
"Apakah artinya jika kita kembali teringat akan seseorang yang telah lama tak jumpa, dan bagaimana jika orang itu adalah orang yang sama sekali tak ingin di jumpai lagi,dan bisa dibilang ingin dilupakan,apakah hal seperti itu masih bisa dibilang" takdir".
Dear:Dimas.
Disebuah destinasi terkenal di Bogor, tiga orang lelaki tengah mengabadikan setiap inci dari pemandangan indah nan elok yang tersuguh kan secara alami. Dan salah satu penomena yang paling diburu oleh para wisata wan tentu saja adalah suguhan dari di cantik sang cahaya jingga.Ridho,Dimas dan Max sementara menunggu momen itu mereka isi dengan mengambil beberapa gambar dari tempat itu,tak perduli meskipun sejak tadi gerak gerik mereka tengah diperhatikan oleh beberapa kaum hawa yang takjub melihat penomena yang agak lain itu,namun sangat indah untuk dilihat.
Ridho tetlihat biasa saja,namun Dimas, ia sebenarnya sudah merasa agak risih,ia masih saja tak terbiasa dengan pandangan dari para gadis ia sungguh merasa terganggu, namun ia mencoba untuk menutupi nya dengan mencoba tetap bersikap biasa saja.
"Hei Dim... gimana hasil gambarmu udah dapat yang keren", tanya Ridho.
" Ada sih..tapi gue masih belum puas sebelum gue dapat yang paling keren ",ucap Dimas sambil memperlihatkan hasil tangkapannya.
" Wah ini sudah keren loh...masa kamu bilang nggak keren ini keren loh dari punyaku,kamu seperti nya ada bakat tersembunyi",puji Ridho.
"Ah enggak,gue belum puas kalau gue belum dapat yang paling keren!", ucap Dimas bersikeras.
"Terserah kamu deh...btw,Max dimana?,tumben dari tadi nggak ada suaranya", ucap Ridho sambil matanya mencari keberadaan Max begitu pula Dimas.
Ternyata Max tengah berfoto dengan beberapa gadis yang ada di ujung sana.
" Haelah....kumat juga tuh anak,keluar deh kebiasaannya,dasar flayboy,ah terserah deh mending gue lanjut foto lagi,"tukas Dimas seraya menjauh, dan mula mengarahkan lensa kameranya ke arah jalan raya.
__ADS_1
"Nggak terasa ya udah jam empat sore sebaiknya kita nggak boleh kehilangan objek yang berharga", kata Ridho.
" Iya lo benar",jawab Dimas yang masih asik dengan mengambil gambar ke arah jalan raya,namun ia hanya sembarang memotret ia akan meliat hasilnya belakangan.
Tak terasa waktu semakin cepat berlalu mereka bertiga pun segera mengabadikan momen yang ditunggu-tunggu itu.
"Wah...sudah banyak nih gambarnya,dan hari juga sudah mulai gelap sebaiknya kita cepat pulang", kata Ridho mengingat kan.
_ _ _ _ _ _ _ _
Sekitar pukul sebelas malam Dimas terbangun dari tidurnya,ia merasa ingin buang air kecil,seperti biasa kebiasaan nya yang satu ini memang tak pernah hilang walau dimana pun ia berada.
Setelah selesai buang air ia segera masuk kamar,ia berencana untuk tidur lagi,namun ia tak jadi tidur saat melihat kameranya yang tepat berada di samping nya.
Ia mengambil kamera itu,ia mulai melihat hasil foto yang ia ambil tadi sore satu per satu.
"Yang ini nggak bagus,hapus...,yang ini juga..,dan tangannya berhenti saat melihat sebuah foto,matanya terbelalak berulang kali ia mengucek matanya,namun tetap sama tak ada yang berubah, sebuah foto yang ia ambil saat menghadap kearah jalan raya,terdapat sesosok gadis yang sangat mirip dengan gadis yang selama ini membuatnya merasa penasaran,bersalah dan juga benci,seseorang yang bahkan tak ingin ia lihat lagi,gadis yang dulunya pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun itu bagaimana...,bagaimana bisa muncul lagi?,ia lantas melepas kameranya di sampingnya, dan kembali merebahkan tubuhnya.
" Itu pasti bukan dia, gue pasti salah lihat,bisa aja kan ada orang yang mirip sama dia,gue pasti salah lihat ya...salah lihat",ucap nya dalam hati,tak lama ia pun terlelap.
__ADS_1
Sekitar pukul empat pagi terdengar suara seorang gadis yang terdengar sedang membangunkan seseorang.
"Wiranti...., Wiranti...ayo bangun nanti kamu terlambat sekolah...", Panggil Tari sambil mengetuk pintu kamar kos milik Wiranti.
" Ais...siapa sih pagi-pagi buta gini teriak-teriak nggak jelas, kurang kerjaan banget sih",gerutu Dimas yang terbangun dengan mata yang masih tertutup,sementara dua temannya masih tertidur pulas.
"Iya...iya....aku udah bangun...Yaampun...", jawab Wiranti dari dalam menuju kearah pintu dengan setengah sadar,dan membuka pintu.
" Nah...diteriakin baru bangun cepat mandi sana!,nanti telat dan kalau nggak sempat masak sarapan di tempat ku saja mengerti?,ayo cepat sana mandi",suruh Tari.
Wiranti pun segera masuk dan mandi.Sekitar pukul enam pagi Wiranti sudah selesai berpakaian dan selesai sarapan di tempat tari.
"Terimakasih ya udah bangunin aku juga memberikanku sarapan,nanti aku traktir deh...bilang aja mau apa nanti pulang aku belikan", ucap Wiranti yang sudah berada diatas sepeda motornya, motor bekas yang baru ia beli dengan tabungannya.
" Ah nggak perlu... dari pada buat traktir mending uang itu kamu tabung,tabunganmu pasti habis kan buat beli motor itu,dan selamat ya..udah punya motor baru nih..Wiranti memang anak yang pintar ",ucap Tari sambil tersenyum.
" Ah...kamu ini pasti saja begitu,nggak pernah mau aku traktir, nanti kalau aku sudah punya banyak uang kamu tidak boleh lagi menolak ajakan ku",ucap Wiranti dengan nada bicara manjanya,begitulah sikapnya jika dengan Tari karena ia merasa mempunyai seorang kakak yang sangat perduli padanya.
"Iya..iya...udah berangkat sana nanti telat".
" Iya,eh...kamu nggak mau langsung ikut aja biar nggak capek jalan kaki",
"Nggak usah,lagian kan nggak terlalu jauh,dan tokonya juga belum buka,udah...cepat berangkat sana", suruh Tari lagi.
__ADS_1
" Iya...iya...lagi-lagi ditolak",gerutunya seraya melaju meninggal kan Tari yang masih berdiri di teras.
"Gue pasti sudah gila,sura orang lain pun sampai terdengar mirip dengan gadis itu", ucap Dimas dalam hati dan kembali melanjutkan tidur nya.