Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Apa aku menyukainya


__ADS_3

"Apakah imajinasi itu akan menjadi nyata?,seandainya bisa dihapus akan kuhapus coretan takdir burukku di kertas putih itu"


 


Setiba di dalam rumah Tari pun melangkah hendak meniuju kamarnya,ia menaiki anak tangga dengan senyum -senyum sendiri karena baru pertama kalinya ia mendapat perlakuan manis dari seorang pria dan pria itu adalah orang yang ia kagumi,sesekali ia kembali menengok kebawah,entah mengapa ia merasa ingin selalu melihat sosok pria itu,namun tak disangka matanya dan pria itu langsung bertemu pandang,ternyata sejak tadi ,pandangan Bima juga terus mengikuti langkahnya.


 


 



Dan Bima pun tersenyum saat menyadari Tari sedang melihat ke arahnya.Sontak saja jantung Tari berdebar bukannya balas tersenyum,ia malah salah tingakah dan garuk-garuk kepala tak gatal,dan mempercepat langkahnya masuk ke kamar.Bima yang melihat Tari yang gelagapan sontak tertawa kecil.


"Hem..imut sekali",ucapnya seraya tersenyum,kemudian melangkah pergi.


 


Seperti biasa,mereka makan malam bersama dengan penuh canda tawa,namun tidak menyenangkan bagi Dimas,memang sedari tadi mereka tertawa,namun Dimas hanya diam ia tak bergeming, sesekali ia menatap Tari yang tertawa riang namun bukan tertawa untuknya walau pun Tari duduk disebelah nya namun Tari tak sekali pun melihat kearahnya,Bima sebenarnya menyadari ada yang aneh dari mereka berdua,namun ia memilih diam dan mengamati.


 


Setelah selesai makan Dimas kini sedang duduk diruang tamu sambil mengotak atik ponselnya,tiba-tiba bima pun ikut duduk disofa ruang tamu yang berhadapan langsung dengan Dimas,awalnya ia diam sambil memegang ponsel, namun entah mengapa ia ingin menanyakan sesuatu yang sebenarnya bukan urusannya itu.


" Dimas"

__ADS_1


"Em...", sahutnya masih sambil memainkan ponselnya.


" Kamu ada sesuatu dengan Tari?".Tanya Bima yang seketika membuat Dimas terhenti dari aktivitasnya dan memandang kearah Bima.


"Memang kenapa mas menanyakan itu?",


" Tidak,hanya saja tadi mas merasa ada yang aneh antara kalian berdua,Dimas.. jika ada masalah katakanlah pada mas dan jika masalah itu dengan Tari tolong maafkanlah dia,jangan terlalu keras padanya."Jawaban Bima membuat Dimas merasa ada yang aneh pada masnya,biasanya masnya tak pernah perduli tentang masalah kecil pada dirinya,namun kali ini berbeda saat menyangkut Tari.


"Kalau begitu,apakah mas juga ada sesuatu dengan Tari?,mengapa mas begitu perduli padanya?".


" Mas hanya..."


"Apakah...mas Bim menyukai...Tari?", ucap Dimas memotong ucapan masnya seraya menatap wajah masnya serius.Bima terdiam seribu bahasa,tak tahu harus menjawab apa dan bagaimana,ia sendiri pun tak tahu bagaimana perasaan nya pada Tari,ada rasa simpati pada gadis belia itu namun ada juga perasaan sayang sebagai seorang adik pada Tari.


"Sudahlah, jangan bicara yang aneh-aneh lagi,mas hanya khawatir kamu memperlakukan anak orang dengan tidak semestinya". Jawab Bima seraya berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Sepeninggal masnya Dimas pun berfikir keras,dari hasil pengamatan nya masnya itu sepertinya memakah"memperlakukan Tari dengan berbeda,


" Sial..apa sih yang ia sukai dari cewek kampung, itu sampai jadi begini ia bahkan nggak pernah menegur gue hanya karena hal kaya ginian",ucapnya seraya melempar ponselnya di sofa.


Dimas pun kembali mengambil ponselnya dan bergegas nenuju kamarnya.


_ _ _ _ _ _ _


Waktu menunjukkan pukul enam Pagi,sebenarnya ini terlalu pagi bagi murid untuk kesekolah,masih sepi dan lorong pun masih terasa dingin,namun Tari sudah ada dikelas sedang menyapu kelas seorang diri,karena hari ini adalah jadwal piket bersih-bersih baginya dan beberapa temannya yang belum datang.Terdengar seperti ada suara beberapa siswi yang melewati lorong depan kelas.

__ADS_1


"Eh kamu tahu nggak katanya Tari ada di kelas ini loh", kata seorang siswi sambil menunjuk kelas X1 Ruang 1,yang pagi-pagi sudah terbuka.


" Iyakah,Tari yang pura-pura jadi pembantu buat merayu Dimas itu kah?",kata seorang lagi yang ternyata ada dua siswi.


"Ush...jangan keras-keras nanti dia dengar,siapa tahu yang didalam itu dia"


" Emang kenapa biar di tahu posisinya kalau ia itu cuman pembantu yang nggak tahu diri",Ucap salah dari siswi itu yang sengaja mengeraskan suaranya,dan mereka pun akhirnya meranjak pergi menjauh dari depan kelas Tari.Tari yang ada di kelas itu memilih diam,ia sengaja bersembunyi kalau-kalau mereka mendadak masuk dan melihat dirinya.


"Ya tuhan...cobaan apa lagi ini", ucap Tari yang sedang mengendalikan emosinya,ia tak ingin menangis hanya karena mendengar hal seperti ini toh ia juga tak terluka.


Disisi lain seoran anak laki-laki dengan mengenakan seragam sekolah, dengan seragam yang dibiarkan keluar dan dasi yang sengaja tak dipasang,tengah menuruni anak tangga menuju meja makan.


" Good morning momy ",ucap Dimas seraya mengambil sepotong roti tawar dan menyelainya.


" Morning dear",Jawab ibunya yang juga sambil menyelai roti.Dimas yang menyadari bahwa hanya ada ibunya dan masnya dimeja kini menoleh kesana kemari seperti mencari sesuatu.


"Ada apa Dimas,kamu mencari sesuatu?" tanya ibunya.


"Oh nggak mom,aku...aku mencari paman Dhanu kok nggak kelihatan?", ucapnya mencari alasan.


" Oh..paman Dhanu sedang mengantar Tari kesekolah",jawab ibunya.


"Hah...sepagi itu kah?", ucapnya terkejut.


" Iya,dia bilang ia ada jadwal membersihkan kelas hari ini",mulut Dimas pun membulat tanda ia mengerti.Sementara Bima hanya terdiam entah apa yang sedang ia fikirkan.

__ADS_1


__ADS_2