
Dikamar...
Riri berbaring diranjang setelah ditelfon papanya tadi, kepalanya benar benar terasa sangat pusing, rasa ini hampir seperti kemarin pagi sesaat sebelum Riri pingsan
Tiba tiba ponsel Riri berdering, tertera nama Varel diatasnya
"hallo Varel, ada apa?", tanya Riri
"nyonya ada yang ingin merusak rumah tangga kalian", ucap Varel langsung to the point
"apa maksudmu?", tanya Riri langsung bangkit dari tidurnya
"dokter wanita yang kemarin menangani nyonya saat dirumah sakit, sudah diancam oleh seseorang agar menyatakan kepada nyonya dan keluarga nyonya bahwa nyonya keguguran", ucap Varel
"apa maksudmu Varel? Fira adalah dokter pribadi ku tidak mungkin dia melakukan itu padaku", ucap Riri
"yang menanganimu bukan dokter pribadimu nyonya, dokter Fira sedang ada di kota B sejak seminggu yang lalu, dan hari ini aku sudah meminta dokter Fira agar pulang dan memeriksa keadaanmu nyonya", ucap Varel
"lalu siapa dokter yang kemarin?", tanya Riri terkejut
"dia adalah dokter kandungan dirumah sakit suamimu nyonya, tapi seseorang telah mengancamnya agar membuat dia mengatakan kepada keluargamu bahwa kau keguguran", ucap Varel
Riri diam mematung mendengar ucapan Varel, dia sangat shock sekaligus senang, tapi juga sedih, ada banyak perasaan bercampur di kepala dan hatinya
"kau tidak keguguran nyonya, kau masih hamil, anakmu masih hidup diperutmu itu, Koko sudah mengambil laporan medis mu hari itu, aku akan mengirimkannya lewat email padamu", ucap Varel
"nyonya, beristirahatlah dirumah, kasihani lah kondisi anakmu nyonya, dia masih sangat lemah didalam sana", ucap Varel
"apakah itu semua benar?", tanya Riri masih tidak percaya
"saran saya, lebih baik nyonya melakukan pemeriksaan dengan tespack, supaya lebih percaya", ucap Varel
"ah iya baiklah", ucap Riri
"saya dan Koko akan mencari tau lebih lanjut tentang siapa dalang dibalik semua ini nyonya", ucap Varel
"baiklah, terima kasih karena sudah mengawasiku, aku tidak tau kalian mengawasiku", ucap Riri
"tidak nyonya, tidak perlu berterima kasih, harusnya saya dan Varel yang meminta maaf karena terlambat mengetahui ini", ucap Koko
"tidak apa apa, terima kasih ya", ucap Riri
"baik nyonya, istirahatlah", jawab Koko dan Varel
Riri menutup telfon itu, dia masih diam mematung diatas ranjangnya
"aku? hamil?", tanya Riri
"aku hamil", ucap Riri lagi, kali ini dia tersenyum
Riri bangkit lalu mengambil tespack dari laci di nakasnya, dia berjalan pelan kearah kamar mandi, perutnya memang sangat sakit sekarang karena berkelahi dengan suaminya tadi
Riri keluar dari kamar mandi setelah memeriksa menggunakan tes pack. Riri duduk dikursi meja riasnya menghadap tes pack iti, dia sangat gugup, jantungnya berdebar kencang
Lalu keluarlah 2 garis dengan sangat jelas sebagai hasil dari tespack itu. Senyum Riri mengembang dibibirnya, dia sangat bahagia saat melihat itu
Beberapa saat kemudian, Riri menghubungi Varel lagi untuk menyiapkan ruangan dimansion kakeknya, agar dia bisa menghukum suaminya itu. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Dio pun sampai dimansionnya
Dio melihat sosok gadis bergaun putih sedang berdiri menunggunya didekat tangga, setelah berjalan lebih dekat, ternyata itu adalah Riri
"sayang kau mau kemana? kenapa pakai gaun putih?", tanya Dio
Alih alih menjawab, Riri justru menyuntikkan bius di leher suaminya itu hingga membuat sang pemilik tubuh kehilangan kesadarannya.
