
Malamnya, Joi mengundang seorang gadis yang dia baru kenal dan sudah kencan selama 2 hari ini. Joi membawa nya ke mansion agar makan malam bersama, sekaligus mencarikan teman untuk Riri agak tidak bosan dimansion, siapa tau gadis itu cocok dengan Riri
Mereka semua sudah ada dimeja makan, hanya tinggal menunggu Joi dan gadis itu
"ma, kak Joi mana?", tanya Riri
"dia masih dalam perjalanan, dia ingin membawa seorang gadis malam ini dan diundang untuk makan malam bersama kita", ucap Shila yang antusias, dia senang akhirnya Joi mulai membuka diri untuk gadis gadis
"benarkah ma? sayang kenapa tidak memberitahuku, aku bisa berdandan dulu tadi", ucap Riri menatap Dio
"tidak perlu berdandan sayang, kau sudah cantik", ucap Dio mengelus rambut Riri
"tapi tetap saja sayang, kan ada tamu", ucap Riri agak manja
"hahaha putriku kau sangat menggemaskan ya, lupakan saja dandanmu itu Riri, kita hanya makan malam biasa kok", ucap Hardi sambil tertawa melihat tingkah Riri
"benarkah pa? baiklah kalau begitu", ucap Riri
"sayang, apa kau sengaja tidak memberitahuku? karena akan ada seorang gadis datang kesini?", tanya Riri menatap Dio dengan mata elangnya
"bukan begitu maksudku sayang, kak Joi memberitahunya tiba tiba, aku aja baru tau", jawab Dio agak gugup
"ah...", ucap Riri mengangguk anggukkan kepalanya
"sayang, kau... tidak berfikir macam macam kan?", tanya Dio menatap Riri, dia takut Riri berfikir yang macam macam
"menurutmu sayang?", ucap Riri sambil menatap Dio dengan senyuman tipis di bibirnya, Dio melihat itu menjadi terdiam dan berfikir sejenak.
"senyuman apa itu?"
"itu seperti... yang tadi siang"
"apakah dia akan membunuhku?",
"ah tidak, jangan no no no no baby no"
Joi pun datang dengan membawa seorang gadis dibelakangnya, semua orang berdiri menyambutnya, begitu juga dengan Riri. Namun saat Riri berbalik badan, dia seperti mengenali postur tubuh gadis dibelakang Joi.
Itu mirip...
Yah, benar, dugaan Riri benar, itu adalah Ara, gadis yang selalu membullynya saat masih sekolah, gadis yang merebut kekasihnya dulu, dan juga gadis yang mencoba menjatuhkannya beberapa bulan lalu, iya itu dia, sekarang dia kembali lagi muncul dikehidupan Riri.
Senyuman Riri yang tadi merekah manis dan antuias menyambut Joi, sekarang berubah menjadi sebuah ekspresi dingin penuh dendam dan amarah. Dio menatap Riri yang tiba tiba berubah ekspresi
Sepertinya Riri tidak menyukainya, siapa dia?
Ara yang melihat Riri tidak begitu terkejut, dia justru menyeringai, karena dia sudah tau kalau akan bertemu Riri di keluarga ini, justru Ara sengaja ingin menjebak Riri dalam masa lalu nya dan membuat Riri dibenci oleh keluarga mertuanya
Tiba tiba bayangan masa lalu kembali mata menyerang Riri saat Ara muncul kembali didepan matanya. Namun Riri melawan itu semua agar tidak terlihat lemah, dan semua air matanya sudah diubah menjadi lautan api dendam yang siap membakar siapapun yang berani mengusik ketenangannya
Ara tersenyum kepada Shila dan Hardi, dan juga Dio
"haii, akhirnya nyampe juga", ucap Shila
"udah nunggu lama ya ma?", tanya Joi
"ngga lama banget sih, ini siapa namanya?", tanya Shila masih tersenyum dengan Ara
"Ara tante", jawab Ara
"oo Ara, kenalin, saya mama Joi", ucap Shila menjabat tangan Ara
"ini papa nya Joi", ucap Shila mengenalkan Hardi
__ADS_1
"ini adiknya Joi, Dio", ucap Shila mengenalkan Dio,
Ara mencoba berjabat tangan dan tersenyum ke Dio, tapi dia tidak membalas karena melirik Riri yang sedaritadi terus menatap tajam ke arah Ara. Dio hanya tersenyum kecut kearah Ara
Sialan
Umpat Ara dalam hati saat Dio tidak membalas jabatan tangannya
"kau sudab mengambil Zidan, apa sekarang ingin merebut milikku lagi?", batin Riri
"nan kalo yang ini istrinya Dio, namanya...",
"Karina", ucap Riri cepat memotong ucapan Shila
"aku Karina", ucap Riri tersenyum semanis mungkin dan menjabat tangan Ara
"sepertinya Riri kumat lagi", batin Shila
"apa cuma aku yang merasa senyuman itu berbeda", batin Hardi
"itu bukan Riri, feeling ku tidak enak", batin Joi
"namaku Karina, panggil aku Karina", ucap Riri sekali lagi
"baiklah, aku Ara", ucap Ara berusaha senyum
In**i seperti bukan Riri
Mereka pun duduk dan memulai makan malamnya setelah perkenalan tadi, kali ini menunya adalah menu kesukaan Riri. Acara makan malam pun berlangsung, Ara mencoba bercengkrama dengan Shila, sementara Dio sudah menyuruh Rendi mencari tau tentang gadis didepan matanya ini
Sementara Riri, terus fokus ke makanannya, lalu dia juga ikut membuka mulut dan bertanya kepada Hardi
