
🚫Warning 18+🚫
skip aja episode ini kalau belum cukup umur
dosa tanggung masing masing, bye.😗
Malam pun tiba, mereka semua bersorak gembira merayakan liburannya dan juga hari ulang tahun Riri. Party kecil kecilan yang diadakan mereka berlangsung hingga tengah malam
Saat ini hanya Riri yang memiliki kesadaran penuh, karena dia sama sekali tidak menyentuh bir, wine ataupun soju,. Sementara yang lain sudah setengah sadar dan beberapa dari mereka sudah masuk kedalam kamar.
"Rendi, Geri, Harry, kalian masukklah dan istirahat, sudahi partynya, sisa kan tenaga kalian untuk besok", ucap Riri.
"baiklah nona Riri", ucap mereka bertiga.
Harry yang sudah mabuk pun dibopong Fikri kekamarnya. hanya Geri dan Rendi yang masih memiliki kesadaran sedikit
Begitu juga dengan Dio, dia sudah mabuk dan terus meracau, Sedangkan Riri sudah memanggil pelayan dan menyuruh mereka untuk membereskan semuanya. Riri lalu membawa Dio kekamar Dio
"arghh apasih yang dia makan, kenapa berat banget sih",, ucap Riri kesal
"sayang aku mencintaimu", ucap Dio yang sudah mabuk itu
"iya kau tau", jawab Riri kesal lalu melemparkan Dio keatas ranjang
"ah shitt, dia sangat berat, sudah kubilang kalau tidak minum ya jangan minum, bandel banget sih, mana bajunya kotor banget lagi", omel Riri
Riri lalu membuka baju Dio secara perlahan,
"argh bau alkohol! dia minum seberapa banyak tadi sih!", omel Riri kesal
Riri pun berniat ingin pergi kekamarnya, namun saat baru berdiri tiba tiba tangannya ditarik keranjang, lalu ditindih oleh Dio. kedua tangannya digenggam erat Dio di atas kepalanya
"sayang kau sedang apa?", tanya Riri
Bukannya menjawab Dio justru mencium bibir Riri dengan lembut. Riri bisa merasakan rasa alkohol dari dalam lidah Dio dan juga hawa nafsu yang sedang menguasai tunangannya itu. Lalu Dio beralih keleher Riri dan menciuminya dengan ganas, memberikan beberapa tanda tentunya
"kak.. ah.. berhenti kak... kau sedang... mabuk", ucap Riri bercampur mendesah pelan karena aksi Dio
"aku sedang menagih janjimu tadi siang sayang", ucap Dio
"aku? janji? janji apa?", tanya Riri
Dio tidak menjawab dan hanya menatapnya
"ah, itu, astaga, dia ingat ternyata", batin Riri
"maaf kak aku ga bisa nepati itu sekarang", ucap Riri
"kenapa?", tanya Dio lalu menaikkan sebelah alisnya
Riri tidak menjawab, dan hanya menatap wajah Dio
"baiklah jika kau tidak mau, aku tidak memaksa", ucap Dio dengan nada kecewa, dia melepaskan Riri, lalu berbaring disamping nya
"dia marah?", batin Riri
"kak, kakak marah?", tanya Riri pelan, tapi Dio tidak menjawabnya
"kak? kakak marah denganku? maaf", ucap Riri, tapi Dio tidak bergeming. Riri lalu membalikkan paksa tubuh Dio
"kak maaf",, ucap Riri, tapi Dio justru mencampakkannya hingga tersungkur kelantai
"baiklah, aku akan kekamarku saja", ucap Riri lalu pergi meninggalkan kamar Dio. Dia masuk kekamarnya, lalu mengganti pakaiannya, setelah berganti pakaian, dia mengunci kamarnya dari luar, lalu masuk ke ruang dancenya
Dia ngedance di ruang dancenya untuk menghilangkan rasa kecewanya dengan Dio. Sekarang hatinya mulai meragukan Dio, apakah Dio benar benar jatuh cinta dengannya atau hanya sekedar nafsu?, itulah ada di pikirannya sekarang
Dia menghidupkan musiknya dengan kuat, tidak peduli dengan seisi villa, dia hanya ingin menenangkan dirinya, dia terus menari hingga keringatnya menetes pun dia tidak peduli
-_-_-_-_-_-
Sementara itu, Geri dan Rendi yang tadi turun dari roof top, masing masing dari mereka menggendong sang pujaan hati. Geri membawa Rara sedangkan Rendi membawa Nita
Geri menggendong Rara yang sudah mabuk, ala bridal style, lalu masuk kekamarnya, diikuti dengan Rendi yang juga menggendong Nita. Mereka meletakkan dua gadis itu bersebelahan. Tiba tiba Rara mencium bibir Geri saat dia diletakkan ke ranjang
"astaga bibirku", batin Geri
Geri jelas saja terkejut, begitu juga dengan Rendi yang melihat pemandangan itu
"wah", ucap Rendi sambil tertawa kecil
Geri mencoba melepas ciuman itu, namun Rara justru menariknya dan menindihnya. Dia semakin ganas menciumi bibir Geri yang sedaritadi tidak melawan aksinya itu
"aku tidak menyangka dia sangat ganas seperti ini, apakah dia sadar sedang melakukan ini dengan ku?", batin Geri
Rendi yang melihatnya, menahan tawa, dan duduk disamping ranjang Nita
"nikmati saja, aku tau kau menikmatinya", bisik Rendi pelan
Geri melotot kearah Rendi, dan Rendi tertawa kecil, sedangkan Rara semakin ganas melahap bibir Geri dan menggigitnya
"ahh shitt, dia fikir bibirku ini apa", batin Geri
Geri meringis mendapatkan gigitan itu, sementara Rendi yang melihatnya hanya menahan tawa, Rara memindahkan ciumannya keleher Geri, dia menjadi semakin liar
"bantu aku", bisik Geri kepada Rendi
"aku hanya penonton", ucap Rendi mengejek
"aku bisa diperkosanya jika begini, arghh", lirih Geri mendapatkan gigitan lagi di lehernya
Sedangkan Rendi hanya tertawa dan membiarkan Geri mendapatkan perlakuan itu.
