
Didepan ruang ICU...
Terlihat Nita dan Rara yang sedang berjaga didepan ruang ICU tempat Geri dirawat. Air mata Rara terus mengalir dengan pandangan kosong, kenangan kenangan indah bersama Geri terus bergentayangan dikepalanya
"bangunlah Geri, kau sudah berjanji denganku, aku tidak menginginkan pertemuan yang seperti ini", batin Rara
Rara terus menangis dan berdoa dalam hatinya agar Geri segera siuman, dia sungguh tidak akan sanggup jika kehilangan Geri
"kini aku sadar, ternyata selama ini aku mencintaimu, aku minta maaf, bangunlah Geri", teriak batin Rara
Nita melihat Rara yang terus menangis, dia selalu setia menghapus air mata Rara dan memeluk Rara agar menguatkan dirinya.
Nita lalu berjongkok didepan Rara dan memegang kedua tangan Rara
"Rara, look at me", ucap Nita
Rara lalu menoleh kearah Nita
"tuhan tidak akan memberikan ujian diluar kemampuan hambanya, jika tuhan memberi ujian ini, itu berarti kau bisa melewatinya, kau harus kuat", ucap Nita
"walaupun aku tidak pernah diposisimu, tapi aku juga bisa merasakan yang kau rasakan Rara", ucap Nita mengelus wajah Rara
Rara menangis dan menunduk, kemudian dia menghapus air matanya
"kau benar Nit, aku harus kuat, aku pasti bisa, Geri juga pasti kuat, dia pasti akan bangun demi diriku", ucap Rara
"iya, bagus, begitu, jangan menangis terus, okey?", ucap Nita memeluk Rara
"ohiya Nit, dimana Riri? aku tidak melihatnya sejak tadi", tanya Rara
Nita diam sejenak, dia tidak tau harus berkata apa ke Rara, baru saja Rara diam dari tangisnya, bisa saja tangisnya pecah lagi jika mendengar tentang Riri
"Nita, jawab aku, dimana Riri?", tanya Rara mulai panik, namun Nita tetap diam
"jangan bilang kalau Riri juga terkena tembakan seperti Geri?", tanya Rara panik dan menutup mulutnya
Nita ikut panik, bagaimana bisa Rara berfikir sampai begitu
"tidak tidak bukan Ra", ucap Nita
"dimana Riri dirawat? aku juga ingin melihatnya", ucap Rara kembali menangis
"bukan Ra, Riri aduh, gimana si, Riri tidak tertembak seperti Geri", ucap Nita panik
"benarkah? lalu dimana Riri sekarang?", tanya Rara menghapus air matanya
"kondisi Riri sekarang, sama berbahayanya seperti kondisi Geri, mungkin lebih lagi", ucap Nita
"apa maksudmu? jelaskan!", ucap Rara kesal
"Riri pergi membalas dendam kepada Alexa, dan sekarang dia mungkin sudah bergerak disana, aku tidak tau bagaimana kondisinya sekarang", ucap Nita
"dia pergi kesana, karena marah melihat Geri tertembak, orang tua nya disekap, dan juga bunda Harry juga disekap, orang orang yang dia sayang terancam bahaya, maka dari itu dia turun tangan langsung kesana untuk membalas dendam",, ucap Nita
Rara terduduk dilantai, dia tidak punya tenaga lagi rasanya, bagaimana bisa semuanya terjadi begitu tiba tiba seperti ini? bahkan nyawa Riri sedang dalam bahaya juga
"aku bisa gila", ucap Rara
"aku juga", ucap Nita
"apakah Riri sendirian disana? tidak ada yang menemani dia? aku akan kesana juga, antar aku", ucap Rara langsung bangkit
Nita segera menahannya, dia tau Rara juga sama seperti Riri, bisa berbuat nekat tiba tiba jika pikirannya sedang kacau
__ADS_1
"no Rara, Riri tidak sendirian, ada kak Joi, Varel, dan Fikri yang ikut bersama dengan Riri, dan juga para bawahan papamu yang ikut membantu, mereka semua sudah disana", ucap Nita
"benarkah? kau tidak berbohong kan?", tanya Rara masih belum yakin
"aku tidak bohong", ucap Nita
Rara akhirnya bisa bernafas sedikit lega
"kita harus tetap disini, dibawah pengawasan Rendi dan Dio, kita harus tetap tenang apapun situasinya agar bisa berfikir jernih, paham Ra?", ucap Nita
"iya aku paham", ucap Rara
"lalu dimana ayahku sekarang?", tanya Rara
"dimansion pak Hardi, bersama dengan bu Shila dan Jiah juga, itu salah satu tempat yang aman", ucap Nita
"syukurlah", ucap Rara
"kau ini memanggil dengan sebutan apa? papa atau ayah?", tanya Nita kesal
"apakah itu penting sekarang?",, tanya Rara
"sepertinya begitu, aku cukup bingung",, jawab Nita
"astaga", ucap Rara
Sedangkan disudut kursi, terlihat Harry yang meringkuk dalam kesedihannya, pikirannya sungguh kacau, dia tidak bisa berfikir apa apa sekarang.
...----------------...
