
Hari ini Riri dan suaminya bangun lebih siang, Dio yang biasanya bangun pagi pun ikut tidur hingga siang dan memeluk istri tercintanya itu. Setelah terbalaskannya dendam Riri, kini Riri bisa tidur nyenyak tanpa merasa gelisah
Begitu juga dengan Dio, dia lega karena sudah membalas perbuatan keji orang orang kepada istrinya. Didalam hati Dio sebenarnya terasa sakit saat melihat istrinya membunuh orang lain, namun jika mengingat hal hal yang diterima istrinya dimasa lalu, membuatnya membiarkan Riri melakukan apapun yang dia mau
Bagi Dio sekarang, kesehatan mental dan fisik Riri, dan juga anaknya, adalah hal terpenting yang harus dia jaga. Keamanan keluarganya orangtuanya, mertuanya, dan juga kakak adiknya menjadi prioritas bagi Dio
Dio terbangun sejenak saat alarmnya berbunyi menandakan sudah jam 6 pagi, dia memperhatikan wajah istrinya yang sedang tertidur lelap, tangannya mengelus lembut pipi Riri, lalu dia tersenyum senang. Dio memeluk lagi istrinya itu dan menutupi tubuh mereka dengan selimutnya, lalu kembali tidur
4 jam kemudian...
Sinar matahari berusaha menembus gorden kamar sepasang suami istri yang masih terlelap itu, Dio masih memeluk erat tubuh mungil istrinya itu, sementara manusia yang berada didalam pelukannya sudah mulai bangun dan menggeliat seperti biasanya
Riri menggeliat dan mengerang, merenggangkan otot otot tubuhnya lalu melemas lagi dan masih memejamkan matanya, dia berbalik badan dan memeluk suaminya, menyesap lembut aroma maskulin ditubuh suami tercintanya itu adalah salah satu hobi yang dia miliki semenjak menikah
Dio merasakan pergerakan istrinya yang mulai bangun tapi masih sama sama enggan untuk bangkit dari tidurnya
"udah bangun sayang?", tanya Dio dengan suaranya yang masih berat
Riri hanya tersenyum senang, momen inilah yang paling dia sukai saat bangun tidur,
"deep voice dari suamiku ini adalah salah canduku", ucap Riri pelan dengan tangannya yang mengelus dada Dio
Dio tersenyum dengan mata yang masih terpejam, dia semakin mempererat pelukannya
"maaf ya, susu hari ini telat, mas pengen bangun siang sama kamu juga", ucap Dio
"gapapa mas, aku justru senang karena hari ini susunya absen", jawab Riri tertawa kecil
"hm? no no no nanti mas buatin sekalian kita sarapan, susu ga boleh absen", ucap Dio
"mas ih... sekali aja absen", rengek Riri
"no baby... no", ucap Dio sambil tertawa kecil
Riri menyungsupkan wajahnya di dada suaminya itu, lalu membuat beberapa kismark disana
"sayang berhenti menggodaku", ucap Dio yang merasakan hasratnya mulai naik karena tingkah istrinya itu
Riri tertawa kecil lalu mengecup lembut bibir Dio, tiba tiba handphone Dio berdering. Riri melihat nama Dio diatas layar handphonenya, dia lalu mengangkatnya dan ternyata itu adalah videocall
"ada apa kak? kenapa menelfon pagi pagi buta begini?", ucap Riri
"pagi buta gigi ompong, disana pasti udah hampir siang", omel Joi
"berhentilah mengomel kakak, suamiku masih bobo syantieq", ucap Riri
"astaga yang benar saja kalian ini", ucap Joi
"apa kau sudah melihat berita? bangun dari tidurmu itu dan lihat berita dinegaramu sendiri", ucap Joi
"ada berita apaan sih emang?", tanya Riri kesal
"itu mantanmu dan mantan suamimu, meninggal karena mobilnya terbakar", ucap Joi
"benarkah? cian banget", ucap Riri dengan wajah mengejek
