
Sekitar pukul delapan pagi Dimas pun terbangun dari tidurnya,ia terbangun karena wajahnya yang terpapar sinar matahari yang merambat masuk melalu kaca jendela kamar.
"Uh....siapa sih yang membuka horden pagi-pagi gini", ucap Dimas seraya mengacak-acak rambutnya kesal,namun matanya masih terpejam.
" Hei bro!,apa kamu bilang, ini masih pagi?",kata Max yang baru saja masuk untuk ganti baju dan tak sengaja mendengar perkataan Dimas,dan Dimas pun lantas menoleh kearah sumber suara itu.
"Hei Dimas, tak kusangka kamu ini tipe orang yang bangun kesiangan,ini sudah jam delapan dan kamu bilang ini masih pagi dan apa kamu sendiri tak merasa baru saja wajah mu terkena cahaya matahari,bahkan Ridho sudah lari pagi diluar sana", ujar Max yang mengomel sambil memasang baju gantinya.
" Iya...iya...bawel dah lo kaya emak-emak",kata Dimas seraya bangun dan meranjak dari tempat tidur.
_ _ _ _ _ _ _
"Tari kok Elang belum datang juga ya",ucap Laras yang tengah menimbang gula bersama dengan Tari.
" Elang?,emang kenapa,kenapa kamu mencarinya?",selidik Tari.
"Ah..kamu ini nggak ngerti atau apa",
" Memangnya ada apa,aku beneran nggak ngerti? ",kata Tari dengan wajah bingung nya.
" Ih...gini, aku langsung bilang aja ya supaya kamu nggak bingung lagi,sebenarnya.. aku itu suka sama Elang,dari pertama kali melihatnya aku sudah menyukai nya,dia itu tipe ku banget dan..kamu kan kayaknya kenal dengannya, jadi...mau kan kamu buat aku dekat dengannya,please... ",bujuk Laras.
" Memang nya apa sih yang menarik dari Elang itu,kok semua orang ter kagum-kagum melihat nya",ucap Tari dalam hati.
"Ya..Tari, ya..ya...ya...", bujuk Laras yang bersikeras dengan kehendaknya.
__ADS_1
" Laras..,seharusnya kamu tak perlu bantuanku,kamu itu cantik, masih muda dan semua yang mendukung ketertarikkan nya ada pada dirimu,jadi apa lagi yang harus aku bantu tanpa ku pun kamu pasti bisa mendapat kannya dan bahkan lebih dari dia, hem..",kata Tari meyakinkan Laras.
"Benarkah begitu?, kamu tidak bohong kan?",
" Yaampun.. coba aja deh, kamu dekati dia,tapi jangan gegabah,seperti nya dia tidak terlalu suka bicara pada orang yang tak dikenal,perlahan saja dan aku akan coba sedikit membantu mu nanti",ucap Tari tersenyum penuh keyakinan.
"Benarkah, terimakasih Tari....kamu memang teman yang terbaik!!", ucap Laras seraya memeluk Tari.
Seperti yang diduga Elang datang lagi ke toko itu,dengan tampilan yang sederhana dengan baju kaos hitam berlengan pendek,dengan setelan celana jeans berwarna navi panjang,meski pun terkesan santai namun tetap saja terlihat modis dan staylish yang tak ketinggalan jaman.
" Hai tante,"sapa Elang pada tante nya,namun matanya malah menatap kearah lain seperti mencari sesuatu,tante nya yang sudah faham apa yang sedang ia cari itu lantas tersenyum sendiri.
"Oh Elang, mau belanja lagi ya..ayo ambilah sendiri kamu pasti sudah hafal kan dengan barang-barang yang akan kamu beli", ucap tante nya berpura-pura untuk mempermainkan nya.
" Oh,kalau gitu biarkan Laras yang membimbingmu",ucap Tari tiba-tiba karena ia sejak tadi mendengar perkataan dua orang itu.
"Memang kamu sedang apa?,kenapa tidak kamu saja, kenapa malah orang lain", protes Dimas.
" Elang, apa kamu tidak lihat aku sedang apa,aku sedang menimbang gula sekarang,jadi biarkan Laras yang membimbingmu apa bedanya,ya kan?",ucap Tari yang seketika membuat Elang kehabisan kata-kata.
"Tepung beras ya em...E,Elang...tepung beras nya ada di sebelah sini", ucap Laras, namun Elang tak mengikuti nya dan malah menatap seseorang yang tengah menimbang gula disana.
Ada rasa sedih dihati Laras, bagaimana tidak ia sudah berusaha membimbing Elang namun apa?,ia malah memperhatikan orang lain dan mengacuhkan dirinya, namun ia tak mau menyerah ia harus bisa,ia harus sabar dalam mengejar sang pangeran impiannya itu.
" E...Elang! ",panggil Laras sekali lagi.
__ADS_1
" Ya",
"Ayo!,tepung terigunya ada di sebelah sini",
" Ya",jawab Elang seraya melangkah mengikuti gadis itu.
"Hei,Max,Dimas.., apa kalian mau ikut ke pasar tradisional yang ada di dekat sini,aku ingin kesana kita perlu mencari beberapa bahan untu menu makan siang dan makan malam kita", ajak Ridho pada kedua temannya itu.
" What,pasar tradisional...bukankah itu pasar yang biasanya kotor dan dipenuhi oleh bau-bau yang aneh kan,serius kita mau kesana,apa kamu yakin,kenapa kita tidak ke mall saja?",ucap Max yang sudah membayangkan betapa kotor nya pasar itu.
"Hey Max, kamu ini ya,apa kamu tidak pernah tahu banyaknya manfaat berbelanja di pasar tradisional,disana menjual berbagai macam bahan mentah yang alami dan segar loh,tapi kalau kalian tak mau tak apa aku bisa pergi sendiri kok,kalau gitu jaga rumah ya", ucap Ridho seray melangkah keluar.
" Tunggu Do,gue ikut",ucap Dimas,sambil memgambil jaketnya.
"Serius,Dimas kamu mau kepasar, wah sungguh peristiwa langka,hahaha...", ledek Max,sementara Dimas seketika wajah nya berubah kesal.
" Memang kenapa?, dan lo tunggu disini jangan kemana-mana,dan nanti kalau kita beli ikan lo yang harus membersihkannya,dasar pemalas...,ayo Do kira pergi ",ucap Dimas.
" Hei...hei Dim...Dimas,kenap bisa gitu woi....,dasar Dimas bisa-bisanya dia memperlakukanku seperti ini ",gerutu Max kesal.
Tak lama kemudian mereka berdua pun sampai di pasar tradisional itu,tak seperti yang ia bayangkan ternyata pasar itu lumayan bersih dan tak sekotor ia kira.
" Nah ....Dimas bagaimana, apa kamu merasa tak nyaman saat ini jika tak sanggup sebaiknya kembali saja biar aku belanja sendiri ",ucap Ridho.
"Nggak apa-apa kok, lagian pasarnya juga nggak begitu buruk", jawab Dimas seraya melihat sekeliling.
__ADS_1