
Waktu berlalu dengan sangat cepat, tanpa terasa sudah memasuki tengah hari, mereka semua bersiap untuk makan siang. Seperti biasa, menu untuk Riri adalah daging, sedangkan untuk lain disajikan makanan lain
"kenapa dagingnya hanya untuk kakak?", tanya Jiah yang melihat menu Riri berbeda dengan menu mereka
"kalian pasti bosan jika harus makan daging terus karena keinginan ku, jadi aku suruh pelayan untuk masak menu lain, untuk kalian", jawab Riri sambil mengunyah
"ah begitu", ucap Jiah menganggukkan kepalanya
Riri menatap Jiah dari kursinya
"Jiah, apakah lipstik mu habis?", tanya Riri
Deg!
Jantung Joi menjadi berdebar kencang saat mendengar pertanyaan Riri, Joi jadi salah tingkah, sementara Jiah tersenyum tanpa masalah kearah kakaknya itu
"tidak kak, lipstikku masih banyak", jawab Jiah berusaha santai
"benarkah? lalu kenapa tidak pakai lipstik? biasanya kau pakai lipstik", tanya Riri sambil mengunyah
"ah tadi aku pakai lipstik, tapi hilang setelah kak joi men...", ucap Jiah lalu terdiam karena mulutnya disumpal paksa oleh Joi
Joi memasukkan paha ayam di mulut Jiah hingga akhirnya Jiah terdiam dan melirik kearah Joi. Tak hanya Jiah, Riri dan Dio ikut melirik kearah Joi yang bertingkah tidak seperti biasanya
"ah ini.. ayamnya enak aku mau kau mencicipinya, berhentilah mengoceh dan makan ayam ini", ucap Joi gugup
"ah begitu...", ucap Riri tersenyum smirk, dia seperti paham apa yang terjadi dengan kakak dan adiknya itu
"senyuman apa itu sayang?", bisik Dio
"ini seperti de ja vu", bisik Riri
"maksudmu? apa ini pernah terjadi sebelumnya?", bisik Dio
Riri lalu menatap suaminya itu
"seperti sekretarismu itu", ucap Riri dengan nada keras
Dio terdiam dan berfikir sejenak, begitu juga dengan Jiah dan Joi yang ikut berfikir dengan ucapan Riri tadi
"ah...", ucap Dio mengerti lalu menganggukkan kepalanya
"ah iya dek, nanti ikut kakak ya", ucap Riri
"kemana kak?", tanya Jiah
"kita akan mengurus kartu keluargamu, kau harus memperbaiki identitasmu", ucap Riri
"maksudnya kak?", tanya Jiah belum paham
"aku akan memperbarui kartu keluargamu, dengan ayahmu Nicolas dan ibumu Alexa, jasad mereka sudah ditemukan, DNA nya juga sudah dikumpulkan beserta dengan DNA mu, kau akan masuk 1 kartu keluarga bersama mereka", ucap Riri
"apakah tidak apa apa kak? apakah kakak marah denganku?", tanya Jiah
"tidak, aku hanya ingin memperbarui identitasmu agar tidak bermasalah dikemudian hari", ucap Riri
"baiklah kak, lakukan saja bagaimana kakak mau, aku akan menurutinya", ucap Jiah santai
"Jiah, kalau boleh aku mau minta izin", ucap Riri
"apa kak?",, tanya Jiah
"aku cemburu padamu", ucap Riri
Dio, Joi dan Jiah terdiam sejenak lalu menatap Riri
"apa yang buat kakak cemburu?", tanya Jiah
"kau memakai nama depan mama padahal kau bukan anak kandungnya, sedangkan aku sedarah dengannya, tapi aku tidak memakai nama depan mama", ucap Riri menahan air mata
