
"Aku merasa perlahan semakin dekat dengannya, namun disisi lain keberadaan temanku sekaligus majikannya itu,bagaikan dinding penghalang yang membuat ku terasa jauh darinya".
Dear:Ridho**.
Waktu menunjukkan sekitar pukul empat sore,akhirnya mereka pun menyelesaikan dan menyimpulkan soal\-soal yang yang akan keluar saat ulangan nanti.
"Hahhh...,akhirnya selesai juga,rasanya kepala ku sudah kram karena terlalu lama berfikir",ucap Max sambil menggerak-gerakkan kepalanya.
" Alah..kamu,banyak berfikir?,yang ku tahu sejak tadi kamu hanya banyak tanya pada Ridho serta mengganggu ku",ucap Ningsih ketus.
"Hei,hei,hei..bertanya pun termasuk sudah berusaha lo,itu artinya aku juga masih berusaha mengerti dan juga belajar dengan serius." Jawab Max.
Tari yang melihat kelakuan dua orang itu hanya tersenyum tipis,pemandangan ini sudah biasa baginya,dan tanpa ia sadari Ridho sedari tadi tengah memperhatikan nya,senyum itu entah mengapa membuat hatinya luluh,senyum tipis namun mempesona itu selalu berhasil membuat jantungnya berdetak tak beraturan, ingin rasanya ia mengatakan perasaannya saat ini apalagi saat melihat senyum itu,namun ia kembali tersadar, ia harus bisa bersabar,ia ingin mencari masa yang tepat untuk mengatakan nya,dan ia juga tentu harus mempersiapkan hatinya jika gadis itu menolak nya,meskipun ia lumayan tenar diantara kalangan siswi di sekolah nya namun siapa yang tahu,mungkin saja pendapat gadis itu berbeda terhadap dirinya.
"Ada apa?, apa kamu mau bertanya sesuatu?", tanya Tari tiba-tiba,karena ia menyadari kalau lelaki itu tengah memperhatikan nya.
Ridho yang merasa tertangkap basah sedang memperhatikan nya pun lantas gugup, ia kini tengah mencari alasan apa yang harus ia katakan.
" A...anu..aku..hanya berfikir apakah kamu tidak mau melihat-lihat taman bunga di depan rumahku,seperti nya kamu sangat menyukai nya.",jawab Ridho,entah mengapa malah kata ini yang keluar, tapi untunglah kebiasaan buruk nya tak keluar,kebiasaan buruknya ia akan bebicara hal aneh bahkan tak masuk akal jika ia merasa benar-benar gugup dan tak bisa lagi berfikir jernih,namun selama ini hanya ada beberapa orang yang mengetahuinya,hanya keluarganya yang terdekatnya saja.
"Apa boleh?", tanya ny dengan mata yang berbinar-binar.
" Tentu saja,kenapa?,Tanya Ridho bingung.
"Sebenarnya aku dari awal sudah tertarik ingin bermain disana,tapi aku takut,kalian tidak suka kalau taman bunga kalian diganggu".
" Yaampun.. ternyata begitu, kalau gitu ayo ke sana sekarang mumpung masih sempat ",ajak Ridho.
Mereka berdua pun segera berdiri.
__ADS_1
" Mau kemana kalian ",tanya Ningsih.
" Kami berdua mau ke taman bunga,apa kalian mau ikut? ",ajak Tari.
Ningsih tak menjawab, namun ia malah melirik ke arah Ridho.
" Ah nggak,aku disini saja aku mau istirahat dulu,nanti aku susul kalian",jawab Ningsih.
"Aku juga disini saja ya dho", kata Max,dan dibalas anggukkan oleh Ridho.
" Em..kalau gitu aku dan Ridho keluar dulu ya,dan kalian berdua jangan bertengkar",kata Tari terkekeh.
"Ok!", jawab Ningsih.
Mereka berdua pun keluar untuk melihat taman bunga milik keluarga Ridho.
_ _ _ _ _ _ _
Ia pun duduk di kusi santai dekat kolam,ia mengambil ponselnya yang ia letakkan di meja itu,tiba-tiba ponselnya berbunyi, ia pun lantas membuka layar ponselnya.
1 Message from: Max.
Ia pun mengerutkan keningnya,ada apa lagi dengan anak ini,fikirnya. Dan betapa terkejutnya dirinya saat membuka pesan itu,hampir saja bola matanya keluar saking kagetnya.Bagaimana tidak,pesan itu berisi foto Ridho yang tengah menyelipkan sebuah bunga di telinga seorang gadis,dan betapa geramnya ia saat menyadari bahwa gadis itu adalah Tari, dengan wajah yang begitu bahagia ia mau disentuh oleh lelaki lain,lalu apa artinya yang ia lakukan bersama masnya wa itu fikirnya.
" Cih,benar-benar cewek murahan,ia pasti sudah terbiasa dengan berbagai macam laki-laki,"ucapnya seraya memandang jijik foto itu.
Ia pun bergegas berjalan menuju kamar nya,ia segera berganti pakaian,ia ingin menjemput gadis itu pulang bersamanya.
__ADS_1
"Apaan sih kamu Max, kok ngambil gambar mereka berdua, mengambil gambar tanpa izin itu melanggar tidak boleh lo", ucap Ningsih pelan,karena kini mereka berdua tengah mengintip di balik rerumputan,yang dekat dengan dua orang itu.
" Terserah aku lah,lagian aku hanya iseng,dan tidak akan menggunakan foto ini untuk hal yang aneh ",jawab Max pelan.
Tiba-tiba saja seorang satpam datang menghampiri Ridho.
" Tuan muda,diluar ada seorang anak lelaki sebaya dengan tuan yang memgaku sebagai teman tuan dan ingin bertemu".
"Siapa?", Tanya Ridho.
" Saya juga tidak tahu tuan,dia enggan memberi tahukan namanya. "
"Ah baiklah saya akan keluar menemuinya secara langsung, seperti nya amat penting",
" Tari,kamu tunggu disini dulu ya!,aku ingin kedepan sebentar, aku akan segera kembali ",Ucap Ridho seraya melangkah pergi ke arah pintu depan.
Ridho pun sampai didepan pintu gerbang,matanya pun menangkap sosok yang tengah duduk diatas motor, dan ia sangat mengenali orang itu.
" Dimas ",sapanya.Dimas yang mendengar lantas berbalik.
" Ada apa kamu kesini?,apa kamu ada perlu dengan ku?",tanyanya lagi.
Dimas yang mendapat pertanyaan itu lantas terdiam, ia juga tak berfikir membuat alasan untuk ini.
"Aku mau menjemput Tari,mamaku menyuruh ku menjemput nya",jawabnya ketus.
Ridho sebenarnya merasa ada yang aneh,ia juga mengenali betul bagaimana nyonya dari keluarga Bagus Sutrisno bukan lah orang yang akan menggunakan alasan seperti ini untuk hal sepele,walau pun hanya pada pelayan rumah sekali pun, dan bukan kah keluarga itu memegang teguh rasa hormat,fikirnya. Namun, ia tak ingin bertanya lagi,karna ini adalah haknya,sebagai majikan dari gadis itu.
" Baiklah akan ku panggil Tari sekarang, dan..apa kamu mau masuk?",tanyanya lagi.
__ADS_1
"Tidak perlu, aku tunggu di sini saja", Jawab Dimas.
Tanpa bertanya lagi Ridho pun masuk untuk memanggil Tari.