CEO Cantik Pengidap Bipolar

CEO Cantik Pengidap Bipolar
1.65 Welcome Daddy


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Semua persiapan yang dilakukan Riri sudah siap dan sudah matang, hanya tinggal menunggu saja, jika mereka benar benar mengusik Riri lagi, maka Riri akan bergerak. Dan benar saja, hari ini Tio datang ke kantor Riri


"suruh masuk", ucap Riri kepada satpam di telfonnya


"aku ingin tau apa yang ada dikepalanya", ucap Riri pelan


Tio datang kekantor Riri bersama dengan Jiah, semua karyawan dikantor Riri menyambut mereka dengan baik, dan mereka pun masuk ke ruangan Riri. Sebelum mereka masuk, Riri sengaja mensetting ruangannya menjadi dingin dan menakutkan, itu sesuai dengan suasana hatinya sekarang. Hatinya terasa bergetar, jantungnya berdegup kencang, hatinya kembali tersayat jika melihat ayahnya atau bahkan jika mendengar namanya saja.


Tio memasuki ruangan Riri yang terlihat sedikit menakutkan daripada ruangan CEO biasa, terlihat Riri sedang berdiri membelakangi pintu dengan kedua tangan dipinggangnya


"kenapa ini sepertinya menakutkan?", batin Tio


"disini sangat dingin", batin Jiah


"Welcome Daddy", ucap Riri membalikkan badan


"haii Riri, sudah lama kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu sayang?", tanya Tio lalu memeluk Riri


"ini yang aku rindukan", batin Riri ingin menangis


"sesungguhnya aku benar benar rindu padamu Ri", batin Tio


"aku sungguh tidak suka melihat ini", batin Jiah


Riri memeluk Tio dengan erat, dan menenggelamkan wajahnya di leher Tio


"kau merindukan ayah?", tanya Tio


"em, sangat rindu", ucap Riri pelan lalu melepas pelukannya


"ayah kenapa tidak pernah datang kerumahku? atau menanyai kabarku? aku sungguh merindukan ayah", ucap Riri memegang tangan Tio, kali ini benar benar dari hati dan dengan wajah sendu, tidak bisa dipungkiri jika Riri benar benar merindukan ayahnya


"maafkan ayah, ayah terlalu sibuk dengan pekerjaan ayah, em?", ucap Tio mengelus wajah Riri


Tio tidak tau jika Riri sudah mengetahui semuanya tentang dia, bahkan tentang gadis yang sedang ada dibelakangnya sekarang. Yang Tio tau, Riri masih hilang ingatan, dan tidak mengingat kejadian apaoun tentang hari itu.


"kau semakin cantik saja ya, ayah hampir tidak mengenalimu tadi, sungguh, putriku benar benar cantik dan tumbuh dengan baik", ucap Tio mengelus rambut Riri, ini adalah ungkapan dari hati, bisa terlihat kejujuran dan ketulusan dari matanya


"aku juga cantik, tapi ayah tidak pernah memujiku seperti itu", batin Jiah


"terima kasih ayah, aku memang cantik sejak dulu", ucap Riri tersenyum


"cih pedean banget", batin Jiah


"ohiya ayah, itu siapa?",, tanya Riri pura pura bego


"ah ini, dia putri teman ayah, karena dia tinggal sendirian oleh ibunya, jadi ayah mengadopsinya, dia lebih muda darimu Ri", ucap Tio mengenalkan Jiah


"jika bukan karena rencana ayah, aku akan mengamuk sekarang juga", batin Jiah


"ah begitu, berarti ini adalah adik angkatku?", tanya Riri


"iya Ri, namanya Jiah", ucap Tio


"Jiah", ucap Jiah tersenyum memberi jabatan tangan


"kenalin, aku Karina, panggil aku Karina", ucap Riri menekankan kata 'Karina' lalu tersenyum manis


Kalau Riri udah make nama Karina, itu berarti aura jahatnya keluar :)