"apakah itu benar benar kecelakaan atau ulah kalian?", tanya Joi
"kenapa? kakak masih rindu dengannya?", tanya Riri sambil menaik-naikkan alisnya
"gila! tentu saja tidak!", pekik Joi
Riri hanya tertawa melihat wajah Joi, begitu juga Dio yang tersenyum mendengarkan percakapan mereka
"dia mati mengenaskan, polisi sedang mencari dua bola matanya yang tidak ditemukan dijasadnya, itu benar benar brutal", ucap Joi pelan sambil membaca artikel berita
"hm.. lalu apalagi yang ditulis disana?", tanya Riri
"mereka tinggal kerangka, semuanya habis terbakar, polisi menyimpulkan mereka bertengkar lalu saling membunuh", ucap Joi
__ADS_1
"ah benar benar kisah cinta yang tragis", ucap Dio dengan tangannya yang masih memeluk erat istrinya itu
"tapi ada masalah", ucap Joi
"hm? apa itu?", tanya Riri
"kalian dilibatkan disini", ucap Joi
Sontak Dio dan Riri terkejut
"maksudmu kak? tapi kami tidak meninggalkan jejak apapun", ucap Dio
"bukan itu, maksudku", ucap Joi
"lalu?", tanya Dio
"banyak netizen mencari tau seluk beluk mereka berdua dan menemukan fakta bahwa Zidan adalah mantan Riri dan Pricilla adalah mantanmu", ucap Joi
"lalu? apa masalahnya? kan memang begitu kenyataannya", ucap Dio
"netizen banyak memperkirakan bahwa Zidan dan Pricilla bekerja sama untuk menghancurkan rumah tangga kalian", ucap Joi
"oleh karena itu tidak ada netizen yang respect, terlebih lagi saat tau kalau Pricilla tersandung banyak skandal dan hutang dengan pengusaha hidung belang", ucap Joi menahan tawanya
Riri tersenyum senang mendengar Joi
"kak kau ini ingin menakuti ku ya, jantungku hampir copot karena kalimat awalmu tadi", omel Dio
"hahaha, aku yakin rencana kalian pasti berhasil, aku lebih percaya dengan adik iparku, semua pekerjaannya selalu detail dan gesit, she's perfect!", ucap Joi
"thankyou kak Joi", ucap Riri tertawa senang
"lalu kak? apa ada kabar lain?", tanya Dio
"nothing, aku hanya harus mengurus masalahku disini, aku tidak tenang karena tidak mengawasi kalian, jadi aku terus menunggu dan mencari berita disana, sekarang sudah lega, aku bisa dengan tenang menyelesaikan urusanku disini", ucap Joi
"makasih karena sudah mengkhawatirkan kami kak, kami baik baik saja disini", ucap Dio
"tenang saja kak, adik kecilmu ini akan menjaga gadis kecilmu ini dengan sangat baik, aku berjanji", ucap Dio
"ya memang harus begitu", ucap Joi
"yasudah, aku mau kerja, lanjutkanlah aktifitas kalian", ucap Joi
"ohiya kak dimana Jiah?", tanya Riri
"ah Jiah? dia sedang bersama sekretaris perempuanku, dia ingin praktik langsung untuk mengurus beberapa pekerjaan, jadi aku memberinya kesempatan", ucap Joi
"benarkah? apakah dia sudah bisa kak?", tanya Riri
"bisa, aku melihat sekilas tadi, dan pekerjaannya hampir sama sepertimu, sangat detail dan rapi, aku senang", ucap Joi
"dia benar benar seperti fotocopy-an dirimu sayang", ucap Dio
"haha Dio benar, kau berhasil mengurusnya Ri", ucap Joi
"baguslah, jaga dia ya kak, kami akan menyusul kesana beberapa hari lagi", ucap Riri
"baiklah, hati hati kalian ya", ucap Joi
"okey kak, bye", ucap Riri dan Dio bersamaan
"bye..", ucap Joi lalu memutuskan panggilan mereka
Riri dan Dio pun bangkit dari ranjang mereka dan menuju kamar mandi, mereka membersihkan diri bersama dan bercengkrama didalam sana
...----------------...
Di mansion Hardi...
