CEO Cantik Pengidap Bipolar

CEO Cantik Pengidap Bipolar
1.61 Rencana Ayah


__ADS_3

Setelah diseret keluar dari mansion Hardi, Sisi segera pergi ke perusahaan papanya, dan benar saja, perusahaan papanya sedang dalam keadaan yang sangat kacau sekarang, terlihat Geri dan Harry juga ada disana, mereka mengambil paksa semua aset aset yang diberikan Riri sebagai fasilitas, termasuk gedung dan rumah mereka sekarang


Sisi berlari masuk ke ruangan papanya, terlihat papanya sedang memohon kepada Geri dan Harry. Khoir terkejut melihat Sisi ada didalam ruangannya dengan kondisi yang sangat kacau.


"Sisi kau sedang apa disini? dan kenapa penampilanmu begitu?", tanya Khoir


Alih alih menjawab pertanyaan papanya, Sisi justru juga ikut bersujud kepada Geri dan Harry


"Ger, tolong maafkan aku, jangan lakukan semua ini, kami akan menjadi gelandangan jika kau melakukan ini, aku mohon Ger", ucap Sisi menangis dan memohon


"Sisi jelaskan ke papa ada apa ini? apa maksudnya?", tanya Khoir


"bukan urusanku akan menjadi apa kalian nanti, inilah akibatnya jika berani bermain main dengan nona Riri", ucap Geri


"bahkan aku sangat ingin rasanya mendapat perintah dari nona Riri agar membuang kalian kehutan, ini sungguh bukanlah apa apa jika dibandingkan dengan perbuatanmu kepada nona Riri", ucap Harry geram, dia sungguh tidak terima melihat Riri mengalami ini semua


"perbuatan apa? akibat apa maksudnya?", tanya Khoir masih bingung, dia tidak tau apa apa tapi harus menanggung akibatnya juga


"kau tanya saja pada putrimu itu. kami masih banyak urusan, ayo Ger", jawab Harry lalu mereka pergi meninggalkan ruangan Khoir


"Sisi jelaskan ke papa apa maksudnya ini? apa yang kau lakukan hingga membuat bu Karina menjadi murka seperti ini?!", teriak Khoir


"Karina?", tanya Sisi sedikit bingung


"jawab saja pertanyaanku!!", bentak Khoir


Tiba tiba Harry kembali masuk keruangan Khoir, dengan membawa flashdisk ditangannya


"jika putrimu tidak menjawab pertanyaanmu, putar saja file file yang ada disini", ucap Harry menyerahkan flashdisk itu kepada Khoir


Jelas saja Khoir langsung memeriksa itu dilaptopnya, dia mendengar dan melihat semua pengakuan dan juga kelakuan anaknya kepada Riri. Sungguh itu membuat Khoir menjadi sangat marah dan melempar semua barang barang di ruangan itu


"kenapa kau sungguh bodoh?!", teriak Khoir


"dia itu tidak pernah bermain main dengan kata katanya, semua pengusaha tau betapa ganasnya dia, kenapa kau berani berbuat seperti itu kepadanya?!!", bentak Khoir yang sudah tersulut emosi


"bahkan perusahaan yang dengan susah payah ku bangun, menjadi hancur seketika karena perbuatanmu?!", bentak Khoir lalu meraup wajahnya dan mengatur nafasnya


Dia sungguh tidak menyangka akan menjadi salah satu mangsa Riri karena perbuatan putrinya itu. Pikirannya kalut dan kacau, tidak tau mesti berbuat apa, semuanya hancur sekarang


Sementara Sisi terus menunduk dan menangis, dia tidak pernah membayangkan betapa mengerikannya amarah Riri, bukan, ini bukan Riri, tapi Karina. Ya Karina, seorang Karina yang sangat mengerikan jika sudah menunjukkan taringnya


...----------------...


