CEO Cantik Pengidap Bipolar

CEO Cantik Pengidap Bipolar
1.17 Luka Lama Riri (2)


__ADS_3

"manis", ucap Dio tersenyum


"diamlah! ini rumah sakit, bisa bisa nya, ya ih, kalau ada yang liat gimana?!", ucap Riri kesal


"jika kau marah begini aku akan menyerangmu lagi", ucap Dio tersenyum smirk


"kenapa tidak membalas ciumanku?", tanya Dio


"aku tidak tau caranya", jawab Riri


"mau ku ajari?", tanya Dio yang langsung mengecup bibir pink Riri, kali ini Riri memejamkan matanya, dia seperti menikmati permainan Dio. setelah beberapa saat, dia tersenyum dan membuat Dio menghentikan aksinya itu


"kenapa kamu tertawa?", tanya Dio bingung


"ciuman itu menenangkan ku, sakit dikepalaku sudah hilang sekarang", ucap Riri tersenyum


"kalau begitu aku kan menciummu lagi", ucap Dio mendekat kearah Riri, namun tertahan tangan Riri di bibirnya


"kakak akan terus menciumi ku? padahal kondisiku sedang sakit", ucap Riri manja sambil memegang kepalanya


"sepertinya aku bisa mendaftarkan pacarku untuk jadi aktris besok, kau sangat pandai berakting", ucap Dio gemas melihat tingkah Riri. Riri hanya tertawa


"tunggu disini sebentar ya, aku akan memanggil dokter, kau harus tau kondisimu sendiri sayang", ucap Dio


"baiklah sayangku aku akan menunggu", ucap Riri tersenyum


"tapi apakah kamu yakin? aku takut kamu shock lagi", ucap Dio


"tak apa, aku kuat", ucap Riri tersenyum meyakinkan Dio


Dio keluar dari ruangan Riri dan memanggil dokter Fira, dia juga sudah menghubungi Geri dan Harry, dan mereka sedang dalam perjalanan kesini. Saat berjalan kearah ruangan Riri, Geri dan Harry pun datang dan langsung berlari masuk ke ruangan Riri


"nona Riri", ucap Geri


"haii", sapa Riri sambil melambaikan tangan dan tersenyum. Geri dan Harry memeluknya


"non jangan drop begini lagi non, saya takut non Riri kenapa kenapa", ucap Harry menangis


"tenangla, aku tak apa, kenapa kalian jadi cengeng begini", ucap Riri melepaskan pelukannya.


Geri dan Harry pun menghapus air matanya, lalu masuklah Dio, Fira, dan Rendi juga yang baru sampai. Mereka semua berkumpul dan bersiap mendengarkan penjelasan dokter Fira


Fira menjelaskan dengan sangat hati hati ke Riri, Riri terlihat sangat tenang dan tidak shock, hanya saja dia sedikit bingung


"jadi dok, saya harus menjalani terapi?", tanya Riri


"iya bu Riri, maaf bu sebelumnya, boleh saya bertaya hal yang sedikit sensitif?", tanya Fira yang sebelumnya sudah diberi tau Dio bahwa Riri tidak suka jika privasinya diketahui orang lain


"em iya, silahkan", jawab Riri.


"apa bu Riri mengingat kejadian tentang kecelakaan itu?", tanya Fira


"aku tidak ingat dengan jelas, tapi beberapa saat lalu, muncul sekelibat ingatan yang terasa dejavu di kepalaku", ucap Riri

__ADS_1


"kalau begitu, bu Riri tau dong kalau bu Riri mengalami kecelakaan itu?", tanya Fira


"em aku gatau kalau aku pernah mengalami kecelakaan begitu, hanya saja aku pernah terbangun dari tidurku, tapi ternyata waktu sudah berlalu 3 hari, dan orang tua ku sama sekali ga percaya padaku, mereka mengatakan bahwa itu semua hanya mimpi dan kalenderku lah yang salah, begitu", jelas Riri


Tak hanya Keempat lelaki itu yang terkejut, kini dokter Fira juga ikut terkejut dengan penjelasan Riri. Itu berarti memiliki kemungkinan bahwa orang tua Riri mengetahui ini semua, namun menutupinya begitu saja tanpa peduli kondisi anaknya


