CEO Cantik Pengidap Bipolar

CEO Cantik Pengidap Bipolar
1.106 Nyidam Ramen


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, minggu demi minggu berlalu, kini usia kehamilan Riri sudah berumur 3 jalan 4 bulan, perut Riri masih rata, tapi ukuran tubuhnya yang semakin sintal dan berat badannya yang semakin bertambah


Riri dan Dio juga telah menyelesaikan masalah mereka sebelumnya tentang Pricilla, ternyata memang benar bahwa Pricilla menggunakan campur tangan hal hal gaib semacam itu untuk menarik lelaki yang dia incar


Riri sendiri sudah membuktikan itu semua, dia juga sudah memaafkan suaminya, kini semua kembali normal. Hubungan Joi dan Jiah juga semakin dekat walaupun Jiah belum percaya kalau Joi sudah lepas dari masa lalunya, tapi Joi terus mengejarnya untuk membuktikan semua ucapannya


Hari ini weekend, mereka bersantai dikolam renang. Riri berenang dikolam bersama dengan suaminya dan juga adiknya Jiah, beserta kakak iparnya Joi.


Riri melakukan olahraga ibu hamil dikolam renang, dibantu oleh suaminya agar lebih mudah untuk melakukan setiap gerakan. Dio yang sudah mempelajari segala hal untuk ibu hamil pun merawat istrinya dengan telaten


"hati hati sayang", ucap Dio yang agak ngeri dengan istrinya yang sering melakukan gerakan secara tiba tiba


"kak Dio menjaganya sangat hati hati, seperti bola yang sangat rapuh", ucap Jiah kepada Joi


"aku juga akan seperti itu jika istriku hamil", ucap Joi


"ohiya, kakak kenapa terus ada di Indonesia? bagaimana dengan perusahaan kakak yang di Belanda?", tanya Jiah mengalihkan topik


"ada orang kepercayaanku yang mengurusnya disana, aku ingin bersenang senang sejenak di Indonesia, aku akan kembali kesana nanti jika sudah muak dengan liburanku", jawab Joi menatap Jiah


"O", ucap Jiah membulatkan bibirnya


"kalau begitu ayo kita liburan ke Belanda, aku ingin melihat perusahaanku juga, sekaligus liburan dengan suamiku tercinta ini", ucap Riri menyambar percakapan Joi dan Jiah


"apakah tidak apa apa sayang? kamu sedang hamil", ucap Dio


"tidak apa apa mas, kalau hamil besar baru aku tidak berani, jika masih hamil muda seperti ini aku masih berani", ucap Riri lalu mengecup pipi suaminya itu


"mas akan tanyakan dulu dengan Fira nanti, jika dia mengatakan boleh baru kita rencanakan keberangkatannya", ucap Dio membopong tubuh istrinya itu keluar dari kolam


Riri hanya mengerucutkan bibirnya, dia takut jika Fira tidak memperbolehkannya pergi


"lihatlah wajah istrimu itu, sudah seperti bebek saja", sindir Joi


"kakak benar, itu mirip", ucap Jiah tertawa


Dio ikut tertawa melihat ekspresi istrinya itu, memang benar semenjak hamil Riri menjadi sangat manja dengan suaminya itu. Sifat kekanakan Riri muncul, padahal sebelum hamil, Riri adalah wanita yang dewasa, tidak pernah manja seperti anak remaja pada umumnya dan sangat gesit


"mass...", rengek Riri


"hm? kenapa sayang? kamu mau sesuatu?", tanya Dio


"pengen ramen", ucap Riri manja


"setauku kak Karin tidak suka ramen", bisik Jiah pelan


"apa kau lupa? dia kan sedang hamil", bisik Joi


"ah iya", bisik Jiah menganggukkan kepalanya


"baiklah aku akan suruh pelayan membuatkan ramen untukmu ya", ucap Dio mengelus lembut pipi istrinya yang semakin membulat itu


"no, aku mau beli diwarung dekat simpang tiga depan mansion situ", rengek Riri

__ADS_1


Dio mengeryitkan dahinya, pasalnya dia tidak tau tentang warung yang dimaksud istrinya.


