
*Flashback on*
"*ternyata ini jawaban dari rasa tidak enak di hatiku beberapa hari belakangan ini"
"disatu sisi, aku merasa sangat lega karena semua yang dihatiku sudah tidak ku pendam"
"tapi disisi lain, aku merasa sangat bersalah dengan kata kata ku"
"ottokke?"
"aku tidak pernah membayangkan akan ada kejadian seperti ini"
"ini semua sangat nyata*"
"tak kan kubiarkan mereka lepas begitu saja, akan ku kembalikan apa yang mereka berikan padaku"
Riri pun berjalan ke aula setelah diam diam melihat Dio keluar ruangan. Dia berjalan ke aula dan membereskan semua kekacauan atas amukan amarahnya tadi sambil mendengarkan para seniornya yang sedang marah di lapangan
"percuma kau menangis kak, mereka bukan manusia, air matamu bukan lah apa apa dimata mereka", ucap Riri yang melihat Riana marah marah dilapangan, lalu melanjutkan bersih bersihnya
"loh? kok ga ada suara lagi ya? oh udah tenang mungkin", batin Riri
Saat sedang berberes, Riri menjatuhkan beberapa barang
"duhh", ucap Riri
*Flashback off*
scene berpindah ke Dio dan teman temannya
Riri tidak ada di ruangan yang tadi
"loh? Riri kemana?!", tanya Dio panik
"kau yakin meninggalkannya disini yo?", tanya Fauzan
"sangat yakin, aku tidak salah ruangan kok", jawab Dio. Saat sedang panik mereka semua mendengar sesuatu dari arah aula
"suara apa itu?", tanya Vino melihat keluar pintu
"itu dari arah aula", Ucap Raini
"Riri?!", jawab mereka semua serentak lalu berlari ke aula. Setelah sampai di depan pintu aula, mereka semua berhenti mendadak karena Dio terhenti langkahnya di pintu, dia seperti percaya tidak percaya melihat yang terjadi di depan matanya sekarang
"yyakkk! kenapa kau berhenti tiba ti...", belum sempat Vino mengomel, dia juga ikut terdiam melihat apa yang dilihat Dio
"Haii kak, maaf ya kak, aku belum selesai berberesnya, kakak bisa kembali lagi nanti setelah semuanya selesai, aku akan...", belum sempat Riri selesai bicara, Dio berjalan kearahnya dan memeluknya
Deg! nafas Riri terhenti sementara
"apa ini?"
"...memanggil kakak untuk membicarakan sesuatu", lanjut Riri
"kenapa kau kesini? bukankah sudah kukatakan tadi jangan kemana mana dan tetap di tempatmu?!", ucap Dio yang kesal lalu melepas pelukannya
"maaf kak mungkin aku ga dengar karena sedang nge blank tadi", jawab Riri
"mari ku bantu berberes", ucap Raina
"lihatlah tanganmu itu, berdarah lagi, sini aku perbaiki lagi perbanmu", Ucap Riani yang menahan air matanya, lalu menarik Riri untuk mengobati luka Riri yang berdarah lagi karena berberes
"kau duduk disini dulu ya, aku ambil kotak p3k dulu, dan tetap ditempatmu", ucap Raini yang masih menahan sesak di dadanya, dia bisa melihat di mata Riri terlalu banyak rasa kecewa yang harus ditelannya
Semua senior Riri berberes di aula, setelah selesai, mereka berkumpul di dekat Riri yang sedang di obati Raini
"kenapa kau berberes Ri? lukamu ini belum kering", ucap Raini, tangisannya pun pecah, lalu memeluk Riri. Tak hanya Raini, semua yang disitu ikut menangis
Mereka melepas pelukannya, lalu Vino menggenggam tangan Riri
"kami sebagai kakak seniormu minta maaf atas kelalaian kami semua dek, kami gagal menjaga adek adek junior kami sampai kecolongan begini lamanya", ucap Vino sambil menangis melihat mata Riri dengan tatapan kosong. Semua yang melihat Riri bisa merasakan sakit di hati Riri. Riri tetap diam tak bersuara, sampai beberapa menit kemudian...
