
Satu pekan telah berlalu, Riri dan teman temannya sudah melakukan Ujian Akhir Semester, dan sekarang hanya tinggal menunggu pembagian rapot.
Riri pergi kesekolah untuk latihan, karena ini hari minggu jadi dia dengan cepat mengayuh sepedanya ke sekolah
setelah sampai disekolah dia memarkirkan sepedanya
"pagi kak", sapa Riri ke pelatihnya sambil bersalaman ala anak paskibra
"pagi Riri, kakak dengar pekan lalu kamu jatuh ya?", tanya pak Ikhwan selaku pelatih Riri
"em iya pak, tangganya licin, jadi aku terjatuh karena kehilangan keseimbangan", jawab Riri
"lalu bagaimana keadaanmu sekarang? sudah membaik? kenapa datang latihan? harusnya kau istirahat", jawab kak Ikhwan khawatir
"hanya luka kecil saja pak, masih aman hehe", ucap Riri sambil tersenyum
"LUKA 10 JAHITAN DAN PINGSAN SELAMA 3 JAM KAU BILANG LUKA KECIL?! KAU MAU KU PUKUL HAH?!," ucap pak Ikhwan yang kesal dengan sikap santai Riri itu yang sama sekali tak menggambarkan rasa sakit diwajahnya
"tenang pak tenang, selow selow pak, udah ga sakit lagi kok lukanya", ucap Riri tertawa
"kau ini Ri", jawab pak ikhwan yang masih kesal. "kau duduk saja nanti dipinggir lapangan, tidak perlu mengurusi juniormu dulu, biar teman seangkatanmu saja yang mengurusnya", perintah pak Ikhwan pada Riri
"tapi pak, hari ini kan jadwal saya membawa barisan, apa tidak masalah jika teman saya yang menggantikan posisi saya?", tanya Riri yang ragu
"Tidak masalah, kamu duduk saja", jawab pak Ikhwan. Mereka pun berjalan ke arah lapangan, dari kejauhan terlihat latihan sudah dimulai, Riri dulu di pinggir lapangan sesuai perintah pak Ikhwan
Latihan berjalan dengan lancar. banyak senior Riri yang bertanya padanya tentang kejadian kemarin, Riri pun menjelaskan semuanya, Tak terasa sudah tengah hari, mereka memustuskan untuk istirahat di aula dan lanjut latihan lagi jam 2 siang.
Sudah menjadi tradisi, saat beristirahat bersama mereka makan dan tidur bersama diaula dengan posisi dipisah antara perempuan dan laki laki. Hanya beberapa senior tertinggi (purna) yang tidak tidur, termasuk Dio dan beberapa teman seangkatannya. Namun Riri juga tidak tidur, kepalanya terasa sangat sakit secara tiba tiba, dia pun pergi berjalan ingin ke toilet
"mau kemana dek?", tanya Dio yang melihat Riri berjalan ke pintu aula. Semua orang yang masih bangun, terkejut mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut Dio, ini pertama kalinya mereka mendengar Dio memanggil sebutan adik ke junior bawahannya
"hah?", ucap Riri kaget
"wahh Dio?", sorak para senior Riri yang ikut terkejut juga. Dio tidak peduli dengan temannya itu, dia berjalan kearah Riri
"adek mau kemana? harusnya tidur, kan lagi istirahat", ucap Dio pelan mendekati Riri sambil tersenyum smirk
"aku mau ke toilet kak", jawab Riri singkat memalingkan muka dari Dio
"mari kuantar", jawab Dio sambil menggenggam tangan Riri dan membawanya keluar aula.
Riri kaget ga? Kaget dongg!
