
Hari ini Riri pergi kerumah sakit, sudah 2 minggu sejak kematian Alexa, jadi dia fikir semua orang yang dirawat disana sudah sembuh.
"bukankah waktu 2 minggu itu terlalu lama ya sayang? aku rasa dalam 1 minggu saja mereka sudah sembuh", tanya Dio kepada istrinya
"memang terlalu lama sayang, beberapa sudah aku pindahkan kehotel, hanya tinggal mama, dan Geri saja, bunda juga sudah pulang, Harry juga hari ini pulang kesini", jawab Riri sambil mengunyah cemilan ditangannya
"lalu ayah?", tanya Dio
"ayah? ah itu... aku letak dihotel", jawab Riri
"lalu Varel dan yang 3 orang itu?", tanya Dio
"aku pindahkan mereka kerumah yang sudah aku siapkan", jawab Riri
"lalu Geri kapan sembuh?", tanya Dio
"mana aku tau mas, aku bukan dokter", jawab Riri
"sayang kenapa kau terus mengunyah? kau terus saja makan, padahal Jiah sudah mengatakan tubuh sedikit berisi, tapi kenapa tidam berhenti ngemil?", tanya Dio
Riri terdiam, entah kenapa hatinya rasanya sedikit sakit saat mendengar ucapan suaminya itu. Dia hanya diam menatap keluar jendela, dan tidak makan lagi, ***** makannya tiba tiba hilang entah kemana setelah mendengat ucapan Dio
Dio menatap lurus kedepan dan tidak memperhatikan istrinya itu, dia tidak sadar bahwa ucapannya itu sudah menyinggung hati Riri.
Setelah beberapa menit perjalanan, mobil Dio akhirnya sampai diperusahaan Riri. Riri langsung menyambar tasnya dan turun dari mobil tanpa menatap Dio, dia membanting pintu mobil dengan sangat kuat, membuat Dio dan beberapa bodyguard yang ada disana, tersontak kaget
Riri pergi meninggalkan mobil Dio dengan wajah sendu, entah kenapa dia sangat sakit hati dengan ucapan Dio tadi. Sedangkan dimobil, Dio masih bingung dengan sikap Riri yang tiba tiba berubah, padahal tadi sangat santai dan tenang
"apa aku melakukan kesalahan?", gumam Dio
Dio melajukan mobilnya kearah kantornya, dia terus berusaha mengingat apa kesalahan yang dilakukannya kepada istrinya itu.
...----------------...
Dikantor Riri...
Riri berjalan kearah departemennya, dia mendatangi meja Nita dan membantingkan tasnya disana, membuat Nita dan yang lainnya terkejut bukan main
"astagfirullah Riri!", pekik Nita
"apa aku gendut? apa tubuhku terlalu gendut? apa makanku terlalu banyak? apa salah jika aku ngemil? apa yang salah dengan makanan?!", tanya Riri kesal lalu duduk dikursi depan Nita
"kau ini kenapa? sabar sabar... tenang dulu", ucap Nita
"Yuli, tolong ambilkan aku jus jeruk, aku harus menyiram kepalaku sebelum benar benar meledak", ucap Riri
"baik bu", ucap Yuli langsung berlari kedapur, lebih baik dia membuatkan jus jeruk Riri daripada kena sembur amarah Riri
Nita hanya diam dan memperhatikan Riri, dia punya dugaan, dan sepertinya dugaannya benar.
"Nit, kau mau ikut aku?", tanya Riri
"kemana?", tanya Nita balik
"bermain", ucap Riri
"tidak mau, pekerjaanku banyak, direktur gila itu terus memberiku pekerjaan", ucap Nita
"baiklah", ucap Riri lalu berdiri dan ingin beranjak pergi dari sana
Yuli datang dengan jus jeruk ditangannya, Riri mengambil jus itu
"thankyou Yuli", ucap Riri memberikan flying kissing kepada Yuli, lalu pergi ke lift.
Riri menerobos masuk keruangan Zikri sambil menyeruput jus jeruk ditangannya. Tiba tiba jus itu menyembur dari mulut Riri saat melihat Zikri sedang bercumbu dengan Lia diruangan itu.
