
Setelah sekian jam perjalanan, akhirnya Riri sampai dirumah sakit. Ini sudah lewat tengah hari, namun cuaca sepertinya sedang tidak baik, hari ini sangat mendung dan gelap. Riri berjalan masuk kerumah sakit, dia juga sudah memanggil beberapa perawat agar memberikan perawatan intensif kepada Ara, Varel, Koko dan Basree
"letakkan mereka dalam 1 ruangan di ruang VVIP yang kosong", ucap Riri kepada dokter itu lalu pergi masuk kedalam lift
Didalam lift, Riri masih merasa marah, tidak tau kenapa, amarah didalam hatinya tidak bisa mereda. Semua sakit hati yang selama ini dia alami terus melayang layang dikepalanya
ting!
Lift terbuka, Riri keluar dari lift dan berjalan dengan perlahan sehingga suara langkah kakinya bergema disepanjang lorong. Hingga pada akhirnya Riri sampai didepan ruangan tempat keluarganya dirawat
Riri membuka pintu itu lebar lebar, membuat semua orang didalam ruangan menatapnya
"sayang?", tanya Dio terkejut
"kak Karin? kok baju...", ucap Jiah menutup mulutnya
"Riri?", tanya yang lainnya ikut terkejut
Tentu saja mereka terkejut melihat penampilan Riri yang masih penuh darah dimana mana, bahkan diwajahnya pun masih ada bercak darah dari musuhnya tadi pagi.
Dio ingin berjalan mendekati Riri, namun Riri mengangkat tangannya
"jangan bergerak", ucap Riri membuat langkah Dio terhenti seketika
"darah siapa itu?", batin Dio sambil menatap Joi
"apakah mungkin?...", batin Dio memiringkan kepalanya
Joi mengangguk pelan seakan mengerti pertanyaan Dio
Sedangkan Dio terkejut dan menutup matanya. Riri paham dengan kode Joi dan Dio, dia lalu tersenyum dan menutup pintu, lalu menarik kursi dan duduk ditengah tengah mereka semua
Riri lalu mengeluarkan pistol dari tasnya, sontak membuat mereka semua terkejut
"ini pistol yang digunakan Alexa saat hampir membunuhmu dan pada akhirnya mencelakai Geri", ucap Riri melemparkan pistol yang masih ada bercak darah Alexa itu kepada Harry
Harry menangkap pistol itu, lalu dia melihat ada bercak darah ditangannya, dia mengeryitkan dahinya
"darah siapa ini nona?", tanya Harry
"menurutmu?", tanya Riri balik
"Alexa", ucap Rendi dan Nita membulatkan matanya
"nice", jawab Riri
Rara dan Nita terkejut dengan itu, dia menutup mulutnya karena melihat pistol itu dan darah Alexa. Sedangkan Geri, Harry, dan Rendi menelan ludah melihat pistol itu
Riri lalu mengeluarkan benda lagi dari tasnya, kali ini adalah alat perekam suara yang sudah dipersiapkan Riri
__ADS_1
"ini adalah rekaman, detik detik kematian mommymu, maaf", ucap Riri melemparkan alat itu kepada Jiah
Tentu saja Jiah terkejut, apalagi melihat alat itu ada bercak darahnya
"kau bisa memutar itu nanti", ucap Riri
"mommy? meninggal?", tanya Jiah gugup
"iya, aku yang membunuhnya", ucap Riri dengan nada dingin dan memainkan pisau ditangannya
"ka-kakak?", tanya Jiah terbata
"untuk saat ini aku bukan kakakmu, aku hanyalah pembunuh orang tuamu, aku hanyalah orang yang membalas dendam kepada orangtuamu karena telah merusak hidupku dan keluargaku", ucap Riri menatap Jiah dengan tatapan tajam
Selama bertemu Riri, baru kali ini Jiah mendapatkan tatapan mengerikan seperti itu dari Riri
"maafkan aku harus membuatmu menjadi yatim piatu, karena selama ini, mommymu juga membuatku seperti anak yatim piatu walaupun kedua orang tuaku masih hidup", ucap Riri dengan nada menahan amarah, tangannya menggenggam erat pisau itu hingga membuat tangan Riri terluka
"jika kau bertanya dalam benakmu, 'kenapa harus aku yang menanggung? aku hanya seorang anak, yang bersalah adalah orang tuaku', haha singkirkan pikiran itu jauh jauh dari kepalamu, karena aku juga seorang anak yang harus menanggung semua itu selama 18 tahun", ucap Riri menatap tajam kearah Jiah
"apa kau tau? bahkan apa yang sudah kulakukan kepada mereka, belum ada apa apanya dibandingkan yang selama ini aku rasakan", ucap Riri menancapkan pisau itu tepat diranjang Ningsih, membuat Ningsih bergetar ketakutan
"ka-kak, ma-maafkan mo-mommy",, ucap Jiah terbata, dia sangat takut melihat wajah Riri yang sedang penuh amarah
"aku tidak akan pernah memaafkannya Jiah, walaupun jika sekarang dia masih hidup dan bersujud dikakiku, aku tidak akan pernah memaafkannya", ucap Riri tersenyum
Jendela itu pecah, kursi itu terlempar keluar. Semua orang ketakutan melihat Riri
"bahkan jika nyawamu sekalipun aku rebut juga, itu tidak akan pernah cukup membayar semua yang dia lakukan padaku", ucap Riri lagi
Jiah menggigil ketakutan melihat Riri, pada akhirnya dia juga ikut merasakan kemarahan Riri akibat perbuatan mommynya.
