
"Maaf,Ningsih.. bukan maksud gue berbuat semua ini, untuk sementara gue harus lakuin ini,karena ini semua salah gue,gue yang membuatnya pergi,dan pada saat nya nanti gue pasti akan membawanya kembali".
Dear: Dimas.
"Hai Dimas apa kabar", sapa seorang perempuan seketika ekspresi Dimas pun berubah setelah melihat orang yang menyapanya itu.
Seorang gadis sedang berjalan mendekat kearahnya dan berdiri tepat dihadapannya,diikuti oleh dua temannya.
" Ngapain lo kesini lagi?",tanya Dimas dengan nada dan tatapan tak suka.
"Yaampun...Dimas,aku tuti yang kurang lebih satu bulan ini merindukanmu,dan datang khusus kesini hanya untuk menemui mu dan kamu malah menanyakan ngapain aku kesini?,aku sungguh kecewa mendengarnya", ucap Tuti.
"Gue nggak perduli," jawab Dimas seraya kembali memainkan ponselnya.
"Hei Dimas apa kamu nggak merasa ber terimakasih padaku?,aku bahkan rela menunggu mu,walau pun selama satu bulan ini banyak cowok yang menembakku,tapi aku selalu menolak mereka semua hanya demi kamu", ucap Tuti mulai menegaskan maksud kedatangannya,namun sedikit pun tak ada respon dari Dimas,ia hanya asik dengan ponselnya,seperti sebelumnya para murid di kelas itu pun mulai berbisik,dulu ia sama sekali tak perduli dengan bisikan mereka,tapi sekarang hal itu membuatnya benar-benar malu,pasalnya saat ini dia tak menyangka,dia sedang ditolak,ditolak mentah mentah di depan semua orang di kelas itu,ia mulai kesal,ini tak bisa di biarkan aku tak boleh menyerah begitu saja,aku tak pernah merasa semalu ini seumur hidupku,fikirnya.
" Dimas, coba sekali saja kamu menghargai perasaanku aku sudah...",belum selesai Tuti bicara Dimas yang sudah merasa sangat kesal lantas memotong kata-kata nya.
__ADS_1
"Cukup!, gue bilang cukup, gue udah sabar ya sama lo," teriak Dimas yang berdiri dan menatap tajam wajah Tuti,dan seketika semua orang yang ada dikelas itu terdiam.
"Lo dengar ya,ini gue katakan untuk yang terakhir kalinya,terus terang gue bilang gue nggak suka sama lo,lo itu cerewet,sombong dan banyak tingkah gue udah muak ya sama lo yang suka datang dan ganggu gue,kalau aja lo itu cowok pasti udah gue hajar dan gue lempar dari jendela,gue diam karena lo itu cewek, jadi...gue bilang sekali lagi jangan pernah ganggu gue lagi atau gue bakal kehilangan kesabaran dan melakukan kekerasan sama lo,ngerti?, ayo Max kita pergi dari sini gue nggak nafsu makan kalau liat muka dia!", ucap Dimas yang pergi begitu saja meninggalkan Tuti yang terpaku,ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
" Tut...Tuti... kamu nggak apa-apa? ",ucap kedua temannya.
" Aku belum pernah merasa sehina ini sebelumnya, aku nggak perduli, aku akan dapetin dia gimana pun caranya ",gumam Tuti dengan wajah kesal.
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _
Disebuah meja yang ada dipojokkan kini mereka berdua berada,Max tengah asyik melahap makanannya, sementara Dimas hanya duduk dengan satu botol air mineral di depannya.
" Dimas apa kamu nggak mau pesan makanan,apa kamu nggak lapar?",tanya Max menghentikan makannya.
"Nggak, gue nggak lapar, lo cepetan habisin makanan lo,biar kita cepat pergi dari sini",
" Iya..iya sebentar lagi juga selesai tunggu sebentar lah".
__ADS_1
Tak lama kemudian seorang gadis tiba-tiba duduk dan bergabung dengan mereka berdua.
"Apa kabar Dimas,bagaimana dengan luka mu apa sudah lebih baik,pasti sakit sekali ya?", ucap Ningsih,gadis yang baru saja bergabung dengan mereka.
" Ah nggak ko,ini hanya luka keci gue udah baikan kok,dan ngomong-ngomong kenapa lo malah gabung sama kita,dimana teman-teman lo?",tanya Dimas.
"Oh itu,aku...nggak punya teman", jawab Ningsih murung.
" Kenapa?, apa nggak ada yang mau temenan sama lo, apa lo dibuly,siapa dia siapa yang berani ngebuly lo gue bakal ngasih perhitungan sama dia",ucap Dimas dengan suara agak keras.Seketika semua orang yang ada dikantin itu pun melihat kearah mereka akibat teriakan Dimas.
"Sssstt,apaan sih kamu Dimas, malu-malu in aja,tenang dong,lihat semua orang sedang memperhatikan kita karena ulahmu", ucap Ningsih.
" Ya kalau gitu,kenapa, kenapa lo nggak punya teman?,"tanya Dimas lagi dengan suara yang kembali normal.
"Itu karena.... aku nggak merasa ada satu pun yang cocok dengan ku,semua nya hanya memgurus soal pacaran dan hal yang nggak berguna lainnya, aku tahu itu adalah hal normal bagi semua orang, tapi....entah mengapa itu semua bukan gayaku,bukan sesuatu yang aku sukai,hanya Tari.... hanya Tari lah yang paling mengerti aku,aku merasa setelah kepergian Tari,tak ada lagi orang seperti dia,dia itu baik, lembut dan paling mengerti aku lebih dari siapa pun dan sangat dewasa,terkadang aku merasa dia seperti seorang kakak bagiku,kakak yang selalu mendukung ku disaat aku dalam masalah,yang selalu ada disaat suka maupun duka,karena itulah aku sangat menyayanginya,aku tak tahu kenapa ia pergi begitu saja,apa karena aku,jika memang karena aku seharusnya dia bilang, biar aku meminta maaf,biar nggak ada perpisahan seperti ini,aku sangat merindukannya,aku tak tahu sekarang dia ada dimana, sedang apa,apakah dia sudah bahagia bersama teman barunya yang beruntung, jika saja bisa,sekali saja aku ingin bertemu dengannya, aku ingin memeluknya,dan menceritakan semua nya,tentang aku yang selalu merindukannya",ucap Ningsih seraya menatap nanar makanan yang sejak tadi hanya ia aduk-aduk.
Max pun menatap Dimas, seakan ingin berkata bahwa boleh kah ia memberi tahukan Ningsih yang sebenarnya, namun seketika Dimas menggelengkan kepalanya,Max tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti Dimas,walau pun terkesan kejam tapi Max percaya pasti ada alasan nya Dimas merahasiakan semua ini dari Ningsih.
__ADS_1