"kenapa Karina sayang? bukankah namamu Riri?", tanya Tio bingung


"ah itu yah, kata karyawan Riri, nama Karina itu terkesan lebih elegan, jadi Riri sekarang make nama Karina dan semua orang juga manggilnya Karina", ucap Riri


"oh begitu", ucap Tio


"mari duduk, aku akan menyuruh OG membawakan makanan, kita berbincang dulu", ucap Riri

__ADS_1


Mereka pun duduk disofa dan mengobrol satu sama lain


"ohiya ayah, dimana mama? kenapa tidak ikut?", tanya Riri


"ah mama mu? dia sedang pulang kampung, jadi tidak ikut", ucap Tio beralasan


"ah iya Ri, ayah sebenarnya kesini ingin membicarakan sesuatu", ucap Tio


"apa itu yah?", tanya Riri


"apakah boleh ayah meminta sedikit saham perusahaanmu?", tanya Tio kangsung to the point


"hah?", tanya Riri pura pura bodoh


"iyaa, ayah ingin meminta sedikit saham dari perusahaanmu, kan ini perusahaan kakek dulu, jadi ya wajarlah ayah minta sedikit, kan kakek juga ngasih semuanya ke kamu, dan ayah ga ada dapat bagian sama sekali, jadi ayah ingin meminta hak ayah sebagai anak, ingin meminta sedikit sahammu disini, atau paling tidak berikanlah satu saja cabang perusahaan ini biar ayah jalankan", ucap Tio panjang lebar


Tatapan mata Riri berubah menjadi marah, lalu tersenyum, kali ini bukan manis, tetapi terkesan menakutkan, sangat berbeda dari yang tadi.


"bagaimana bisa dia mengatakan itu sebagai hak nya? hak sebagai anak? yang benar saja", batin Riri


"ayah sedang apasih?", batin Jiah


"ah jadi itu tujuan ayah kesini? aku fikir ayah benar benar merindukanku, ternyata ada hal lain yang membuat ayah melangkahkan kaki kesini", ucap Riri dengan nada dan wajah yang sudah berubah


"iya Ri, ayah hanya meminta hak ayah sebagai anak dari kakekmu, masa kamu yang cuma cucunya bisa dapat semuanya, tapi ayah sebagai anaknya tidak dapat apa apa", ucap Tio


"ayah, apa ayah tau? mungkin kakek punya alasan khusus kenapa tidak memberi ayah sedikitpun warisannya", ucap Riri


"tidak ada alasan untuk tidak memberi hak warisan ini kepada ayah Ri, mungkin kakek hanya ingin membuatmu senang, dengan tujuan, suatu hari kau akan menyerahkan semua ini ke ayah", ucap Tio dengan percaya diri


"benarkah begitu ayah?", tanya Riri


"benar", ucap Tio percaya diri


"ah begitu, lalu kenapa ayah tidak datang kepadaku saat pertama kali aku memegang perusahaan ini? kenapa baru sekarang saat sudah berkembang pesat dan memiliki cabang dimana mana? apakah itu semua yang membuat ayah tertarik dengan perusahaan ini?", tanya Riri


Nafas Tio terasa tercekat saat mendengar ucapan Riri, dia tidak menyangka Riri akan mengatakan itu.


"aku tidak mengatakan itu ayah, tapi jika ayah merasa seperti itu, mungkin memang begitulah yang ada dipikiran ayah", ucap Riri


"kenapa kau bisa berkata begitu? kau ini hanya cucu dari ayahku, tidak sepantasnya kau berkata begitu kepadaku yang menyandang sebagai ahli waris", ucap Tio


Riri ingin tertawa rasanya mendengar ini semua, ntah ingin tertawa atau ingin menangis, ntahla perasaannya campur aduk, tapi dia harus tetap memegang kendali.


