
Sinar matahari masuk menerangi kamar Riri, ac dan lampu sudah dimatikan, angin angin segar masuk kekamar melalui jendela yang sudah terbuka lebar.
Riri menggeliat diranjangnya menggerakkan tubuhnya yang kaku dan hampir remuk karena suaminya yang menggempurnya habis habisan tadi malam.
"ng... mas..", rengek Riri dengan tubuh lemas, dia meraba raba ranjangnya tapi tak menemukan suaminya disana
Dio masuk kekamar dan membawa susu ibu hamil untuk istri tercintanya itu yang semakin manja padanya semenjak hamil
"sayang... bangun sayangku, minum susu sini", panggil Dio dengan nada lembutnya dan tersenyum melihat istrinya yang mungil itu
"mas cepat banget bangunnya, belakangan ini aku sering kesiangan, maaf ya mas", ucap Riri dengan suara berat dan mata masih terpejam
"gapapa sayang, kamu juga pasti cape kan gara gara mas tadi malam", goda Dio
Riri membuka matanya dan tertawa kecil, dia lalu melihat susu yang dibawa suaminya itu. Setelah melihat susu itu Riri kembali masuk kedalam selimutnya, dan merengek pada suaminya itu
"mas ih kan aku udah bilang gamau minum susu, kenapa masin buatin aku susu tiap pagi", rengek Riri
"minum aja sayangku biar si debay sehat dan kuat didalam sana", ucap Dio lembut dan membuka selimut istrinya itu
"lihat ini karyaku masih menempel ditubuhmu, cepat minum susunya lalu nanti mas mandikan, mas ada metting penting dikantor siang ini", bujuk Dio dengan nada lembut
Riri hanya diam dan menatap suaminya itu,
"mas ganteng banget sih", goda Riri dengan wajah centilnya
Riri lalu meminum susu yang dibuatkan suaminya itu, dia menenggak habis susu itu walaupun dia tidak suka
"aku tidak suka ini", protes Riri
Tapi Dio tidak mendengarkannya, justru malah menyibakkan selimut yang dipakai Riri, lalu menjelajahi setiap lekuk tubuh istrinya itu. Sentuhan demi sentuhan diterima Riri tanpa perlawanan sedikitpun, tidak ada niat Riri untuk melawan
"lanjut?", tanya Dio pada wanita yang berada dibawah kukungannya itu
"meeting mas gimana?", tanya Riri
"kan siang, mas masih punya waktu beberapa jam", ucap Dio dengan tangannya yang masih meremas sana sini
Riri tersenyum dan mengangguk, mereka pun melakukan olahraga pagi dengan sangat bersemangat.
.
...----------------...
.
__ADS_1
Didapur, Joi dan Jiah sarapan bersama karena tuan nyonya rumah ini tak kunjung turun, mereka juga tidak mengatakan sepatah kata pun sejak awal bertemu pagi ini, suasana sarapan diatas meja makan itu sangat hening tanpa ada obrolan apapun
Setelah selesai makan, Joi menerima telfon dari sekretarisnya yang ada di Belanda, mereka berbicara sangat serius hingga akhirnya Joi berteriak ditelfonnya
"Sialan!!", teriak Joi sontak membuat Jiah terkejut dan menumpahkan jus jeruknya
"ah shitt!!", umpat Jiah pelan saat melihat bajunya basah terkena tumpahan jus
"Bajingan!!", teriak Joi lagi yang membuat Jiah terkejut (lagi)
"kenapa sih dia?!", batin Jiah dengan wajah kesal
"aku akan kesana sekarang juga, kau urus dulu yang ringan ringan, tunggu kedatanganku, akan aku pitas kutu kutu busuk itu", ucap Joi dengan nada geram lalu memutus panggilan itu
Joi kembali menelfon seseorang dan menyuruhnya menyiapkan pesawat pribadi untuk terbang ke Belanda dalam waktu beberapa jam.
