
Berkas itu berisi foto foto masa lalu Alexa, dia berpelukan dengan banyak pria dengan pakaian kurang bahan di banyak diskotik, terlihat bersenang senang dengan sebuah botol alkohol ditangannya
"ah Varel, aku benar benar menyukaimu, ah maksudku pekerjaanmu, bagaimana bisa kau tau semua ini", tanya Riri sambil tertawa
"dia dulunya adalah gadis penghibur nyonya, ayahnya sudah meninggal 3 tahun sebelum dia menjadi gadis penghibur, dan menyerahkan semua saham perusahaan kepadanya, bukan nyonya, bukan menyerahkan, lebih tepatnya dia memaksa ayahnya memberikan semua hak kuasa itu, lalu dia membunuh ayahnya", jawab Varel
"wah benar benar jalang gila", ucap Riri menutup mulutnya
Sementara Dio, Joi, Geri dan Harry juga terkejut mendengar semua penjelasan Varel, Dio sendiri tidak menyangka jika pergerakan istrinya lebih cepat darinya, bahkan dia belum mendapatkan apapun dari pencariannya
"tunggu, jika memang benar seperti ini, maka ada kemungkinan jika Jiah bukanlah anak ayahku", ucap Riri pelan
"benar nyonya, itu sebabnya saya menyerahkan ini semua kepada nyonya", ucap Varel membuat Riri tertawa mengakak
"kau cari semua bukti bukti jika dia membunuh ayahnya dan serahkan padaku, dan juga jika ada vidio saat dia sedang bermain disana, berikan juga padaku, jika benar jalang ini hanya menjebak ayahku, maka akan ku bunuh dia", ucap Riri
"baik nyonya", jawab Varel
"dan Geri, soal saham, apakah sudah selesai?", tanya Riri kepada Geri yang sedang disofa
"dalam proses non, akan saya selesaikan secepat mungkin", jawab Geri
"bagus, kau boleh keluar", jawab Riri
"baik nyonya", jawab Varel lalu keluar dari ruangan Riri
"ada apa non?",, tanya Harry
"Alexa, ternyata dia bermain dengan banyak lelaki selain ayahku", jawab Riri lalu melempar foto foto itu dimeja, dia lalu duduk dipangkuan Dio
Mereka semua mengamati foto foto itu termasuk Dio, sedikit terkejut, namun tidak lagi saat mengingat Alexa memang memiliki banyak diskotik
"dek, bagaimana bisa pergerakan mu secepat ini?", tanya Joi masih melihat foto foto itu
"jelas saja bisa, bahkan jika kalian berdua menyimpan rahasia dariku, aku juga tau", jawab Riri mengelus wajah Dio
"sayang maafkan aku, aku tidak bermaksud menyembunyikannya, aku hanya menunggu waktu yang tepat, aku minta maaf", ucap Dio memeluk pinggang Riri
"tak apa, aku juga paham, asal jangan begitu lagi", jawab Riri
"nona, diantara semua foto ini tidak ada foto ayah nona", ucap Geri
"tentu saja tidak ada, karena ayahku hanya mengenalnya sekali lalu melewati malam bersama saat sedang bertengkar dengan mamaku, setelah itu mereka tidak pernah bertemu lagi", ucap Riri
"benar benar gila, itu berarti ada kemungkinan jika Jiah bukan anaknya tuan Tio", ucap Geri
Riri hanya tersenyum lalu tangannya mencoba bermain nakal disela sela paha Dio, jelas saja sang pemilik tubuh menjadi panas dingin tak menentu, hasratnya mulai naik karena tingkah istrinya itu, sementara Riri tertawa melihat wajah Dio, dia senang dan terus melanjutkan aksinya itu
Geri dan Harry menyadari raut wajah Dio yang sedang menahan gairah itu, mereka berdua saling menatap dan memberi kode
"non saya permisi dulu ya, akan saya periksa semua ini", ucap Geri
"baiklah, jangan sampai ada yang terlewatkan", ucap Riri
Geri dan Harry, pamit keluar, namun Joi masih tetap pada tempatnya. Dia sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu, karena dia juga selama ini lebih sering tinggal diluar negeri, jadi dia juga mengizinkan jika adik nya itu saling menggoda didepannya
"kau kenapa sayang?", tanya Riri tertawa
"sayang disini sedang ada kak Joi, jangan memancingku", ucap Dio, dia ingin sekali rasanya menerkam Riri sekarang juga
"lanjutkan saja aku tidak masalah", jawab Joi