"benarkah begitu? kalau begitu aku ingin tanya ke ayah", ucap Riri menatap Tio dengan tatapan tajam


Bulu kuduk Jiah berdiri ketika melihat tatapan tajam Riri, ini sungguh berbeda dari saat pertama kali bertemu dengannya dulu


"apakah selama ini ayah menjalankan kewajiban ayah kepadaku?", tanya Riri lalu menaikkan sebelah alisnya


"tentu saja, ayah memberimu nafkah, memberimu rumah mewah, menyekolahkanmu, apalagi yang kurang? kau tidak perlu bekerja keras", ucap Tio


"iya yah, ayah benar, aku tidak perlu bekerja keras atas semua itu, ayah memang benar benar ayah yang baik hati", ucap Riri tersenyum rasanya dia ingin sekali menangis mendengar jawaban sang ayah


"tapi yah, aku tidak merasa aku memiliki ayah", ucap Riri pelan


"apa maksudmu?", tanya Tio


"karena selama ini, sejak bayi, semua kasih sayang ayah dan mama bukan diberikan kepadaku", ucap Riri


"lalu? kepada siapa? siapa lagi anak ayah selain dirimu?", ucap Tio dengan muka melas


Jiah kepanasan mendengar ucapan Tio, dia hampir marah, tapi masih bisa ditahan


"benarkah? apakah ayah tidak memiliki putri selain aku? aku sangat ingin mendengar jawaban itu", ucap Riri menangis, dia tidak bisa menahan air matanya


"iya Riri, kau benar, putri ayah hanyalah kamu, hanya kamu satu satunya putri ayah dan darah daging ayah, tidak ada orang lain selain dirimu, ayah benar benar menyayangimu, tetapi pekerjaan ayah selalu menuntut waktu ayah, maafkan ayah jika menyakiti perasaanmu selama ini dan tidak memberimu waktu ayah, tapi sungguh dalam hati ayah benar benar menyayangimu, kau adalah satu satunya milik ayah", ucap Tio memeluk Riri, ntah yang dia katakan ini benar atau tidak, tulus atau tidak, hanya author yang tau


"sayang, kau tau? ayah sangat senang saat mengetahui kau baik baik dan jauh dari malabahaya, tetap jaga semua yang kamu punya, suatu hari jika ayah diberikan kesempatan, ayah akan jujur padamu", bisik Tio sangat pelan agar hanya terdengar oleh Riri saja

__ADS_1


Riri sempat berfikir sejenak, apa maksud dari perkataan ayahnya ini? apakah ini hasutan atau sebuah ketulusan? Hati Riri mulai goyah, pikirannya campur aduk


"Riri, apapun yang terjadi tetaplah pada pendirianmu, jangan beri kesempatan pada orang lain agar menyakiti dirimu, siapapun dia, jangan beri kelonggaran, ayah bersungguh sungguh, ayah benar benar menyayangimu, ingat, hanya kau putriku, satu satunya putriku", bisik Tio ditelinga Riri


"jika memang suatu hari ada keadaan mendesak, selamatkanlah dirimu sendiri, jangan ayah ataupun orang lain, ya, ingat itu sayang", bisik Tio


Jiah melihat pemandangan itu merasa sangat cemburu, dia sungguh tidak terima melihat Tio memeluk Riri sangat erat, seperti bukan berakting


"baiklah ayah, akan aku pertimbangkan semuanya, senin pekan depan ayah datanglah lagi kesini, aku akan berbicara dengan ayah dan memberi beberapa pengarahan, karena aku tidak ingin memberi kepercayaan begitu saja", ucap Riri melepas pelukannya


"baiklah, ayah akan datang pekan depan ya", ucap Tio


"apakah ayah akan pulang sekarang? kita bisa makan siang bersama", ucap Riri


"benarkah? apakah tidak mengganggu pekerjaanmu?", tanya Tio


"tentu saja tidak ayah, sekaligus aku ingin mengajak adikku ini berbelanja, kau mau kan?", tanya Riri memegang tangan Jiah


