
Nita membuka map itu, dan terlihat foto perempuan cantik dengan rambut terurai sedang menangis, dan ada tangan yang menghapus air matanya gadis itu
"siapa ini?", tanya Nita
"aku juga punya pertanyaan yang sama, siapa wanita ini?!", pekik Riri.
"memangnya kenapa dengannya? apakah ada hubungannya denganmu? mungkin dia sedang sedih, lihatlah air matanya sampai dihapus begitu", ucap Nita santai
Riri tersenyum tipis
"sepertinya kau harus lihat foto berikutnya, dia memang tidak ada hubungannya denganku", ucap Riri langsung menatap tajam kearah Nita
"maksudmu?", tanya Nita
Nita lalu melihat foto berikutnya, dia mengeryitkan dahinya
"aku seperti tidak asing dengan pria ini", ucap Nita
"lihat yang berikutnya", ucap Riri
Nita membalik foto itu lagi, kali ini dia terkejut dan menutup mulutnya
"ini kan suamimu?!!", pekik Nita
Riri menghela nafas, dan meraup wajahnya
"kau akan menangis saat melihat foto yang terakhir", ucap Riri
Nita menatap Riri sejenak, lalu dia lanjut melihat foto itu lagi, dan benar apa yang dibilang Riri, Nita terkejut melihat foto terakhir itu, dia melepas foto foto itu dari tangannya. Nita menutup wajahnya, seakan tak percaya dengan yang dia lihat
"aku benar benar ingin membunuhnya", ucap Nita kesal
"duduklah, perutku sakit", ucap Riri
Nita menghampiri Riri, dan memeluk Riri
"apa perutmu masih sakit, lupakan saja soal ini dulu, istirahatlah dulu", ucap Nita
"aku tidak ingin pulang, aku tidak ingin melihatnya, aku masih marah", ucap Riri menangis
"iyaa, aku paham, kau keapartemenku saja", ucap Nita
"tenanglah dulu, kita cari tau dulu kebenarannya", ucap Nita
Lalu Varel dan Koko datang dan masuk keruangan Riri, mereka melihat Riri menangis. Nita bingung melihat kehadiran lelaki dibelakang Varel
"nyonya kenapa? ada apa?", tanya Varel
"harusnya kau yang mencari tau jawabannya", ucap Nita
Koko melirik foto foto dimeja Riri
"bukankah itu suaminya nyonya Riri", bisik Koko ke Varel
__ADS_1
"kalian cari tau ini, segalanya tentang ini, apapun itu, dan jangan beritahu siapapun tentang keberadaanku", ucap Riri
"Koko, hapus cctv dikantor ini saat aku datang kesini, kita akan keluar lewat pintu rahasia", ucap Riri
"aku akan ambil tasku dulu", ucap Nita
Nita keluar dari sana dan menyambar tasnya. Riri membuka lift rahasia miliknya yang terhubung langsung ke basement
"ini ruangan tercanggih yang pernah aku lihat", ucap Koko
"aku juga", ucap Varel
"aku juga",, ucap Nita yang tiba tiba sudah ada disamping dua lelaki itu
Riri menyambar tasnya, dia membawa handphone yang satunya lagi, yang dipakai saat ke pulau sumba. Sedangkan handphone yang satunya diletakkan dimejanya begitu saja
Mereka masuk ke lift itu bersama, didalam lift Riri hanya diam dan bersandar kedinding lift, pikirannya kacau setelah melihat foto foto itu. Tapi Riri adalah wanita penuh perhitungan, dia tidak akan percaya begitu saja, namun hatinya tetap sakit saat melihat foto itu
"kau tau Nit? mereka bertemu tadi malam, padahal Dio bilang dia ingin bertemu dengan teman lamanya", ucap Riri tiba tiba memecah keheningan di lift itu
"teman lama apanya, hah", ucap Riri mendengus dan tersenyum smirk
"nyonya tau darimana mereka bertemu tadi malam?", tanya Koko sambil memandangi foto foto itu, padahal sudah jelas difoto itu tidak ada tanggal dan waktu pengambilannya
"blazer itu, hadiah dariku, dan aku memberikan kepadanya tadi malam saat dia ingin pergi, jelas saja aku tau, bahkan aku yang menata rambutnya", ucap Riri
Nita, Varel dan Koko hanya diam dan saling menatap
Ting!
Lift terbuka
"sedikit lucu bukan? seorang istri yang merapikan suaminya saat suaminya ingin pergi menemui wanita lain, hahaha", ucap Riri tertawa kecil lalu berjalan keluar dari lift
...----------------...