"kau yakin kak?", tanya Dio
"iya", jawab Joi santai
"aku akan benar benar melakukannya disini", ucap Dio ke Joi
"lakukanlah, apakah harus aku mencari pasangan dan berduet dengan kalian berdua?", tanya Joi kesal
"baiklah jika itu mau mu, jika bosan pergilah keluar dan kunci pintu", ucap Dio
Dio mulai meraba raba tubuh istrinya itu yang sangat indah dan menciumi leher jenjang milik istrinya, dia tau daerah sensitif yang membuat desahan Riri keluar. Tentu saja Riri menahannya, bagaimana pun juga Joi adalah kakak nya, dia tidak ingin melakukan itu didepan Joi, tetapi suaminya tidak peduli, karena kakaknya itu juga pernah melakukan itu didepannya dulu
"aku tidak mau melakukannya didepan kak Joi, yang benar saja, dia itu kakak iparku", ucap Riri sambil menahan desahannya
__ADS_1
"saat di Belanda, dia selalu melakukannya didepanku sayang, bahkan wanita itu sempat menggodaku agar melakukannya bersama", ucap Dio
Riri membalakkan matanya mendengar itu
"benarkah itu kak?", tanya Riri
"sialan kau, kenapa menceritakan itu lagi", ucap Joi memukul lengan Dio
"kenapa sayang?", tanya Riri
"karena itu adalah mantannya, setelah itu dia memutuskannya", jawab Dio
"ah, kenangan indah dengan sang mantan", sindir Riri menggangguk anggukkan kepalanya
"lanjutkan saja aktifitas kalian, dan jangan membahas mantanku itu", ucap Joi kesal
"baiklah kak kalau begitu", ucap Riri lalu mengambil Remote dimejanya, dan sebuah lukisan besar kemudian bergeser dari tempatnya dan terdapat sebuah pintu
Riri berjalan kearah pintu dan menempelkan sidik jarinya, dan terbukalah ruangan pribadi Riri yang memang dirancang Riri
"gadis kecilku benar benar hebat, aku sendiri bahkan tidak pernah memikirkan hal ini", ucap Joi
"aku akan membuat itu juga dikantorku, jadi kita bisa bersama disana juga", ucap Dio lalu berjalan kearah Riri
"kak, jika bosan keluarlah dan kunci pintunya", ucap Riri lalu mendorong Dio masuk keruangan itu lalu menutup pintu itu
Joi hanya menelan ludahnya mendengar suara desahan Riri dari dalam sana, dia juga ikut bergairah mendengar desahan dan rengekan Riri.
"sialan, kenapa kau harus bangun?", tanya Joi lalu menunduk kebawah
"aku merindukan catrine, arghh", ucap Joi mengacak acak rambutnya
"aku akan kembali ke Belanda setelah semua urusan Riri selesai, aku benar benar ingin melihat kehancuran lelaki itu", ucap Joi
Dia lalu menelfon Geri untuk mengantarkan laporan orang orang yang menjadi rekan bisnis alm. pak Wahid dulu. Beberapa menit kemudian Geri datang keruangan Riri, dia hanya melihat Joi duduk disofa sendirian
"ini tuan", ucap Geri
"terima kasih, mungkin ini bisa membantu", ucap Joi
"apa? kau ingin menanyakan sepasang CEO itu?", tanya Joi balik, Geri hanya mengangguk
Lalu terdengar suara desahan Riri, Geri terkejut mendengar itu
"tuan, apakah kau sedang memutar vidio p*rn?", tanya Geri
"kau gila? jika aku memutarnya tidak akan volumenya aku keraskan", ucap Joi
"lalu apa itu tadi? apakah telingaku bermasalah", tanya Geri
Suara itu terdengar lagi, kali ini lebih keras
"tuan apakah ada hantu disini?", tanya Geri
"kau ini kenapa sih?", tanya Joi kesal
"bukankah tadi menanyakan dimana bos bos mu itu? itulah jawabannya", lanjutnya
"tapi dimana tuan? tidak ada orang disini selain kita", ucap Geri
"apa kau tidak tau?", tanya Joi
"apa maksudnya tuan? saya tidak tau apa apa, benar benar tidak orang disini", ucap Geri panik
"oiya Riri mana mungkin memberi tau tentang ruang pribadinya, mungkin dia mengerjakan itu semua sendiri", batin Joi
"yasudah pergilah, kunci pintunya",, ucap Joi
"baik tuan", jawab Geri langsung melesat keluar dan mengunci pintu
Suara desahan Riri masih terdengar, Joi menghiraukan itu dan terus mencari tau sesuatu untuk membantu Riri.
