CEO Cantik Pengidap Bipolar

CEO Cantik Pengidap Bipolar
1.45 Minggu Depan Nikah


__ADS_3

Dio masuk kekamarnya dan merebahkan dirinya diranjang besar yang empuk. Dio berguling guling seperti bayi diatas ranjang itu.


'Aarrghhhh', Tubuhnya menggeliat seperti cacing disiram air panas.


"ah, hari ini benar benar penuh kejutan", ucap Dio menghadap langit langit kamarnya


"kekasih ku benar benar seorang gadis yang luar biasa dan tangguh, ah aku jadi rindu dengannya", ucap Dio lalu bangkit dari ranjangnya dan berjalan kearah kamar Riri


Tok tok tok!


Dio mengetuk pintu kamar Riri, tidak lama setelahnya Riri membuka pintu kamarnya


"ada apa sayang? apakah ada yang kurang?", tanya Riri


"em ada yang kurang, belahan hatiku ada disini, jadi aku akan kesini", ucap Dio lalu menerobos masuk kekamar Riri dan menjatuhkan tubuhnya diranjang empuk itu


"heii bersihkan kakimu sayang baru naik ke ranjang", teriak Riri lalu menutup pintu dan menguncinya


"aku sangat lelah sayang, aku ingin tidur disini, aku gelisah saat tidak bersamamu, aku rinduuuuu", teriak Dio manja


Riri mendatanginya dan memukulinya


"aku sudah bilang bersihkan kakimu dulu", ucap Riri memukul kaki Dio


"aw, sayang", pekik Dio


"bersihkan kakimu sana baru naik ke ranjang", ucap Riri memarahi Dio


"iya iya sayang iya berhenti memukul", ucap Dio langsung bangkit dari ranjang dan berlari kekamar mandi


"aahh Diovano, ranjangku berantakan dan kotor karna mu", omel Riri kesal


Riri membereskan kembali ranjangnya sambil mengomel, sementara Dio belum juga keluar dari kamar mandi


"sayang kau sedang apa disana?, mari sini, aku membelikan piyama untukmu tadi", teriak Riri kearah kamar mandi


Riri mengambil piyama yang dia maksud, lalu meletakkan diatas sofa yang ada dikamar Riri. Setelah beberapa menit, Dio keluar dengan rambut yang basah, tubuh bagian bawah yang terlilit handuk, dan bertelanjang dada tentunya


"sayang kau sed....", ucap Riri yang langsung terdiam melihat Dio keluar dari kamar mandi.


"oh my god", batin Riri


"pemandangan indah", batin Riri


Sepersekian detik kemudian Riri tersadar dan langsung menutup wajahnya saat melihat Dio berjalan kearahnya


"*oh tuhan, apa yang ada di pikiranku?", batin Riri


"ya ampun jantungku, kenapa ini?", batin Riri


"ini seperti mimpi erotisku waktu itu", batin Riri


"kenapa sayang? apakah aku tampan?", tanya Dio mendekati Riri


"ja-jangan mendekat", ucap Riri gugup

__ADS_1


"dasar, sok jual mahal, padahal tadi dia terkagum melihatku", batin Dio


Dio langsung memeluk Riri. Air dari rambutnya yang basah itu menetes mengenai rambut Riri


"bukalah wajahmu itu sayang, aku tau kau menyukainya", bisik Dio ditelinga Riri, lalu menggigitnya pelan


Tubuh Riri bagaikan tersengat listrik saat mendapatkan sentuhan itu, dia perlahan membuka wajahnya, dan terlihat dada bidang Dio sudah ada didepan wajahnya itu. Tercium aroma maskulin yang menjadi candu untuknya. Dia mendongak menatap Dio, tatapan mereka bertemu, dan


cup...


Dio mengecup lembut bibir Riri dan menahan tengkuk lehernya supaya lebih nyaman berciuman, Dio memperdalam ciumannya, dia merasa sangat candu dengan bibir manis dan lembut milik Riri. Riri hanya menikmati permainan Dio dan memeluk Dio


"say..ang", lirih Riri, Dio lalu melepas ciumannya


"ada apa sayang?", tanya Dio


"leherku pegal, kau terlalu tinggi, ah",, rengek Riri manja


Dio tersenyum melihat tingkah Riri, lalu menggendongnya kearah ranjang, Dio duduk dipinggir ranjang, lalu meletakkan Riri diatas pangkuannya


"oh my god, ini seperti mimpiku waktu itu, ah jangan sampai jangan sampai argh", batin Riri


"aahh shiitt", batin Riri


"kenapa pipimu memerah sayang?", tanya Dio


"ahh, itu, em, panas", ucap Riri gugup


Dio tersenyum dan mengibaskan rambut rambut dileher Riri, lalu mengecup lehernya pelan.


