CEO Cantik Pengidap Bipolar

CEO Cantik Pengidap Bipolar
1.41 Kisah Didalam Mobil


__ADS_3

Perjalanan menuju Vila lumayan jauh, harus menempuh waktu hingga ±2 jam. Riri adalah orang yang sangat detail dalam segala hal, dia tidak akan melewatkan hal hal sekecil apapun dalam berbagai pekerjaannya.


Dimobil pertama


"kau sedang apa sayangku?", ucap Dio memperhatikan Riri yang sedaritadi menghadap jendela


"gapapa sayang, aku hanya melihat hehijauan, mataku pegal karena terus melihat komputer", ucap Riri


"lihat saja aku, pasti pegalmu hilang", ucap Dio memeluk Riri dari samping, dan menyungsupkan kepalanya dipundak Riri


"manja banget jadi CEO", gumam Geri pelan namun bisa didengar seluruh manusia didalam mobil itu. Rara menahan tawanya mendengar itu


"emang CEO ga boleh manja? bilang aja iri karena kau ga punya tempat untuk manja manja", ucap Dio kesal


Geri hanya melirik dari kaca spion


"kenapa? kau irikan? nih lihat nih", ucap Dio yang menciumi pipi Riri dan memeluk Riri semakin erat.


Riri tertawa melihat tingkah manja Dio, tak dia sangka seorang CEO yang begitu dingin bagaikan singa saat dikantor, berubah menjadi manja bagaikan anak kucing saat bersamanya.


"sayang hentikan, geli", ucap Riri tertawa


"Ra, cepatlah kau terima perjodohan itu, supaya manusia disamping mu itu tidak iri padaku lagi", ucap Dio ke Rara


Pipi Rara memerah seketika, begitu juga dengan Geri


"kok jadi deg deg an aku ya", batin Rara


"malah bahas itu sih ya ampun, ni jantung mau copot rasanya", batin Geri


"kenapa kalian berdua diam, betul yang dibilang kak Dio, pikirkan baik baik tentang perjodohan itu", ucap Riri memeluk Dio dan menyungsupkan wajahnya didada bidang Dio


"iya Ri, lagi aku pikirkan, tenang saja", ucap Rara


"makasih", ucap Geri tersenyum, dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat mendengar kalimat itu dari Rara


Sementara Riri menutup jendela mobil dan bermanja dengan tunangannya itu, dia terus menyusupkan wajahnya di dada bidang milik Dio, hingga beberapa kancing kemejanya terbuka.



Setelah lelah, Riri pun berbaring dengan posisi kepalanya ada dipangkuan paha Dio, dia perlahan tertidur saat Dio mengelus lembut kepalanya.


"kau tidak tidur juga Ra?", tanya Geri


"aku tidak ngantuk, hanya bosan saja", ucap Rara


"boleh ga aku nanya?", tanya Geri


"boleh, tanya aja", jawab Rara


"kau sudah punya pacar?", tanya Geri agak gugup, dia takut Rara marah dengannya


"pacar? aku ga punya", ucap Rara datar


"baiklah kalau begitu", ucap Geri tersenyum


"kenapa ?", tanya Rara bingung melihat senyuman Geri


"aku... hanya ingin memastikan, bahwa calon ku tidak punya lelaki lain dihidupnya, jika memang punya, maka aku akan mundur, aku tidak ingin merebut milik orang lain", ucap Geri


"ooo, begitu, lalu sekarang? kau sudah tau bahwa aku tidak punya pacar, apa yang akan kau lakukan?", tanya Rara sedikit berfikir

__ADS_1


"aku? aku akan memperjuangkanmu sampai kau benar benar yakin padaku", ucap Geri tersenyum dan sesekali menatap Rara


"kau, serius dengan kalimatmu Ger?", tanya Rara yang terus menatap Geri


"aku serius Ra, sangat serius", ucap Geri. "boleh aku, memegang tanganmu?", tanya nya agak ragu, dia takut Rara mengira dirinya mesum


"hahaha Geri Geri, kenapa kau harus minta izin?", tanya Rara sambil tertawa


"aku harus izin, aku tidak mau kau berfikir macam macam karena aku menyentuhmu tanpa izinmu", ucap Geri


"ternyata papaku tidak salah orang, dia benar benar baik dan sopan, pantas saja papa tertarik dengannya", batin Rara


"dia menyindir ku atau gimana?", batin Dio teringat kejadian di lift dulu


"boleh, aku izinkan", ucap Rara sambil tersenyum.


Geri perlahan memegang tangan Rara, sementara tangan sebelahnya memegang setir. Dia mengelus pelan tangan Rara


"sangat halus dan lembut sekali tangan ini, jika memang aku berjodoh dengannya, apakah aku sanggup untuk membiayainya dan memenuhi kebutuhan sehari harinya? tapi bagaimana pun aku tetap akan memperjuangkan cintaku", batin Geri


Geri terus saja tersenyum saat memegang tangan Rara, mengelusnya dengan lembut. Perlahan Rara tertidur saat tangannya ada ditangan Geri.


"aku harap dia tidak lupa kalau dia sedang membawa mobil", gumam Dio


"saya ga lupa tuan, tenang aja", jawab Geri


"kau dengar ternyata", ucap Dio pelan,


Lalu lanjut mengelus kepala calon istrinya itu.


Mengelus pipi dan tangannya, mengelus kepala dan rambutnya yang sangat lembut,


"*aku tidak pernah menyangka kalau aku akan sangat mencintai seseorang seperti dirimu ini Ri, jangan pernah pergi dariku ya, aku sangat mencintaimu sayang", batin Dio lalu mengecup dahi Riri


-_-_-_-_-_-_-_-


Rendi dan Nita terus terusan saling mencuri pandang satu sama lain. Hubungan kedua insan lintas perusahaan ini semakin dekat sejak kejadian paperbag itu.