"benarkah seperti itu bu Riri?", ucap Fira menutup mulutnya, dia shock rasanya


"iyaa benar dok, dalam tidur itu aku merasa antara nyata dan tidak nyata, aku bermimpi mengalami suatu kejadian yang hingga sekarang masih menghantui kepalaku, aku hanya menganggap itu mimpi buruk karena orang tua ku bilang aku hanya tidur beberapa jam saja, tapi semakin umurku bertambah, semakin mimpi itu terus mendatangi ku setiap malam, sehingga aku sering begadang, aku tidur saat pukul 2 atau 3 pagi agar mempersingkat waktu di alam mimpi. dan seiring dengan kesibukan ku sekarang dan juga suasana hatiku yang baik, mimpi itu perlahan hilang ntah kemana", ucap Riri


Dokter Fira masih shock mendengar itu, dia mengatur nafas dan wajahnya agar tak terlihat khawatir, kini dia paham dengan situasinya


"apa bu Riri masih ingat kejadian yang bu Riri anggap sebagai mimpi buruk itu?", tanya Fira


"em aku ingat, ada seorang gadis marah kepadaku dan mengatakan bahwa ayahku...",


Belum selesai Riri bicara, tiba tiba dia terdiam teringat sesuatu, matanya membelalak, dia menarik nafasnya menandakan dia terkejut, dan wajahnya kembali memucat sekarang, dia terdiam untuk beberapa saat


"kenapa bu?", ucap Fira panik lalu mendekati Riri dan mengelus pundaknya


"itu dia", ucap Riri pelan


"maksudnya bu?", tanya Fira bingung


"itu dia, gadis itu", ucap Riri yang masih mematung


"gadis? siapa maksudnya bu?", tanya Fira pelan


"Jiah?", tanya Fira gugup, Fira sudah mengetahui semuanya melalui Geri


"gadis itu adalah Jiah, Yu Jiah Syahputri, dia datang kerumahku lalu marah kepadaku dan mengatakan ayahku adalahnya ayahnya... dan dia adalah anak satu satunya ayahku, dia tidak mau berbagi orang tuanya dengan siapapun, dan... dia juga... menamparku sampai aku terhantam ke dinding, kepalaku berdarah disini", ucap Riri dengan tatapan kosong, sambil memegang belakang kepalanya, perlahan semua ingatannya kembali ke kepalanya itu


Fira, Dio, Geri, Harry, dan juga Rendi, terkejut mendengar ucapan Riri. Ternyata Riri sudah terlebih dulu bertemu Jiah di masa lalu,


"dia marah padaku karena ayah menyuapi makan malam untukku waktu itu, dia tiba tiba datang dan... dan menamparku sampai aku terhantam ke dinding", ucap Riri masih dengan mata kosongnya yang masih mengumpulkan luka luka itu


"aku mencoba melawan karena aku tidak terima dengan perlakuan seperti itu, dan aku juga mengatakan ke dia bahwa 'ayahku adalah ayahku bukan ayahmu', lalu dia... dia marah dan... mencoba menamparku lagi, tapi aku menahan tangannya, lalu aku menamparnya hingga dia tersungkur ke lantai, tapi...", ucap Riri yang belum selesai, matanya berlinang air mata sekarang


"tapi kenapa bu Riri?", tanya


"tapi ayah marah dan... menamparku", ucap Riri yang berhasil membuat Dio meneteskan air mata sekaligus menahan amarahnya


"ayah menamparku dan... memukul kepalaku dengan vas bunga... lalu menyeretku ke kamar, dia mengatakan hal yang sangat menyakitkan kepadaku... dia bilang


'mulai sekarang hanya Jiah anakku satu satunya, dan kau bukan lagi anakku!! dan jangan pernah berani menyentuh Jiah!!',


ayah ingin menusukkan pisau kepadaku, tapi... kakek dan 2 bodyguardnya tiba tiba datang dan menendang ayah hingga tersungkur ke lantai...", ucap Riri yang sudah kembali ingatannya sepenuhnya, kini dia menangis mengingat semuanya, Riri terdiam sejenak mengatur nafasnya