1 jam...
2 jam...
__ADS_1
3 jam...
Suara itu berhenti, Joi fikir mereka sudah selesai.
"sudah selesai?", gumam Joi masih tetap dengan pekerjaannya
Lalu terdengar lagi suara gemercik air dan juga desahan Riri,
"benar benar Dio menerkamnya habis habisan", gumam Joi tertawa
Setelah beberapa menit akhirnya mereka keluar darisana, terlihat dari wajah Riri, dia sangat lelah tetapi juga menikmatinya
"berapa ronde kalian ini?", sindir Joi
"gadis kecilmu sangat merindukanku kak, aku hampir kewalahan", ucap Dio tersenyum nakal
"kakak sedang apa? berkas apa itu?", tanya Riri
"ah ini, nanti saja aku jelaskan dirumah, ini sudah malam, kita pulang saja aku sangat lelah menjadi penonton kalian hari ini", ucap Joi
"ah baiklah", jawab Riri
Mereka lalu pulang ke mansion Riri, setelah membersihkan diri, mereka makan malam bersama dibawah
"kakak tadi meriksa apa? aku masih penasaran", ucap Riri
"itu, rekan bisnis lama yang dulu pernah bekerja sama dengan alm. kakekmu", ucap Joi
"ada apa dengan mereka kak?", tanya Riri penasaran
"setelah aku selidiki, ternyata ada beberapa dari mereka yang pernah ditipu oleh Alexa dalam jumlah besar", ucap Joi
"benarkah? kalau begitu kita bisa mengajak mereka bekerja sama untuk menghancurkan Alexa", ucap Dio gercep
"em iya kau benar, itu juga tujuannya", ucap Joi
"wah dia benar benar wanita gila", umpat Riri
"sayang, untuk yang ini biarkan aku saja yang urus, jika mereka menerima tawaran kita, aku akan menghubungimu", ucap Dio
"baiklah sayang, lanjutkanlah, aku benar benar ingin membunuh wanita itu secara perlahan", ucap Riri
Riri lalu menyuruh semua pelayannya istirahat, dia yang akan membereskan makan malam. Sama seperti divilla, pelayan disini juga disediakan rumah terpisah dari mansion karena Riri tidak ingin terganggu
Riri membereskan makan malam itu, dan Joi sudah naik keatas. beberapa menit setelah membereskan semuanya, Riri mengambil wine dari kulkas, laku meminumnya, dia sedikit lelah dengan semua ini,
"sebenarnya teka teki apa yang ada dimasa lalu?", gumam Riri
Namun tiba tiba Dio memeluknya dari belakang
"mas? sedang apa sayang? aku fikir mas sudah naik tadi", ucap Riri
"aku baru saja turun sayang, apa itu? wine?", tanya Dio
"em, aku sedikit lelah memikirkan ini semua, ntah teka teki apa yang sebenarnya terjadi", ucap Riri lalu menenggak wine itu
"lepaskan pikiranmu dari sana sejenak, kita bersenang senang dulu", bisik Dio sambil tangan nakalnya berkeliling ditubuh Riri
Riri tersenyum, dia lalu menumpahkan wine itu di tubuhnya dan membasahi bajunya hingga kebawah. Dio dengan segera menyingkap dress Riri dan ternyata Riri tidak memakai dalaman. Tentu saja Dio langsung menyerangnya
Desahan Riri bergema didapur, tangannya menyenggol beberapa barang hingga terjatuh dan menahan semua serangan Dio
"sayang, kita sedang didapur, nanti kalau kakak turun gimana?", ucap Dio mendesah
"i don't care, this is my house baby, arghh", ucap Riri sambil terus mendesah
Joi mendengar suara benda benda jatuh langsung bergegas turun,
"apakah ada kucing didapur? tapi dirumah ini tidak ada kucing", ucap Joi
"apakah rumah ini berhantu? atau gimana?", ucap Joi panik
lalu langkahnya terhenti saat mendengar suara desahan Riri
"benar benar dua manusia itu, dikantor sudah 3 jam, masih lanjut lagi didapur? astagaa", ucap Joi melangkah lagi kembali lagi kekamarnya
__ADS_1
"besok besok aku akan pelihara kucing agar mengganggu mereka terus", ucap Joi kesal