"Nit, kamu sudah sarapan kan?", tanya Rendi


"sudah Ren, kalau kamu sudah sarapan belum? aku tadi bawa bekal", ucap Nita


"aku? belum, tadi aku sibuk menjemput tuan Dio dan mempersiapkan segala pekerjaan kami, jadi belum sempat ngisi perut", ucap Rendi


"kalau begitu, makan bekalku ya, aku buat toast tadi", ucap Nita


"mau banget", ucap Rendi tersenyum


Nita pun dengan senang hati menyuapi Rendi yang sedang menyetir itu, tak jarang mereka bercanda dan tertawa bersama.


"apakah kita dianggap disini?", bisik Yuli ke Natali.


"sepertinya tidak", jawab Natali


"sepertinya aku juga harus mencari pasangan", keluh Yuli


"kau benar Yul", keluh Natali lalu menghela nafas


-_-_-_-_-_-_-_-


Sementara itu, dimobil ketiga

__ADS_1


Harry terus terusan menelfon untuk menanyakan kabar ke Villa dan mempersiapkan semua nya, termasuk para bodyguard, penjagaan yang ketat, tempat tempat yang akan dikunjungi, persediaan makanan, dan para pelayan disana juga harus diatur, dia bantu oleh Fikri tentunya yang selalu setia menekankan nomor untuk Harry


"Harry, apa pekerjaanmu selalu begini?", tanya Fikri


"em, nona Riri adalah orang yang sangat teliti dan disiplin, dia akan langsung sadar jika menemukan sedikit saja kesalahan dalam pekerjaannya, jadi semuanya harus dilakukan dengan sangat sempurna", ucap Harry


"em aku tau itu, hebat sekali dirimu bisa menghadapi Riri ya", ucap Fikri


"Riri? kenapa kau memanggilnya dengan nama? panggil dia Karina, nama Riri hanya boleh disebut untuk orang orang terdekatnya, jika dia mendengar itu tadi, maka akan meledak amarahnya", ucap Harry panik


"hahaha, tenang saja, aku adalah teman Riri, dulu kami sering jalan jalan bareng dan touring, Riri sangat suka dengan pantai, dan juga dia adalah gadis yang sangat dingin, hanya dengan tatapan mata saja bisa bisa dia membuat orang yang menatapnya terkena serangan jantung", ucap Fikri tertawa


"jadi kau adalah temannya bu Riri?", tanya Adam


"em iyaa benar, aku juga satu sekolah dengan Riri", sahut Fikri


"tunggu, apakah namamu adalah Fikri Dinata?", tanya Harry


"iya, benar, kau kenal denganku?", tanya Fikri


"oh iya, jelas saja aku kenal dengan namamu, karena kau adalah salah satu orang yang bisa menjinakkan nona Riri jika bersama dengan teman teman kalian itu kan?", tanya Harry


Fikri mengangguk dan tertawa


"menjinakkan? maksudnya?",, tanya Hafiz


"Riri sangatlah dingin dan pemarah dulu, dulu sangat dulu, Riri adalah gadis yang ceria, sebelum dia putus dengan mantannya",, ucap Fikri


"masa lalu?", beo Adam


"apa bu Riri punya masa lalu yang aku dan Geri tidak tau?", tanya Harry


"aku tau nama mantannya tapi aku tidak tau wajahnya, yang aku tau, Riri diselingkuhi mantannya itu, namun saat tercyduk dengan Riri, bukannya minta maaf, malah dia menuduh dan menyalahkan Riri atas semua kesalahannya. Riri tidak melawan, dia hanya diam karena shock, dan semenjak itu, dia terus menyalahkan dirinya sendiri atas hubungan naas mereka", ucap Fikri.


"bajingan, siapa namanya?", tanya Harry kesal


"Zidan", ucap Fikri


"pasti bu Riri sangat mencintainya dulu, makanya sampai berubah sifat begitu", ucap Adam


"iyaa, ga bisa ngebayangin gimana perasaan bu Riri, dia benar benar melewati masa masa sulit dan gelap", ucap Hafiz


"awas saja dia kalau bertemu denganku, apalagi kalau berani mengusik nona Riri, habis dia ku buat", ucap Harry kesal


"iyaa, jangan sampai Riri bertemu dengannya, susah payah Riri move on, sampai setahun lebih Riri terus mengejar Zidan, namun ditolak mentah mentah", ucap Fikri


"sok ganteng banget anjir", ucap Hafiz


"kok aku emosi ya", ucap Adam


"terima kasih ya Fik atas informasimu, tapi ingat, jangan bilang ke siapa siapa kalau kau cerita dengan kami, kalau nona Riri tau dia akan marah besar", ucap Harry


"iya Fik, jangan pernah cerita kesiapapun kalau kau tau sesuatu tentang bu Riri", ucap Adam


"iya aku tau, aku cerita dengan kalian karena aku mau kalian ngelindungi Riri, aku bener bener gamau liat Riri tergoda lagi dengan Zidan jika sewaktu waktu dia kembali ke Riri", ucap Fikri


"ga akan ku biarkan, tenang aja", ucap Harry


"makasih", ucap Fikri tersenyum


-_-_-_-_-_-_-_-_-_-

__ADS_1


Sementara itu di mobil keempat


Mang Edi dan mang Didi saling mengobrol dan bercerita tentang pengalaman mereka bekerja dengan kedua bos nya itu,


__ADS_2