
3 hari kemudian...
Terlihat Riri yang masih bekerja di ruang kerjanya sejak pagi, dia kesal karena suaminya masih tidak memperbolehkannya bekerja ke kantor untuk sementara waktu
Riri sudah menyuruh bawahannya untuk memata matai orang orang yang hampir menerobos masuk ke salah satu cabang perusahaannya. Dia juga memeriksa semua laporan laporan dari perusahaan induk, dia tersenyum melihat pekerjaan Zikri yang semakin baik meng-handle perusahaan saat dia tidak ada disana.
Lalu Dio masuk ke ruang kerja istrinya itu, dia melihat istrinya tersenyum, membuatnya juga tersenyum senang, sudah lama dia tidak melihat senyuman itu dari istrinya
"sayang, sudah waktunya makan siang",, panggil Dio
"iya sayangku, aku akan turun sebentar lagi, kau turunlah lebih dulu", ucap Riri
"baiklah sayang", jawab Dio langsung melesat turun kebawah
Saat ditangga, Dio menerima telfon dari bawahannya, dia menerima kabar tidak baik yang akan merusak suasana hati Riri
"kau terus awasi dia, dan jangan kehilangan jejaknya", ucap Dio dengan nada serius, lalu menutup telfonnya, Dio memijat pelipisnya
"ada apa?", tanya Joi
"kak, sepertinya kucing imut kita akan berubah menjadi singa hari ini", ucap Dio
"apa maksudmu?", tanya Joi
"orang tua Riri, mereka muncul kembali dan mencari keberadaan Riri, aku sungguh takut", ucap Dio
"apa yang kau takutkan? bukankah Riri akan bahagia jika orang tua datang?", tanya Joi
"kak kau ini bodoh atau gimana?", tanya Dio kesal
"apa maksudmu?!", pekik Joi ingin memukul adiknya itu
"apa kau lupa dengan yang diceritakan papa tentang orang tua Riri?", tanya Dio, Joi tampak berfikir sejenak, lalu
"astagaa, aku tidak ingat", ucap Joi menepuk jidatnya sendiri
"bodoh", umpat Dio kesal
"lalu bagaimana jika mereka kembali bertemu?", tanya Joi
"hanya dua pilihannya",, jawab Dio
"apa?", tanya Joi memiringkan kepalanya
"antara Riri akan mengamuk dan meluapkan semua amarahnya atau dia menjadi drop dan tenggelam lagi kedalam luka lamanya", ucap Dio
"kau tenang saja, aku akan membantumu melindungi gadis kecil kita itu, dia juga adikku kan sekarang", ucap Joi merangkul Dio
Dia juga merasakan kekhawatiran terhadap Riri, sungguh dia juga menyayangi Riri sejak kecil dulu, sama seperti Dio.
Mereka berkumpul di meja makan, menunggu Riri yang belum turun, Dio juga menceritakan tentang orang tua Riri kepada mama dan papanya. Tentu saja Hardi dengan sigap membuat penjagaan yang ketat di mansionnya, dia, juga mengawasi perusahaan induk milik Riri dan juga perusahaan milik Dio
__ADS_1
Riri pun turun dan datang ke meja makan, dengan senyuman menawan, dia belum mendengar kabar tentang orang tuanya itu,
"hallo, maaf ya terlambat", ucap Riri lalu duduk dikursi
"gapapa sayang", ucap Dio tersenyum
Namun saat ingin memulai makan, Riri terus menatap makanannya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan,
"ada apa sayang?", tanya Dio
Riri menatap Dio sejenak, ekspresinya berubah lagi, dia memberikan senyuman manis kearah Dio.