Sementara itu, dilain tempat, terlihat Zidan yang sudah babak belur sedang duduk dikursi dan diikat kaki tangannya, dia berada disebuah gudang kosong bersama dengan para bodyguardnya Hardi


Lalu Hardi masuk ke gudang kosong itu, dia berjalan dengan langkah perlahan kearah Zidan


"bagaimana rasanya? apakah sakit?", tanya Hardi


"lepaskan aku", ucap Zidan yang sudah tidak berdaya

__ADS_1


"aku bisa memberimu pelajaran yang jauh lebih menyakitkan", ucap Hardi


"ini baru dari Riri, belum dari suami Riri, atau kakak Riri, atau aku, papa Riri, aku sungguh tidak ingin melihat putriku menangis", ucap Hardi


"aku tidak akan, mengganggunya lagi, lepaskan aku", ucap Zidan


"aku beri peringatan padamu Zidan, jika kau berani mengganggu rumah tangga anak anakku, kupastikan kau akan menyetor nyawamu kepadaku", ucap Hardi


"aku berjanji, tidak akan mengganggu kalian lagi, tolong lepaskan aku", ucap Zidan


Hardi lalu memberi kode kepada anak buahnya untuk melepaskan Zidan, tapi juga memberi pelajaran padanya sebelum dilepaskan. Hardi lalu keluar dari gudang itu, dia menelfon salah satu anak buahnya yang masih mencari keberadaan Tio, dia tidak ingin Riri bertemu dengan manusia itu, jika mereka kembali bertemu, makanya dapat dipastikan akan ada pertumpahan darah


"bagaimana? kau sudah mendapatkan jejaknya?", tanya Hardi


"belum tuan, tidak ditemukan jejaknya, dia juga tidak keluar negri, dia pasti masih ada disini", ucap bawahan Hardi


"baiklah, tetap cari dia dan terus pantau pergerakan bawahannya", ucap Hardi


"baik tuan, tapi tuan ada sebuah informasi lagi, saya tidak tau ini penting atau tidak, tapi saya merasa tuan harus tau mengenai ini", ucap bawahan Hardi


"sebutkan, apa itu?", jawab Hardi


"seseorang bernama Jiah sudah terdaftar meninggalkan negri ini pekan lalu tuan", jawab bawahan Hardi


"ah begitu ternyata, dia mengamankan putrinya terlebih dahulu, siapa nama lengkap dan negara tujuannya?", ucap Hardi


"Yu Jiah Syahputri dengan tujuan terbang ke negara Belanda tuan", jawab bawahan Hardi


"ah baiklah, perintahkan bawahan ku yang ada disana untuk mencari keberadaan putrinya di Belanda, aku sendiri juga akan menyusulnya kesana", ucap Hardi


"kau melindungi putrimu yang satu, demi mencelakai putrimu yang lainnya? sungguh aku tidak mengerti jalan pikiranmu Tio, mereka berdua juga darah dagingmu, kenapa kau termakan omongan wanita ular itu dan mencampakkan Riri begitu saja", ucap Hardi pelan


"jika kau mengetahui keadaannya sekarang, apa kau akan iba? atau akan memanfaatkannya demi tujuan pribadimu? aku yakin jawabannya adalah yang kedua", ucap Hardi


"dan aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu kepadanya, dia putriku sekarang, tidak akan kubiarkan siapapun menyentuhnya", ucap Hardi lalu bergegas pergi meninggalkan gudang itu


...----------------...