"tapi mas gatau dimana warung yang kamu maksud", ucap Dio


"kak Joi tau, dia sering makan ramen disana", sambar Jiah


"benarkah? ayo kita kesana, ganti bajumu Jiah", ucap Riri langsung bangkit dan melesat kekamarnya


"kau tau kak?", tanya Dio


"tau, dekat mansion sini saja, jalan kaki juga nyampe", ucap Joi


"baiklah, cepat pakai bajumu kak", ucap Dio lalu pergi menemui istrinya


Kini mereka sudah keluar dari mansion dengan baju santai, si ibu hamil terlihat sangat antusias mengingat ramen yabg akan dia makan. Sementara suaminya terus cerewet menjaga istrinya yang lincah itu, dia sangat takut Riri akan terluka


"apakah ini tempatnya?", tanya Dio menunjuk warung didepan mereka


"ho'oh", ucap Riri langsung masuk dan memesan ramen instan


"apakah itu yabg dinamakan nyidam?", tanya Jiah kepada abang beradik itu


"sepertinya begitu", jawab Joi dan Dio serentak


Mereka menunggu diluar bersama dengan Riri, beberapa menit kemudian ramen pesanan Riri sudah datang. Dio melihat istrinya yang sangat senang itu, dia tersenyum bahagia dan mengelus rambut istrinya pelan


"setelah ini mau kemana lagi sayangku?", tanya Dio lembut


"jalan jalan boleh mas?", tanya Riri dengan mulut yang masih penuh


"makasih mas", ucap Riri melanjutkan makannya


Sementara Joi disibukkan dengan ramennya yang masih panas itu, dia terus menghembuskan ramennya dengan wajah serius membuat Jiah tertawa



"mas, sepertinya kak Joi ada masalah dengan ramen", bisik Riri


"kenapa sayang?", tanya Joi


"dia sejak tadi terus menghembus ramennya itu, tapi tidak memakannya", ucap Riri


"darimana kamu tau?",, tanya Joi


"jelas saja tau mas, dia kan didepan mataku", jawab Riri


"makanlah ramenmu itu kak, kau tidak lihat istriku sudan menghabiskan lebih dari 2 porsi, sedangkan kau sedaritadi tidak selesai selesai dengan semangkok ramen itu", ucap Dio


Joi terdiam mendengar ucapan adiknya itu, dia tidak sadar kalau Riri sudah habis lebih dari 2 mangkok ramen, sedangkan ramen miliknya baru saja hangat


"wajahnya lucu sekali, aku geli melihatnya", ucap Jiah tertawa ngakak saat melihat wajah Joi dengan ramen di mulutnya


__ADS_1


"mas, kakakmu itu kenapa?", tanya Riri ikut mengakak melihat ekspresi Joi


"seperti emak emak lupa mematikan kompor saat meninggalkan rumah", ucap Dio itu geli melihat kakaknya


Joi lalu buru buru makan dan menghabiskan semua ramennya dalam sekejap mata.


"ayoo lanjut, mau kemana lagi kita", tanta Joi bersemangat


"aku mau jalan jalan", ucap Riri


"mau mas gendong sayang?", tanya Dio


"tidak mas, aku mau jalan", ucap Riri menekankan kata terakhirnya


"kak, cepat berpose disitu akan aku foto", ucap Jiah menunjukkan spot foto yang cantik menurutnya



Riri dan Jiah asik mengambil foto sana sini, sementara Joi dan Dio hanya menonton saja dari kejauhan


"kak, apa kau benar benar mencintai Jiah? bagaimana dengan Catrine? apa kau sudah melupakannya?", tanya Dio tiba tiba


"kau tau darimana soal itu?", tanya Joi terkejut


"tentu saja aku tau, aku sering melihat kalian bercumbu didapur", ceplos Dio


Joi hanya menghela nafasnya


"kau tidak menyentuh bagian lain kan kak? kata Riri anak itu masih polos, jangan sentuh dia jika hati kakak masih bersama Catrine", ucap Dio lagi


Joi mengangkat kepalanya


"Riri juga tau?", tanya Joi


"tentu saja tau", jawab Dio santai


Joi semakin menghela nafas lesu, dia berfikir Riri akan melarang mereka untuk menjalin hubungan


"tenang saja, istriku tidak melarang kalian, dia justru mendukung, selama kau memang benar benar tulus kepada adiknya itu", ucap Dio


Joi terkejut lagi,


"bagaimana bisa kau tau pemikiranku?", tanya Joi


"aku sudah menduganya lebih dulu", jawab Dio


"kak besok gantikan aku dikantor ya, aku ingin membawa istriku check up, jika diizinkan dokter, kita akan ke Belanda dan aku akan langsung memesan tiketnya", ucap Dio


"baiklah, tapi apakah Jiah sudah boleh pergi? kan dia mengganti identitasnya beberapa bulan lalu", ucap Joi


"sudah, Harry sudah menyelesaikan semua berkas berkas Jiah dan Riri dengan cepat, bahkan tidak ada yang terlewatkan sedikitpun", ucap Dio


"baguslah, kalau begitu aku akan persiapkan segala sesuatu disana nanti, kau urus saja istrimu", ucap Joi

__ADS_1


"oke kak", jawab Dio


Mereka berkeliling mengikuti dua wanita itu yang asik berfoto sana sini, Dio benar benar menjadi suami yang cerewet dan sangat protektif dengan setiap gerakan istrinya, membuat Joi geleng geleng kepala


__ADS_2