Sementara dirumah sakit, Dio panik mondar mandir melihat ruangan Riri kosong. Harry yang sudah menerima pesan dari Fikri berusaha senormal mungkin, walaupun dia tidak tau kejadian lengkapnya
"ada apa kak?", tanya Jiah ke Joi
"Riri menghilang", ucap Joi
"hilang? aku rasa tidak", ucap Jiah
"hah?", tanya Dio
"tadi aku melihat kak Karin keluar dari kamarnya dan berjalan kearah taman, aku ingin menemaninya, tapi dia bilang di ingin sendiri, jadi aku mengantarnya keluar lalu meninggalkannya", ucap Jiah
"kau mengantarnya kemana?", tanya Dio
"ketaman yang dibawah, tadi aku antar kesana, lalu dia menyuruhku pergi meninggalkannya sendirian, wajahnya terlihat sangat sedih, seperti... ada sesuatu yang mengganggu pikirannya", ucap Jiah
"benarkah?", tanya Joi
"benar", ucap Jiah
Dio segera berlari menuju taman, tapi di tidak menemukan Riri. Dio segera masuk kemobilnya dan pergi mencari Riri, dia benar benar khawatir dengan keadaan Riri
"sayang kau kenapa? ada apa denganmu? kesalahan apa yang sudah kuperbuat padamu?", batin Dio didalam mobilnya
Joi juga ingin mengejar Dio tapi Jiah menghadangnya hingga tubuhnya tertabrak Joi dan jatuh kelantai, tentu saja Joi terkejut dan langsung membantu Jiah
__ADS_1
"kau tidak apa apa? kenapa menghalangiku?", tanya Joi membantu Jiah bangkit
"ada sesuatu yang harus kakak tau",, ucap Jiah lalu menarik tangan Joi dan masuk kedalam ruangan Riri
Ternyata Jiah sudah mengetahui lebih dulu tentang pertemuan Dio dan wanita itu, Jiah melihat Dio dan wanita itu bercumbu ditaman dekat cafe tadi malam. Tapi Jiah tutup mulut karena tidak ingin rumah tangga kakaknya berantakan
Tapi melihat raut wajah Riri tadi, sepertinya Riri sudah mengetahui hal itu, karena Jiah sudah dilatih oleh Riri untuk mempelajari ekspresi orang lain. Sama seperti Riri, Jiah juga teliti dalam mengelola sesuatu, sehingga Jiah tidak gegabah
Sedangkan Joi bingung karena Jiah menindihnya kesudut dinding dekat jendela, tangan Jiah menahan tubuhnya. Jiah mendongak keatas menatap Joi dengan intens,
"apa kakak tau tentang kejadian tadi malam?", tanya Jiah langsung to the point
Joi mengernyitkan dahinya
"kejadian apa? tadi malam aku sibuk diruang kerjaku dan tidak sempat kemana mana, memangnya ada kejadian apa? apakah Riri dan Dio bertengkar?", tanya Joi sedikit panik
Jiah menatap wajah Joi dengan sangat dekat hingga tubuh mereka tidak memiliki jarak lagi.
"gadis ini sepertinya mewarisi kegilaan Riri", batin Joi
"ka-kau sedang apa Jiah?", tanya Joi gugup, jantungnya berdebar kencang melihat wajah Jiah yang semakin mendekat
"sialan, kenapa harus bangun sih", batin Joi yang merasakan milik ikut menegang
"sepertinya kakak tidak tau apa apa", ucap Jiah menghela nafas lalu mundur dan ingin pergi
Tapi tangan Joi langsung menariknya dan balik menindih Jiah
"apa yang tidak aku tau?", tanya Joi
Jiah lalu mendekatkan wajahnya keleher Joi
"adik kakak itu, telah menyakiti kakakku, dengan sebuah kesalahan yang mungkin tidak akan dimaafkan kakakku, jika kak Karin belum mengetahui kebenarannya, mungkin dia masih bisa selamat, tapi jika kak Karin sudah tau lebih dulu, mungkin rumah tangga mereka taruhannya, aku bisa menjamin itu, karena kesalahan itu sangat besar", bisik Jiah pelan ditelinga Joi
"apa maksudmu Jiah? ada apa? apa yang tidak aku tau? kesalahan apa yang adikku buat?", tanya Joi bingung
"aku tidak bisa memberi tau kakak, ini urusan rumah tangga mereka, walaupun aku tau kebenarannya, aku tidak boleh ikut campur", ucap Jiah
"kalau begitu beritahu padaku, aku janji akan merahasiakannya dari Dio, aku khawatir dengan Riri", ucap Joi
Jiah hanya diam menatap mata Joi
"apa Riri sudah tau tentang kesalahan yang kau maksud itu?", tanya Joi
"aku tidak tau soal itu, aku hanya tidak sengaja melihat, aku tidak tau pasti kejadian selengkapnya", ucap Jiah
"kesalahan apalagi yang kali ini dia buat", ucap Joi menunduk dan menghela nafasnya,
Wajah Jiah dan Joi sangat dekat seperti tanpa jarak
"kalau dipikir pikir kakak ganteng juga, bagaimana jadinya jika suatu hari aku jatuh cinta dengan kakak? apakah boleh?", tanya Jiah tiba tiba
Joi langsung menatap Jiah, dia sangat bingung dengan sikap Jiah yang ceplas ceplos dan polos ini
"apakah aku ganteng?", tanya Joi
"kalau dipikir pikir sih, kakak itu ganteng, seperti pria idamanku", jawab Jiah yang berhasil membuat pipi Joi merona
"tapi sayangnya aku sedang malas mikir", ucap Jiah lalu pergi meninggalkan Joi
"sialan bocah itu, dia membuatku terbang, lalu membantingku lagi", ucap Joi kesal
__ADS_1
"Jiah benar benar membuatku bingung dengan semua perkataannya, aku bisa gila! kesalahan apa maksudnya? lalu apa itu tadi? jatuh cinta? denganku? siapa? dia? ini gila, benar benar gila", ucap Joi memukul mukul dinding