Tidak hanya Riri, semua senior Riri juga ikut kaget melihat pemandangan yang baru saja terjadi
"sudah ada benih", ucap Fauzan
"em, bukankah sudah terlihat jelas sejak dulu, Dio selalu memperhatikan Riri diam diam, hanya saja dia tidak mengakuinya", jawab Vino
"namun sekarang Dio sudah melakukannya secara terang terangan, Tapi terlihat dari mata Riri, dia tidak memiliki rasa apapun kepada Dio", sahut Riana
"kau benar, mata Riri masih dingin seperti biasanya, padahal Riri dulu sangat ceria dan hangat, tapi kenapa tiba tiba jadi dingin seperti sekarang ya?", ucap Vino menatap teman temannya
"ada yang tau celahnya? seperti ada sesuatu yang kita lewatkan", tanya Riana yang berusaha mengingat sesuatu
"kau benar, tapi apa ya?", tanya Fauzan
"aku ingat", ucap Raini yang merupakan kembaran Riana, dia mengingat suatu kejadian tahun lalu sebelum pengukuhan para junior
"apa?", tanya Vino gercep
"aku sering melihat Riri menangis sendirian saat latihan sebelum pengibaran 17 agustus, dan saat malam renungan suci, aku mendengar suara minta tolong diiringi tangisan dari kamar mandi, aku kira itu jadi aku tak memperdulikannya, tapi saat aku kembali ke aula, aku sadar bahwa Riri tidak ada di aula, namun aku tidak teringat tentang kamar mandi itu lagi dan baru mengingatnya lagi sekarang, sejak itu Riri menjadi sangat dingin", jelas Raini. karena dia lah senior yang paling teliti memperhatikan juniornya
"lalu apakah itu Riri?", tanya Riana bingung
"aku tidak tau, aku sangat ingin bertanya ke Riri langsung, tapi kita semua tau bahwa Riri adalah orang yang sangat menjaga privasi, aku takut itu akan menyinggung perasaannya", jawab Raini
"mungkin itu celahnya, kita harus lebih memperhatikan junior kita aku takut terjadi sesuatu yang kita tidak tau", ucap Fauzan
"kau benar", jawab Vino yang setuju
__ADS_1
scene berpindah ke Riri dan Dio
"kenapa kakak mengantarku?", tanya Riri bingung
"aku tau kau gelisah, sana masuk ke toilet, selesaikan urusanmu itu, aku tunggu disini", jawab Dio dingin sambil menyandar ke dinding depan toilet dengan tangan di kantong celananya
"em", jawab Riri singkat lalu berjalan masuk ke toilet
Setelah selesai, Riri pun keluar dari toilet
"yuk", ucap Dio sambil menggenggam tangan Riri dan menuntunnya kearah parkiran
"mau kemana kak?", tanya Riri
"ikut saja dan jangan bertanya", jawab Dio
"tapi saat jam istirahat tidak boleh keluar sekolah, kan itu aturannya kak", ucap Riri yang masih bingung.
Dio menghentikan langkahnya didekat tangga, lalu menyudutkan Riri ke dinding, tangannya bersandar ke dinding disamping kepala Riri dan menatap tajam mata Riri. "haruskah kucium bibirmu disini supaya kau bisa diam?", tanya Dio pelan
Riri menggeleng pelan. Dio mendengus pelan dan tersenyum tipis. "padahal aku berharap kau akan bertanya lagi", ucapnya sambil mundur dari posisinya sekarang
agresif bener ye
Mereka lanjut melangkah, dan Riri pun masuk ke mobil Dio. Didalam mobil mereka hanya diam. Riri pun memakai headset di telinganya lalu memutar musik
"hit you with that ddu-ddu-du"
"ah yeah ah yeah"
"hit you with that ddu-ddu-du"
"ah yeah ah yeah"
Riri bernyanyi sambil melakukan koreografi dari lagu yang didengarnya
Dio yang merasa diabaikan pun kesal, tapi kekesalannya hilang saat melihat Riri yang tersenyum bahagia dengan dunianya sendiri itu, dia sesekali menatap Riri dan tersenyum tipis
"putar lagumu itu disini, jadi aku juga bisa mendengarnya", ucap Dio sambil menarik headset Riri.
"bukankah kakak tidak suka dengan k-pop?", tanya Riri.
"lakukan saja tanpa bertanya", ucap Dio singkat, dia hanya tidak ingin diabaikan Riri
Namun, saat Riri menyanyikan lirik lagu Pretty Savage, Dio tiba tiba berenti mendadak
"astagfirullah", ucap Riri yang terkejut
"kakak kalau cari mati sendiri saja jangan bawa aku ih", ucap Riri kesal
"Heii! berhenti menyanyikan lirik lagu yang ini", ucap Dio gugup
"kenapa kak?", tanya Riri yang bingung
"turuti saja", ucap Dio sambil melanjutkan menyetir mobilnya itu.