"baiklah kak", ucap Jiah tersenyum


"tentu saja aku tidak akan melewatkan kesempatan berbelanja, dia pasti akan membeli barang barang mewah", batin Jiah


"baiklah kalau begitu, mari kita berangkat sekarang juga", ucap Riri tersenyum


Mereka dibawa Riri ke sebuah restoran mewah ternama dikota itu dan tentu saja itu adalah restoran milik Riri. Semua pekerja disana tertunduk melihat kedatangan Riri


"selamat siang nyonya", ucap manager disana


"siang, aku mau pakai ruangan VVIP hari ini", ucap Riri


"baik nyonya", jawab nya


"nyonya? siapa Riri ini sebenarnya?", batin Jiah


"benar benar putriku luar biasa, aku tidak menyesal telah melepasmu Riri", batin Tio


Setelah memesan makanan, tidak lama kemudian semua yang dipesan telah tersaji diatas meja. Mereka melahap semua makanan itu dengan sangat nikmat, bahkan Jiah saja sampai lupa dengan kekesalannya pada Riri, dia lupa kalau Riri adalah musuhnya, dia sangat menikmati makanan ini dan berulang kali memuji Riri


Setelah selesai makan, mereka berbelanja di mall milik Riri dan Dio, semua pekerja disana memperlakukan mereka dengan sangat baik, Riri membelikan banyak barang barang mewah untuk Jiah dan ayahnya, mereka sungguh seperti mendapat jackpot hari ini.


"aku tidak menyesal ikut ayah hari ini, aku sungguh beruntung", batin Jiah


Setelah selesai dari mall, Riri mengajak Jiah untuk bertemu dengannya besok, dia akan mengajaknya berbelanja lagi, dan bersenang senang. Tentu saja Jiah menerimanya dengan senang hati


Mereka lalu berpisah dijalan pulang, Riri pulang ke mansionnya sementara Jiah dan Tio kerumah mereka


"kau yakin menerima ajakan Riri besok?", tanya Tio


"tentu saja yakin ayah, mana mungkin aku menolaknya", ucap Jiah tersenyum senang


"Jiah, kau dengarkan ayah, kau ini masih sangat polos, ikutlah kejalan yang baik, dan mulailah mengelola pemikiranmu, jangan hanya mendengar dari satu sisi saja ya", ucap Tio


"apa maksud ayah?", tanya Jiah bingung


"maksud ayah, kau seringlah mendekati Riri, mungkin kau akan melihat beberapa rahasia Riri", ucap Tio


"ah begitu, tapi yah, sepertinya Riri itu baik, dia tidak seperti yang dikatakan mommy", ucap Jiah


"memangnya mommy bilang apa padamu?", tanya Tio bingung


"mommy bilang Riri ingin merebut ayah dariku, dan mommy bilang bahwa Riri akan merusak semua kebahagiaanku, mommy bilang Riri adalah orang jahat, itu yang selalu mommy bilang padaku, karena itu aku sangat membencinya dan menyerangnya dulu saat ayah menyuapinya, aku sungguh tidak ingin kehilangan ayah", ucap Jiah


"ternyata semua ini ulahmu Alexa? baiklah, kau tunggu saja, tidak akan kubiarkan kau mengadu domba mereka", batin Tio


"lalu? apa yang membuatmu berubah pikiran?", tanya Tio


"aku merasa Riri sangatlah tulus dengan kita hari ini, aku dengar dia bukanlah orang sembarangan, jadi jika dia mau membelikan kita semua ini, bahkan memperlakukan kita dengan sangat baik, itu berarti dia benar benar tulus", ucap Jiah


"Jiah, apapun yang kamu pikirkan, tetaplah diam dan simpan itu semua, suatu hari kau akan mengetahui hal hal yang tidak kau duga duga, tidak ada yang tau kan", ucap Tio tersenyum

__ADS_1


"baiklah ayah",, ucap Jiah


__ADS_2