak ingin terlalu membebani Ningsih.


" Tring.....",bel tanda masuk pun berbunyi artinya waktu belajar sudah dimulai.


_ _ _ _ _ _


 


Tari dan Ningsih kini sedang berjalan menuju kantin kantin,dan mereka tentu saja langsung menuju katin langganan mereka.


 


" Ok..segera..",jawab bu Wati.Tari pun segera duduk di dekat Tari.Tak beberapa lama bakso yang mereka pesan pun tiba dan segera menyantapnya.Tak berapa lama mereka pun selesai makan dan segera beranjak pergi menuju kelas karena mungkin tak lama lagi bel masuk akan berbunyi.

__ADS_1


Sementara dikelas ,kini Dimas sedang memandangi sebuah bangku kosong,tempat Tari dan Ningsih biasa duduk, ia sedang melamun memikirkan kejadian malam itu, ia merasa bersalah,memang seharusnya ia meminta maaf pada Tari,sebenarnya sudah sering ia mencoba untuk meminta maaf namun,rasa egonya mengalahkan rasa bersalah nya, itulah yang sering membuat nya gagal meminta maaf pada Tari.Tak beberapa lama terdengar seperti ada yang mendekati kelas mereka.Ternyata yang datang adalah Tari dan Ningsih. Sontak saja dimas langsung terkejut dan berpura-pura melihat kearah lain,Ningsih yang menyadari keberadaan Dimas berbisik pada Tari.


"Tari...coba lihat!,Dimas kok tumben ya masih ada dikelas,dan sendirian",bisik Ningsih


" Sudah lah....biarkan dia,dan kamu Ning..kok nggak nyapa dia sih,biasanya kamu kan paling semangat kalau melihat dia,jangan bilang kamu juga ikut-ikutan nggak negur dia ya...,jangan Ning walau pun aku nggak bicara padanya itu adalah masalah ku dan aku nggak mau kamu juga terlibat Ning aku nggak masalah kok kalau kamu negur dia aku masih mau berteman dengan mu .Ningsih yang mendengar perkataan Tari pun merenung sejenak,ia sadar akan kesalahannya.Bel masuk pun berbunyi dan mereka segera memulai pelajaran.


Tari kini sedang mencuci piring bekas makan siang,dengan cekatan dan terampil ia membersihkan peralatan kotor itu,tanpa di sangka\-sangka,ternyata ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya dari kejauhan,Dimas kini sedang mengintip Tari dari balik tembok pembatas antara dapur dan ruang tamu, ia sebenarnya ingin berbicara pada Tari serta ingin meminta maaf atas perlakuannya malam itu.Ia pun menarik nafas dan menghembuskannya perlahan,


"Huh...gue harus bisa,Dimas ayo selesaikan semua ini", baru saja Dimas mulai melangkah, ternyata Tari juga berbalik,tentu saja mereka pun langsung bertemu pandang,Dimas seketika kaku dan terdiam,begitu pula dengan Tari,


" Sedang apa kamu disini? ",tanya Tari sambil menatapnya aneh


"Gu..gue... mau kedapur mau makan buah emang kenapa nggak boleh? ",Jawab Dimas refleks karena gugup,namun tetap berusaha tenang.Tari yang mendengar pernyataan Dimas pun langsung mencuci tangannya,


" Kamu mau buah apa?,apa mau aku kupaskan?",

__ADS_1


"Aku mau apel,ya apel kupaskan apel buat gue", ucap Dimas seraya dusuk di kursi dapur.Tari pun langsung membuka lemari es,ia mengambil dua buah apel dan segera mengupasnya,setelah itu ia hidangkan pada Dimas dan segera meranjak pergi.Tangan Dimas terangkat seperti ingin menghentikan Tari,namun tanpa bersuara.Namun Tari sudah berlalu dengan cepat.


" Bodoh...Bodoh.. Bodoh..., lo kenapa sih Dim, kok malah minta buah dan nggak minta maaf sih",ucap Dimas pelan seraya memegang kepala nya dengan kedua tangannya.


__ADS_2