Zikri dan Lia melompat dari posisinya saat tercyduk Riri
"sialan bajuku basah", umpat Riri melihat jus jeruk sedikit mengenai bajunya
Lia dan Zikri berdiri bersampingan dihadapan Riri yang sedang duduk dikursi Zikri menatap tajam kearah sepasang kekasih itu
"harusnya kalian kunci pintu itu, masa gitu aja mesti diajarin", ucap Riri kembali menyeruput jusnya
Zikri dan Lia hanya saling menatap, mereka mengira akan dimarahi Riri, ternyata tidak
__ADS_1
"aku sedang kesal hari ini, sebagai hukumannya kalian cari sesuatu yang bisa meredakan kekesalanku, aku tunggu disini", ucap Riri
"kamu harus apa bu?", tanya Lia
"ya mana aku tau", jawab Riri
Zikri dan Lia berdiskusi, sementara Riri duduk dikursi Zikri dan memutar mutar kursi itu hingga kepalanya pusing. Tak lama kemudian ada OG datang membawa macaron kesukaan Riri, dan meletakkannya dimeja dekat sofa
Riri berjalan kearah sofa
"apa itu?", tanya Riri
"macaron kesukaan bu Karin", jawab Lia
Riri melihat macaron itu, biasanya dia sangat suka macaron, tapi kali ini dia justru mual saat melihat macaron. Perut Riri terasa mual, dia terasa ingin muntah, Riri berlari menuju kamar mandi dan muntah disana
Zikri dan Lia saling menatap dan panik, karena biasanya Riri sangat suka dengan makanan ini, tapi kenapa sekarang malah muntah?
"bu ibu kenapa?", tanya Lia panik dan mendatangi Riri, dia memijat tengkuk Riri dan memberi minyak angin ditengkuk Riri
Riri lemas setelah muntah, dia duduk disofa dibantu Lia
"kenapa aku? biasanya aku sangat suka macaron, kenapa sekarang itu seperti makanan yang paling kubenci?", tanya Riri
"bu Karin mau makan apa? biar saya pesankan, wajah bu Karin sangat pucat saat ini, atau saya panggilkan pak Dio saja?", tanya Zikri
"gausa panggil dia, hanya ringankan saja pekerjaan Nita, jangan terlalu membebaninya", ucap Riri
"baik bu", jawab Zikri langsung meraih handphonenya
"saya antar keruangan ibu ya?", tanya Lia
"gausa, saya bisa sendiri", ucap Riri
Riri berjalan pelan keluar dari ruangan Zikri, kepalanya menjadi sangat pusing sekarang. Dia naik lift dan berjalan masuk keruangannya, dia juga tidak mendengar saat Harry memanggilnya
Riri membuka kamar pribadi miliknya, dia ingin melihat beberapa pekerjaannya dulu dimeja. Riri berjalan dengan kepalanya pusing, dia memaksakan diri untuk tetap bekerja,
Riri mengutak atik beberapa dokumen penting yang masuk ke emailnya, lalu dia menemukan pesan dari email yang tidak dia kenal
Riri lalu membuka dokumen itu dan terlihat ada beberapa foto, namun foto itu tidak terlihat
"kenapa ini? foto apa ini?", tanya Riri penasaran
Riri langsung mencetak foto itu, dia fikir foto itu akan muncuk jika langsung dicetak, dan ternyata dugaannya benar. Sekaligus dia sangat terkejut dengan foto yang dia lihat, hatinya benar benar terasa teriris saat melihat foto itu
"bajingan", umpat Riri
Riri lalu memasukkan foto itu kedalam map coklat dan dia selipkan dilaci kerjanya.
Beberapa menit kemudian, Harry masuk keruangan Riri membawa beberapa dokumen, Riri memeriksa dokumen dokumen itu. Sedangkan Harry terus menatap wajah Riri yang sangat pucat
"non, apa nona sedang sakit?", tanya Harry
"tidak, tenang saja", jawab Riri
"ini, semuanya bagus, diskusikan dengan zikri soal kinerja dikantor cabang dikota B, sepertinya aku kurang perhatian beberapa bulan ini", ucap Riri
"baik non, tapi menurut pemantauan, disana memiliki kinerja sangat baik", ucap Harry
"ah iya baiklah, kembalilah bekerja, dan juga, jangan biarkan orang lain masuk keruanganku sampai nanti aku pulang, aku sedang tidak ingin diganggu", ucap Riri
"baik non",, jawab Harry lalu pergi meninggalkan ruangan Riri, hatinya sedikit gelisah mengingat wajah pucat Riri
Riri tidak tahan dengan kepalanya yang semakin berat dan pusing, dia pun memutuskan untuk tidur dikamar pribadi miliknya. Pikiran buyar saat memikirkan foto foto itu, benar benar membuat hati Riri teriris.