"sebenarnya aku banyak cemburu denganmu, jujur saja", ucap Riri
__ADS_1
"kalau begitu kakak perbarui semua identitasku, lepas nama mama dari namaku, mungkin itu akan mengurangi sedikit luka hati kakak", ucap Jiah
"bahkan nama kita mirip, Gia Karina Syahputri, Yu Jiah Syahputri", ucap Riri
Riri lalu diam menunduk, air matanya mengalir karena dibakar cemburu dihatinya, bagaimana pun juga dia dan Jiah hampir seumuran, hanya berbeda satu tahun, jadi wajar saja jika ada sifat cemburu muncul diantara mereka
"maaf kak", ucap Jiah melihat Riri menangis
"tak apa, lagian bukan salahmu juga", jawab Riri menghapus air matanya
"maaf jika aku cemburu padamu, setelah kejadian tadi malam, aku benar benar tidak suka jika sesuatu yang menjadi milikku disentuh orang lain, semua perbuatan jahat yang pernah aku alami kembali terulang dikepalaku, aku hampir tidak bisa mengontrol emosiku", ucap Riri sambil makan
"Jiah, apa yang menjadi milikku akan selamanya tetap begitu, tapi jika milikku sendiri yang membuka jalan untuk orang lain, maka aku harus melepasnya", ucap Riri
"asal kau tau Jiah, 3 tahun lebih aku mengenal Dio, hampir 2 tahun juga kami menjalin hubungan, tidak pernah sekalipun aku mengekangnya, atau cemburu dengan wanita disekitarnya", ucap Riri sambil mengunyah
"tapi semenjak ada pelayan yang berani melihat tubuh suamiku...", ucap Riri membuat Joi, Jiah dan Dio melihat Riri
"lalu ada wanita menciumnya, lalu melihatnya seperti tadi malam, apakah salah jika aku marah?", tanya Riri menatap Jiah
"tidak kak, kau pantas marah", jawab Jiah spontan
"kau tau Jiah? harusnya kau langsung saja membunuhku hari itu, hari saat kau cemburu padaku karena ayah, dengan begitu aku tidak akan merasakan ini, aku benar benar bisa gila", ucap Riri
Dio, Joi dan Jiah tetap melihat Riri, mereka tak menyangka Riri akan mengatakan itu
"kau tak perlu melepas nama mama, biarkan saja begitu, walaupun secara ikatan darah dia adalah mamaku, tapi bagiku tidak lagi", ucap Riri
"lanjutkanlah makan mu, aku harus mengumpulkan berkas berkas dulu, setelah itu bersiaplah, kita akan mengurus ini", ucap Riri lalu pergi dari meja makan
Dio benar benar lemas setelah mendengar itu, dia fikir Riri sudah memaafkannya, ternyata belum. Sementara Jiah masih diam
"sebesar apapun kasih sayangnya kepadaku, perbuatan jahatku dimasa lalu akan tetap tertancap jelas dikepalanya", ucap Jiah pelan
Mereka melanjutkan makannya dengan tidak *****, selera makan hilang setelah mendengar ucapan Riri tadi. Tapi mereka tetap harus menyelesaikan makannya, karena Riri tidak suka jika ada makanan terbuang sia sia
Setelah selesai makan, Riri dan Jiah pergi mengurus surat surat untuk memperbarui identitas Jiah. Harry dan Geri juga ikut agar membantu segala urusan bosnya itu.
