
Sementara Riri yang menangis dia membuka semua pakaiannya dan menggantinya dengan bikini. lalu mengisi bathtub miliknya dengan air hangat dan dituangkan bunga mawar merah didalamnya, lalu dia mematikan lampu kamar mandi dan menyalakan semua lilin aroma terapi yang ada disitu, dia benar benar menghiasi seisi kamar mandinya dengan kelopak bunga mawar merah
Dia masuk kedalam bathtubnya dan berendam didalamnya untuk menenangkan pikirannya
"aku benar benar bisa gila", gumam Riri
"aku tidak tahan mendiamkannya, tapi dia sendiri juga tidak mengerti dengan kesalahannya", ucapnya
"ah sialan", umpat Riri
Kali ini Riri menenggak wine, dia tidak peduli dengan prinsipnya, pikirannya benar benar sangat kacau sekarang
Riri benar benar menghabiskan minuman hingga 5 botol, lalu pingsan di bathtub miliknya.
-_-_-_-_-_-_-
Sementara itu dirumah Dio
Dio terus menenggak minumannya dan meminumnya tanpa henti, Rendi yang melihatnya menjadi khawatir
"tuan, ada apa? tidak biasanya tuan begini", ucap Rendi
"aku benar benar tidak mengerti apa salahku dengannya, mengapa dia menghindariku seperti ini? aku bisa gila rasanya, ah", bentak Dio kesal
"apa belum baikan dengan nona Riri?", batin Rendi
"apa ini masalah nona Riri tuan?", tanya Rendi
Seketika Dio terdiam dan menoleh ke Rendi
"bagaimana kau tau?", tanya Dio.
"saya tau tuan, tapi nona Riri menyuruh saya menutup mulut", ucap Rendi berbohong, dia ingin memberi pelajaran ke Dio agar tidak sembarangan lagi
"maksudmu? ceritakan semua yang kau tau, ini demi Riri, cepat Ren, apa yang aku tidak tau? apa yang aku lewatkan? kesalahan apa yang sudah ku perbuat?", tanya Dio memohan didepan Dio
Terpancar, kepanikan dan ketakutan dari mata pria itu, Rendi tidak tega melihatnya. Lalu Rendi menceritakan semuanya tentang malam itu, dengan menambahkan sedikit kebohongan, dengan niat agar Dio tidak mengulangi lagi kesalahannya
Dio terdiam mendengar semua cerita Rendi. Hatinya hancur rasanya, mendengar kenyataan bahwa Riri sudah meragukan cintanya karena kesalahannya sendiri
"Ren, kita apartemen Riri sekarang, aku ingin menjelaskan kepadanya, bantu aku Ren", ucap Dio memohon
"lebih dari 6 tahun aku bekerja dengan tuan Dio, ini kedua kalinya aku melihatnya memohon seperti ini hanya karena seorang gadis", batin Rendi
"baik tuan, mari kita kesana", ucap Rendi
Mereka segera menuju mobil dan melaju kearah apartemen Riri. Sepanjang perjalanan Dio menggigit jarinya, dia sangat khawatir Riri akan melakukan hal hal nekat diluar kendalinya, dan juga takut Riri akan meninggalkannya karena kecerobohannya itu
"apa sebaiknya saya hubungi Geri dan Harry tuan? mereka mungkin punya kunci cadangan untuk apartemen nona Riri", ucap Rendi
"lakukan saja, apapun itu, aku tidak bisa berfikir sekarang, aku takut Riri meninggalkanku, ini semua salah paham, ini salahku", ucap Dio khawatir
"aku tidak pernah melihat tuan Dio seperti ini sebelumnya, dia benar benar mencintai nona Riri", batin Rendi
__ADS_1
Rendi segera menghubungi Geri dan Harry lalu menceritakan kejadiannya. Secepat kilat Geri dan Harry melaju keapartemen Riri. Mereka juga sama paniknya, mereka berdua sangat hafal dengan sikap Riri yang bisa tiba tiba nekat dan melakukan hal hal diluar kendali
Mereka semua sampai didepan apartemen secara bersamaan, dan membuka pintu apartemennya dengan kunci cadangan
Pintu utama berhasil terbuka, namun kini kamar Riri dikunci dari dalam. Mereka memanggil Riri, namun tak ada jawaban dari dalam. Dio semakin panik, pikirannya melayang ntah kemana, mereka lalu mendobrak pintu kamar Riri
Brakk!!!
Setelah pintu terbuka, terlihat pakaian yang dipakai Riri tadi berserakan dilantai. Mereka mencari disekeliling kamar namun tidak menemukan Riri
"tuan sepertinya nona Riri ada didalam kamar mandi",, ucap Geri melihat cahaya lilin dari dalam kamar mandi dan mencium aroma lilin aromaterapi yang sering dipakai Riri
Mereka lalu mencoba masuk, dan ternyata pintunya tidak terkunci. Dio membuka pintu kamar mandi, dan terkejut mendapati kamar mandi yang lampunya mati dan penuh dengan bunga mawar merah.
"apa ini?", tanya Dio saat menginjak kelopak bunga mawar merah
"bunga mawar merah?", tanya Harry
"apa artinya?", tanya Dio.
"sesuatu yang buruk tuan, nona Riri selalu menaburkan bunga mawar merah saat dia sedang marah", ucap Geri
Dio semakin panik dan berjalan tergesa gesa masuk kedalam kamar mandi Riri. Mereka semua terkejut mendapati botol botol wine yang berserakan dilantai
"bukankah Riri tidak pernah minum minuman seperti ini?", tanya Dio.