"gapapa sayang", jawab Riri tersenyum lalu menatap kembali piring nya dengan wajah yang berbeda lagi
Shila melihat itu, dia sadar bahwa Riri tidak menyukai menu hari ini
"ma", panggil Riri pelan
"ya?",, sahut Shila
"siapa yang memasak ini?", tanya Riri
"bi Sumi sayang, ada apa? apakah kau tidak menyukainya?", tanya Shila
"sepertinya ini lezat mam, tapi Riri ga suka", jawab Riri
"maaf ma", lanjutnya
"bii!!!", panggil Shila
"ya nyonya? ada apa nyonya?",, tanya bi Sumi
"masakkan ulang makan siang untuk Riri, ganti menunya, dia tidak menyukai menu ini",, jawab Shila
"kenapa tidak suka nyonya? bukankah ini lezat?", tanya bi Sumi
Riri tidak suka mendengar itu, kali ini benar benar kehilangan mood dan nafsu makannya, dia menatap tajam kearah bi Sumi seakan bisa menerkamnya kapan saja dan dimana saja
Bi Sumi yang melihat itu tertunduk dan terdiam, dia sepertinya sadar kalau sudah salah ngomong
"baik nyonya akan saya ganti", ucap bi Sumi lalu menarik piring milik Riri, namun Riri menahannya
"ga perlu", ucap Riri dingin sambil menatap piring itu, dan tangannya menahan tangan bi Sumi
"bukankah tadi kamu bilang tidak suka dengan menunya sayang?", tanya Shila
"aku suka", jawab Riri datar dengan wajah yang menyeramkan, dia mulai memakan isi piringnya itu tanpa dikunyah
Semua orang melihat pemandangan itu, sedikit bergedik takut, karena tau bahwa suasana hati Riri sudah menjadi buruk, bi Sumi yang masih berdiri disamping Riri juga ikut merinding, sedangkan Shila komat kamit kearah bi Sumi
Dio dan Joi saling tatap melihat Riri, feelijg mereka tidak enak melihat ini
__ADS_1
"*kenapa harus dibantah sih bi", batin Dio melotot kearah bi Sumi
"hanya karena 1 kalimat, benar benar merubah suasana hatinya, apakah ini karena traumanya juga?", batin Shila
"benar benar menyeramkan, jika dia tau tentang orang tua nya, dia mungkin tidak akan melepaskan mereka hidup hidup", batin Joi
"lihatlah Tio, karena ulahmu, putrimu tenggelam dalam traumanya dan membuat dia menjadi seperti ini, ku yakin semoga secepatnya kau ditemukan oleh Riri dan di mutilasi hidup hidup, supaya kau merasakan apa yang dirasakan anakmu karena ulah bodohmu itu", batin Hardi*
Isi piring Riri habis dalam sekejap mata, dia duduk tegak di kursinya dan mengelap mulutnya dengan tisu, lalu menatap bi Sumi dengan tatapan mematikan
"apa bibi tau alasan kenapa aku tidak menyukai menu lezat ini?", ucap Riri dingin kearah bi Sumi
"ti-tidak nyonya", jawab bi Sumi
"beberapa tahun yang lalu, menu ini adalah saksi saat aku hampir mati karena ayahku sendiri", ucap Riri pelan, lalu menengguk minumannya
Bi Sumi menelan ludahnya dengan susah payah saat mendengar ucapan Riri. Mereka semua juga terkejut mengetahui itu, benar benar ingatan Riri sudah kembali sepenuhnya
"kalau kakekku dan papa Hardi tidak datang hari itu, mungkin bibi tidak akan melihat duduk dikursi ini dan memakan menu ini lagi", ucap Riri dingin, wajahnya menunjukkan ekspresi antara marah dan sedih, bisa terlihat banyak kekecewaan dimatanya
"itulah alasan kenapa aku sangat membenci menu ini!", ucap Riri pelan dan menatap tajam ke arah bi Sumi
"aku permisi", ucap Riri lalu berdiri dan melangkah pergi, namun sesaat kemudian dia berbalik lagi menatap tajam kearah bi Sumi
Tentu saja jantung semua orang disana berdegup kencang melihat ekspresi Riri. Riri lalu mendekati bi Sumi hingga tercekat oleh meja, wajahnya semakin dekat dengan bi Sumi, tangannya mengambil handphonenya yang ada dimeja, sementara bibirnya berbisik ditelinga bi Sumi
"jangan sampai aku berubah menjadi psikopat dan membuat bibi merasakan juga luka luka dari masa lalu ku, hanya karena lidah bibi yang tidak bisa ditahan", ucap Riri pelan, namun bisa terdengar oleh semua orang dimeja makan
Riri lalu menyeringai didepan bi Sumi,
Itu bukan senyuman manis, itu seperti sebuah ancaman.
Lalu Riri menghilang ntah kemana, meninggalkan semua orang dimeja makan yang masih terkejut dengan kata kata Riri,
"dia benar benar tenggelam dalam masa lalunya",, ucap Shila lemas
"bahkan dia masih ingat hal hal kecil saat kejadian dihari itu", ucap Hardi
"pa, aku benar benar khawatir, dia bisa melakukan hal hal nekat kapan saja", ucap Dio
"jangan biarkan dia lepas dari pengawasanmu yo, dia benar benar bisa menggila dan tidak mengenal kata maaf", ucap Hardi
"apa maksud papa?", tanya Dio
"kini segala hal tentang orang tua nya, bukan lagi berbentuk air mata, tapi berbentuk amarah dan dendam dari lubuk hatinya, dia tidak akan menangis lagi seperti sebelumnya, namun dia bisa saja membunuh orang lain karena amarahnya", ucap Hardi
"bagaimana papa bisa tau?", tanya Joi
"dokter Fira yang mengatakannya saat Riri koma waktu itu, dia mengatakan kemungkinan itu akan terjadi setelah Riri sadar dari komanya, dan ternyata, ini benar benar terjadi", ucap Hardi
Dio tidak mampu berkata apa apa lagi, dia benar benar takut kehilangan Riri karena luka masa lalu Riri
__ADS_1