"aku juga minta maaf atas salahku kak, aku belajar bertanggung jawab atas sikapku, aku membersihkan aula karena kacaunya juga garagara aku, dan juga, maaf karena mendorong kakak tadi, maaf karena sudah membuat keributan disini kak", ucap Riri dia sudah tidak menangis, hatinya sangat sakit, tapi air matanya sudah tidak mengalir
__ADS_1
"kak, Riri minta maaf atas sikap Riri tadi ke kakak, Riri ga bisa ngontrol emosi Riri lagi", ucapnya sambil memegang tangan Raini
Raini pun menatap Riri dengan mata berbinar, air matanya mengalir begitu saja
"dada kakak pasti sakit garagara aku dorong tadi ya kak? tangan kakak juga luka, aku minta maaf ya kak", ucap Riri yang melihat luka di tangan Raini
"Kau ini, lihat kondisimu sekarang sudah sangat kacau, tapi masih sanggup memperhatikan orang lain", ucap Riana yang kesal sambil menghapus air matanya
"aku gapapa kak, santuy", ucap Riri tersenyum
"aku sendiri pun sama sekali ga nyangka kalo aku punya tenaga untuk ngamuk seperti itu", ucapnya sambil tertawa
"tapi kenapa kau bisa langsung berberes di aula padahal barusan saja mengamuk?", tanya Fauzan yang masih menangis
"aku melawan diriku sendiri kak, kalo aku terus menuruti amarahku, ga akan ada habisnya, bisa bisa ku penggal kepala mereka semua, kakak ga percaya? nih aku bawa pisau", ucap Riri sambil mengeluarkan pisau dari kantongnya.
"a-aku p-percaya padamu Ri, t-tapi lepas pisau nya Ri itu berbahaya", ucap Dio yang ngeri dengan pisau yang di tangan Riri, lalu mengambilnya dengan perlahan
"ngeri anjir", ucap Fauzan yang masih kaget
"kau bisa senekat itu Ri?", tanya Vino
"kenapa tidak kak? selama ini aku hanya menahannya, hanya karena aku tidak ingin berurusan dengan seangkatanku", jawab Riri dengan senyuman tipis
"kenapa kau tidak ingin?", tanya Dio
"menyiapkan fondasi", jawab Riri sambil tersenyum
Mereka yang disitu sedikit takut melihat sikap Riri
"Ri kau tak akan jadi psikopatkan?", tanya Riana. Tapi Riri tak menjawab dan hanya tersenyum
"kak, setiap manusia yang hidup di bumi ini adalah manusia munafik, hidup dalam kebencian dihatinya untuk orang lain dan bersikap manis diwajahnya, kalopun ada yang ga munafik, bisa dihitung pakai jari", ucap Riri ke Riana
"maksudmu?", tanya Raini bingung
Riripun menghela nafas panjang
"nanti juga kakak tau maksud dari perkataanku tadi", batin Riri
"selesaikanlah urusanmu, aku mendukungmu, bahkan jika itu adalah balas dendam aku akan sangat mendukungmu dari sudut manapun", ucap Dio datar
"gumawo oppa", jawab Riri sambil tersenyum
"o-oppa?", tanya Dio terbata bata
"em oppa, bukankah itu terlalu muda untuk kakak yang sudah berumur 26 tahun?", jawab Riri
"yakk! aku ga se-tua itu", ucap Dio kesal
"aku izin pulang ya kak, bolehkan kak?", tanya Riri sambil mengambil tasnya
"yuk ku antar", jawab Dio
"aku naik sepeda kak", jawab Riri
"nanti sepedamu diantarkan Vino, kau pulang denganku naik mobil dan jangan membantahku", ucap Dio sambil berjalan keluar ruangan
"em pulanglah Ri, nanti aku antarkan sepedamu", ucap Vino
"hati hati ya kak, sepeda itu adalah salah satu bukti dari hasil ku sendiri, jadi jangan sampe kenapa kenapa", ucap Riri
"iya Riri santuy", jawab Vino
Riri pun segera menyusul Dio ke parkiran, dia menghiraukan junior dan seangkatannya yang sedang dijemur di lapangan
Di mobil
"kak, ada mau ku tanyakan", ucap Riri membuka percakapan
"silahkan", jawab Dio datar dengan deep voicenya itu
"apa pekerjaan dikantor kakak sangat sibuk?", tanya Riri
__ADS_1
"tidak?", jawab Dio datar
"benarkah?", tanya Riri lagi
"em", respon Dio.
