
Dio masuk kekamar Riri dan melihat Riri yang masih memakai piyama tidurnya
"kamu belum siap sayang?", tanya Dio
"aku tadi mengurus Icezy dan Flow dulu mas", ucap Riri
"dimana Eni dan Dila? bukankah mereka yang harus mempersiapkan Icezy dan Flow?", tanya Dio
"ah mereka? aku suruh mempersiapkan persiapan yang lain dan aku suruh mengisi tenaga juga, mungkin sekarang sedang sarapan", jawab Riri
Wajah Dio berubah menjadi marah mendengar jawaban Riri, bagaimana bisa istrinya yang harus mempersiapkan Icezy dan Flow sementara baby sisternya malah duduk manis menikmati sarapannya
"aku memperkerjakan baby sister agar kamu tidak repot sayang, tapi mereka malah makan dan kamu yang mengurus baby twins?", tanya Dio emosi
"Mas, mereka harus menjaga baby twins nanti saat kita semua dalam perjalanan dan beristirahat, jadi mereka perlu tenaga lebih banyak daripada aku", ucap Riri
"lagian kan mereka anak anakku, tidak ada salahnya jika aku yang mengurusnya sendiri, kan aku mamanya", ucap Riri tersenyum
Dio lalu memeluk istrinya itu
"maaf sayang, aku hanya marah melihatmu kerepotan sendirian, aku hanya tidak ingin kamu kecapean", lirih Dio
"kalo udah jadi orang tua, ga pernah ada cerita ga repot mas, pasti repot", ucap Riri tertawa kecil
"sepertinya kamu menikmatinya sayang, aku rasa aku terlalu sensitif terhadap kesehatanmu dan baby twins, maaf ya", ucap Dio
"tidak apa apa mas, ohiya mas, aku boleh minta tolong ga?", tanya Riri
"apapun untukmu sayangku", ucap Dio
"tolong buatin sandwich mas, aku ga selera makan nasi", ucap Riri
"baiklah, tunggu disini ya, mas bawa kekamar aja ya", ucap Dio
"oke mas, aku mau mandi dulu", ucap Riri
"mau susu sekalian ga sayang? atau jus jeruk?", tanya Dio
"em... susu coklat aja mas", ucap Riri
"oke baby, mas buatin dulu ya", ucap Dio
Riri tersenyum lalu masuk kekamar mandi untuk mandi dan segera bersiap, sedangkan Dio melesat menuju dapur untuk membuatkan sarapan istrinya
"kamu mau apa Dio?", tanya Ningsih yang sedang ada didapur
"ini ma, istriku minta buatin sandwich", jawab Dio
"yaudah biar mama yang buatin, kamu ga perlu repot",, ucap Ningsih
"jangan ma, istriku meminta buatanku, dia akan mengamuk dia rasanya tidak sama seperti buatanku, lidahnya itu sangat tajam", ucap Dio
__ADS_1
Ningsih tertawa mendengar penjelasan Dio,
"dia minta apa aja emang?", tanya Ningsih
"sandwich dan susu coklat ma", jawab Dio
"kalau gitu mama buatin susu coklatnya ya", ucap Ningsih
"ga ngerepotin mama kan?", tanya Dio
"tentu saja tidak", ucap Ningsih
"baiklah ma, terima kasih ma", ucap Dio
Dio lalu sibuk memotong dan membersihkan sayuran dan membuat sandwich untuk istrinya, sementara Ningsih membuat susu coklat untuk Riri
"tapi Dio, sejak kapan Riri suka susu?", tanya Ningsih
"waktu hamil aku memaksanya meminum susu ma, sejak itu dia malah suka dengan susu", jawab Dio tersenyum
"oo gitu, karena setau mama dia ga suka susu, apalagi rasa vanila", ucap Ningsih
"iya ma, aku pernah membelikan rasa Vanila sebelum aku tau itu, lalu Harry dengan sigap mengganti susunya, dia bilang istriku akan mengamuk", ucap Dio tertawa mengingat kejadian itu
"tapi justru sejak itu permintaannya tentang susu malah makin aneh, bahkan dia meminta mencarikan susu hamil rasa matcha", ucap Dio
"memangnya ada rasa matcha?", tanya Ningsih bingung
Ningsih tertawa geli mendengar pengaduan Dio tentang kelakuan putrinya, inilah hal yang paling diimpikan Ningsih, mendengar pengaduan dari menantunya tentang kelakukan putrinya selama menikah
Sedangkan Dio terus bercerita dan mengadu sebanyak yang dia bisa kepada mertuanya sambil menunggu sandwichnya matang, tak jarang dia juga ikut tertawa mengingat kelakukan aneh Riri saat hamil dulu
...
