
Setelah bubar dari ruang tv, Geri memutuskan untuk pergi ke roof top sejenak, dia sungguh bingung memikirkan Rara, ntah apa yang dibingungkan dia sendiri juga gatau, hanya saja, ada perasaan gelisah didalam hatinya
Geri tidak pernah merokok, tapi pernah icip icip alkohol dulu sebelum bekerja dengan Riri. Setelah bekerja dengan Riri, Geri tidak pernah menyentuh alkohol lagi.
Geri mengacak acak rambutnya, ntah perasaan gelisah apa yang sedang melanda hatinya ini.
"yakk, berhentilah mengacak acak rambut mu itu, kau bisa botak", ucap seseorang dari kejauhan
"Rara?", tanya Geri, seketika gelisah yang dia rasakan juga hilang sata melihat Rara berjalan kearahnya
"apa ada yang mengganggu pikiranmu Ger?", tanya Rara menatap Geri
"ntahlah, aku gelisah sejak tadi, tapi...", ucap Geri menggantung
"tapi? apa? buanglah semua kegelisahanmu itu, semua baik baik saja", ucap Rara tersenyum lalu mengacak acak rambut Geri
Deg!
"jantungku kenapa? kenapa deg deg an gini? sudah lama jantung ini tidak berdetak seperti ini, kenapa sekarang kumat lagi?", batin Geri
"apa aku bisa mencintainya? apa aku bisa membuka hatiku untuknya?", batin Rara
"aku harap bisa", batin Rara
"sudah hilang", ucap Geri
"apa yang hilang?", tanya Rara
"Rara, apa aku boleh mencintaimu?", tanya Geri yang keluar dari bibirnya begitu saja
"pertanyaan macam apa itu Geri gublug", batin Geri
Rara terdiam mendengar pertanyaan Geri, wajahnya juga memerah sesaat.
"apa aku boleh bercerita sesuatu?", tanya Rara dan dibalas anggukan dari Geri
"sejujurnya aku bisa ilfeel jika ada lelaki yang mencintaiku terlebih dahulu", jawab Rara
"lalu? aku harus gimana?", tanya Geri bingung
"aku juga tidak tau, jika aku mencintainya lebih dulu, aku sangat bahagia, namun jika dia membalas perasaanku, aku malah menjadi ilfeel lalu menjauh dari nya, dan jika ada yang mencintaiku lebih dulu? aku justru makin ilfil, ntahlah aku seperti itu selama ini", ucap Rara sambil menatap pemandangan nan indah diatas sana
"lalu? aku harus gimana?", tanya Geri bingung
"aku juga tidak tau", tanya Rara
"baiklah tidak apa apa, jangan pedulikan aku, teruslah bersenang senang dengan perasaanmu", ucap Geri mengacak acak rambut Rara
"kau tidak apa apa? itu akan melukaimu jika aku tidak bisa mencintaimu", tanya Rara menatap Geri
"tidak apa apa, aku akan menunggu, terus berusaha, dan selalu berjuang agar bisa menemukan kunci untuk membuka hatimu, aku tidak akan memaksamu Rara", ucap Geri
"maaf jika hatiku keras, aku sendiri juga gatau kenapa aku begini", ucap Rara
Geri tersenyum manis dan mengelus rambut Rara
"makasih ya, akhirnya kegelisahanku sudah terjawab, istirahatlah dulu, nanti kita akan pergi lagi", ucap Geri
"kita akan kemana nanti?", tanya Rara
"em... kesuatu tempat yang memanjakan diri dan jiwa", ucap Geri lalu berjalan arah masuk ke dalam
"tapi kemana?", tanya Rara mengejarnya
"rahasia", ucap Geri
"Geriiii", teriak Rara manja
Geri hanya tertawa, terdengar suara gaduh mereka berdua dari dalam.
__ADS_1
Sementara itu....
Nita berniat ingin mengambil jus lagi didapur, tapi justru melihat dua sejoli itu sedang bercumbu di meja bar. Spontan dia kaget, tiba tiba ada seseorang dari belakang menutup mulutnya, memeluk tubuhnya lalu menyeretnya dari situ
Lalu dia dibawa masuk sebuah kekamar, kamar pembantu mungkin tubuhnya terpentok ke dinding yang ada di tangga, dan ada kedua tangan menghalanginya dari kanan dan kiri, dan terlihat seseorang itu adalah Rendi, lalu menutup pintu secara perlahan agar Riri dan Dio tidak mendengarnya, Nita juga melihatnya
Rendi menunduk dengan nafas yang masih ngos ngos an, wajahnya dengan Nita hampir tidak ada jarak
"hati hati Nit, jika mereka tau kau sedang memergoki mereka, bisa bisa dipecat kau nanti", bisik Rendi masih dengan posisi yang sama
"aku hanya terkejut, aku belum pernah melihat orang yang sedang ciuman, secara langsung,", ucap Nita lalu mengelus lembut wajah Rendi yang masih mengatur nafasnya
"kau tidak apa apa kan?", tanya Nita
"apa kau sendiri belum pernah melakukannya? kenapa terkejut?", tanya Rendi menatap Nita
"aku belum pernah", ucap Nita gugup
"kenapa?", tanya Rendi
"karena aku tidak punya pacar, sejujurnya ingin juga, tapi...",.