"papa, aku mau menanyakan sesuatu", ucap Riri tiba tiba, membuat semuanya terdiam
"jika ada orang yang ingin mencelakaiku, apakah papa kan melindungiku?", tanya Riri menatap Hardi, dia menatap Hardi dengan mata penuh harapan dan kekecewaan, Hardi bisa melihat dan merasakan arti dari tatapan itu
"tentu saja papa akan melindungimu Ri, kau sudah kuanggap putri kandungku, bukan hanya menantu, aku adalah papamu sekarang", ucap Hardi lalu tersenyum
"benar Ri, kami tidak akan membiarkanmu disentuh siapapun, kau ini adalah putri kami, tenang saja ya sayang",, ucap Shila
Dia benar benar menjadi ratu disini, tunggu saja, aku akan membuatmu dibuang dari sini
"terima kasih papa, mama",, ucap Riri lega
"sayang, aku tidak akan membiarkanmu disentuh siapapun, kau ini istri tercintaku, aku pastikan kau selalu aman", ucap Dio merangkul Riri dan mencium keningnya
"thank you baby, i love you", ucap Riri tersenyum bahagia
"i love you too", jawab Dio
"kak, apa kakak sayang denganku?", tanya Riri kepada Joi
"tentu saja aku sayang denganmu, pertanyaan seperti apa itu Riri? sejak kau masih kecil aku dan Dio selalu menyayangimu", ucap Joi
"benarkah?", tanya Riri
"tentu saja benar, masa iya aku bohong", ucap Joi meyakinkan Riri
"apa kakak akan melindungiku juga?", tanya Riri
"tentu saja", jawab Joi
"bahkan jika orang yang akan mencelakaiku adalah orang yang kakak cintai, apakah kakak akan tetap melindungiku?", tanya Riri
__ADS_1
Joi mendengar itu menghentikan makannya, ucapan itu terdengar berbeda, seperti suatu harapan dari dalam hati Riri
"Riri, aku tidak akan egois dengan membiarkanmu menjadi korban, aku akan tetap melindungimu walaupun pelakunya adalah orang yang kucintai", ucap Joi lembut menatap Riri
"benarkah? aku serius", ucap Riri
"aku juga serius, perlu kah aku buat itu sebagai perjanjian tertulis?", tanya Joi
"haha tidak perlu kak, namun suatu hari nanti, aku akan menagih ucapanmu itu", ucap Riri
"baiklah, tentu saja akan aku tepati", ucap Joi
Mereka melanjutkan makannya, lalu Riri bersuara lagi
"ma, Riri mau tanya", ucap Riri
"iya sayang, mau tanya apa?", tanya Shila
"apa yang akan mama lakukan jika suatu hari mama makan bersama wanita yang pernah merebut kebahagiaan mama, dan kalian berada dalam satu meja", ucap Riri sambil mengiris steak dipiringnya
Dio berfikir sejenak, dia teringat ucapan Fikri waktu Riri koma kemarin
"apakah dia gadis yang dimaksud Fikri? semoga aku salah", batin Dio
"tentu saja mama akan mengamuk, mana mungkin mama rela makan bersama dengan wanita seperti itu dalam satu meja pula", ucap Shila
Ara yang mendengar itu menjadi tersedak, dia tidak menyangka kalau Riri masih mengingat itu
Te**ntu saja dia mengingatnya, wanita mana yang akan melupakan itu, bodoh kau Ara!
"benarkah itu ma? lalu, apakah harus aku letak bola matanya itu diatas piringku ini? aku sungguh ingin melakukannya", ucap Riri pelan lalu mengiris steak yang ada di piringnya
"lalu memakannya seperti ini", Riri menancapkan garpu ke potongan steak itu dan memasukkannya kedalam mulut, garpu itu beradu dengan giginya hingga menimbulkan bunyi yang mengerikan
"*apakah dia menyindirku? apakah itu untukku?", tanya Ara dalam hati
"sudah jelas Riri tidak menyukai gadis ini, tapi, karena apa?", batim Shila
"itu seperti ancaman", batin Hardi
"sepertinya dugaanku benar", batin Dio
"dia seperti orang yang makan menelan mangsanga hidup hidup", batin Joi*
Riri melanjutkan makannya
"ma, jika aku berada diposisi itu, izinkan aku melakukan apa yang akan mama lakukan juga", ucap Riri menatap Shila
"baiklah, tentu saja mama izinkan", ucap Shila, dia paham apa yang dimaksud Riri
Ara yang mendengar itu tersedak lagi, dia kehilangan nafsu makannya karena Riri. Sementara Riri melanjutkan makannya dengan sangat tenang.
Makan malam pun selesai, tapi mereka akan mencicipi hidangan penutupnya terlebih dahulu, lalu setelah itu akan beranjak keruang tv.
"ma, biar Riri yang mengambil hidangan penutupnya", ucap Riri
"baiklah, hati hati ya", ucap Shila kembali duduk
"akan ku bantu, apakah boleh?", tanya Ara ikut berdiri
"tentu saja boleh, akukan sengaja, aku tau kau mau caper disini", batin Riri
"tentu saja, Ara", ucap Riri menekankan kata 'Ara'
__ADS_1
Mereka berdua menuju dapur, Riri didepan dan Ara di belakang, sungguh Riri sangat ingin membunuh gadis itu sekarang, dia semakin dendam melihat Ara yang berani muncul lagi ke depan matanya, kali ini Riri tidak akan melepaskan gadis itu lagi, dia akan melampiaskan semua dendamnya