
"*Rembulan yang selama ini kudambakan,telah berhasil kuraih,meski pun demikian rasa ragu dan gelisah bagaikan kegelapan yang membayangi cahaya terangnya*".
Setelah beberapa saat tangisan Tari pun akhirnya reda,ia pun tersadar bahwa ia masih dalam pelukan Dimas,dan Dimas pun pasti tahu kan kalau ia sudah tak menangis lagi,tapi mengapa?,mengapa ia tak kunjung melepas pelukan itu.
"H..hei! Di..Dimas kamu nggak mau masuk,ini sudah petang loh,ka..kalau kamu nggak mau masuk aku duluan ya", ucap Tari gagap seraya mendorong Dimas agar melepas pelukannya,ia gugup dan sangat malu sekarang sehingga ia pun langsung masuk tanpa menunggu Dimas.
Dimas masih belum meranjak dari tempat sebelumnya,ia terpaku dan baru sadar apa yang telah ia lakukan,bisa-bisanya,bisa-bisanya ia memeluk gadis yang bahkan sangat ia benci itu,atas dasar apa?,mengapa ia luluh saat melihat air mata gadis itu,sungguh aneh,fikirnya.
Ia pun menatap kedua tangannya yang tadi mendekap tubuh gadis itu,
" Sungguh gila, gue pasti sudah gila karena sudah memeluk cewek kampung itu",ucap nya dalam hati, dan ia pun mengalihkan pandangannya pada gadis yang tengah melangkah masuk itu dan entah mengapa tanpa sadar ia pun tersenyum,
"Oh astaga,gue pasti sudah benar-benar gila", ucapnya lagi yang tersadar sambil meremas kasar rambutnya sendiri, dan kemudian ia pun juga melangkah meninggalkan tempat itu.
Disisi lain Bima kini tengah melamun didalam kamarnya,ia masih memikirkan tentang apa yang ia lihat tadi.
" Aku masih tak menduga kalau penyebab ia tak mau menerima ku adalah karena ia menyukai Dimas, tapi mereka kan sering bertengkar bagaimana mungkin mereka saling menyukai?",
"Tapi, aku harus memastikan nya sendiri, akan ku tanyakan langsung padanya,belum tentu apa yang terlihat adalah kebenarannya kan,ya.. aku harus menanyakan nya langsung besok",ucapnya lagi untuk meyakinkan dirinya sendiri.
__ADS_1
_ _ _ _ _ _
Kini mereka berempat sedang makan malam bersama,Tari dan bu Sulis sejak tadi bertanya tentang keadaannya di sekolah dan perbincangan itu pun berlangsung dengan lancar,tanpa disadari oleh ibu Sulis sebenarnya sejak tadi dibalik sikapnya yang terlihat tenang,kenyataan nya yang ia rasakan adalah perasaan tak nyaman dan sangat dan teramat canggung,bagaimana tidak sejak tadi ia terus diawasi oleh dua pasang mata yang tepat berada di depannya namun ia tetap berusaha menyembunyikan rasa canggung itu.
" Ah saya sudah selesai makan, saya kedapur dulu, tante,Dimas dan mas Bima silahkan lanjutkan saja makannya",ucap Tari seraya meranjak dari tempat duduknya.
Sespainya didapur ia pun menghela nafas panjang,
"Akhirnya...aku terbebas dari rasa gugup yang menyesakkan", ucap nya sambil mengelius dadanya,kemudian ia pun mencuci piring bekasnya.Tanpa diduga Bima juga kedapur ia membawakan piring bekasnya,ibu dan adiknya kedapur.
" Ini piringnya",tiba-tiba terdengar suara,suara yang sangat ia kenal namun ia tak berani menatap wajah itu.
"Oh..ta..taruh saja disitu,dan terimakasih",jawabnya singkat,
"Ya"
"Tari,tolong berikan aku jawabannya sekarang, aku perlu kepastian,aku siap dan akan menerima jika kamu menolak,tapi lebih sakit dan tak tenang jika aku belum kunjung mendapat jawaban nya", ucap Bima,akhirnya ia mengeluarkan semua yang ingin ia sampaikan tak sanggup lagi ia menyimpan nya seorang diri.Tari yang mendengarnya terdiam sejenak,ia masih berfikir bagaimana mengatakan alasan nya dan agar Bima mengerti maksud nya.
"Tari,"
"Kalau gitu saya akan menjawab nya segera Setelah saya menyelesaikan pekerjaan saya ini,dan tunggulah saya di dekat kolam." Jawab Tari.
"Baiklah aku akan menunggu mu di sana", ucap Bima dengan wajah yang agak gugup terus terang sebenarnya ia belum terlalu siap mendengar jawaban Tari apalagi penolakkan.
Bima tengah duduk di tepi kolam sambil merendam kakinya,berulang kali ia menghembuskan nafas sembari menunggu kedatangan Tari. Tak berapa lama Tari datang,Bima sontak bangkit dari duduknya.
__ADS_1
" Tari ",
" Mas Bima saya akan menjawabnya sekarang, dan maaf",
"Dheg", baru mendengar kata maaf pun sudah jelas,gadis itu pasti akan menolaknya,ingin rasanya ia menghentikan waktu agar kata selanjutnya yang pasti sangat tak ingin ia dengar.
" Maksudnya?",
"Maaf,saya tak pantas bersanding dengan mas Bima",jawabnya yang justru membuat Bima bingung.
" Tak pantas!,mengapa?",Tanya Bima yang benar-benar tak mengerti.
"Ah,mas Bima apa perlu kujelaskan lagi,kita sangatlah berbeda,mas adalah anak dari keluarga berada sedang saya hanya orang miskin yang bahkan hanya pembantu dirumah mas sendiri, dan apa pendapat orang lain jika mengetahui bahwa Bima Bagus Sutrisno anak sulung dari keluarga dengan perusahan properti terbesar kini tengah berkencan dengan seorang gadis biasa, gadis yang berasal dari keluarga miskin yang bahkan sekolahnya dibiyayai oleh keluarga Bagus Sutrisno karena merasa kasihan,itulah yang akan mereka katakan dan saya sungguh tak siap dan tak sanggup untuk Mendengar nya, hiks..", jawabnya panjang lebar hingga tak mampu lagi membendung air matanya.Bima yang mendengar jawaban itu hanya terdiam,ia langsung saja menarik tubuh Tari ke dalam pelukkannya,ia berusaha menenangkan gadis itu melalu kehangatan pelukannya.
" Sebegitu takutnya kah kamu pada pendapat orang lain,sehingga kamu tega membohongi perasaan mu sendiri",ucap Bima yang masih memeluk gadis itu.
"Hiks...hiks...",
" Menangislah jangan di tahan,dan dengar baik-baik, aku tak perduli kamu berasal dari keluarga yang bagaimana, bagiku kamu itu berharga dan tak pantas dipandang rendah kamu bahkan tidak bisa dibandingkan dengan gadis manapun,jadi tolong jadilah kekasihku",kata Bima meyakinkan,kata-kata yang sederhana namun membuat hati Tari luluh semakin ia yakin dan tak bisa berbohong bahwa ia memang menyukai Bima. Sehingga tanpa ragu lagi ia pun mengangguk.
Bima yang mendapat respon dari Tari langsung sumringah,terbitlah senyumnya.
"Terimakasih, Kamu mau memprcayaiku," ucapnya sembari mengeratkan prlukannya yang dibalas pelukan dari Tari.
Rembulan dan bintang yang menghiasi malam indah ini adalah saksi dari cinta mereka.
__ADS_1