__ADS_1
"papa!!! papaaa!!!", teriak Shila memanggil suaminya
Shila berteriak memanggil suaminya saat melihat artikel tentang 2 kasus pembunuhan yang terjadi dalam waktu 1 malam di tempat yang berbeda dan diwaktu yang sama
"ada apa mama? kenapa teriak teriak? masih pagi loh ini" jawab Hardi lalu menghampiri istrinya yang duduk disofa dengan iPad ditangannya
"lihat ini, mantan Riri dan mantan Dio mereka terbunuh", ucap Shila
"hah? benarkah?", tanya Hardi langsung duduk dan membaca artikel itu
Hardi membaca artikel itu dengan teliti, tertulis juga disana bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang merupakan mantan dari Riri an Dio yang sedang mencoba merusak rumah tangga Riri dan Dio
Artikel itu diperkuat dengan bukti bukti yang ada diapartemen Pricilla yang menunjukkan bahwa mereka bekerja sama untuk merusak rumah tangga Dio dan Riri
"wah mereka benar benar terbakar habis, hampir tidak tersisa lagi", ucap Shila setelah melihat foto mobil Zidan yang terbakar
"masalahnya adalah kenapa harus bawa bawa Dio dan Riri, mereka kan tidak ada hubungannya dengan ini", ucap Hardi kesal
"namanya juga netizen, hobi banget ngepoin masa lalu orang lain, apalagi anak anak kita itu orang ternama, pasti digali sampe habis tu masa lalunya", ucap Shila
"tapi mereka ga akan berani mencari tau lebih lanjut tentang Riri dan Dio, karena anak dan mantu kita itu terkenal dengan orang yang tertutup dan menutup rapat privasinya", sambung Shila
"mama benar, bisa bisa Riri mengamuk jika melihat artikel ini", ucap Hardi
"sudah bisa mama tebak", ucap Shila
"mama satu lagi? tadi kata mama ada 2?", tanya Hardi
"oh ini satu lagi", ucap Shila langsung menggeser iPad-nya
"kasus pembunuhan juga karena ingin merebut pacar teman sekolahnya dulu, gadis itu dibunuh dengan sadis", ucap Shila
"sadisnya?", tanya Hardi
"wajahnya disayat sayat lalu direndam di ember berisi alkohol dan perasan jeruk lemon, eh lemon atau jeruk nipis ya? pokoknya antara itu deh pa", ucap Shila
"wah gile bener", ucap Hardi lalu membaca artikel itu juga
"trus si cowonya ga terima liat cewe sahnya di bunuh, dia pun nyiksa selingkuhannya itu sampai seluruh tubuhnya luka luka karena dihajar pakai tali pinggang", ucap Shila lagi
"tapi mereka ga ngaku kalau ini perbuatan mereka?", tanya Hardi saat membaca artikel itu
"ya papa aneh aneh aja, mana ada maling ngaku maling", ucap Shila
"trus kenapa jadi kayak orang gila gini mereka berdua?", tanya Hardi yang masih fokus dengan artikel itu
"mereka menyuntikkan obat perusak ingatan di tubuh mereka masing masing, supaya terhindar dari hukum", ucap Shila
"seperti kejadian Riri dulu?", tanya Hardi
"hm.. bedanya yang ini untuk menghindari hukuman, kalau Riri dulu kan jadi korban", ucap Shila
"makin sadis aja ya anak jaman sekarang", ucap Hardi
"papa jadi teringat saat Riri pulang setelah menyelesaikan urusannya dengan Alexa, ah papa merinding membayangkannya", ucap Hardi dengan bulu kuduknya yang berdiri
"papa benar, membayangkan tubuhnya penuh dengan darah Alexa, ah benar benar mengerikan", ucap Shila
"walaupun begitu, dia hanya membalaskan dendamnya, itu sebanding dengan yang selama ini dia terima", ucap Hardi
"iya pa, ga mungkin juga Riri bertindak begitu jika tidak diganggu lebih dulu, dia bukan anak yang bisa bertindak sembarangan", ucap Shila
"mulai sekarang kita harus menjaga mereka dari jauh, tidak usah ikut campur, hanya cukup mengawasi saja", ucap Hardi
"iya pa, mama juga udah ga sabar mau jadi nenek", ucap Shila tersenyum sumringah
"papa jugaa ma", ucap Hardi ikut tersenyum
"kira kira anak mereka kembar ga ya? kan Dio sering tuh menggempur istrinya tiap malem, sampe hampir pagi malah", ucap Shila
__ADS_1
"sstt mama...", ucap Hardi
"eh.. hehe", ucap Shila tertawa kecil