
Beberapa bulan telah berlalu, Riri sudah menjalani terapinya dengan baik, kondisinya sudah membaik, dia memutuskan untuk melupakan masa lalunya, dia sudah tidak ingin berurusan dengan orang tuanya itu dan mengehentikan semuanya
Sikap ceria Riri yang dulu kembali lagi, dia tidak lagi dingin dan pendiam, dia sangatlah ramah dengan para pekerja di kantornya bahkan sering makan siang bersama dengan karyawannya. Kondisi Riri sudah lebih baik daripada sebelumnya, dia sudah hampir melupakan traumanya itu secara perlahan, dia bisa bernafas bebas sekarang
Memiliki pacar seperti Dio yang selalu merawatnya dengan baik penuh kasih sayang dan perhatian, dan juga para sekretarisnya hang selalu setia bersamanya. Itu semua sudah lebih dari cukup bagi Riri yang selama ini kurang merasakan hangatnya sebuah keluarga
"hallo guys", sapa Riri kepada karyawan di departemennya,
"selamat pagi bu Riri", sahut para karyawan
"hari ini kalian ada janji makan siang ga?", ucap Riri manja
"kalau saya sih ga ada bu", ucap Yuli
"saya juga ga ada bu", jawab Hafiz
"jadwal saya selalu kosong untuk bu Riri", ucap Adam
"saya selalu setia menemani bu Riri yang cantik ini", ucap Nita
"haha kalau begitu artinya semuanya kosong nih ya?", ucap Riri tertawa dan dibalas anggukan dari semua karyawannya
"baiklah kalau begitu, saya mau bawa kalian makan siang yang manis manis kali ini, di resto dekat sini, mau kan?",, tanya Riri tersenyum
"kami ga pernah nolak bu, ibu bawa kemana aja selalu nurut deh", ucap Natali tertawa
"baiklah kalau begitu, saya pamit dulu ya, oiya guys, kalian ingat meeting kita nanti kan? jangan sampai lupa ya, persiapkan juga diri kalian, ini adalah meeting penting untuk suatu proyek besar, jadi kita harus berhati hati", ucap Riri
"semua sudah siap bu Riri, ruangan juga sudah disediakan, tinggal menunggu kedatangan tamu tamu kita", ucap Nita tersenyum
"makasih banyak ya atas kerja kalian, syuka deh", ucap Riri tersenyum lalu pergi kearah ruangannya
Riri mengerjakan semua pekerjaannya, dia sangat sibuk dengan pekerjaannya itu, karena akan mengadakan suatu proyek besar dengan perusahaan Dio, mereka akan bekerja sama dalam suatu proyek sehingga kedua nya sama sama sibuk sekarang
Namun belum ada yang tau bahwa Dio dan Riri adalah sepasang kekasih, baik dari perusahaan Dio ataupun Riri, karena keduanya selalu sibuk dengan pekerjaan mereka dan hanya berkencan diluar jam kerja
Jam meeting pun tiba. Mereka semua berkumpul di ruang Meeting dikantor Riri. Semua yang berkumpul diruang Meeting terpesona melihat penampilan Riri yang begitu menawan.
