
H-5 Sebelum kejadian penembakan Geri
Terlihat Geri dan Rara sedang berkencan bersama disebuah taman bermain, sudah lama mereka tidak berkencan bersama karena Geri selalu sibuk dengan pekerjaannya hingga sering kali membuat Rara kesal
"kamu suka?", tanya Geri melihat Rara tersenyum senang memakan permen kapas
"tentu saja suka, semua tentangmu, aku menyukainya", ucap Rara tersenyum
"baguslah, aku senang mendengarnya", ucap Geri ikut tersenyum
"ah iya, bagaimana keadaan Riri? apakah dia baik baik saja? aku merindukannya, tetapi dia selalu sibuk, begitu juga denganmu", ucap Rara cemberut
"em Riri? dia sedang sibuk dengan segala urusannya, dia tidak punya waktu untuk bermain main, kami sedang menghadapi masalah", ucap Geri merangkul Rara
"masalah? apakah serius?", tanya Rara lalu menghadap ke Geri, dia tampak khawatir
"iya, masalah yang serius sayang, dan kami harus terus fokus, jika terjadi sedikit kesalahan saja, mungkin semuanya akan selesai", ucap Geri dengan wajah seriusnya
"kau jangan menakutiku dengan berkata seperti itu", ucap Rara kesal lalu memukul lengan Geri
Geri tersenyum dan menatap Rara, dia memegang kedua lengan Rara dan mencium keningnya dengan lembut
"sayang, dengar aku, jaga aku lewat doamu, dan jangan khawatir, aku baik baik saja, okey? aku ga akan kemana mana, aku mencintaimu, mana mungkin aku meninggalkanmu", ucap Geri
"kamu harus janji padaku untuk tetap menjaga dirimu sendiri", ucap Rara memeluk Geri
" i'm promise", jawab Geri lembut
"akan aku ingat selalu janjimu", ucap Rara
"tentu saja kau harus ingat", jawab Geri
"kalau begitu, mari kita lanjutkan bersenang senang, berbahagialah seolah olah ini hari terakhir kita bertemu dan tertawa seperti ini", ucap Geri
"kenapa mau bicara begitu?", tanya Rara kesal
"karena itulah caraku bertahan hidup, aku akan menjalani hari ini seolah olah ini adalah hari terakhirku, supaya aku bisa melakukan hal hal terbaik versi diriku sendiri", ucap Geri tersenyum lalu mencubit pipi Rara
Mereka lalu melanjutkan kencannya dengan sangat tenang dan senang. Setelah selesai makan malam, Geri mengantar Rara pulang ke mansionnya
"Makasih banyak untuk hari ini ya, aku sangat sangat bahagia rasanya", ucap Rara tersenyum senang
"sama sama sayang, akhirnya aku bisa melepaskan rinduku kepadamu", ucap Geri tersenyum dan mengelus lembut rambut Rara
"kapan kita bertemu lagi?", tanya Rara
"em... 5 hari lagi, aku akan berikan kejutan kepadamu", ucap Geri
"baiklah kalau begitu, aku akan menunggu hari itu tiba, seolah olah itu adalah hari terakhir kita bertemu, aku akan menggunakan caramu juga, sepertinya menyenangkan", ucap Rara tertawa
"haha baiklah, lakukan sesukamu sayang", ucap Geri
__ADS_1
"ah tunggu aku ingin memberikanku hadiah, tapi jangan dibuka sekarang, buka nanti setelah pertemuan kita selanjutnya", ucap Geri lalu mengambil sesuatu dari bagasi mobilnya
"kalau begitu berikan saja saat pertemuan kita selanjutnya, kenapa sekarang?", tanya Rara
"aku mau memberikannya sekarang, siapa tau nantinya aku lupa atau tidak bisa memberikannya secara langsung kepadamu", ucap Geri
"ah baiklah, akan ku jaga ini", ucap Rara tersenyum lalu menerima hadiah itu
"aku pulang dulu ya, babay, muah", ucap Geri mengecup pipi Rara lalu berbalik. badan masuk ke mobilnya
"tapi aku mau disini juga...", gumam Rara pelan sambil menyentuh bibirnya
Geri menghidupkan mobilnya dan perlahan pergi darisana. Rara melihat kepergian Geri hingga menghilang dari pandangannya, ada perasaan aneh berkecamuk di hatinya
"aku merasa seperti tidak akan melihatnya lagi, semoga hanya perasaanku saja", ucap Rara mengelus dadanya
Dia lalu masuk kedalam rumahnya dengan membawa hadiah dari Geri ditangannya, sungguh hatinya sangat bahagia
Hari demi Hari Rara terus menunggu hari dimana dia akan bertemu lagi dengan kekasihnya itu.
Hingga tibalah dihari dimana mereka berjanji akan bertemu, Rara terus tersenyum, dia tidak sabar menantikan pertemuan mereka.
"kau sepertinya sangat senang belakangan ini, ada apa Aurora?", tanya Herman
"tentu saja aku senang pa, hari ini aku akan berkencan dengan Geri", jawab Rara tersenyum
"kau sudah mulai menyukainya ternyata", ucap Herman tersenyum, Rara hanya tersenyum dengan pipi merona
"baiklah kalau begitu", ucap Herman lalu pergi keruang kerjanya
Rara membersihkan setiap sudut rumahnya, tidak ada yang luput darinya. Hingga hampir tengah hari, akhirnya dia selesai bersih bersih. Dia lalu kekamarnya dan mandi.
