Cahaya Takdir

Cahaya Takdir
Memastikan.


__ADS_3

"Jika sudah takdir apalah bisa dikata,namun bagaimana jika secercah harapan yang tersembunyi dihati dapat membawa harapan besar dimasa datang,siapa yang tahu dan menduga mungkin melalui cahaya dari secercah harapan itulah cahaya takdir akan terlihat,dan menunjukkan segalanya"


Dear:Ayumiyukina**.


"Tante?,jadi dia adalah keponakannya bu Yanti?,astaga apakah dunia sesempit ini",


ucapnya dalam hati.


"Heh!, apa yang sedang kamu fikirkan?, jangan bilang kamu kesenangan karena kita dibilang cocok", ucap Elang yang membubarkan lamunan Tari,


" Apa maksudmu, siapa juga yang suka dibilang cocok denganmu, dasar.. kepedean banget sih",jawab Tari dengan membalas tatapan sinis Elang,"Em...bu,apa saya boleh izin keluar sebentar,saya ingin membelikan beberapa makanan untuk teman-teman",ucap Tari.


"Yaampun...harusnya kamu keluar saja tak perlu minta izin,tentu saja pergi lah", jawab ibu Yanti.


"Sekali lagi saya mengucapkan terimakasih,kalau gitu saya pamit ya bu", ucap nya dengan wajah yang berubah sumringah sehingga tampaklah senyum manis nya.


Tari pun bergegas pergi meninggal kan dua orang yang tengah memperhatikan langkahnya yang semakin menjauh,bu Yanti yang menyadari Elang masih mengikuti langkah tari dengan tatapannya itu lantas tersenyum kecil.


" Heh ternyata bisa tersenyum juga ya",ucap Elang dalam hati sambil masih menatap langkah gadis itu dengan senyum sinis.


" Ehem... Elang ",


" Ya",jawabnya terkejut.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong Lang,ada angin apa nih,tumben kamu bisa kesini biasanya kamu paling malas diajak kepasar,tapi sekarang malah kamu datang sendiri kesini,sungguh mencurigakan", kata bu Yanti dengan tatapan menyelidik pada Elang.


" Ah mama yang memaksaku kesini makanya, ah ya..hampir lupa ini mama menyuruh ku untuk membeli ini,dan tolong bantu aku mencari barang ini karena aku nggak ngerti ",ucap Elang dengan mengeluarkan catatan kecil yang di berikan ibunya.


"Oh..ternyata karena disuruh ya,ok kalau gitu tante akan menyuruh salah satu karyawan untuk mencarikannya untukmu".


_ _ _ _ _ _ _ _


" Dimas bulan depan kan liburan semester, selama dua minggu sebelum ujian kelulusan,bagaimana kalau kita liburan kemana gitu,refreshing biar nggak stres menghadapi ujian nanti",kata Max yang kini tengah duduk bertiga dengan Ridho,dan Ridho yang sejak tadi memainkan ponselnya, entah sejak kapan mereka bertiga bisa jadi akrab sekarang,sedang Dimas hanya diam,tentu saja jika ia menjawab pun pasti jawabannya adalah tidak,ia paling malas jika harus kesana kemari, apa lagi ia paling benci dengan tatapan gadis-gadis yang selalu membuat nya risih.


"Gimana Dim, mau nggak?", tanya Max lagi.


" Nggak "


" Mana,wah bener,pemandangan nya keren banget, dan bisa dijadiin tempat ambil foto yang kece",ucap Max yang merebut ponsel Ridho dengan semangat,namun Dimas hanya diam.


"Disana juga ada kos-kosan milik tanteku,dan kita bisa sekalian nginap disana", rambah Ridho.


" Wah beneran,kalau gitu makin enak dong, ayolah Dimas, please...kita kesana yuk apa kamu nggak bosan disini dan selalu diburu fans girl mu itu,kalau kamu kesana kan nggak ada yang kenal dengan mu jadi nggak akan ada yang mengganggu mu ya kan",bujuk Max,Dimas yang mendengar nya pun berfikir, perkataan Max ada benarnya juga siapa tahu disana ia bisa merasa damai tanpa gangguan.


"Gimana Dim, kamu mau nggak,kalau kamu mau biar aku dan Ridho yang mengatur semuanya, gimana?", ucap Max yang kembali mencoba meyakinkan nya.


" Ok,gue ikut",jawab Dimas,

__ADS_1


"Serius,aku nggak salah dengar nih,coba ulangi lagi", kata Max yang masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


" Iya...gue bilang iya,kenapa sih lo bawel banget",


"Bukan gitu aku cuma nggak nyangka aja kamu mau ikut",


" Teng...tong...teng...",suara bell tanda istirahat berakhir pun berbunyi kini saatnya mereka akan memulai pelajaran berikutnya.


Sekitar pukul dua belas siang,sebuah mobil mewah berwarna hitam kini tengah melaju disebuah permukiman yang agak padat dan ramai.


Setelah beberapa lama menyusuri jalan,mobil itu perlahan mengarah kesebuah rumah beton,namun terlihat sederhana,rumah yang sangat ia kenal dan ingat, rumah yang dulu pernah ia datangi untuk menjemput gadis kecilnya yang kini tengah menghilang tak tahu kemana,yang membuat hati dan pikiran nya selalu tak karuan,dan rumah ini adalah harapan terakhirnya untuk mencari kekasihnya itu.


"Tok...tok...tok..".Bima kini mulai mengetuk pintu rumah Tari,dengan perasaan yang bercampur aduk antara senang dan juga cemas,tak lama kemudian pintu itu terbuka, terlihat seorang nenek-nenek yang tengah berdiri dihadapannya.


" Maaf,anak muda anda mencari siapa ya",ucap nenek itu, karena merasa tidak mengenali Bima.


"Oh maaf nek,sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri dulu, nama saya Bima Bagus Sutrisno, putra sulung dari pak Bagus dan ibu Sulis.", ucapnya seraya mengulurkan tangan yang disambut oleh nenek Girah.


" Oh putra nya ibu Sulis ya,maaf saya tidak mengenali karena saya hanya pernah bertemu dengan bu Sulis,silahkan masuk duduk dulu",jawab nenek Girah.


"Ah terimakasih, saya hanya sebentar, dan saya kesini hanya ingin mencari Tari",ucap Bima.


" Maaf,bukannya Tari ada dirumah tuan,dan selama satu minggu lebih dia sudah tak pulang,seminggu yang lalu dia menelpon katanya ia tak bisa pulang karena sibuk mau ujian",jawab nenek Girah yakin,bak mendengar petir disiang hari pernyataan nenek Tari membuat nya mematung,terpaku, ternyata kekhawatirannya selama ini benar bahwa Tari sudah pergi dari sini,serta dari kehidupannya dan yang paling menyakitkan adalah sudah pasti tak ada harapan lagi mereka bisa bertemu.

__ADS_1


__ADS_2