Cup.
Belum sempat Nita selesai bicara, Rendi mengecup bibirnya dan terdiam dengan posisi bibir yang masih bersentuhan.
Nita membelalakkan matanya, terkejut dengan serangan Rendi yang tiba tiba, namun juga tak melawan, bibir itu, terasa
"manis", batin Nita
"manis dan lembut", ucap Rendi melepaskan ciumannya
"hah?", ucap Nita
"bibirmu", ucap Rendi
"apa yang kau lakukan? aku ingin melakukan itu dengan pacarku, tapi kenapa kau melakukannya lebih dulu", ucap Nita kesal
"aku ingin menjadi pacarmu", ucap Rendi
"hah?", ucap Nita
"apa kau mau?", tanya Rendi
"kau serius?", tanya Nita.
"aku serius Nita, aku mencintaimu sejak pertama kita berkenalan", ucap Rendi
Nita tersenyum, ternyata perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan selama ini
cup...
Kali ini Nita yang meluncurkan serangan, tentu Rendi tidak menolaknya, dan justru meladeninya, memeluk erat pinggang dan leher Nita, dan sama sama terbuai.
Setelah puas berciuman, mereka pun keluar dari kamar itu dan kembali kekamarnya masing masing dengan hati yang masih berbunga bunga
Setelah jam 10 tiba, semua kembali berkumpul di ruang tv sesuai perintah Riri
"udah semuanya nih kan?", tanya Riri sambil menghitung
"udah Ri", jawab Rara
"baiklah kalau begitu, kita berangkat sekarang", ucap Riri
Semuanya pum berjalan ke mobil, tapi Riri memperhatikam sesuatu yang agak asing menurutnya
"Nit, bukankah tadi lipstikmu merah? kenapa bisa hilang?", tanya Riri
Deg!!
__ADS_1
Jantung Nita dan Rendi yang mendengar itu menjadi berdetak sangat cepat.
"duh anjir, lupa pake lipstik lagi", batin Nita
"ya ampun bu Riri, kenapa harus ditanya sih", batin Rendi
"hehehe lipstik murah bu, jadi gampang hilang kalau minum atau kena air gitu", jawab Nita asal asal
Riri tidak menjawab dan terud berfikir,
"lipstik dia kan sama merknya dengan ku, dan hanya hilang kalau dihapus dengan micelar water atau saat sedang berci...", batin Riri lalu melihat bibir Rendi memerah
"oh, pindah kesitu ternyata", batin Riri lalu menganggung anggukan kepalanya
"ooo begituu, oke oke oke", ucap Riri mengangguk anggukan kepalanya
"setelah pulang darisini aku akan menaikkan gaji kalian semua, supaya kalian tidak membeli lipstik murah lagi", ucap Riri
"dia menyindirku? astaga gara gara lipstik", batin Nita
"benarkah bu Riri?", tanya Natali dan Yuli antusias
"ya aku serius, saat gaji kalian naik, belilah lipstik yang mahal dan tahan lama, yang hanya hilang saat dilap dengan micellar water, atau saat sedang digigit serangga", ucap Riri melirik ke Rendi
"serangganya aja gede bu, ya jelas hilanglah lipstiknya", batin Nita melirik Rendi
"iyaa nona Riri, aku serangganya? kenapa emang? mau marah?!", batin Rendi
-_-_-_-_-_-_-_-_-
Saat diperjalanan, Riri terus berfikir tentang Rendi dan Nita, apakah mereka jadian? tapi sepertinya begitu jika melihat perkara lipstik tadi
"sayang kau kenapa?", tanya Dio melihat Riri terus berfikir
"sayang, apa Rendi punya gebetan?",, tanya Riri
"kenapa tiba tiba bertanya tentang Rendi sayang?", tanya Dio heran
"jawab saja sayang", ucap Riri memaksa
"aku.... tidak tau tentang itu", ucap Dio karena memang dia tidak pernab melihat Rendi berkencan
"kau ini", ucap Riri memukul lengan Dio
"kenapa sayang", tanya Dio memegang lengannya
"kau adalah bos yang buruk sayang, perhatikanlah anggota mu itu sesekali, seperti nya dia sudah mulai nakal", ucap Riri
"nakal? maksudnya?", tanya Dio masih bingung
Riri lalu berbisik ke telinga Dio
"lipstik Nita berpindah ke bibirnya tadi", bisik Riri
Dio terkejut mendengar itu, karena yang dia tau, Rendi tidak pernah pacaran, bagaimana bisa tiba tiba lipstik Nita berpindah ke bibirnya
"kau tau darimana?", tanya Dio
"mataku masih berfungsi dengan baik sayangku", ucap Riri
Dio menyandarkan badan nya ke kursi mobil
"wah, dia benar benar nakal ternyata, aku fikir selama ini dia polos", ucap Dio
"makanya perhatikan juga anggotamu sayang, jadilah bos yang baik", ucap Riri meremas paha Dio
"aww sayang, ih", pekik Dio
"sayang, kau benar benar sangat teliti, aku salut denganmu", ucap Dio
__ADS_1
Riri hanya tersenyum lalu memeluk Dio