
Dua pekan telah berlalu, Riri sekarang sudah mahir dalam pekerjaannya itu dan bisa mengerjakan semuanya sendiri, Geri dan Harry selalu setia membantu segala kesulitan nona mudanya itu.
Riri yang sangat sibuk selama 2 pekan ini, dia ingin bersantai sejenak dikursinya yang empuk itu, dia benar benar sangat sibuk bekerja sampai tidak punya waktu untuk bermain main lagi, dia menyukai pekerjaannya
(kirakira begitula ilustrasinya :))
Semua karyawan Riri juga merasa senang dengan kehadiran Riri, sosok Riri yang baik hati dan juga tegas, sangatlah seimbang. Dan mereka semua juga diberitahu sebelumnya bahwa suasana hati Riri sangat cepat berubah, sehingga harus lebih menjaga lisannya dan jangan sampai memancing amarah Riri
Dibalik wajah dingin Riri, dia sering menyapa para pekerja disitu sehingga tidak akan canggung satu sama lain, Riri dengan mudah mengakrabkan diri dengan lingkungan barunya
Saat semua pekerjaannya sudah selesai, tapi waktu belum menunjukkan jam istirahat. Dia teringat tentang sesuatu yang terlupakan
"Ger, masuk keruanganku, aku ingin membicarakan sesuatu", ucap Riri lalu mematikan telfonnya. Geri pun datang ke ruangan Riri
"ada kesulitan nona Riri?", tanya Geri
"ah ngga, aku ingin membicarakan sesuatu", ucap Riri dengan wajah serius
"apa itu non?", tanya Geri yang sedikit ketakutan melihat wajah nonanya itu, dia memiliki feeling buruk tentang ini
"bagaimana kabar mengenai ayahku? apa ada perkembangan?", tanya Riri
"em begini non, kami sudah mendapatkan informasi sejak 3 hari lalu, tapi nona Riri sangatlah sibuk dan gamau diganggu, jadi sampai sekarang saya belum memberi tahu nona", ucap Geri gugup, dia sangat takut nonanya itu mengamuk
" apa kau bilang?! 3 hari?!", ucap Riri teriak
"i-iya non", jawab Geri gemetar
"bawakan laporannya padaku sekarang dan juga, panggil Harry kesini, aku tunggu 2 menit", ucap Riri sambil menenangkan kepalanya
Geri segera berlari keluar ruangan untuk memanggil Harry dan mengambil laporan yang sudah mereka persiapkan
"ini non", Harry memberikan laporannya. Setelah Riri membukanya matanya terbelalak melihat laporan itu dan juga foto foto bukti dari kelakuan ayahnya
"apa ini?!!!", teriak Riri marah dan melempar laporan itu. Geri dan Harry hanya bisa diam
"ini semua benar? coba jelaskan", tanya Riri sambil mengatur nafas
"iya non, pak Tio mempunyai anak bersama wanita lain bernama Alexa, pak Tio dan Alexa membuat suatu kontrak dan pak Tio menyetujuinya, sebagai imbalannya pak Tio menjadi CEO di anak perusahaan Alexa", ucap Geri yang agak gugup
"kontrak?", ucap Riri bingung
"Alexa meminta pak Tio menjaga anaknya bernama Jiah, Jiah adalah anak dari pak Tio dan Alexa, tetapi Alexa meminta Tio menerima dan merawat Jiah, dan pak Tio harus memberikan semua waktu dan kasih sayangnya ke Jiah saja dan jangan sampai Jiah merasa tidak bahagia atau kurang kasih sayang. Bu Ningsih awalnya tidak setuju, tapi dia harus ikut setuju karena pak Tio mengancam akan membuang nona Riri jika bu Ningsih tidak menurut kepadanya, dan dengan sangat berat hati bu Ningsih menurut kepada pak Tio", ucap Harry menjelaskan
Riri menutup mulutnya, dia sangat shock mendengar itu semua, lalu menangis, bagaimana mungkin ayah kandungnya bisa berbuat seperti itu, dia sungguh tak menyangka
"non Riri maaf saya tidak akan melanjut...", ucap Harry yang belum selesai tapi sudah terpotong Riri
"lanjutkan, aku harus tau semuanya", ucap Riri menghapus air mata
__ADS_1
"bu Ningsih setuju dengan pak Tio, dan mengajukan 1 persyaratan", ucap Geri. Riri menatap bingung apa maksud perkataan Geri
"bu Ningsih meminta syarat agar dia boleh menjenguk non Riri setiap malam, dan paginya dia akan pergi lagi kerumah Jiah. Bu Ningsih juga meminta agar non Riri hidup layak tanpa kekurangan apapun, dan semuanya di setujui Alexa", ucap Geri
"tapi Jiah sangatlah pencemburu, dia tidak ingin berbagi orang tua dengan siapapun, dia hanya ingin orang tuanya ada untuknya. Jiah juga sudah mengetahui semuanya, tapi dia tidak peduli dan menganggap bu Ningsih adalah ibu kandungnya dan dia adalah anaknya satu satunya", ucap Harry
Riri sangat shock mendengar semuanya dia marah dan melempar semua barang barang dimejanya, teriakan amarah Riri terdengar hingga keluar ruangan.