...
Dio terbangun dan mengejapkan matanya, dia lalu mengedarkan pandangannya, terlihat dia sedang berada disebuah ruangan gelap yang tidak tau ini dimana dan milik siapa. Tangan dan kaki Dio diikat, dia juga sudah bertelanjang dada
Ntah apa yang akan dilakukan istrinya itu padanya, dia hanya pasrah tidak memberontak dan lebih memilih menjalani hukuman yang akan diberikan istrinya itu.
Riri masuk ke ruangan Dio dengan pisau lipat ditangannya. Suara langkah kaki Riri dan pisau lipat yang dimainkan ditangan Riri bergema memenuhi seisi ruangan itu, ini benar benar mengerikan. Dio akan menghadapi kemarahan istrinya, sisi gelap istrinya, ntah akan jadi apa dia nanti tidak ada yang tau
"mas yakin ingin menjalani hukuman ini? aku tidak akan memberi keringanan atas kesalahan mas kali ini", ucap Riri pelan sambil mengelus lembut leher Dio
"aku akan jalani hukuman ini, apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan maaf darimu", ucap Dio
"ah begitu ya? baiklah, tahanlah sebentar, ini akan sakit", ucap Riri sambil tersenyum
Riri kemudian mulai melayangkan pisaunya ke tubuh indah milik suaminya itu
"aarghhh!!!", teriak Dio yang kesakitan
Riri justru tersenyum, dia melanjutkan lagi melayangkan pisaunya ketubuh suaminya dan mengeluarkan semua amarah dari lubuk hatinya. Riri memilih untuk berbicara dan berteriak, dengan begitu amarahnya akan lebih cepat hilang daripada dia diam saja seperti saat dia membunuh Alexa
Teriakan Dio dan Riri terus bergema memenuhi isi ruangan itu, darah dari tubuh Dio bercipratan mengenai wajah dan gaun putih Riri.
"aku sungguh membencimu mas, aku benar benar membencimu!", ucap Riri pelan
"maafkan aku, maafkan aku...", lirih Dio
Riri melayangkan pisaunya untuk terakhir kali, kali ini teriakan Dio lebih kuat daripada yang tadi. Nafas Dio berderu menahan sakit yang dia rasakan ditubuhnya, dia mengepalkan tangannya dan mengerang kesakitan menerima semua hukuman kecil dari istrinya itu
Kemudian Koko datang membawa sepiring jeruk nipis yang sudah dibelah menjadi beberapa bagian, setelah meletakkan itu dimeja, Koko pergi dari ruangan itu
"bagaimana? apa yang terjadi?", tanya Varel dan Ara
"mengerikan, benar benar mengerikan, nyonya Riri benar benar menghukum suaminya", ucap Koko
__ADS_1
"bahkan gaun putihnya bercipratan darah suaminya, itu hampir sama seperti saat kejadian Alexa dulu", ucap Koko memegang kepalanya
Ara menutup mulutnya sedikit tak percaya jika Riri benar benar melakukan ini, sementara Varel memijat pelipisnya dia sungguh khawatir nyonya mudanya itu akan menjadi ganas diluar kendali karena dikuasai amarah
Scene berpindah ke Riri
Riri mengambil potongan jeruk nipis itu
"ini hukuman kedua mas, maaf kan aku, mungkin ini akan lebih sakit dari yang tadi, tahanlah sebentar", ucap Riri
"lakukan sayang, aku akan menerimanya", ucap Dio yang masih menahan sakit
"ready sayang?", tanya Riri