Setelah selesai membersihkan dirinya, Rara turun kebawa untuk makan siang, dia sangat lelah dan lapar. Rara menyantap makanannya dengan sangat lahap, Herman hanya tersenyum melihatnya
Setelah selesai makan, mereka hendak pergi meninggalkan meja makan, namun tiba tiba handphone Herman berdering. Itu dari nomor tidak dikenal, yang ternyata adalah Nita, Nita memberi tahu kepada Herman tentang keadaan Geri dan menceritakan kejadiannya secara singkat.
Herman kembali terduduk lemas dikursinya, dia bagaikan tersambar petir saat mendengar kabar itu, Herman meneteskan air mata dan segera menutup telfonnya
"baiklah aku akan kesana, kirimkan alamatnya", jawab Herman
Rara bingung melihat papanya tiba tiba menangis, dia panik dan mendekati papanya
"ada apa pa? kenapa papa menangis?",, tanya Rara
Herman diam sejenak dan melihat kearah putrinya, dia lalu memeluk Rara dan menangis
"papa? papa kenapa? ada apa? jawab aku", ucap Rara
Herman melepaskan pelukannya, lalu memegang kedua tangan Rara
"Geri...", ucap Herman pelan
__ADS_1
"Geri? kenapa dengan Geri?", tanya Rara sedikit bingung bercampur panik
"Geri tertembak", ucap Herman pelan
"a... apa maksud papa? Geri?", tanya Rara terbata
Hatinya hancur sekarang, kakinya melemas, dia terduduk di lantai dengan pandangan kosong dan air mata yang mengalir, ucapan ucapan Geri tiba tiba terngiang ngiang ditelinganya
"berbahagialah seolah olah ini adalah hari terakhir kita bertemu dan tertawa seperti ini"
"aku harus memberikan hadiah ini sekarang, aku takut tidak bisa memberikannya kepadamu secara langsung"
"aku akan menunggu hari itu tiba, hari pertemuan kita selanjutnya, aku akan menunggu seolah olah itu adalah terakhir kali kita bertemu"
Ara menangis dan menutup mulutnya, dia hampir tidak percaya dengan kabar ini, dia lalu bangkit dan berlari kearah mobil, disusul oleh Herman
Mereka melaju menuju rumah sakit yang dimaksud Nita, Rara berlari menuju ruang operasi, disana sudah terlihat banyak orang yang menunggu
Langkah Rara terhenti saat melihat pintu ruang operasi, Rara ingin menerobos masuk, namun berhasil dicegah oleh Nita dan Rendi. Rara terus menangis dan memanggil nama Geri, dia tidak bisa menerima ini semua
"Ra tenang Ra, Geri pasti bisa melewati masa masa ini", ucap Nita memeluk Rara
"dia... dia udah janji akan bertemu denganku hari ini", ucap Rara sesegukan
"tapi bukan pertemuan seperti ini yang aku mau Nit", ucap Rara kembali menangis
"harus tabah Ra, harus kuat, demi Geri, okey, sabar ya Rara", ucap Nita ikut menangis
Dio dan Herman ikut menangis, Dio lalu menceritakan semua kejadiannya secara detail, dia juga meminta bantuan Herman agar membantu Riri yang sudah berangkat ke mansion lama kakeknya
"sekarang dimana Riri? jika dia mau bergerak, bilang padaku, akan kukirimkan bantuan kepadanya", ucap Herman
Herman sangat panik saat mendengar Riri akan menyerang Alexa secara terang terangan, dia langsung menelfon seluruh bawahannya agar segera bersiap untuk membantu Riri secara diam diam. Ini seperti membuat perlindungan double untuk Riri dan yang lainnya
Setelah waktu yang ditentukan Riri hampir tiba, Herman segera menyuruh bawahannya untum bergerak juga dengan hati hati, dia juga sudah mengabarkan kepada Riri bahwa Alexa juga ada didalam markas itu.
Tiba tiba, ruang operasi Geri terbuka, setelah lebih dari 5 jam menjalankan operasi, mereka berhasil mengeluarkan peluru peluru itu dari tubuh Geri
"Namun, pasien masih dalam kondisi kritis, dia harus segera siuman, jika tidak, kondisinya akan semakin melemah", ucap Dokter Gina
"dok tolong lakukan apapun untuknya dok, saya mohon", ucap Dio memohon
"saya dan dokter dokter disini akan melakukan yang terbaik dan sebaik baiknya untuk pasien", ucap dokter Gina
"baiklah, pasien akan segera di pindahkan ke ruangan ICU, saya permisi dulu ya pak, buk", ucap dokter Gina lalu pamit undur diri
Rara hanya diam, air matanya terus mengalir, dia tidak percaya dengan kejadian ini, ini seperti tidak nyata, tetapi inilah kenyataannya yang harus dia terima
Geri pun dikeluarkan dari ruang operasi agar dipindahkan ke ruang ICU, Rara menghentikan ranjang itu sejenak
Rara menatap Geri yang terbaring lemah tak berdaya diatas ranjang itu, air mata nya terus mengalir tanpa henti. Dia tidak sanggup rasanya dengan semua ini
__ADS_1
Nita memeluk Rara dengan erat, dia paham dengan kehancuran yang dirasakan Rara.