Setelah sandwichnya selesai Dio pun kembali kekamarnya, terlihat istrinya yang sudah bersiap siap. Dio memberikan sarapan itu dan dimakan dengan lahap oleh istrinya
"makasih suamiku", ucap Riri mencubit pipi Dio dengan gemas, dia tersenyum sumringah saat melihat suaminya membawakan sarapan untuknya
"jam berapa kita berangkat mas?", tanya Riri
"jam 10 sayang, habiskan dulu sarapanmu sayang", ucap Dio
"mama mana mas?", tanya Riri
"mama yang mana sayang?", tanya Dio
"mama... ya mama dua dua lah mas", ucap Riri yang juga ikut berfikir
"mama mertuamu sedang berfoto foto dihalaman belakang mansion bersama dengan Jiah, papa, kak Joi, ayah dan cucu cucunya", jawab Dio
"sedangkan mama mertuaku sedang sibuk memasak didapur bersama Rara dan Nita", jelas Dio
__ADS_1
Riri hanya manggut manggut mendengar penjelasan suaminya
"ga ada pertanyaan lagi sayang?", tanya Dio yang menunggu istrinya bicara lagi
"emangnya mas lagi jelasin rumus matematika ke murid?", tanya Riri balik
"ya mas bingung aja kenapa kamu ga nanya lagi", ucap Dio
"memangnya aku harus nanya apa mas? kan jawaban mas udh jelas tadi", ucap Riri
"kamu ga nanya mama mertuaku masak untuk siapa?", tanya Dio
"paling juga untuk ayah atau Jiah, kenapa aku mesti tau apa tujuan dia memasak, ga penting juga", jawab Riri ketus
Dio terdiam, tidak biasanya istrinya seperti ini, padahal selama hamil sampai beberapa minggu lalu istrinya sudah hampir akrab dengan mama mertuanya, tapi kini berubah drastis, bahkan melarang mamanya untuk ikut berlibur bersama mereka
"makasih sarapannya mas", ucap Riri dingin
Riri menyudahi sarapannya yang baru beberapa gigitan, dia kehilangan moodnya lalu menenggak susu hingga habis lalu pergi ke kamar anak anaknya tanpa mengucapkan apa apa lagi ke suaminya.
"ada apa? apa aku salah bicara?", tanya Dio mendatangi Riri yang sedang mengecek stok Asi untuk dipesawat nanti
"tidak", jawab Riri singkat
"lalu kenapa begitu?", tanya Dio namun tidak ada jawaban lagi dari istrinya
"Sayang jawab aku.. ada apa?", tanya Dio lagi, namun Riri tetap bungkam dan melanjutkan berberes lemari anak anaknya
"Riri jawab.. jangan sampai aku berubah pikiran", ucap Dio pelan
Riri berdiri dan menatap Dio dengan tatapan elangnya, sudah lama sekali Riri tidak mengeluarkan tatapan seperti itu
"kenapa? mau membatalkan liburannya? silahkan, aku bisa berlibur sendiri dengan anak anakku", ucap Riri dengan nada tegas
Riri keluar dari kamar anaknya dan pergi ntah kemana, sementara Dio bersandar di baby box milik Flow dan memijat pelipisnya
Dio lalu menelfon Harry untuk naik keatas dan menanyai tentang ini, apa yang tidak dia ketahui
Disisi lain, Riri berjalan ke halaman belakang dan menemui anak anaknya. Riri mengambil Flow dari Joy, lalu menemui Jiah untuk mengambil Icezy
"biar aku bantu bawa kak", ucap Jiah
"aku bisa", ucap Riri
"Ri, kau kenapa? Jiah kan hanya ingin membantu membawakan Icezy", ucap Tio
Bukannya menjawab Riri justru memberi tatapan tajam kearah ayahnya,
"sudah kubilang aku bisa", ucap Riri penuh penekanan
Riri mengambil paksa Icezy dari tangan Jiah, baby Icezy yang tadinya tersenyum kini terdiam begitu ada ditangan mommynya, sama seperti Flow yang tadinya tertawa ceria, dia juga ikut diam begitu ada didalam tangan Riri.
__ADS_1
Riri membawa Flow dan Icezy dengan kedua tangannya, lalu pergi meninggalkan halaman belakang.