Tanpa menunggu jawaban, Riri langsung melayangkan jeruk nipis itu kearah tubuh Dio sambil memerasnya. Cipratan air dari jeruk nipis itu mengenai luka luka di tubuh Dio, membuat sang pemilik tubuh berteriak sangat kuat
"aarghh!!!", teriak Dio menggelegar hingga terdengar ke luar ruangan itu
"itu pasti sangat sakit", ucap Ara pelan
"itu benar benar sakit, aku bisa merasakannya", ucap Koko yang ngilu mendengarkan teriakan Dio
"mungkin ini sebanding dengan kesalahanmu mas", ucap Riri yang masih mencipratkan jeruk nipis itu ke tubuh Dio
"maafkan aku sayang!! maaf!!", teriak Dio menahan sakit dan perih luar biasa ditubuhnya
"kesalahanmu yang pertama aku tidak memberi hukuman secara fisik, aku hanya memberimu sedikit pelajaran agar kau bisa berubah mas, tapi kali ini, aku tidak akan sabar lagi", ucap Riri yang masih asik dengan kegiatannya itu
Riri melanjutkan hukuman yang kedua itu hingga potongan potongan jeruk nipis itu habis. Setelah semua potongan itu habis, Riri memanggil Koko dan memberi perintah selanjutnya
Dio dilepaskan dari ikatannya, Varel dan Koko membawanya masuk kekamar mandi setelah itu mereka keluar, lalu Riri masuk kesana. Riri membersihkan tubuh suaminya itu dengan air hangat, air mata Riri juga ikut mengalir deras
Selesai mandi, Riri mengobati luka luka Dio dengan kotak P3K yang dibawakan Ara, lalu Varel membawakan sebuah surat dan alat perekam suara
"ini adalah hukuman dariku yang ketiga", ucap Riri
"apa itu sayang?", tanya Dio
Riri lalu memulai rekaman suaranya
"aku tidak akan menceraikan mas Dio, tapi dengan syarat, jika suatu hari mas mengulang kesalahan ini lagi, aku akan mengajukan perceraian, dan mau tidak mau mas harus setuju dengan semua pengajuan dan juga persyaratan dariku", ucap Riri dengan air mata yang masih mengalir
Dio menghela nafas berat
"baik sayang, mas setuju, lalu apa yang kedua?", ucap Dio lembut
"jika kita memiliki anak nanti, dan bercerai, maka hak asuh anak jatuh kepadaku, dan mas tidak memiliki hak apapun atas anak anak kita", ucap Riri
Dio bagaikan tersambar petir mendengar ini, jantungnya terasa berdetak lebih kencang daripada sebelumnya, sungguh hatinya sakit hingga dia meneteskan air mata
"baik sayang, akan aku turuti", ucap Dio dengan berat hati
"baik sayang, mas terima semuanya", ucap Dio
Riri lalu mematikan perekam suaranya, Dio juga menandatangani surat perjanjian tertulis yang berisi syarat syarat dari istrinya tadi. Setelah menyimpan dan membereskan semuanya, mereka kembali lagi ke mansion
Suasana hati Riri membaik, walaupun amarahnya belum sepenuhnya hilang, tapi setidaknya dia sudah sedikit memaafkan suaminya.
Riri masih menjaga jarak dari Dio, setelah sampai dimansion, Riri memilih tidur dikamar lain untuk malam ini, Dio pun terpaksa menyetujuinya. Malam itu berakhir dengan sepasang suami istri yang pisah ranjang untuk sementara waktu
.
.