__ADS_1
"kau kan laki laki bodoh, lawan saja",, ucap Rendi menahan tawanya
Geri hanya diam dan menahan hasratnya yang mulai naik karena Rara.
"aku tidak bisa, aku bisa hilaf jika membiarkan dia terus, bantu aku Ren", ucap Geri sedikit mendesah
"dia tidak akan berhenti sebelum hasratnya terpenuhi, bodoh sekali kau ini", umpat Rendi
"aku akan menunggu dibawah saja, Nita akan ku bawa ke kamar bawah, jika sudah selesai temui aku, bye bye", ucap Rendi tertawa lalu menutup pintu
"sialan kau Rendi", umpat Geri
Sementara Geri merasakan hasratnya yang sudah mulai menggebu gebu, dia memutuskan untuk meladeni Rara dan melumpuhkan lawannya. Dia menindih balik Rara dan menciumi leher jenjang itu dengan ganas.
Rara mendesah merasakan itu, dia tidak lagi menyerang Geri dan justru menikmati permainan yang dibuatnya sendiri
Geri melanjutkan permainannya dengan Rara. Sementara Rara sendiri justru menikmatinya. Ruangan itu terisi dengan desahan yang saling menyahut satu sama lain.
Rendi yang membawa Nita kekamar bawah, meletakkan Nita disana, lalu mencium keningnya dan pergi. Dia naik ke atas menunggu Geri didepan pintu, saat sampai didepan pintu, dia membuka dengan sangat hati hati dan mendengar suara desahan yang saling menyahut satu sama lain
"munafik, tadi menolak, sekarang malah menikmati, sialan", ucap Rendi lalu menutup kembali kamar itu
10 menit
20menit
30 menit
40 menit
50 menit
1 jam
Rendi mulai jenuh menunggu, sementara dari dalam ruangan, masih terdengar dengan jelas desahan desahan itu yang masih bersemangat
"berapa ronde sih mereka?", tanya Rendi kesal
"macam orang bodoh aku menunggu disini, mending aku kebawah saja", ucap Rendi kesal lalu pergi kelantai bawah dan meninggalkan dua manusia itu
Saat sampai dilantai bawah, Rendi mendengar samar samar suara musik dari ruang Dance
"siapa yang ngedance jam segini? ini sudah hampir jam 2 pagi kan", ucap Rendi lalu berjalan ruang dance
Dia membuka ruangan itu lalu melihat Riri yang sedang ngedance. Riri menyadari ada orang yang datang
"nona Riri?", tanya Rendi
"Rendi? kau belum tidur ternyata, sini masuk", ucap Riri
Rendi masuk dan duduk dilantai dance Riri. Riri pun duduk di depannya dan memberikan minuman soda untuk Rendi
"nona Riri kenapa belum tidur jam segini?", tanya Rendi
"ah baiklah, apa kalian sedang bertengkar?", tanya Rendi
"ntahla, akupun tidak tau, hanya sedikit sakit hati saja", jawab Riri, kali ini wajahnya menunjukkan kesedihan
"Ri, jangan bersedih gitu, mungkin Dio melakukan beberapa kesalahan diluar kesadarannya, dia selalu begitu setiap sedang mabuk", ucap Rendi
"em, iya, biarkan saja, aku sedang tidak ingin membicarakannya", ucap Riri menenggak habis minumannya
"kau sedang apa jam segini? kenapa ga tidur? dan, dimana Geri? bukankah tadi bersamamu", tanya Riri
"aku harus jujur atau bohong Ri? kalau jujur sedikit ga enak sih", jawab Rendi
"maksudnya? jawab aja jujur, ga masalah", jawab Riri
"em begini",, ucap Rendi lalu menceritakan semua kejadiannya
Riri menutup mulutnya, antara ga percaya atau tidak, tapi dia ngakak mendengar itu
"jadi sekarang? belum selesai?", tanya Riri tertawa
"belum", ucap Rendi tertawa
"wahh, ganas ya ternyata", ucap Riri tertawa
"apakah selalu seperti itu jika mabuk Ren?", tanya Riri
"jika sedang mabuk, memang sering kali seperti itu, hasrat dan nafsu didalam diri kita keluar semua, itu sebabnya aku jarang minum", ucap Rendi
Riri menganggukkan kepalanya pertanda dia paham, lalu Rendi bertanya kepadanya
"apa Dio juga tadi memaksamu melakukan itu?", tanya Rendi
