
Pagi harinya, Dio dan Riri kembali lagi ke mansion papanya, mereka diminta menginap disana selama seminggu. Dio menuruti permintaan mamanya itu. Setelah sampai dimansion papa Hardi, mereka disambut oleh mertua dan kakak ipar Riri itu
"gadis kecilku sudah selesai malam pertamanya?", sambut Joi yang membuat pipi Riri memerah
"kau ini, lihatlah pipinya memerah seperti udang rebus", ucap Shila memukul Joi
"aw", pekik Joi
"gimana sayang?", tanya Shila mendekati Riri
"mama pun sama aja", ucap Joi kesal
"mama, kakak, hentikan, istriku lelah, biarkan ratu ku ini istirahat dulu, kenapa kalian menggodanya begitu", ucap Dio merangkul Riri
"ma, Riri istirahat dulu ya, Riri masih cape karena acara kemarin", ucap Riri agak canggung, karena lehernya penuh dengan tanda merah gara gara ulah Dio
"karena acara atau karena Dio?", goda Hardi
"heii Riri, jika dia terlalu ganas, kau bisa mengadu kepadaku, biar ku hajar dia", goda Joi mengedipkan mata
Riri menjadi malu, dia tersenyum canggung dsn terus menggigit bibir bawahnya itu. Dio melihatnya dan tersenyum nakal
"ayo sayang",, ucap Dio merangkul Riri
"heii mau kau bawa kemana mantu ku itu Dio?",, teriak Shila
"kekamarku dong ma", ucap Dio terus menaiki tangga
"heii biarkan Riri istirahat, tenaganya habis karna mu", teriak Joi
Dio lalu berhenti dan menoleh kebelakang sejenak
"ini kan juga mau di charger kak", jawab Dio santai
Pipi Riri merona mendengar itu, dia memukul dada bidang suaminya itu, dan mencubit perutnya
"sayang, hentikan itu...", gerutu Riri sambil melotot
"lihatlah ma ada yang sudah tidak sabar, bye mama, muah", ucap Dio lalu melesat kekamarnya
Hardi, Shila dan Joi tertawa melihat Riri yang salah tingkah karena ulah mereka
"ah iya papa, aku ingin mengunjungi perusahaan yang disini, bolehkan?", tanya Joi
"boleh, pergilah, mama dan papa ada urusan diluar, kau bisa sendiri kan?", tanya Hardi
"iya pa bisa", jawab Joi
"ah iya, nanti kau dan Dio bimbing juga Riri untuk mengelola perusahaan dibelanda yang dijadikan sebagai mas kawinnya", ucap Hardi
"oke pa tenang aja", jawab Joi
Mereka pun pergi dengan tujuannya masing masing, sementara Dio membawa Riri masuk kedalam kamarnya lalu menguncinya
"sayang, kamarmu sayang mewah, lebih mewah daripada kamarku yang disebelah sana", ucap Riri
"dimansion kita nanti, kamar kita lebih mewah lagi sayang", ucap Dio lalu mengecup bibir Riri
"sayang aku ingin berendam lagi, badanku masih terasa pegal", ucap Riri
__ADS_1
"ah, ada kolam renang dikamarku sayang, kau bisa berenang disana nanti",, ucap Dio memeluk Riri lalu berbaring di ranjangnya
"kolam renang? didalam kamar? kau bercanda sayang?", tanya Riri bingung
"nanti ku tunjukkan sayang, tidurlah dulu disini, akan ku pijat istriku tercinta ini",, ucap Dio
🚫warning 18+🚫
Dio mencium bibir manis Riri lalu membuka pakaiannya satu persatu hingga tidak tersisa sama sekali. Riri terbuai oleh permainan suaminya itu. Dia tidak melawan dengan segala sesuatu yang dibuat suaminya, justru sangat menikmatinya hingga membuatnya mengeluarkan suara desahan desahan indah, yang membuat Dio semakin bersemangat
Dio terus menikmati setiap inci tubuh Riri, dengan tangannya yang lincah, membuat Riri berulang kali mencapai puncaknya. Hasrat dalam dirinya semakin menggebu gebu, dia ikut melepaskan semua pakaiannya, lalu bersiap menerkam Riri
Sekali percobaan, gagal, itu terlalu sempit untuk ditembus. Riri merasakan sakit, dia mencoba berpegangan dengan sprei ataupun selimut.
"sayang",, lirih Riri
"tahan sayangku, ini akan sakit",, ucap Dio lalu menekan dengan perlahan benda miliknya dan menerobos masuk, lalu membenamkannya sejenak
Riei berteriak kesakitan, tangannya menarik sprei semakin kuat
"aaarghhh",
air mata Riri menetes dari ujung matanya
dia mengerang kesakitan merasakan benda besar itu menerobos tubuhnya
"sakit...", lirih Riri sambil menangis
"sebentar lagi kau akan menikmatinya sayang, panggil saja namaku, lakukan semaumu pada dadaku jika masih sakit",, bisik Dio
Dio lalu memulai tarian indahnya secara perlahan, membuat Riri mengerang kesakitan dan terus meremas sprei. Namun beberapa saat kemudian Dio menambahkan sedikit kecepatannya, membuat rasa sakit itu berubah menjadi suatu rasa yang nikmat
Desahan sepasang suami itu saling bersahutan memenuhi seisi kamar. Dio hampir mencapai puncaknya, dia mempercepat gerakannya, membuat Riri semakin menggila merasakan nikmat yang diterima tubuhnya. Riri terus memanggil nama Dio dan mendesah
"dioo.. aku.. mau... pi...pis",, desah Riri yang merasakan akan ada sesuatu yang tumpah daribawah sana
"me too baby, come on",, bisik Dio
Lalu beberapa saat kemudian mereka melepaskan hasil bercintanya itu bersama sama. Riri merasakan seperti ada sengatan listrik yang menyengat tubuhnya, dia mengejang memeluk Dio dan menggigit pundak Dio.