Kini nama Riri bukan lagi Gia Karina Syahputri, karena semua berkas berka sudah diganti total oleh Riri ke namanya yang baru, bahkan di ktpnya juga
Karina Putri Wira Anggara, itulah nama baru Riri, dia memakai nama keluarga suaminya sebagai nama belakangnya. Dengan nama baru ini, Riri ingin mengubah hidupnya dan melupakan semua kenangan kenangan buruk dari nama yang sebelumnya
"keputusan yang bijak sayang", ucap Dio kepada Riri setelah melihat berkas berkas Riri
"tentu saja", jawab Riri
"terima kasih kak", ucap Jiah memeluk kakaknya itu
"ah iya besok pergi bersama Harry ke bank mengurus rekening untukmu, tidak perlu lagi pakai rekening lamamu itu, nanti biar dinonaktifkan saja", ucap Riri
"iya kak", jawab Jiah
"aku juga akan memberimu blackcard, jadi kau bisa belanja kapanpun kau mau tanpa perlu menungguku, akan aku suruh Harry mengurusnya untukmu", ucap Riri
"aku tidak perlu black cardnya kak", ucap Jiah
"lalu?", tanya Riri
"baru kali ini ada orang yang menolak blackcard", ucap Joi
"berikan saja aku jatah uang jajan perbulan kak, jadi aku bisa hemat dan mengatur keuanganku sendiri, jika aku memegang blackcard, bisa bisa aku khilaf, kakak kan tau aku kalau shopping semua dilalap", ucap Jiah
"baiklah kalau begitu, akan aku berikan nanti", ucap Riri tersenyum dan memeluk Jiah
"tetaplah menjadi adikku yang aku sayangi, jangan pernah menghianatiku", ucap Riri mengelus lembut wajah Jiah
"iya kak, Jiah janji, Jiah juga bakal ngejaga kakak sampe si debay lahir", ucap Jiah mengelus perut Riri
"apa itu debay?", tanya Dio
"dede bayi, gitu aja gatau", jawab Joi
__ADS_1
"bahasa darimana itu?", tanya Dio lagi
"mana aku tau", jawab Joi lagi
Riri lalu memeluk Jiah, dan mengibaskan rambut Jiah, tidak sengaja matanya menangkap kismark yang ada di leher Jiah, Riri lalu mengerutkan dahinya
"*apakah Jiah punya pacar? tapi sehari ini dia terus dirumah dan hanya keluar saat bersamaku", batin Riri
"lalu ini apa?", batin Riri bertanya tanya*
Riri penasaran dengan kismark yang ada di leher Jiah, dia terus memutar otaknya dan berfikir dengan siapa Jiah melakukan itu
Setelah masuk kekamarnya, Riri langsung menyambar laptop khususnya yang ada di lemari, Dio bingung dengan gelagat istrinya itu
"kau sedang apa sayang?", tanya Dio yang lalu ditatap oleh Riri
"tadi... dileher Jiah...", ucap Riri
"kenapa leher Jiah?", tanya Dio penasaran
"ada kismark", ucap Riri
"lalu? mungkin karena pacarnya", ucap Dio santai
"itu dia masalahnya, dia berada dirumah seharian ini dan hanya keluar saat bersamaku, kapan dia bertemu pacarnya? apakah pacarnya masuk ke mansion kita? dan kita tidak tau? aku harus memastikan itu", ucap Riri
Dio lalu berfikir sejenak
"benar juga", ucap Dio yang lalu duduk disamping istrinya
Riri terus mengutak atik laptopnya, dia melihat cctv di gerbang mansionnya dan identitas yang masuk kemansionnya hari ini dan hari hari sebelumnya
"tidak ada yang aneh", ucap Dio
"kau benar mas, lalu darimana kismark itu berasal?", tanya Riri
"biarkan saja sayang, itu privasi dia", ucap Dio
"ada sebesit pikiran gila muncul dikepalaku", ucap Riri
"apa itu?", tanya Dio
Riri lalu membuka cctv di sekitar kamar Jiah, mereka melihat Jiah keluar dari arah kamar Joi dengan muka kesal, lalu kemudian Joi menyusul kekamar Jiah
"apakah mereka pacaran?", tanya Riri
"aku tidak tau sayang, apakah kau pasang cctv juga dikamar kak Joi?", tanya Dio
"iya tapi tidak pernah ku buka, semua ruangan dirumah ini aku pasang cctv disetiap sudutnya, tapi tidak pernah ku buka jika menyangkut privasi orang lain", ucap Riri
"coba buka", ucap Joi
"tapi mas...", ucap Riri
"buka saja", ucap Dio
Mereka membuka rekaman di kamar Joi dan melihat adegan Joi dan Jiah dari awal hingga akhir
"adikmu yang memancing", ucap Dio
"kakakmu yang menarik adikku", ucap Riri
"tapi kenapa Jiah diam saja?", tanya Dio yang melihat rekaman itu
"tidak, aku rasa dia menikmatinya, hanya saja tidak tau cara membalasnya, karena Jiah tidak pernah tersentuh oleh lelaki manapun, kakakmu itu laki laki pertama yang menyentuhnya", ucap Riri
"kita harus bagaimana? haruskah kita larang hubungan mereka?", tanya Dio
"tidak perlu, toh juga Jiah secara biologis tidak punya ikatan darah denganku, jadi sah sah saja", jawab Riri
"benar juga", ucap Dio
__ADS_1