Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Ada Apa Dengan Ku?.


__ADS_3

"Apakah aku benar-benar sudah gila,apa yang sudah kulakukan hari ini adalah hal yang pertama dan yang tak mungkin kulakukan padanya, tapi entah mengapa tubuh ku tak dapat ku kendalikan sekeras apa pun aku mencoba".


Dear:Dimas.


Dimas kini masih tenggelam merasakan sesuatu yang begitu manis itu,namun setelah beberapa saat kemudian ia pun tersadar dan segera melepas ciuman itu.Ia tersipu malu sendiri.


Wajahnya Kini merah padam,ia menutupi mulutnya dengan punggung tangannya,ia merasakan wajahnya yang memanas,ia pun segera pergi dari kamar Tari ia malu sendiri memikirkan apa yang telah ia lakukan.


Ia tidak langsung kekamar nya, ia memilih turun ke lantai bawah, saat ia menuruni anak tangga ia melihat masnya yang tengah duduk di kursi tamu.


"Mas Bima,mas sudah pulang sejak kapan?", ucap Dimas seraya duduk di samping kiri masnya.


" Baru saja,kamu dari mana kok baru kelihatan?",tanya Bima,


"Oh..itu aku,aku tadi dari kamarku", ucap nya gagap karena ia berbohong, tidak mungkin ia memberitahu masnya kalau ia habis dari kamar Tari dan sudah menciumnya diam-diam.


" Oh baiklah, kalau gitu mas kekamar dulu",ucap nya seraya pergi meninggalkan Dimas yang sejak tadi menahan gugupnya.


Sesampainya Bima dikamarnya, ia langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasurnya, ia menerawang menatap langit-langit kamarnya ia membayangkan kembali apa yang barusan ia saksikan.


Flash Back.


Sekitar kurang lebih jam tiga sore Bima telah menyelesaikan tugas sketsa properti yang ia buat, ia sengaja mempercepat pekerjaannya agar ia bisa cepat pulang ia sudah sangat rindu,ia ingin segera melihat gadis manis yang kini telah memenuhi hati dan fikirannya.

__ADS_1


Kediaman Bagus Sutrisno.


Kini mobil mewah berwarna hitam itu kini sudah terparkir di halaman rumah,Bima segera turun dari mobil dengan perasaan yang berdebar,ia berfikir pasti gadis itu akan terkejut melihat kepulangannya.


Ia menekan bel,dan tak lama pintu itu terluka, dan yang membuka pintu adalah bu Minah.


"Oh bu Minah,dimana semua orang kok keliatan sepi?", tanyanya pada bu Minah.


" Oh bu sulis tadi keluar dan nak Dimas ada dikamar nak Tari,"


"Dheg",seketika ia tercengang saat bu Minah menyebut bahwa Dimas ada di kamar Tari,fikirannya seketika bercampur aduk, walau pun Dimas adalah adik nya sendiri, namun tak mustahil jika tidak terjadi sesuatu, apalagi itu dikamar,fikirnya.


"Kenapa Dimas bisa ada di kamarnya?".


"Baiklah kalau begitu terimakasih bu",


" Sam-sama,kalau begitu ibu kedapur lagi ya",


"Ya".


Sepeninggal bu Minah Bima yang merasa tak tenang pun segera melangkah menuju lantai atas, kini ia sudah berada di depan kamar pertama, yaitu kamar Tari,ia mulai membuka pintu itu namun perlahan.


Matanya terbelalak,ia terkejut dengan apa yang ia lihat, adiknya kini tengah mencium gadis belia yang kini menjadi kekasihnya itu,namun setelah itu ia kembali menutup pintu itu secara perlahan,hatinya sakit tatkala melihat apa yang terjadi,ia kini bersandar di depan pintu kamar Tari seraya memegang dadanya.Ia menerawang jauh,banyak hal yang ia fikirkan setelah menyaksikan semuanya, Bagaimana kalau ia menyukai Dimas dan akan memilih Dimas untuk mendpinginya dan menggantikan posisinya dihati gadis itu,sungguh tak siap rasanya jika hal itu benar-benar terjadi, ia terlanjur sangat menyukai gadis itu,dan ada rencana dimasa depan,ia menunggu Tari berusia matang dan waktu yang tepat,dan ia juga berharap bahwa Tarilah yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya kelak.

__ADS_1


Namun ia kini juga harus siap jika seandainya Tari lebih memilih Dimas atau orang lain,meski ia tahu hatinya pasti akan sakit,teramat sakit.


Ia mulai meranjak dari sandarannya,ia melangkah gontai menuruni anak tangga, dan ia pun menghempaskan tubuhnya kasar di sofa ruang tamu.


"Hahhh,apa yang harus aku lakukan", gumamnya gusar seraya mengacak rambutnya.


Sekitar pukul enam sore Tari terbangun,ia perlahan membuka matanya,ia pun mencoba duduk perlahan namun entah mengapa kepalanya terasa sakit.


" Tuk",sebuah handuk yang agak basah terjatuh dari dahinya karena ia sedang duduk,tari pun mengambil handuk itu.


"Handuk?", gumamnya pelan, kemudian ia melihat ada sebuah ember yang berisi air dengan pinggiran embernya yang agak berpeluh karena bekas air es.


" Apa ini kompres,mengapa komores demam ada disini?",gumamnya,rasanya aneh karena ia merasakan kalau badannya tak terasa panas,iapun mengingat kembali apa yang terjadi,dan ia ingat bahwa ia dikejar oleh dimas,karena takut ia pun berlari,melihat gudang tua,dan memohon pada Dimas dan...,ia tak ingat kagi apa yang terjadi setelahnya dan mengapa ia sudah ada di kamar nya.


"Ahhh,pusing", ucapnya sambil memegang pelipisnya dengan jarinya.


Ia pun menengok ke arah jam wekernya,betapa terkejutnya ia saat melihat jam yang menunjukkan pukul enam sore.


" Yaampun,sudah sore bagaimana ini aku lupa mempersiapkan makan malam",ucapnya seraya turun dari kasurnya dan melangkah keluar dan menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.


Ia pun tercengang karena mereka bertiga kini tengah makan bersama,ada rasa bersalah dihatinya, pasti tadi bu Minah pulang telat karena haru mengerjakan semuanya sendiri. Benar-benar bodoh aku,fikirnya.


Ibu Sulis yang tak sengaja melihat Tari yang tengah berdiri lantas memanggil nya.Dimas seketika memandang kearah nya begitu pula dengan Bima.

__ADS_1


Ada yang berbeda saat ia menatap mata Bima, sorot mata yan begitu cerah saat melihatnya, namun entah mengapa kali ini terasa lain seperti ada sesuatu yang tersimpan di dalam nya.


__ADS_2