
"Bagaimana aku tak terkesima,jika kau terus menyinari ku wahai rembulan yang tak tergapai"
Hari ini adalah hari minggu,sekitar pukul enam pagi Tari sudah selesai mandi dan merapikan rumah, sementara menunggu bu Minah datang,ia pun memasak nasi di rice cooker,setelah selesai ia pun meninggalkan nya dan bergegas keluar.Ia kini sedang berada di taman,ia mrnyirami bunga\-bunga yang selama ini selalu dirawatnya.Dan setelah selesai ia pun segera masuk nenuju kamarnya,ia duduk di kasurnya dan mengambil foto keluarganya sesekali ia memeluk foto itu.
"Ibu,ayah,nenek,bayu apakah kalian mengingatnya?,hari ini adalah hari ulang tahunku,tapi di tahun ini aku harus merayakannya sendiri,apakah kalian tahu aku merindukan kalian...hiks...", ucapnya pelan seorang diri di kamar .Tanpa disadari oleh Tari,ternyata isak tangisnya telah membangunkan Dimas dari tidur nya,ia berfikir suara aneh apa yang sedari tadi terdengar dari sebelah kamarnya,seperti sebelumnya gadis itu selalu lupa merapatkan pintunya,
" Cewek ini gimana bisa dia selalu lupa mengunci pintu sih,gimana kalau ada pencuri ",ucapnya dalam hati ia bingung kenapa gadis itu begitu ceroboh,saat ia ingin memberitahu Tari untuk mengunci pintu kemudian langkahnya terhenti setelah hampir sampai di kamar Tari.
" Untuk apa juga gue perduli,toh dia bukan siapa-siapa gue..bodo ah",katanya lagi namun saat ia hendak melangkah menuju kamarnya, saat itulah ia terhenti,ia mendengar keluh kesah Tari dan menagis seorang diri.Ada rasa kasihan di hati Dimas, ini kedua kalinya ia melihat gadis itu menangis.
Siang ini sekitar pukul dua belas lebih,Tari sedang menyapu ruang tamu,seseorang sedang melangkah mendekat,dan duduk disofa,Tari yang menyadari ada seseorang sontak menoleh ke arah sofa,ia seketika tercengang karena orang itu adalah Bima yang sedang memperhatikan nya.
"M..mas Bima maaf dari tadi aku membelakangi", ucapnya gagap
__ADS_1
" Bukan masalah,ah aku baru ingat hari inu adalah hari minggu jadi kamu ada dirumah ",kata Bima
" Ah iya",jawab Tari singkat, ia benar-benar gugup saat ini.
"Kamu tidak berencana kemana-mana?", tanya Bima lagi
" Ah..tidak."
"Kenapa?,bukankah biasanya pada usia sepertimu biasanya akan belmain keluar di akhir pekan".
" Tidak...saya..tidak terbiasa,dan saya tidak pantas".
" Karena saya disini untuk bekerja,mana mungkin saya melalaikan pekerjaan saya hanya karena kesenangan pribadi",mendengar pernyataan Tari Bima pun tersenyum sendiri,ia berfikir gadis satu ini memang berbeda tak seperti pada umumnya usianya memang muda tapi fikirannya sungguh dewasa.
"Tapi kalau aku memgajakmu keluar apa kau mau?", Tari yang mendengar ajakan Bima pun tercengang ia tediam tak tahu harus berkata apa.
" Ah kau tak perlu takut,aku akan meminta izin pada mama bahwa aku akan membawamu keluar,sekarang bersiaplah aku akan menunggumu di depan",kata Bima lagi seraya bangkit dari tempat duduknya dan melangkah pergi. Tari pun segera masuk kamarnya dan bersiap-siap, kini ia mengenakan kaos berwarna Baby Blue,berlengan panjang dengan mengenakan celana jeans panjang, ia pun mengeluarkan kotak dari lemarinya ada tiga setel sepatu yang dibelikan oleh bu Sulis saat ia baru bekerja disini. Ia memilih sepatu berwarna biru dengan berbahan dasar levis,diikatnya rambutnya sederhana yaitu kuncir satu dan wajahnya hanya dipoles bedak bayi tanpa cream atau pondation apapun,ia terbiasa tampil seadanya.
Kini Tari keluar dari kamarnya,ia segera melangkah menuruni anak tangga dengan terburu\-buru.Bima kini sedang menunggu didekat mobilnya,dengan tampilan yang tidak terlalu mencolok namun tetap terlihat elegan,mungkin karena imagenya yang lembut. Tari kini sedang memandang kagum Bima dari depan pintu,ia sungguh mengagumi sosok pria dewasa itu,Tanpa disengaja Bima menyadari bahwa Tari sudah ada di depan pintu dan sedang memandang dirinya.Bima pun langsung menghampiri Tari.
__ADS_1
"Hei! kenapa masih disini ayo kita berangkat", Ucap Bima yang membuyarkan lamunan Tari.
" Oh..baik",ucap Tari menurut menuju masuk kearah mobil dan seketika mobil itu pun langsung meluncur ke jalan.Tanpa disadari Dimas sedang mengawasi dari balkon kamarnya,ia kesal dengan apa yang ia lihat,
"Brakk" suara pagar balkon yang dipukulnya.
Kini mobil yang dinaiki Tari dan Bima sudah terparkir rapi disebuah parkiran mal terbesar di Jakarta,mereka berdua keluar dari mobil baru melihat parkirannya saja ia sudah terperangah begitu luas hingga dapat menampung ratusan mobil.
"Tari.. ayo",ajak Bima yang diikuti Tari.
Mereka kini memasuki mal itu,matanya semakin terperangah saat melihat isi dari bangunan yang besar itu.
" Tari ayo naik itu,"ucap Bima menunjuk sebuah eskalator,melihat benda itu sebenarnya ia pernah sekali menaikinya oada saat bersama Ningsih dulu,namun tetap saja masih ada rasa takut di hatinya.Melihat Tari yang ter diam Bima mengerti,langsung saja ia menggengam tangan Tari,Tari yang digenggam tangannya sontak memandang wajah Bima yang tetnyata juga sedang memandang Tari sambil tersenyum.
"Tenang saja,aku akan memegang tangan mu dan menuntunmu jika kamu belum yakin", ucapnya meyakinkan Tari,mendapat perlakuan itu tentu saja ada rasa bahagia di hatinya dan mereka pun segera melangkah menuju eskalator dan menaikinya.
__ADS_1