Riri hanya terdiam tak mampu berkutik, dia menikmati sentuhan sentuhan yang diberikan Dio. Sedikit menggelitik namun juga menyukainya. Sementara Dio mencium dalam dalam aroma tubuh Riri


"aku kecanduan aromamu sayang", bisik Dio ditelinga Riri


Dio menciumi Riri dari leher berjalan ke dada, lalu naik dan melahap kembali bibir mungil nan manis milik Riri. Dio semakin memperdalam ciumannya, dan mendorong tengkuk Riri agar lebih mudah menjelajahi isi mulutnya. Riri melenguh mendapat aksi itu


"ah... kak",


Tangan Dio tak hanya diam, tangannya meraba raba punggung Riri, lalu perlahan membuka resletingnya, Dio mengelus lembut punggung Riri yang sangat halus, lalu mencium pundak Riri dan memberi tanda merah disana. Dia juga memberi beberapa tanda di leher dan dada Riri


"aahh kakak, kenapa dikasih disini", rengek Riri


"aku menyukainya", ucap Dio lalu mengecup bibir Riri


"kapan kita menikah?", tanya Riri tiba tiba


"kenapa? apa kau sudah tidak sabar merasakan ganasnya dede bayi yang dibawa sana", tanya Dio sambil tersenyum nakal


"akan ku buat dede bayi mu merasakan kesakitan luar biasa jika berani bermain main denganku", ucap Riri lalu mengerucutkan bibirnya


"kau mau kapan menikahnya sayang?", tanya Dio memeluk Riri


"minggu depan", jawab Riri


"baiklah", jawab Dio tersenyum

__ADS_1


"kau tidak keberatan sayang?", tanya Riri menatap Dio.


"tidak, aku justru sangat senang", jawab Dio tersenyum


"baiklah", jawab Riri mengecup lembut bibir Dio


"nanti aku akan telfon papa dan mama agar mempersiapkan semuanya", ucap Dio


"oke sayangku, terserah padamu, aku akan mengikuti saja, aku ingin akad dulu, resepsinya nanti saja", jawab Riri


"baiklah sayangku, sesuai keinginan mu. Sayang aku ingin sekali menerkammu sekarang sayang", bisik Dio lalu meremas bok_ong Riri


"ahh, no sayang", lirih Riri manja


"sayang, berhenti mendesah seperti itu, aku bisa khilaf", bisik Dio.


Riri memukul dada Dio


"kau yang berbuat aku yang disalahkan?", omel Riri kesal


"sayang izinkan aku menerkammu", ucap Dio manja


"nanti malam", jawab Riri singkat lalu beranjak pergi dengan keadaan baju yang sudah setengah terbuka


"janji?", tanya Dio excited


"em", jawab Riri lalu masuk kekamar mandi


Dio melompat lompat diranjang Riri, dia sangat senang dengan jawaban dari kekasihnya itu. lalu menelfon orang tuanya dan memberitahukan kabar tentang pernikahannya


Sementara Riri yang baru keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai tanktop hitam dan hotpants, melihat Dio melompat lompat diatas ranjangnya, membuatnya kesal


"sayangg, turun dari situ", teriak Riri


"ah pa, nanti aku hubungi lagi", ucap Dio


"aku sudah membereskan ini semua tapi malah seenak jidat diberantakin lagi?", teriak Riri kesal dan mengejar Dio


Dia tidak benar benar marah, hanya saja, gemas dan juga kesal dengan tingkah tunangannya itu, matanya benar benar risih jika melihat ranjangnya berantakan dan kotor.


"sayang maaf, aku akan membereskannya", ucap Dio sambil berlari


"sayang maaf", ucap Dio terus berlari


"aku ga peduli, bereskan itu", teriak Riri ngambek


"iyaiya iya sayang iyaaa, aduh sayang iyaa ini aku bereskan", ucap Dio lalu menutup telfonnya


Riri menggolekkan tubuhnya diranjang setelah berlari mengejar Dio, dia pun terlelap karena lelah. Dio melihatnya terlelap, lalu menyelimutinya dan ikut berbaring disampingnya.


Dia mengamati setiap inci dari wajah kekasihnya itu, menyentuh bibir dan pipinya, dan juga menyingkirkan rambut rambut halus yang ada di wajah Riri.


"aku sangat mencintaimu Riri, jangan pernah pergi dariku", gumam Dio lalu mengecup bibir Riri


Dio masuk kedalam selimut dan memeluknya, lalu ikut terlelap bersama Riri. Sebelumnya dia sudah mengatur alarm agar bisa terbangun sebelum jam 8 malam

__ADS_1


__ADS_2