Riri menoleh lalu terdiam sejenak, dia menceritakan kejadian yang barusan. saja dia alami
"aku tau dia pasti memintanya, gimanapun juga Dio kan juga laki laki, punya hasrat dan nafsu juga, jadi ya wajar", ucap Rendi
"benarkah?", tanya Riri
"apakah juga menjadi suatu kewajaran jika dia mencampakkanku hingga tersungkur kelantai karena tidak menuruti nafsunya?", batin Riri
"em benar, jika hanya alkohol, itu tidak masalah jika hasratnya tidak terpenuhi, namun jika itu bercampur dengan obat perangsang, akan berakibat fatal jika tidak terpenuhi, mungkin akan merenggut nyawa", jelas Rendi
"benarkah begitu?", tanya Riri agak terkejut, karena dia belum tau soal ini
"benar Riri", jawab Rendi
Riri pun mengangguk anggukkan kepalanya
__ADS_1
"kau tidak mau tidur?", tanya Rendi
"aku sedang tidak mood", jawab Riri
"lalu kau mau kemana? ini sudah malam", tanya Rendi agak khawatir Riri akan bertindak nekat
"ntahla, aku ingin menangis rasanya", jawab Riri
"em bagaimana jika besok kau kerjai saja Dio",, usul Rendi
"caranya?", tanya Riri
"pura pura marah saja dengannya, dia akan kelabakan jika kau marah", ucap Rendi
"benarkah? apakah akan berhasil?", tanya Riri.
"aku yakin sih berhasil", jawab Rendi
"baiklah akan kulakukan besok", ucap Riri
"sekarang kau tidur saja", ucap Rendi
"em baiklah", jawab Riri
Mereka pun naik kelantai 2, Riri masuk kekamar Rara, sementara Rendi kembali kekamarnya
-_-_-_-_-_-
Setelah 1 jam bertarung dengan Rara, Geri pun menyadarkan Rara dari mabuknya. setelah sekian menit, Rara tersadar dari mabuknya, dan dia juga mengingat semuanya, lalu dia menangis sejadi jadinya
"aku sangat bodoh", lirihnya
Geri memeluknya dan menenangkannya
"tenang Ra tenang, aku janji akan bertanggung jawab", ucap Geri
"aku minta maaf Ger", ucap Rara
"no Rara no, aku yang harusnya minta maaf karena tidak bisa mengendalikan hasratku, maafkan aku, aku janji akan bertanggung jawab", ucap Geri
"kau janji padaku Ger? jangan tinggalkan aku Ger", rengek Rara sambil menangis
"janji, aku tidak akan meninggalkanmu", ucap Geri
"sekarang bersihkan tubuhmu, dan pakai pakaianmu lagi, aku akan meminta Rendi untuk membawa Nita kesini setelah kau selesai",, ucap Geri lalu dibalas anggukan Rara
Namun saat ingin bergerak, Rara merasakan perih dibagian bawahnya, dia meringis
"kenapa Ra?", tanya Geri agak panik
"sakit, perih, sepertinya berdarah", ucap Rara
"maafkan aku sudah mengambil mahkotamu", ucap Geri, dia menyesali kejadian itu
"tak apa, salahku juga", ucap Rara
"apa kau menyesal?", tanya Geri
"tadinya iya, tapi menyadari kalau kau yang mengambilnya, aku rasa tidak, aku percaya padamu", ucap Rara
"terima kasih Ra, aku akan menjagamu mulai sekarang, mari ku gendong kekamar mandi", ucap Geri lalu membawa Rara kekamar mandi
"mari kita menikah setelah aku wisuda", ucap Rara
"kau sudah yakin?", tanya Geri
"em, aku yakin", jawab Rara
"aku takut kau hamil", ucap Geri
"sepertinya tidak akan", jawab Rara
"kenapa?", tanya Geri
"ini bukan tanggal masa suburku, jadi tidak akan hamil",, ucap Rara
"benarkah?", tanya Geri lalu meletakkan Rara diatas westafel
"em benar", jawab Rara,
"baiklah kalau begitu, mandilah, jika sudah selesai temui aku dilantai bawah", ucap Geri
Namun Rara menahan tangannya,
"kenapa Ra?", tanya Geri
"lagi", ucap Rara
"kau ketagihan?", tanya Geri tersenyum nakal
"em, sepertinya aku menikmatinya", ucap Rara malu
Geri tersenyum dan menuruti permintaan kekasihnya itu,
"aku akan melakukannya dengan lembut", bisik Geri
.
.
.
__ADS_1
.
Dan begitulah malam itu menjadi malam yang panjang bagi mereka