"aku juga membunuh ayahmu, orang yang hampir melecehkanmu saat dirumah sakit, dokter Nicolas, dia ayahmu", ucap Riri melemparkan flashdisk kepada Jiah
Jiah menutup mulutnya, dia tak menyangka dengan semua ini. Sungguh hatinya tidak bisa menerima kenyataan ini, dia seperti merasakan batu besar menghantam tubuhnya berulang kali. Dadanya terasa nyeri, seluruh tubuhnya bergetir mendengarkan dan melihat Riri
"untuk mama dan ayah, aku akan berikan kalian semua fasilitas, anggap saja itu semua imbalan dari yang kalian berikan kepadaku selama ini, dan ayah aku akan segera menyelesaikan janjiku sebelumnya, aku akan lakukan itu setelah Geri dan Harry pulih", ucap Riri
"dan jangan pernah menemuiku lagi, aku memang sayang dengan mama dan ayah, tapi aku juga sangat sangat membenci kalian", ucap Riri meneteskan air mata
"Ri, maafkan mama sayang...", ucap Ningsih menangis
"untukmu Jiah, aku akan memberikan hal yang sama kepadamu, untuk sementara ini kau masih boleh dimansionku sampai kapanpun kau mau, aku juga akan membiayai hidupmu sampai kau punya suami nanti, aku juga akan memberikanmu pilihan", ucap Riri
"kau ingin hidup sebagai adikku? atau sebagai anak ayahku? atau sebagai anak dari perusak keluargaku, terserahmu, berikan jawabannya kepadaku besok malam diruang kerja, kutunggu", ucap Riri
"ah iya, dan juga sebagai info, darah yang ada ditubuhku ini bukan milikku, tapi milik mommymu", ucap Riri mengusap wajahnya lalu tersenyum
"aku akan tetap menganggapmu adikku apapun pilihan yang kau ambil nanti, tapi untuk sekarang aku harus menjauh darimu, karena dari dalam diriku terus bergejolak pikiran untuk membunuhmu juga dan membuat kepalamu menjadi sourvenir dikamarku", ucap Riri sambil mendekati Jiah
__ADS_1
"setelah ini jangan dulu temui aku sampai besok malam, aku benar benar menyayangimu, aku tidak ingin menyakitimu, aku harus melawan diriku sendiri, maafkan aku ya Jiah", ucap Riri memeluk Jiah dan menenggelamkan wajahnya dileher Jiah
Jiah menangis dan memeluk Riri dengan erat
"aku khawatir dengan kakak, aku merindukanmu kak, aku minta maaf atas semuanya", ucap Jiah dalam tangisnya
Riri tersenyum dan melepaskan pelukannya lalu mencium rambut Jiah. Dia tersenyum manis kepada Jiah, dan mengelus rambut Jiah.
"mama ayah, jaga diri kalian baik baik, akan sangat merepotkan bagiku jika aku harus begini lagi untuk menyelematkan kalian lagi, kalian tidak boleh mati dalam keadaan mengenaskan seperti Alexa, karena mama dan ayah harus menjalani hukuman atas semua perbuatan kalian kepadaku selama ini", ucap Riri dengan wajah yang sangat menyeramkan
"aku akan meminta perawat memindahkan mama ayah dan bunda keruangan lain, biarkan ruangan ini terisi Geri, Fikri dan kak Joi, aku tidak ingin ada orang lain disini", ucap Riri dingin lalu pergi meninggalkan ruangan itu
Sedangkan Jiah dan yang lainnya masih mematung mendengar penjelasan panjang lebar dari Riri tadi. Belum sempat mereka berkata kata, Riri kembali masuk keruangan itu
"ah aku lupa, jika kau mau, temui aku dikamarku nanti, dan bawa ini juga", ucap Riri melemparkan kotak hitam dengan pita pink kepada Jiah
"aku suka blackpink, dan itu adalah bukti bahwa ucapanku tidak main main", ucap Riri memberikan flying kiss lalu pergi dari ruangan itu
Jiah mengambil kotak itu dan membukanya, dia lalu berteriak dan melemparkan isi kotakku kelantai
Isinya adalah jari manis Alexa dengan cincin pernikahannya dengan Tio yang sudah diresin oleh Riri agar tidak membusuk
"dia benar benar menggila", ucap Rara menutup mulutnya
"jari siapa itu?", tanya Nita
"Alexa" jawab Fikri dan Joi serentak
Mereka semua terkejut melihat pemandangan ini, bisa dipastikan Riri membunuh Alexa dengan cara yang sangat sadis dan tanpa ampun sedikitpun
Dio segera berlari keluar ruangan untuk berbicara dengan istrinya itu, tapi ternyata dia kehilangan jejak Riri. Dio kembali masuk keruangan itu dan melihat jari yang sudah diresin itu
"kak, apakah ini semua benar?", tanya Dio kepada Joi
"aku harus jawab apa? aku sendiri masih trauma dengan perbuatan keji Riri tadi malam", ucap Joi
Dio mengusap wajahnya kasar, dia laku mengambil jari itu dan meletakkannya kembali kekotak hitam itu
"Riri benar benar membuat jari itu menjadi sourvenir?", tanya Rara pelan
"ini sangat mengerikan", ucap Nita
"dan itu tidak hanya 1", ucap Fikri pelan
"benarkah?", tanya Harry dan Rendi serentak
Joi dan Fikri mengangguk pelan menatap Harry dan Geri
"gila", gumam Rendi
__ADS_1