Ada cairan hangat yang menyembur masuk didalam tubuhnya, Riri lemas tak berdaya, dan pingsan. Dio juga lemas, dia melihat Riri pingsan, lalu menghentakkan tubuh Riri dari bawah, lalu kemudian mencabut miliknya itu dari sana
Terlihat olehnya bercak darah segar di benda miliknya dan milik Riri, dan juga di sprei putih itu. Dio tersenyum puas, lalu mengecup leher Riri dan memberi tanda merah disana.
"perawan", gumam Dio
Dia memeluk Riri lalu membisikkan terima kasih ditelinga Riri, lalu tertidur bersama
-_-_-_-_-_-_-
Senja akan datang, Riri terbangun dari pingsannya dan mendapati Dio yang sedang tertidur memeluk dirinya. Tubuhnya terasa remuk sekarang. Dia mencoba bangun, tapi terasa sangat perih didaerah kewanitaannya. Riri meringis pelan. Dio mendengarnya dan terbangun
"kenapa sayang?", tanya Dio
"sakit", rengek Riri lalu meneteskan air mata
"masih sakit? maaf ya sayang", ucap Dio lalu memeluk Riri
"kenapa minta maaf, itu kan hak kakak", ucap Riri
"sayang, makasih ya udah menjaga dan memberikan kehormatanmu kepadaku, kau sudah menjadi milikku sepenuhnya sekarang", ucap Dio
__ADS_1
"iya sayangku, sama sama, tapi ini gimana? masih sakit", rengek Riri
"mari kubantu kekamar mandi, aku mandikan", ucap Dio
"no no no, no", ucap Riri memundurkan badannya
"aku ga akan menyerangmu lagi sayang, janji deh", ucap Dio
"bener?", tanya Riri dan Dio mengangguk
Dio lalu membawa istrinya itu kekamar mandi dam memandikannya, sesuai janjinya, dia tidak menerkamnya lagi. Terlihat jalan Riri sedikit pincang, Dio sungguh tidak tega, dia pun menyuruh istirahat saja dikamar dan akan memanggilkan tukang pijit
Tentu saja Riri menurutinya, jelas jelas badannya hampir remuk rasanya, mana mungkin ditolak. Dio menelfon tukan pijit agar datang ke mansion papanya, dan juga menyuruh pelayan memasak makanan kesukaan Riri
"Dio, mana Riri?", tanya Shila
"dia dikamar ma, badannya agak demam karena kecapean",, ucap Dio
"kenapa bisa kecapean? pasti ulahmu kan?",, goda Hardi
"hah? ah ngga... e-emang dia cape katanya... gitu",, jawab Dio gugup karena memang dia pelakunya
"yasudah panggilkan dokter Fira, biar memeriksa Riri, mama akan memeriksanya juga", ucap Shila
"iya ma", jawab Dio
"pelan pelan saja yo, kasian Riri", bisik Hardi
"ah papa berhenti... menggodaku", ucap Dio gugup
Hardi tertawa lalu mengajak Dio kekamarnya, dia juga ingin melihat kondisi Riri.
"ah ini sudah jelas ulah Dio", ucap Shila yang melihat tanda merah dileher dan pundak Riri
Riri melirik ke Dio, sedangkan sang pelaku justru malah salah tingkah
"kau ini, liat istrimu juga, jangan asal menerkam saja seperti singa lapar", omel Shila memukul Dio
Dio mengelak dan Riri tertawa melihatnya
"suamimu itu memang sama saja seperti papanya, kamu harus kuat sayang, lawan dia", ucap Shila kepada Riri
"iya sayang, harus kuat seperti istriku ini", goda Hardi ke Shila
"hentikan sayang, kau nakal", ucap Shila manja
Riri dan Dio tertawa melihat itu. Lalu tak lama kemudian, dokter Fira datang dan memeriksa Riri, dia hanya memberi obat dan menyuruh Riri istirahat. Setelah itu, tukang pijit yang dipanggil Dio juga datang. Riri oun segera di pijit, didampingi dengan Dio yang selalu setia menunggunya. Sementara Shila dan Hardi keluar dari kamar mereka
"wah tuan, pelan pelan atuh tuan, kasian ini nyonya muda banyak merah merah di badannya,, udah seperti di serang serangga", ucap Bi Elin
"hahaha iya bi, serangga nakal yang bisa nyerang kapan aja", jawab Riri tertawa
Dio sedikit malu, tapi Riri justru tertawa bahagia seperti tidak ada beban. Setelah selesai sesi pijit, Riri tetap istirahat dikamarnya dan terlelap, dia tidak dibolehkan menyentuh pekerjaan oleh Dio
.
.
.
Bener bener jadi ratu ya si Riri :)
__ADS_1