"nona Riri tidak pernah minum minuman ini", jawab Geri cepat
Mereka berjalan lagi, lalu mendapati tubuh Riri yang tergeletak lemas didalam bathtub yang penuh dengan kelopak bunga mawar
"Riri!", teriak Dio
"nona Riri benar benar meminum ini?",, ucap Geri shock
"Rendi panggil dokter Fira kesini!", teriak Dio
"baik tuan", jawab Rendi keluar dari kamar mandi
"Geri ambilkan handuk, dan baju mandi Riri, Harry kau siapkan air hangat atau apapun untuk Riri didalam kamarnya, cepat", teriak Dio
Mereka segera berlari dan melakukan perintah Dio tanpa menjawab. Dio panik dan khawatir melihat wajah Riri yang sudah pucat
"sayang maafkan aku, jangan begini", ucap Dio memegangi wajah Riri yang dingin
"ini tuan", ucap Dio memberikan handuk dan baju mandi
"keluarlah, aku akan membawa Riri kekamarnya", ucap Dio
Geri segera keluar dari kamar mandi dan menunggu dikamar Riri bersama dengan Rendi dan Harry
Dio mengangkat Riri dari dalam bathtub dan mengelap tubuhnya dengan handuk, lalu memakaikan baju mandi milik Riri. Setelah itu menggendong Riri dan meletakkannya di ranjang. Dia terus meminta maaf dan memegang tangan Riri yang dingin
"sayang bangunlah, maafkan aku, jangan begini sayang, aku takut, maaf", lirih Dio yang sedang menangis
"Ren dimana dokter Fira? kenapa lama sekali?", teriak Dio
"dalam perjalanan tuan", jawab Rendi
__ADS_1
Dio kembali menangis, dia benar benar takut kehilangan Riri. Tak lama kemudian, Fira datang dan memeriksa keadaan Riri
"Dia stress dan kedinginan karena berendam terlalu lama, dan juga pengaruh minuman, aku mencium bau wine dari bibirnya, berikan saja istirahat yang cukup dan jangan memberinya terlalu banyak tekanan, dia bisa drop lagi nanti", jelas Fira
"apa tidak perlu kerumah sakit? aku sangat khawatir", tanya Dio
"tidak perlu tuan, aku sudah memberikannya vitamin, berikan itu secara rutin agar energinya kembali lagi",, jawab Fira
"baiklah, terima kasih", jawab Dio
"kalau begitu saya permisi tuan",, jawab Fira lalu keluar dari kamar Riri
"Geri, Harry, kalian handle kantor Riri, dia harus istirahat", ucap Dio
"baik tuan,", jawab Geri dan Harry
"Rendi, kau juga handle semua pekerjaanku, aku harus menjaga Riri", ucap Dio
"baik tuan", jawab Rendi
"kalian pulanglah, aku akan tetap disini dsn menjaganya", ucap Dio
"baik tuan, kalau terjadi sesuatu, hubungi kami secepatnya tuan", jawab Harry yang juga khawatir melihat Riri terbaring lemah di ranjang itu
"em, pulanglah", jawab Dio
Mereka bertiga keluar dari apartemen Riri, meninggalkan Dio yang masih setia menemani Riri. Dia terus meminta maaf kepada Riri
Dio lalu mengganti baju Riri yang basah, dia mendapatkan pemandangan indah didepan matanya, namun kali ini dia tidak tertarik, mengingat kondisi Riri sekarang.
Dia terus berada disamping Riri, dia juga mengabari mama dan papanya agar menunda acara pernikahannya, lalu memberi tau kondisi Riri dan menceritakan kejadiannya
Hardi dan Shila segera melaju keapartemen Riri, dan melihat kondisi yang terbaring lemah. Shila menangis dan marah kepada Dio, tapi dia juga tidak tega melihat Dio yang menangis dan menyesali perbuatannya itu
"sudah ma sudah, Dio juga sedang tidak sadar waktu itu, kita ga bisa nyalahin dia terus ma", ucap Hardi menenangkan Shila
"sayang, aku takut Riri kenapa kenapa, aku benar benar takut", ucap Shila menangis
"sayang aku minta maaf, bangunlah sayang",, lirih Dio yang masih menangis
"Dio, pindahkan saja ke mansion papa, biar kita urus dia disana, kau juga bisa tinggal disana kan",, ucap Hardi dan dibalas anggukan dari Dio
Mereka memindahkan Riri ke mansion Hardi, juga sudah menyiapkan kamar untuk Riri disana dan juga beberapa perawat untuk mengurus Riri
Kini Riri sudah dipindahkan ke mansion milik Hardi. Shila masih bersedih menatap wajah pucat Riri, dan juga melihat putranya yang terus menangis dan terus meminta maaf
"sudah Dio, tenang, kuatkan dirimu, berhenti menangis", ucap Hardi mengelus pundak Dio
"pa ini salahku pa, aku minta maaf", ucap Dio menangis memeluk Hardi
"iya iya tenangkan dirimu, dan jangan pernah ulangi lagi kesalahanmu yang bodoh itu", ucap Hardi mengelus punggung Dio
Hardi dan Shila keluar dari kamar Riri, meninggalkan Dio disana yang masih setia disamping Riri
"dia benar benar mencintainya", ucap Hardi
"dasar anak nakal, aku benar benar khawatir sayang", ucap Shila
__ADS_1
"tenanglah sayang, Riri itu gadis yang kuat", jawab Hardi
.