"Geri dan Harry kalian keluar", ucap Riri. Geri dan Harry pun keluar dari ruangan Riri, mereka sangat panik sekarang
Riri mengamuk dan membanting semua barang didepan matanya, tanpa sadar tangannya sudah penuh darah. Riri merasa dadanya sangat berat dan ada darah keluar dari hidungnya
Riri sangat shock, kepalanya pusing, dadanya semakin sesak rasanya, dia kehabisan nafas dan pingsan.
Geri dan Harry pun saling pandang karena tak mendengar suara lagi dari ruangan Riri, mereka segera masuk dan menemukan Riri sudah tergeletak di lantai dengan darah yang mengalir dihidungnya
Geri berlari menggendong Riri kerumah sakit
sementara Harry memanggil supir dan menyiapkan mobil dibawah. Semua karyawan pun ikut panik melihat CEO mereka pingsan dengan tangan berdarah dan darah Riri menetes di sepanjang jalan yang dilewati Geri
"non Riri, bangunlah non, jangan begini non", ucap Geri melihat darah dihidung Riri tak kunjung berhenti
"aduh non Riri bangun dong non, saya gemeter ini non Riri", ucap Harry ketakutan setengah mati
"non saya gamau ngecewain alm. pak Wahid, jangan begini dong non Riri bangun", ucap Geri yang sudah sangat panik
"shitt!! harusnya kita jangan beri tahu dulu tadi Ger", ucap Harry menutup mukanya
"aku akan hubungi tuan Dio", ucap Harry yang di balas anggukan dari Geri
Tapi telfon dari Harry tak kunjung dijawab, Geri dan Harry semakin frustasi. Setelah beberapa menit perjalanan, mereka sampai ke rumah sakit dan membawa Riri ke IGD. Mereka terlihat mondar mandir di depan ruang IGD
Tiba tiba ponsel Harry berdering dan terlihat nama Dio dilayar ponsel tersebut, Harry segera menjawabnya
"*ada apa kau...", ucap Dio yang belum selesai sudah terpotong Harry yang menangis
"tuan, nona Riri tuan", ucap Harry sambil menangis
"kenapa Riri? ada apa?", ucap Dio panik
"kami sedang dirumah sakit, tuan datangla kesini, akan saya jelaskan semuanya disini", ucap Harry
"baiklah aku akan kesana, kirimkan alamatnya", ucap Dio panik dan mematikan telfon
Harry mengirimkan alamat ke Dio dan kembali mondar mandir didepan pintu IGD
...----------------...
Dikantor Dio
__ADS_1
"Ren, apa kita ada meeting hari ini?", tanya Dio
"ada tuan, 5 menit lagi", jawab Rendi
"hah? meeting apa 5 menit lagi?", tanya Dio bingung
"meeting dadakan tuan, ada masalah mendesak yang harus didiskusikan tuan", ucap Rendi
"apakah lama?", tanya Dio
"tidak tuan, hanya beberapa saat", ucap Rendi
"baiklah, mari kesana", ucap Dio berjalan keluar ruangan
Ditengah tengah meeting, handphone Dio terus berdering dengan nama Harry dilayar nya
Tapi tidak dijawab karena Dio terfokus ke meetingnya
Setelah selesai meeting, dilihatnya handphonenya, ada 69 panggilan tak terjawab dari Harry, dia menaikkan alisnya
"ada apa tuan?", tanya Rendi
"Harry menelfonku sampai 69 kali, pasti terjadi sesuatu", ucap Dio lalu berjalan cepat ingin kekantor Riri
"cobalah telfon balik tuan, saya akan menyiapkan mobil", ucap Rendi menelfon supir dan menyuruh menyiapkan mobil di pintu masuk
"ada apa kau...", ucap Dio yang belum selesai sudah terpotong Harry yang menangis
"tuan, nona Riri tuan", ucap Harry sambil menangis
"kenapa Riri? ada apa?", ucap Dio panik
"kami sedang dirumah sakit, tuan datangla kesini, akan saya jelaskan semuanya disini", ucap Harry
"baiklah aku akan kesana, kirimkan alamatnya", ucap Dio panik dan mematikan telfon
Dio berlari keluar, diikuti oleh Rendi juga
"ada apa tuan?", tanya Rendi
"Riri dirumah sakit, kita harus kesana", ucap Dio
"baik tuan", jawab Rendi,
Rendi masuk ke mobil dan melaju kearah rumah sakit yang dikirimkan Harry, dia bisa melihat kepanikan diwajah tuannya itu
"tenangkan dirimu tuan, kau tidak boleh terlihat panik", ucap Rendi
"bagaimana bisa aku tidak panik", ucap Dio kesal
"jika tuan panik dan melemah, siapa yang akan menguatkan nona Riri", ucap Rendi,
__ADS_1
"kau benar, aku akan berusaha tidak panik", ucap Dio masih dengan wajah yang sama