Pagi hari tiba, mereka lalu menjalani aktifitasnya seperti biasa. Suasana hati Riri juga sudah membaik, dia juga sudah kembali kekamarnya, tapi belum mau berbicara dengan suaminya
"mas nanti akan pulang lebih lama dari biasanya karena diundang ke acara pesta kolega bisnis mas dikantor, tidak apa apa kan sayang?", tanya Dio pada istrinya yang sedang makan itu
"em", jawab Riri singkat
"yasudah mas berangkat dulu ya, kamu hati hati dirumah, istirahat dulu ya, sampai jumpa nanti malam ya sayang", ucap Dio lalu mengecup kening istrinya itu
Dio pun berangkat kekantor, ia sengaja masuk kekantor hari ini karena harus menyelesaikan banyak pekerjaan agar bisa libur panjang untuk membujuk istrinya
Waktu berlalu dengan cepat, jam sudah menunjukkan lewat dari tengah malam, Riri sedang mondar mandir dikamarnya karena khawatir dengan suaminya yang tak kunjung pulang
Riri sengaja tidak membersihkan kamarnya dari pertengkaran mereka kemarin malam, ntah apa yang membuat Riri berfikir seperti itu. Bahkan semua pelayan tidak ada yang boleh memasuki rumah utama dimansion Riri
Riri lalu mengambil kembali tespack miliknya dan berdiri didepan meja rias, hatinya terasa adem saat mengingat bahwa dia sedang hamil. Riri pun bertekad akan memaafkan Dio dan bersikap seperti biasanya
Namun beberapa saat kemudian, perutnya sakit lagi, kali ini sangat sakit rasanya hampir sama saat dia terbentur meja kemarin.
"ahh perutku... argh ini...", ucap Riri melihat darah mengalir di pahanya
"mas... ah perutku... arghh mas tolong...", ucap Riri memanggil manggil Dio
Riri terjatuh kelantai dengan tangan kiri memegang tespack dan tangan kanan memegang perutnya
Riri melihat jam sudah menunjukkan pukul 1 malam, namun Dio belum juga kembali ke mansionnya. Riri meringis kesakitan memegang perutnya, dia mengalami pendarahan lagi. Riri tidak bisa meraih handphonenya yang ada diranjang, itu terlalu jauh.
...
Dio akhirnya sampai dimansionnya, dia sengaja membelikan beberapa makanan kesukaan istrinya itu. Dio berjalan masuk kekamarnya, namun dia sangat terkejut saat melihat Riri terbaring dilantai dan sedang meringis kesakitan memegang perutnya
"mas... sakit", ucap Riri yang melihat kedatangan Dio
Dio segera berlari menghampiri Riri, dia melihat darah dipaha istrinya itu
"kamu kenapa sayang? ada apa? darah apa ini?", tanya Dio membangkitkan tubuh Riri
__ADS_1
"kita kerumah sakit ya", ucap Dio mengendong Riri
"jangan mas... jangan, bawa aku keatas ranjang dan... minta obatku yang dibawa Jiah kemarin... itu bisa... meredakan sakit ini", ucap Riri terputus putus karena menahan sakitnya
Dio panik, dia berlari kekamar Jiah, namun ternyata obat itu tidak ada disana, Dio menelfon Jiah tapi tidak diangkat. Dio berlari lagi kekamarnya dan melihat Riri yang masih meringis kesakitan, ia memeluk istrinya itu dan berusaha menelfon Joi, kali ini diangkat
"ada apa?", tanya Joi dengan nada dingin
"kak tolong bawa Jiah kebawa mansion, antarkan obat Riri yang kemarin kak, Riri pendarahan lagi kak, tolong", ucap Dio memohon
Dari telfon Joi mendengar suara Riri yang meringis kesakitan
"baiklah, tunggu sebentar, bertahanlah dulu", ucap Joi ikut panik
"kak, aku mohon cepatlah", ucap Dio
"iyaa tenanglah dulu", jawab Joi langsung mematikan telfonnya
Dio memeluk istrinya yang masih kesakitan, Riri menangis merasakan sakit diperutnya tak kunjung membaik
"aku harus bagaimana sayang? aku tidak tau", ucap Dio panik
"aku ambilkan air hangat ya", ucap Dio yang dibalas anggukan dari Riri
"tunggu disini ya sayang", ucap Dio mengecup kening Riri lalu melesat pergi kedapur
...----------------...