"lalu, kakek bilang ke ayah


'mulai sekarang juga, kau bukan lagi anakku, dan cucuku adalah cucuku bukan lagi anakmu, dan namamu sudah ku coret dari daftar ahli warisku, jangan pernah berharap untuk mendapatkan apapun dariku sepeserpun!',


lalu ayah memegang kaki kakek dan memohon, tapi kakek marah dan menendang ayah, lalu... ayah menarik tanganku dan melemparku hingga aku menghantam dinding lagi untuk yang ketiga kalinya, lalu aku tidak ingat apa apa lagi", ucap Riri yang sudah menangis

__ADS_1


Semua orang diruangan itu ikut menangis, dokter Fira berusaha menenangkan Riri. Dia sendiri sangat shock, bagaimana bisa ada seorang ayah yang memperlakukan putrinya sampai begitu hanya demi harta dan jabatan.


Dokter Fira menyuruh semua orang keluar dan meninggalkan mereka berdua. Dio dan yang kain pun menurutinya


"Harry, apakah kau merasakan sesuatu yang mengganjal?", tanya Geri mengusap air matanya


"maksudmu?", tanya Dio


"alm. pak wahid selalu bersama kami dalam mengerjakan apapun, tapi bagaimana bisa kami tidak mengetahui hal ini?", ucap Geri. Harry terdiam dari tangisnya


"kau benar Ger, kapan ini terjadi? kenapa bisa kita tidak tau? dan kenapa pak wahid tidak melibatkan kita?", tanya Harry sambil berfikir keras.


"itu celahnya", jawab Rendi


"maksudmu?", tanya Dio bingung, dia belum bisa berfikir sekarang


"kalian hanya harus mencari tanggal disaat pak wahid tidak bersama dengan kalian dan hanya membawa 2 bodyguard bersamanya", ucap Rendi


"2 bodygu...", ucap Geri. Lalu Harry dan Geri saling menatap dan mengingat sesuatu


"itu berarti, satu pekan sebelum meninggalnya pak wahid", ucap Harry, pikirannya tak karuan sekarang


"itu berarti ada kemungkinan semua kejadian itu direkam oleh pak wahid, karena tepat sebelum pak wahid pergi, dia membawa alat perekam suara di kantongnya", ucap Geri


"kau benar Ger, bukankah waktu itu dia pamit kerumah sakit? tapi hanya ingin bersama bodyguardnya dan tidak mengajak kita dengan alasan menyuruh kita mengurus kantor", ucap Harry yang juga mengingat kejadian hari itu


"kalau begitu temukan bukti buktinya sekarang, aku tidak terima dengan semua ini", ucap Dio


Rendi, Harry, dan Geri segera pergi dari situ, mereka mencari bukti itu


Dio dipersilahkan masuk keruangan Riri, dia melihat Riri sudah tertidur di ranjangnya


"keadaan bu Riri sudah baik baik saja pak, dia hanya sedikit shock menerima kenyataan bahwa mimpi buruknya adalah masa lalunya dan bukan hanya sekedar mimpi", ucap Fira


"terima kasih dok, lakukan yang terbaik untuk Riri ya dok, saya mohon, saya akan tanggung semua biayanya", ucap Dio


"baik pak, saya sendiri juga sangat shock mendengar semuanya, itu semua sangatlah tidak mudah, jika saja bu Riri lemah, dia tidak akan bertahan sampai sekarang. Setelah bu Riri siuman, bisa langsung pulang pak, tapi jangan stress dulu ya pak, dia sangat butuh dukungan dari sekitarnya sekarang ini, dan saya akan jadwalkan terapi psikolog untuk bu Riri", ucap Fira, lalu pamit undur diri


"Terima kasih dok", ucap Dio, lalu duduk di samping ranjang Riri meratapi wajah Riri, perasaannya sangat tak karuan sekarang


"kamu sangat kuat sayang, tetap kuat ya sayangku", ucap Dio mencium tangan Riri


.


.


.


makasih udah mampir ya guys.


stay safety selalu ya :)


byebye >•<

__ADS_1


__ADS_2