Tiba tiba kakinya tersandung kaki meja dan dia terjatuh, perut Riri terbentur kuat oleh bibir meja, membuatnya merasakan sakit yang luar biasa, dia menjerit kesakitan dan memegang perutnya
"aarghh perutku, kenapa ini", ucap Riri menangis
Riri berusaha menekan tombol yang tertuju keruangan Harry, dia bergerak sangat pelan sambil meremas perutnya yang terasa sangat sakit. Tangan Riri berhasil menekan tombol itu, tapi mata Riri tertuju kepahanya yang mengeluarkan darah
"darah? kenapa?", gumam Riri sambil meringis
Riri merasakan perutnya yang semakin sakit, dan kehilangan kesadarannya, Riri tergeletak pingsan didekat meja sofa
__ADS_1
Sementara diruangan Harry, dia yang sedang sibuk menyusun dokumen untuk diantar kepada Zikri mendengar suara bel dari ruangan Riri
"ya non? ada apa?", ucap Harry ke microfon itu, tapi tak kunjung ada jawaban
"non? non Riri?", tanya Harry lagi
Lalu kemudian Harry mendengar samar samar suara Riri yang meringis.
"non Riri? kenapa non?", tanya Harry langsung melompat dari kursinya dan berlari keluar menuju ruangan Riri
Dia melihat Riri tergeletak pingsan dan ada banyak darah dipaha Riri, Harry menutup mulutnya, dia menjadi sangat panik dan berusaha membangunkan Riri
"non bangun non, ada apa non? nona kenapa?", tanya Harry panik dan menepuk nepuk pipi Riri
Harry berlari keluar dari ruangan Riri menuju departemen Riri,
"Fikriii!!! Fikrii!!!", teriak Harry dari kejauhan, dia sangat panik rasanya
"ada apa?", tanya Fikri bingung
"mobil, siapkan mobil cepat", ucap Harry melempar kunci mobil kepada Fikri
"ada apa? kenapa? mau kemana?", tanya Fikri bingung
"darah... Riri berdarah, dia pingsan, cepat!!", ucap Harry kembali berlari
Fikri dan yang lain ikut panik mendengar itu, sementara Nita berlari mengikuti Harry, dia melihat Riri yang pingsan dan banyak darah dipahanya
"Ri kau kenapa Ri?", tanya Nita panik dan berusaha membangunkan Riri
"tolong kabari Rendi soal kondisi nona Riri, aku akan membawanya kerumah sakit", ucap Harry panik
Harry membopong Riri ala bridal style, dengan darah dipaha Riri yang masih mengalir dan menetes dilantai. Harry dan Fikri sangat panik melihat Riri
"dia kenapa?", tanya Fikri
"aku juga tidak tau", jawab Harry
"bukankah tadi kau bertemu dengannya?", tanya Fikri lagi
"iya tadi juga wajahnya sudah sangat pucat, tapi dia bilang tidak apa apa", jawab Harry
"lalu kau tinggal begitu saja?", tanya Fikri
"iyaa, bodoh sekali aku", jawab Harry
"sangat bodoh", ucap Fikri
Fikri melajukan mobilnya kearah rumah sakit, beberapa menit kemudian mereka sampai dirumah sakit, Riri segera dibawa keruang IGD. Fira yang merupakan dokter pribadi Riri tidak ada saat itu karena sedang diluar kota, jadi dokter wanita lainlah yang menyelamatkan Riri, dia sedikit terkejut melihat Riri tiba tiba pucat, padahal tadi pagi masih segar dan ceria saat datang kerumah sakit
Fikri dan Harry menunggu didepan ruang IGD, tiba tiba Rara, Geri dan Ningsih datang kesana, mereka mendengar bahwa Riri masuk IGD
"Riri kenapa?", tanya Ningsih panik
"gatau nyonya, tadi saya menemukan nona Riri pingsan dan ada banyak darah dipahanya", jawab Harry
"apa Riri hamil?", tanya Rara tiba tiba membuat mereka semua menatap Rara
"apa maksudmu sayang?", tanya Geri
"Riri bilang dia sudah 3 bulan tidak datang bulan", jawab Rara
"lalu tadi Harry bilang ada darah dari paha Riri? apakah mungkin?...", tanya Fikri pelan
Ningsih bagaikan tersambar petir saat mendengar itu dia terduduk lemas
"ya allah selamatkan Riri, jangan sampai dia kenapa kenapa", ucap Ningsih menangis
"sayang apa kalian sudah memastikan bahwa nona Riri benar benar hamil?", tanya Geri
"belum, karena Riri menolak untuk mengeceknya, dia bilang mungkin memang hanya sedang telat saja", jawab Rara
"apakah Dio tau tentang ini?", tanya Ningsih
"tidak tante, Riri hanya cerita denganku beberapa hari yang lalu", jawab Rara
__ADS_1
Mereka duduk didepan IGD, menunggu kabar Riri. Mereka saling diam dan gelisah dengan pikirannya masing masing