Namun Suasana tampak tegang karena Dio yang terkenal sebagai CEO yang dingin sudah memasuki ruangan, lalu datanglah Riri yang menyusul dari belakang, dia CEO yang bisa menjadi dingin namun juga bisa menjadi hangat, hanya tinggal melihat situasi saja
Yang aneh dirapat ini adalah saat melihat Dio yang selalu tersenyum kepada Riri sepanjang rapat itu berjalan. semua orang di ruangan itu sangat bingung melihat interaksi kedua insan manusia itu kecuali Geri Harry dan Rendi yang sudah terbiasa, pasalnya, para petinggi petinggi perusahaan Dio belum pernah melihat senyum sebahagia itu dari CEO mereka itu
"apa dia sedang sakit?", bisik salah satu dari mereka
"sepertinya dunia akan kiamat jika aku melihatnya tersenyum begitu hari ini", jawab yang lain
"mungkin dia sedang menggoda bu Riri", ucap yang lain
"kau gila? tidak pernah menggoda gadis bahkan jika gadis itu menempel didepan wajahnya", ucap yang lain
"kau yang gila, kau tidak lihat bu Riri sangat cantik? mungkin saja hatinha sedikit bergeser", jawab yang lain
"kalian sudah bosan bekerja?", tanya Rendi yang sedaritadi mendengarkan percakapan mereka
"maaf tuan", ucap mereka serentak lalu kembali diam dan melihat lihat materinya
Rapat berlangsung lancar tanpa ada perasaan tegang sama sekali. Karena Riri yang memimpin rapat, dan saling adu ribuan ide yang ada dikepalanya dengan Dio yang juga tak ingin kalah dari pacarnya. Namun Riri selalu bisa mencairkan suasana dan mencari jalan tengah, dan juga Dio yang selalu tersenyum manis saat rapat.
__ADS_1
Kedua perusahaan itu kini telah resmi bekerja sama satu sama lain. Dio dan Riri berjabat tangan, saling menatap dan tersenyum, mereka hampir lupa kalau sedang berada diruang rapat dan sedang berperan sebagai CEO bukan sepasang kekasih yang sedang dilanda cinta
"hari ini kau sangat cantik sayang, dan juga berhasil menjadi CEO yang berwibawa, kau hebat sayangku, aku bangga padamu", bisik Dio.
Riri menyenggol kaki Dio, lalu pipinya memerah karena mendengar pujian dari Dio
"diamlah", ucap Riri malu.
Dio tersenyum melihat Riri yang sedang blushing itu, gemas rasanya dia sangat ini mencubit pipi kekasihnya itu, tapi lamunannya buyar saat mendengar tepukan tangan yang meriah dari semua orang diruangan itu
Mereka membanjiri Riri dengan pujian, mengingat usia Riri yang masih sangat muda, tapi mampu menjalankan perusahaan besar seperti ini dengan sangat baik, bahkan berkembang pesat dan juga harga saham yang semakin naik setiap harinya sejak berada dibawah pimpinan Riri
Setelah rapat selesai, para kolega Dio kembali kekantornya, sementara Riri mengundang Dio untuk duduk di ruangannya terlebih dahulu. Tentu saja Dio menyetujuinya dengan lapang dada,
Dio dan Riri jalan berdampingan mengarah ke ruangan Riri, semua karyawan Riri sangat terpesona dengan kedua insan manusia itu. Riri berhenti sebentar di ruangan departemen dan terlihat semua karyawan disana menyambut kedatangan Riri
"pagi bu Riri, ada yang bisa di bantu?", tanya Yuli tersenyum
"oh ga ada yul, ohiya kenalin ini Diovano Putra Wira Anggara, mulai sekarang beliau telah resmi bekerja sama dengan perusahaan kita", ucap Riri.
Mereka semua menunduk dan tersenyum kepada Dio, karena memang itu yang diajarkan Riri sejak awal
"Yul aku mau ngambil fotocopy-an ku tadi", ucap Riri berjalan kearah mesin fotocopy dan mengambil berkasnya
"bu Riri, saya bisa pingsan gini caranya", bisik Nita
"kenapa? kamu sakit?", ucap Riri polos
"bu saya juga bisa pingsan, itu pak Dio ganteng banget ya tuhan", ucap Natali
"lebay banget kalian", bisik Adam
"tapi emang ganteng banget woy, ga nyangka bisa ketemu langsung begini", bisik Hafiz
"suka banget lah bu, saya kagum banget malah", ceplos Yuli
"saya juga bu, jadi halu ya tuhan", bisik Nita
"haha lanjutin halu kalian nanti lagi ya, sekarang urus pekerjaan kalian", ucap Riri tertawa lalu bergeser dari tempatnya
Dio mengeryitkan dahinya melihat Riri membawa berkas berkas itu sendirian
"kau memfotocopy itu sendiri?", tanya Dio yang membuat semua karyawan Riri terdiam dan melihat ke arah Dio dan Riri.