Joi yang menerima telfon dari Dio langsung pergi kekamar Jiah, namun disana dia melihat Jiah dengan tubuh polos yang hanya terlilitkan handuk
Joi menelan salivanya, lalu sesaat kemudian dia tersadar
"ada apa kak?", tanya Jiah
"dimana obat Riri kemarin?", tanya Joi langsung masuk kekamar Jiah
"ada ditasku kak, kenapa?", tanya Jiah
"Riri pendarahan lagi, aku harus kesana mengantarkan obat itu", ucap Joi
"aku ikut", ucap Jiah langsung mengambil obat obat itu dari tasnya
"kau mau ikut dengan tubuh seperti itu? besok saja aku akan menjemputmu, istirahatlah untuk hari ini", ucap Joi yang sudah berdiri dibelakang Jiah
"kasihan Riri dia sedang kesakitan sekarang dan membutuhkan obat itu", ucap Joi
Jiah berbalik badan dan menghadap ke Joi
"baiklah, besok pagi jemput aku ya kak", ucap Jiah menyerahkan obat obat itu
"baiklah, jika besok aku tidak datang, biar Rendi yang menjemputmu ya", ucap Joi mengelus wajah Jiah
"oke", ucap Jiah
Joi lalu berpamitan dan pergi menuju mansion Riri, dia sedikit panik dan khawatir dengan Riri.
Sesampainya di mansion Riri, jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi, Joi langsung berlari masuk kekamar Riri, disana dia melihat Riri yang masih meringis kesakitan walaupun pendarahannya sudah berhenti.
"ini obatnya", ucap Joi menyerahkan obat itu kepada Dio
Dio membuka obat itu satu persatu, dan meminumkannya kepada istrinya itu. Riri menelan obat itu,
Perlahan perut Riri membaik, dia bisa bernafas lega sekarang, begitu juga dengan abang beradik itu
"sudah merasa membaik sayang?", tanya Dio mengelus rambut istrinya itu
"hm..", respon singkat Riri
"mas...", lirih Riri
"hm...?", tanya Dio yang memandang lurus kewajah istrinya itu
"aku hamil", ucap Riri
Joi tersedak yogurt saat mendengar Riri mengatakan itu, sementara Dio menunjukkan raut wajah sedikit bingung, dia mengira bahwa istrinya sedikit ilusi
"iya sayang, kemarin kau masih hamil, tapi sekarang tidak, bersabarlah sayang nanti kita pasti diberi lagi", ucap Dio mengelus wajah Riri
"mas pasti ngira aku lagi ilusi", ucap Riri dengan wajah kesalnya lalu memukul dada Dio
Dio sedikit meringis saat dipukul Riri, karena luka yang kemarin masih basah dan perih
"tolong ambilkan laptopku kak biar aku tunjukkan sesuatu", ucap Riri lagi kepada Joi
Joi memberikan laptop Riri yang berada dimeja rias, Riri lalu membuka emailnya, ternyata Varel sudah mengirimkan laporan medis itu. Riri lalu menunjukkan itu kepada abang beradik itu
"tangan", ucap Riri kepada Dio
"hah?", tanya Dio lalu memberikan tangannya
Riri memberikan tespack tadi ketangan Dio
Senyum Dio mengembang saat melihat tespack itu begitu juga dengan Joi. Dio memeluk istrinya itu dengan pelukan yang sangat erat dan menciumi seluruh wajah istrinya. Sedangkan Joi mengambil tespack itu, dia menatapnya dan tersenyum bahagia
"sayang bagaimana bisa begini?", tanya Dio
"pagi nanti Varel dan Koko akan datang kesini, biarkan mereka yang menjelaskannya, aku ngantuk", ucap Riri
"baiklah tidur saja sayang, aku akan mengurus ini", ucap Dio
__ADS_1
Dalam hitungan menit, Riri tertidur dibantalnya, sementara Dio dan Joi keruang kerja untuk mencari tau soal ini