
"Bu Minah, saya harap kedepannya ibu bisa berterus terang pada saya".
Dear: Tari**.
"Bu Minah tampaknya bu minah sedang tidak baik sebaiknya bu Minah istirahat lah dulu biar saya yang menyelesaikan pekerjaan ibu nanti", ucap tari yang segera melepas cucian piring nya karena menyadari bu Minah yang sejak tadi berkeringat dengan wajah yang pucat pasi.
" Ayo duduk disini",kata Tari seraya membimbing bu Minah duduk di kursi makan,ia pun juga duduk di samping beliau.
"Bu..ibu kenapa?, apa ibu sakit, kalau sakit?,
" Ibu tidak apa-apa ibu hanya kurang tidur",jawab ibu Minah.
"Kenapa?,padahal kan pulang kerjanya sore kok bisa kurang tidur dan...maaf saya penasaran sejak tadi,saya sejak tadi memperhatikan seperti nya ada luka lebam di dahi ibu,apa terjadi sesuatu?",tanya Tari.
" Ah anu...ini..a..anu...ibu pagi tadi tak sengaja terbentur pintu rumah,haha jadinya lebam seperti ini",ucap Bu Minah gagap,Tari yang mendengar nya entah mengapa merasa sangat aneh,entah mengapa terdengar seperti mencari alasan,namun ia tak mau terus bertanya,ia tak ingin kalau bu Minah merasa bahwa ia terlalu ikut campur.
"Oh Begitu",
" Aku yakin pasti ada sesuatu yang disembunyikan bu Minah, dan yang lebih aneh lagi pertanyaanku yang pertama pun tak terjawab,ya aku yakin pasti ada sesuatu ",ucap Tari dalam hati.
" Dan biar saya saja yang memasak makan siang, bu Minah istirahat saja,dan kalau mau ibu bisa tidur di kamar saya",
"Ah tidak biar ibu disini saja,sebentar lagi juga baikkan,maaf sudah merepotkan mu",
" Ah ibu tak perlu sungkan,ibu sudah saya anggap seperti Ibu kandung saya sendiri, jadi jika ada sesuatu jangan segan untuk bertanya dan meminta bantuan saya,jika mampu saya akan membantu sebisa saya",ucap Tari seraya tersenyum,kemudian ia pun melangkah ke arah dapur untuk membuat makan siang.
Sementara dekat tembok yang membatasi ruang makan dan ruang tamu,ternyata Dimas sejak tadi mendengar semua apa yang mereka bicarakan,ia merasa luluh dengan apa yang telah diucapkan gadis itu,gadis yang selalu terlihat polos dan bodoh,dan yang paling ia benci itu kini mampu mengubah sedikit pandangannya, ternyata gadis itu baik juga,fikirnya. Ia pun melanjutkan niat sebelumnya nya yang awalnya ingin meminta segelas air minum.
Ia pun kini melangkah menuju dapur, dan mengambil gelas,Tari yang asik memasak makan siang tak menyadari keberadaan nya.
__ADS_1
"Ehemm...",
Mendengar suara itu Tari pun lantas menoleh ke belakang.
" Dimas ngapain kamu disini? ",
" Terus...kenapa? ",
" Orang ini pasti mau cari gara-gara lagi,aku tak mau berurusan dengan nya,menyusahkan sekali ",ucapnya dengan tatapan yang tak suka,namun ia pun menghela nafas dan kembali berbalik lagi untuk melanjutkan masakannya.
" Tidak apa-apa",jawab Tari seraya memasak.
Tak berapa lama,akhirnya Tari pun menyelesaikan masakkannya,ia pun segera menyediakan makan siang untuk Dimas.
"Ah,aku baru ingat", gumamnya pelan, ia pun merogoh ponselnya di saku celemek yang tengah ia pakai.
Ia kini tengah mencoba menelepon seseorang,ia sedang mencoba menelpon tante Sulis, karena beliau kini sedang tidak ada dirumah, kerena sedang mengurus kelancaran kinerja kantor utama.
"(.........),"
"Gini tante saya...bolehkah saya meminta izin untuk keluar sebentar siang ini",
"(.......,.............?)",
" Saya mau izin belajar bersama teman-teman sekelas saya untuk menghadapi ujian semester dua minggu mendatang".
"(.........,......... ..),"
"Terimakasih tante,iya saya janji tidak akan pulang telat, sekali lagi terimakasih tante."
__ADS_1
"(...........!),"
"Baik", jawabnya seraya menutup telepon dengan wajah yang sumringah.
*Silahkan gunakan imajinasi para pembaca sekalian untuk mengisi percakapan tante Sulis di dalam kurung".😊😊😊
Dimas yang sejak tadi memperhatikan ekspresi Tari sambil makan siang pun mengetutkan alisnya.
" Sebegitu senangnya kah belajar bersama?,padahal belajar sendiri dirumah kan sama saja,dan apa belajar hanya alasan lo aja kan,sebenarnya lo cuman mau main-main diluar sana",ucap Dimas dengan tatapan sinis.
"Apa maksudmu?, kamu itu kenapa sih selalu berprasangka buruk padaku?",
" Siapa yang berprasangka,gue kan cuman ngomong apa adanya",
"Terserah", ucap nya jengkel seraya melangkah pergi ke kamar nya.
"Apaan sih,gitu aja marah,gumamnya lagi seraya kembali memakan makan siang nya.
Tak berapa lama Dimas pun selesai makan,ia pun segera berdiri untuk meletakkan piring fi wash table.
" Nak Dimas biar ibu saja yang memberereskannya,"ucap ibu Minah seraya berdiri tertatih.
"Tidak perlu,bu Minah duduk saja dulu,bu Minah kan kurang sehat biar saya saja",
Setelah meletakkan piring ia pun melangkah keruang tamu dan duduk di sana.
Tari pun melangkah dengan buru-buru menuruni anak tangga dan bergegas menuju keluar.
" Hei..jangan pulang terlalu malam ingat pekerjaan lo",teriak Dimas.
__ADS_1
"Iya,Aku tahu kamu nggak usah mengulangi nya lagi", ucap Tari seraya kembali bergegas keluar.