"jam pulang kantor jam berapa kak?", tanya Riri lagi
"jam 5 sore", jawab Dio
"kalo lembur biasanya sampe jam berapa kak?", tanya Riri, kali ini dia menatap Dio
"mulai jam 7 malam sudah sangat sepi dikantor, paling lambat lembur adalah jam 8, setelah itu kantor sudah tidak ada manusia lagi didalamnya", ucap Dio sambil menghela nafas,
"oh", respon Riri singkat
"kenapa? kau ingin mengajakku kencan?", lanjutnya
"ga", jawab Riri datar. "lalu kenapa selama ini mama dan ayah selalu pulang terlambat? bahkan sampai jam 11 malam? kemana mereka pergi?", tanya Riri
"ayah dan mama mu bekerja perusahaanku?", tanya Dio
"iya kak", jawab Riri singkat
"siapa namanya? kenapa aku tidak pernah tau", tanya Dio lagi
"posisinya direktur utama kak, dan mama sebagai asisten ayah, nama ayah Tio Wibowo dan mama Yu Ningtias Putri ", jawab Riri
"aku rasa kau keliru Ri, direktur utama diperusahaanku adalah adiknya papaku, dan namanya bukan itu", ucap Dio
"hah? ga mungkin", ucap Riri yang masih ga percaya dan mulai bingung
"baiklah, mari kita pastikan dulu ya", jawab Dio yang sedang menelpon bawahannya
"halo, selamat sore tuan"
"halo Rendi, coba kau sebutkan nama direktur utama diperusahaan kita dan juga nama sekretarisnya",
"bukankah direktur utama diperusahaan kita adalah adiknya papa tuan? mengapa tuan menanyakan namanya?"
"ada seseorang yang harus kuyakinkan disini, jawab sajaa!", bentak Dio
"maaf tuan, namanya adalah pak Zainal Wira Anggara dan sekretarisnya bu' Zulianti tuan"
"sudah dengar Ri?", tanya Dio ke Riri yang terlihat sangat bingung
"maaf tuan? dengar apanya?"
"bukan kau!", bentak Dio
"maaf tuan"
"aku dengar kak, tapi aku masih tidak percaya, pikiranku sungguh kacau", jawab Riri yang masih bingung
"kalau begitu kita ke kantorku, kita cek ya", ucap Dio
"apa tidak apa apa kak?", tanya Riri ragu
"ren, kau siapkan beberapa file untuk cek dikantor nanti, kau tahu kan yang ku maksud?",
"baik tuan, akan saya siapkan segera".
"dan juga di kantor siapkan beberapa cemilan dan minuman", ucap Dio dan langsung mematikan telfon
Dio pun memutar arah mobilnya dan sedang perjalanan menuju kantor, dia bisa merasakan sesuatu yang janggal tentang orang tua Riri dan juga bisa melihat kebingungan dimata Riri
.
.
.
Kira kira ada apa ni ya? apa yang di sembunyikan orang tua Riri?
__ADS_1
Nantikan di episode selanjutnya ya manteman
Bye bye >•<