"bagaimana? apakah dia berhasil menerobos cabang perusahaan Riri?", tanya seseorang di dalam ruangannya


"tidak tuan, dia gagal dan sekarang berakhir dikantor polisi", ucap yang satunya


"bagaimana bisa? bukankah sudah kubilang untuk tetap berhati hati? kenapa bisa tertangkap?", tanya seseorang itu dengan nada marah


"putri anda adalah orang yang sangat teliti tuan, dia selalu memeriksa sendiri keadaan setiap perusahaannya, dan kini semua keamanan juga penjagaan semakin diperketat, tidak ada yang bisa menembusnya tuan, semua orang orang kita gagal", ucap yang satunya


"kau benar, tentu saja diperketat, dia sekarang sudah menjadi menantu dari keluarga Wira Anggara, jelas saja tidak akan ada yang bisa menyentuhnya, terlebih suaminya juga memiliki derajat yang sama dengannya, benar benar putriku sangat luar biasa", ucap Tio sambil tertawa


Ternyata orang orang Tio lah yang mencoba menerobos masuk ke cabang perusahaan Riri, dia ingin merebut perusahaan itu, karena tidak terima jika putrinya yang menerima semua kuasa, bukan dia. Terlebih lagi menerima desakan dari Alexa karena perusahaan mereka sedang menurun.


Ntah apa yang direncanakan Tio, yang jelas jika berani menyentuh Riri, maka saat itu juga dirinya akan hancur. Bahkan dia sendiri tidak tau bahwa putrinya yang satunya lagi sedang dalam bahaya.

__ADS_1


Hardi melajukan mobilnya kearah mansion nya, setelah sampai disana ternyata para penghuni mansion itu sedang melakukan makan siang, terlihat juga sang menantu yang sudah sadar dan baikan


"sayang kamu darimana?", tanya Shila


"ah itu ada urusan bentar tadi", jawab Hardi lalu mengedipkan matanya sebelah, dan hanya dibalas anggukan kepala dari istrinya itu


"kamu sudah lebih baik Ri?", tanya Hardi menandatangi Riri dan mengelus rambutnya


"sudah pa", jawab Riri lalu tersenyum


"baguslah kalau begitu", ucap Hardi lalu mengacak acak rambut Riri


"ih papa", rengek Riri kesal


"sayang kau terlihat seperti bocah 5 tahun", ucap Dio tertawa melihat tingkah papanya dan Riri


Riri hanya mengerucutkan bibirnya, lalu mereka melanjutkan makan siangnya. Ditengah tengah makam siang yang khidmat, tiba tiba Hardi mengumumkan bahwa dirinya dan sang istri akan segera berangkat ke Belanda hari ini, setelah makan siang lebih tepatnya


"hah?", tanya mereka semua serentak


"ada urusan mendadak yang harus papa selesaikan disana", jawab Hardi


"berapa lama papa disana?", tanya Dio


"6 bulan mungkin", jawab Hardi


"kenapa aku tidak tau apa apa pa? kan aku CEO nya untuk perusahaan yang disana", ucap Joi bingung


"ini bukan masalah perusahaan, ada masalah papa yang lain", ucap Hardi


"aku dan Joi akan segera menyusul kesana setelah Riri selesai dengan masalah perusahaannya ya pa", ucap Dio


"boleh saja, tapi lebih baik kalian disini saja juga tidak apa apa, papa bisa kok", ucap Hardi


"oke pa", jawab Joi


"kak, kau ikut denganku saja ke mansion ku, daripada disini sendirian", ucap Dio


"kapan kalian akan pindah?", tanya Shila


"besok saja ma", ucap Dio


"ah baiklah", jawab Shila


"memang aku akan ikut denganmu lah, sungguh tega jika kau meninggalkanku sendirian disini", ucap Joi


Sementara Riri hanya diam dan menunduk, dia tidak berkata apa apa dan mengaduk aduk nasinya saja. Hatinya hancur rasanya saat mendengar Hardi dan Shila akan pergi jauh darinya, ntah kenapa dia seperti tidak rela, dia seperti kehilangan sesuatu


Mereka semua melanjutkan makan nya kecuali Riri. Setelah makan siang, semua nya mengantarkan mama dan papanya ke bandara, Riri masih tetap diam dan menahan air matanya. Setelah kepergian mama dan papanya, mereka juga berkemas dan bersiap untuk pindah ke mansion nya yang baru


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2