"kau suka k-pop?", tanya Dio
"ho'oh", jawab Riri singkat
"boy or girl?"
"girl"
"girl?"
"em"
"apa namanya?"
"blackpink, red velvet, dan juga grup yang baru baru ini debut, namanya aespa", jawab Riri sambil tersenyum
__ADS_1
"hanya itu?", tanya Dio
"tidak, aku suka yang menurutku aku suka, bukan hanya grup grup tertentu, aku menyukai lagu lagu yang memang menurutku, aku menyukainya, hanya itu", jelas Riri
"berarti kau multifandom", jawab Dio tersenyum
"ya, benar", jawab Riri. Suasana kembali hening, hanya lagu lagu yang mengisi ruang mobil itu
Setelah beberapa menit mengendarai mobil, mereka berhenti di sebuah Mall
"Turunlah", ucap kak Dio sambil keluar mobil.
Riri turun, mereka berjalan menelusuri Mall, lalu mereka masuk ke sebuah toko perhiasan
"wah cantiknya", ucapnya melihat sebuah cincin yang designnya terbilang simple namun terlihat sangat elegan
"kau suka?", tanya kak Dio
"em", jawab Riri tersenyum, matanya masih menatap cincin itu
"mau lihat lihat dulu mba? mas?", tanya pegawai toko itu
"coba liat yang itu mba", jawab Dio
Mata Riri sangat berbinar melihat cincin itu, dia jatuh cinta dengan cincinnya
"kak, saya ambil yang ini ya", ucap Dio kepada pegawai toko
"baik pak", jawab pegawai toko, sambil menyiapkan cincin itu sesuai perintah Dio
"mba, ini berapa-an emang?", tanya Riri
"8.8jt mba", jawab pegawai toko tersebut
"astagfirullah!", reflek Riri yang kaget, matanya membelalak mendengar harga cincin itu.
"sudah selesai mas, silahkan lakukan pembayaran dikasir ya mas", ucap pegawai toko tersebut.
Dio berjalan ke kasir, "ini", jawab Dio sambil menyodorkan black card nya kepada kasir
Riri tidak sanggup berkata kata mendengarkan harganya, Riri memang tumbuh dikeluarga yang terbilang mewah, namun Riri selalu membeli apapun dengan uang tabungan dan tidak pernah meminta dengan orang tuanya, Namun ya tetap menerima saat dikasih begitu saja tanpa dia minta dari orang tuanya
Serem juga ya, mengeluarkan uang begitu saja, tapi tidak heran jika mengingat kekayaan Dio dan keluarganya
Setelah itu mereka pulang membawa cincin tadi.
Di mobil Dio,.
"Sini jarimu", ucap Dio sambil menarik tangan Riri dan memakaikan cincin yang mereka beli tadi
"hah?", Jawab Riri kaget
"mengapa kau sangat terkejut?", tanya Dio
"itu sangat mahal bagaimana mungkin aku bisa menerimanya?", jelas Riri. Dio menatap Riri sambil tersenyum
"Happy sweet seventeen untukmu, aku tau ini terlambat karena aku tidak tau hari ulang tahunmu, tapi kupastikan di hari ulang tahunmu di tahun depan, kau sudah menjadi tunangan ku, jadi aku tidak akan terlambat lagi mengucapkan selamat untukmu", ucap Dio menatap Riri
"makasih kak", jawab Riri singkat sambil tersenyum tipis. Dio pun melanjutkan menyetir mobilnya
"tapi kak, aku tidak bisa menerimanya", lanjutnya
"kenapa?", tanya Dio
"Ini sangat mahal untuk sebuah hadiah ulang tahun", jelas Riri sambil menatap cincin dijarinya
"bukankah kau menyukainya?", tanya Dio
"em, aku suka", jawab Riri sambil tersenyum
"kalau begitu terima saja, atau kucium bibirmu sampai kau tidak bisa menolak pemberianku lagi", ancam Dio yang tersenyum tipis
__ADS_1
"em", jawab Riri singkat, dia lebih memilih diam daripada membiarkan Dio melakukan niatnya itu
gemoy ya Dio >•<