
Setelah beberapa lama akhirnya Dimas pun selesai mandi,ia kini keluar dengan mengenakan handuk di bagian bawahnya hingga tubuhnya yang sixpack pun terlihat,ia pun menghadap cermin full body yang memang tersedia dikamarnya.Ketika ia menghadap cermin ia teringat dengan apa yang dikatakan Tari padanya,bahwa dirinya bukan tipenya.Kemudian ia pun menghadap kiri dan kanan memperhatikan setiap jengkal wajahnya sendiri.
"Apakah gue jelek? kenapa dia bilang kalo gue bukan tipenya...?, ah udah lah mungkin matanya aja yang rusak".Lalu Dimas pun memutuskan untuk tidur dari pada memikirkan hal yang tak penting baginya.
_ _ _ _ _
Pagi ini seperti biasa,mereka sarapan bersama-sama sambil bersudau gurau,setelah selesai makan Tari pun segera membereskan piring bekas sarapan ,tanpa ia sadari Bima sejak tadi masih dimeja makan dan sedang memperhatikan dirinya,setelah ia sudah menumpuk piring dan ingin mengangkatnya,tiba-tiba tangannya dicegah oleh seseorang, sontak Tari pun menengadah melihat si pemilik tangan yang menahannya.
" Ah mas Bima.."
"Biar saya yang bawa ,ini terlalu berat bagimu kamu kan perempuan masa bawa yang berat-berat".Kata bima sambil tersenyum manis
" Ah anu,biar saya saja ini nanti..baju mas Bima bisa kotor, biar saya saja, saya kuat kok",kata Tari gugup dan salah tingkah.
Bima pun tak kehabisan cara agar Tari tidak menolak jasanya,ia tersenyum saat mendapat sebuah ide,didekatkannya bibirnya ke dekat telinga Tari.
"Kamu yakin tidak ingin saya bantu..", bisiknya ditelinga Tari hingga membuatnya merinding,
dan sontak saja ia langsung menjauh dari Bima.Bima pun langsung mengangkat tumpukkan piring itu.
__ADS_1
" Mas Bima ke...ke...napa ..?,"kata Tari dengan wajah memerah.
"Itu karena kamu menolak bantuan mas,jadi itu adalah satu-satunya cara yang ampuh." Jawabnya sambil senyum lalu melangkah ke dapur untuk meletakkan piring itu.
Setelah selesai didapur Tari pun segera keluar,ia berlari menghampiri mobil yang sudah nenanti di depan.Tari pun masuk dan mobil pun mulai melaju.
Setelah hampir sampai disekolah seperti
biasa,tari akan turun duluan,tapi kali ini Dimas juga ikut turun dari mobil,entah mengapa padahal biasanya ia akan minta diantar hingga ke depan gerbang sekolah.
"Kamu...kenapa turun juga?", tanya Tari heran
" Emang kenapa?,suka-suka gue dong mau turun dimana emang nggak boleh?",jawab dimas ketus.
"Nggak kok cuman aneh aja,aku kira kamu alergi jalan kaki", jawab Tari sinis seraya melangkah pergi.
" Heh,apa maksud lo....hei..."teriak Dimas namun tak dihiraukan oleh Tari.
"Ah..Tari kamu sudah datang,sini aku mau kasih tau kamu ada berita bagus pagi ini", kata Ningsih semangat seraya menuntun Tari ke bangkunya.
" Tari tahu nggak hari ini hari apa?"
"Hari..kamis memang kenapa?", kata Tari datar.
" Ih...Tari...,bukan nama harinya,tapi hari ini itu
perlombaan basket antar sekolah dan sekolah kita jadi tuan rumahnya,jadi Tari....
kamu kan udah janji menemani aku nonton kan?"
__ADS_1
"Haaahhh,baiklah..tapi belajar dulu ya cantik!"
kata Tari lembut.
"Tapi...hari ini kan jamkos(jam kosong),kita kan memang tak ada pelajaran", kata Ningsih cemberut.
" Tapi kan belum mulai juga,belajar sebentaaaar aja ya? nanti aku temenin nonton sampai puas deh!!"kata Tari
Tak terasa waktu menunjukan pukul delapan pagi saat nya perlombaan basket antar sekolah dimulai.Seluruh murid pun berkumpul di area lapangan basket,namun kali ini berbeda,karena kali ini selolah mereka menjadi tuan rumahnya jadi,sekolah juga dipenuhi oleh perwakilan dari sekolah lain,terutama kaum hawa,banyak siswi dari sekolah lain yang mengenal Dimas karena wajah tampannya.
"Hari ini pasti akan menjadi hari yang menyenangkan karena bisa melihat "oppa", kata dua orang siswi dari sekolah lain namun tak sengaja di dengar oleh Tari dan Ningsih yang juga berjalan menuju lapangan basket.
"Cih!!", kata Ningsih jengkel,Tari yang memperhatikan temannya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Mereka berdua pun sampai ditujuan,para pemain basket sedang melakukan pemanasan,banyak siswi yang berteriak histeris disekitar Dimas,kini Dimas sedang melakukan peregangan dengan mengenakan celana diatas lutut,menggunakan setelan baju tak berlengan, has kaos basket ,berwarna biru bercampur merah ,denga baju itu kini lengannya yang lumayan berotot,serta tubuhnya yang putih bersih itu
kini ter ekspos.Pemandangan itu lah yang membuat para siswi makin histeris.
" Ahhhh!! Oppa Dimas sharange yoooo!!!"teriak segerombolan siswi dari sekolah lain yang malah mendukung Dimas daripada pemain dari selolahnya sendiri.
"Apaan sih lebay,hebohnya kayak liat presiden",kata Tari jengkel
" Ahhh tariii,tapi kan memang benar kan Dimas memang ok,apa kamu nggak tertarik sedikit pun?",tanya Ningsih pada Tari
"Hahhh,buat apa juga aku tertarik dengan dia?", kata Tari dengan wajah sinis..
__ADS_1
" Ihhh,tari dia itu paling top dia oppanya selolah kita..eh tapi aku dengar dia nggak pernah pacaran loh dan walau banyak yang menyatakan perasaannya,sampai kakak kelas angkatan XII yang katanya paling cantik pun ia tolak,aku penasaran deh seleranya Dimas tuh gimana yah?".kata Ningsih dengan gaya berfikir.Sedang Tari hanya diam,untuk apa juga ia ikut berpikir tentan Dimas sungguh tidak penting.