Dilain tempat...
Riri dan yang lain sudah bersiap, waktu yang ditentukan oleh Riri telah tiba, kini saatnya memulai dan menyelesaikan semua ini
Mereka meluncurkan serangan pertamanya, yaitu meluncurkan anak panah yang berisi obat tidur yang sudah disiapkan mereka sebelumnya.
"berhasil", ucap Riri
Mereka segera melanjutkan langkahnya dan mempersiapkan pistol ditangan mereka masing masing, kecuali Ara yang memilih tongkat bisbol daripada pistol
Setelah sampai didepan gerbang, Ara dan Varel menyeret para penjaga itu dan mengikatnya dipohon. Lalu memanggil beberapa bawahan Herman agar berjaga jaga disekitar situ
Sedangkan Riri, Joi, Fikri dan Nicolas, masuk kedalam. Ternyata masih ada bodyguard didalam gerbang, Riri tersenyum, tangannya mengambil anak panah dari kantongnya, begitu juga dengan yang lainnya
Terjadi perkelahian didalam gerbang, namun beberapa saat kemudian para bodyguard itu juga ikut lumpuh akibat obat tidur dari anak panah yang ditancapkan Riri dan yang lainnya dileher mereka masing masing
Ara dan Varel segera menyeret bodyguard bodyguard itu, dibantu oleh beberapa bawahan Herman, mereka mengikatnya dipohon, berdekatan dengan teman temannya tadi
Kali ini kak Joi yang memimpin, dia tidak ingin Riri celaka atau terkena jebakan yang tidak diduga oleh mereka.
"aku yang mimpin, kau dibelakangku", bisik Joi
"em", ucap Riri sambil mengangguk
Joi membuka pintu dengan sangat pelan, dia mengintip kedalam ruangan dimarkas itu. Ternyata para anak buah yang sedang berjaga disana sedang berpesta dan mabuk mabukan
"bodyguard macam apa mereka yang mabuk mabukan seperti itu?", bisik Fikri
"mungkin mereka mengira Riri telah kalah dan sedang drop atau semacamnya?", bisik Joi
"Alexa memang orang yang mudah puas, dan inilah salah satu contohnya", bisik Nicolas
"siapkan anak panah kalian, kita menyerang dari sini", bisik Riri
__ADS_1
"Biar aku dan Fikri saja, kau dan Joi berjaga dibelakang kami", ucap Nicolas
Riri dan Joi pun mundur dan bersiap dengan pistol mereka, sementara Fikri dan Nicolas meluncurkan anak panah itu satu persatu ke leher anak buah Alexa
Ara dan Varel datang, melihat Riri dan Joi sedang berjaga
"kenapa belum masuk?", tanya Ara
"sedang diurus", jawab Joi
"siapkan tali kalian", ucap Riri
"baik", jawab Ara
"sudah", jawab Joi
Mereka semua pun menerobos masuk, ternyata para bodyguard itu belum pingsan
"ah bebalnya", ucap Fikri
"tak apa, aku suka", ucap Riri
"siapa kalian?", tanya salah satu dari mereka
"malaikat mautmu", jawab Joi
"hah?", tanya nya balik
Riri langsung menyerang dan berkelahi dengan amarah yang memenuhi isi kepalanya, begitu juga dengan Joi, Nicolas, Fikri dan Varel. Sementara Ara menyerang dengan tongkat bisbol yang setia berada ditangannya
Cukup lama mereka bertarung, namun para bodyguard itu belum juga pingsan.
"Ara, suntikkan obat itu", ucap Riri
"baik", ucap Ara
Ara mengganti senjatanya dengan obat bius spesial yang berbeda dengan obat tidur tadi. Dengan susah payah Ara menyuntikkan bius itu ke leher dan tangan mereka satu persatu, tak butuh waktu lama, para bodyguard itu akhirnya pingsan
"sialan, obat tidur pun tidak mempan di tubuh mereka", umpat Joi
"ikat mereka dan jangan sampai lolos", ucap Fikri
"Ara, Varel, kalian jaga mereka saja dan jaga pintu juga", ucap Riri
"baik", ucap Varel
"sialan, aku sangat benci menyeret mereka", ucap Ara kesal
"kau boleh bermain main jika kau mau, lampiaskan saja amarahmu, seperti Geri melakukannya ke Nicolas", ucap Riri sambil menyiapkan pistolnya
"apakah boleh?", tanya Ara
"silahkan, dan hati hati", ucap Riri
"tentu saja, thank you", ucap Ara tersenyum senang
Ara dan Varel langsung menyeret para bodyguard itu lalu mengikat mereka didekat pintu.
"dimana Alexa?", tanya Riri
"ada beberapa kamar disini", ucap Nicolas sambil menyiapkan pistolnya
"kita berpencar saja?", tanya Fikri
__ADS_1
"baiklah", jawab Riri
Mereka pun akhirnya berpencar, Riri dan Joi ke kanan, Varel dan Nicolas ke kiri, sedangkan Ara dan Fikri berjaga didekat pintu masuk, mereka juga memanggil beberapa bawahan yang dikirimkan Herman agar berjaga di dalam dan luar pintu masuk