"ho'oh kan cuma fotocopy", ucap Riri santai
"tapikan anggota mu banyak, sekretarismu juga ada, kenapa malah melakukan itu sendiri? kalau cape bolak balik ruanganmu gimana?", omel Dio
"ruanganku dekat kak, sini situ aja kok, lagian kan gapapa ngerjain ini sendiri, jadi badanku ga kaku duduk terus di ruanganku", jawab Riri tersenyum
"tapi kan nanti jadi...",, belum selesai Dio bicara sudah terdiam karena jari telunjuk Riri menempel di bibirnya
"ssttt, diam sebelum ku jejelin ini kertas ke mulut kakak, sekarang ayoo kita keruanganku", ucap Riri tersenyum lalu menarik tangan Dio
Semua karyawan terkejut melihat interaksi mereka berdua, kecuali Geri Harry dan Rendi yang sedaritadi disana, setia mengikuti Dio dan Riri kesana sini
"ssttt", ucap Geri kearah karyawan didepartemen Riri lalu pergi mengikuti Riri
Didepan pintu ruangan Riri, ada sekretaris Riri yang menyambut mereka
"kak Lia, tolong periksa dulu berkas berkas ini ya, saya ada tamu sebentar", ucap Riri menyerahkan berkas itu
__ADS_1
"baik bu Riri, akan saya periksa", ucap Lia, lalu menatap Dio dengan tatapan kagum. Riri menyadarinya
"apakah kau menyukainya?", bisik Riri
"suka banget bu, ganteng banget", bisik Lia girang
"kalau tatapan mu itu sudah selesai, kerjakan berkas berkas ini ya", bisik Riri tertawa
"ih ibu ini", ucap Lia malu
"Mari sini pak Dio", ucap Riri ke Dio, mereka semua masuk keruangan Riri
"Ger, tutup tirainya", ucap Riri
"sayang duduk sini", ucap Riri menarik tangan Dio lalu duduk di sofa
"kalian kenapa berdiri? gamau duduk?", ucap Riri ke Rendi Geri dan Harry. mereka pun duduk disofa depan Riri dan Dio
"pacarku sangat hebat hari ini, baru ini aku bisa merasakan langsung bagaimana cerdasnya kepalamu ini", ucap Dio mengelus rambut Riri, dan hanya di balas tawa kecil oleh Riri
"aku ingin menghilang rasanya" bisik Rendi
"aku melihat pemandangan ini hampir setiap hari", keluh Harry
"tuan Dio, nona Riri, tidakkah kasian kalian kepada kami bertiga ini yang selalu kalian anggap patung?", keluh Geri
"haha maaf ya, baiklah kalian tunggu disini dulu ya,", ucap Riri yang ingin pergi tapi tertahan tangan Dio
"mau kemana by?", tanya Dio
"aku akan membuatkan teh untuk kalian", ucap Riri.
"duduk", ucap Dio menarik Riri untuk Duduk di Sofa
"biar Rendi saja yang membuatnya, sana Ren buat", ucap Dio
"loh? tapi tuan...", ucap Rendi terpotong
"buat saja teh itu atau kau yang akan kujadikan teh", ucap Dio melotot
"baik tuan", ucap Rendi berdiri, lalu ditertawakan Harry dan Geri
"kenapa kalian tertawa, kalian juga sana, mau ngapai disini, bantu Rendi sana", ucap Dio
Geri, Harry dan Rendi pun pergi keluar dari ruangan Riri, diikuti tawa dari Rendi
"diam kau", ucap Geri
Mereka berjalan kedapur dan mempersiapkan yang disuruh oleh Dio
.
.
.
Kasian banget ya nasib 3 manusia itu, jadi nyamuk mulu >~<
makasih ya guys udah mampir kesini
stay safety ya semua :)
__ADS_1
bye bye >•<