Joi lalu pergi kekamarnya untuk mengemasi barang barangnya dan bersiap berangkat ke Belanda
Jiah yang sedaritadi menguping, ikut terkejut saat tau kalau Joi akan ke Belanda hari ini juga, dia pun menyusul masuk kekamar Joi dan melihat sang pemilik kamar sedang berkemas
"kakak mau ke Belanda?", tanya Jiah pelan lalu duduk dibibir ranjang empuk itu
Joi menoleh kearah gadis mungil didepannya, amarahnya perlahan mereda saat melihat Jiah, dia lalu menghela nafasnya, dia duduk disamping Jiah dengan wajah lesunya
"kakak, kalau kita sedang marah jangan buru buru ambil keputusan, aku tidak tau masalah apa yang sedang terjadi dengan kakak, tapi jika sedang bertindak kendalikanlah amarah kakak, aku takut jika melihat kakak marah seperti tadi", ucap Jiah lembut yang berhasil membuat amarah di hati Joi hilang seketika
"duduklah dulu disini dan tenangkan dulu pikiran kakak", ucap Jiah
Joi menghela nafas panjang dan mengangguk, dia menyungsupkan kepalanya di dada empuk milik Jiah. Bisa tercium di hidung Joi wangi tubuh Jiah
"maafkan aku karena membuatmu takut tadi", ucap Joi mengelus lembut wajah gadis yang sedang berada dipangkuannya sekarang
"tidak apa apa kak, tapi jus ku tumpah karena terkejut tadi, lihat ini", ucap Jiah menunjuk bajunya
"maaf, nanti ganti bajumu ya", ucap Joi yang menatap Jiah
"em", jawab Jiah
"kakak beneran mau ke Belanda?", tanya Jiah lagi
"iya, sedang ada masalah dikantorku, jadi aku harus turun tangan dan menyelesaikan masalah disana", jawab Joi masih menatap Jiah dengan tangannya yang sibuk menyibakkan rambut Jiah
Jiah menghela nafasnya
"kenapa menghela nafas? kenapa cemberut gitu?", goda Joi
__ADS_1
"aku akan merindukan kakak jika kakak pergi", rengek Jiah pelan dan memainkan jarinya dikancing kemeja Joi
Joi tertawa kecil melihat tingkah Jiah yang menurutnya sangat menggemaskan, dia lalu mendorong tengkuk Jiah dan melahap bibir mungil milik Jiah. Ciuman Joi kali ini bercampur ***** dari dalam dirinya, Jiah hampir kewalahan dengan gerakan bibir Joi
Nafas Jiah hampir habis, Joi lalu melepaskan ciumannya, terlihat gadis dipangkuannya itu sedang mengambil nafas banyak banyak, membuatnya tertawa kecil
"kau akan merindukanku atau ciumanku?", tanya Joi
"apa itu tadi? sudah seperti vacum cleaner saja", ucap Jiah menatap Joi
"mau lagi?", tanya Joi
"itu memiliki sensasi berbeda dari yang pertama kali, yang pertama sangat lembut, tapi kali ini benar benar seperti vacum cleaner", oceh Jiah
Joi ******* lagi bibir milik Jiah, dia terus memperdalam ciumannya dan membuat Jiah terbuai. Setelah cukup lama bercumbu mesra, akhirnya Joi melepaskan ciumannya dan mengusap lembur bibir Jiah
"kalau kau ikut denganku ke Belanda, gimana? mau? aku tidak akan bisa meninggalkannu disini, aku pasti merindukanmu", ucap Joi lembut
"benarkah? kakak yakin ingin mengajakku?", tanya Jiah langsung kegirangan
"tentu saja yakin", jawab Joi tersenyum
"tapi aku tidak yakin kak Karin akan memberi ku izin untuk ikut kakak", ucap Jiah kembali murung
"aku akan membujuk kakakmu, tenang saja", ucap Joi
"memangnya bisa kak?", tanya Jiah
"bisaa, serahkan saja padaku", ucap Joi lalu mengedipkan mata
"baiklah kalau begitu, aku tunggu ya kak", ucap Jiah
"kemasi barangmu seperlunya saja ya, tidak usah membawa banyak banyak, aku akan menyediakan semuanya disana", ucap Joi lalu kembali mengecup bibir Jiah
"iya cintaku", ucap Jiah mencium pipi Joi lalu pergi melesat kekamarnya
"apa tadi? Ci-cinta? Cinta? cintaku? aw", ucap Joi meleyot ke atas ranjangnya dengan pipi merona akibat ulah Jiah tadi
Joi berguling guling diatas ranjangnya dengan hati berbunga bunga, umurnya sudah hampir menginjak 34 tahun tapi tingkahnya saat ini seperti remaja 17 tahun yang sedang dimabuk cinta
Dikamarnya, Jiah sibuk berkemas barang barangnya yang penting penting saja seperti perintah Joi tadi. Ia juga sudah menyiapkan bajunya untuk keberangkatan mereka nanti malam
"apa kak Karin akan memberi ku izin pergi?", tanya Jiah pada dirinya sendiri
"sepertinya tidak akan, dia tidak akan memberi izin semudah itu", ucap Jiah lalu menghela nafasnya
__ADS_1