CEO Cantik Pengidap Bipolar

CEO Cantik Pengidap Bipolar
1.35 Hadiah


__ADS_3

*Flashback On*


Dio merangkulkan tangannya di pinggang ramping Riri. dia menatap Riri intens, lalu memeluk Riri. Saat Riri tidak sadar Dio memberikan kode kepada Rendi agar menjalankan rencana mereka


Rendi yang paham lalu membawa yang lain pergi dari tempat Riri dan Dio


"kita mau kemana sih? kenapa ninggalin Riri disana?", tanya Rara


"mau kekamar", jawab Geri


"hah?! mau ngapai kalian?!", tanya Rara menghentikan langkahnya


Geri datang mendekati Rara, sangat dekat,


"kami hanya ingin kau membantu kami untuk menyiapkan kejutan untuk ulang tahun nona Riri", bisik Geri


"be-benarkah?", tanya Rara gugup


"singkirkanlah pikiran mesummu itu", ucap Geri lalu pergi masuk kekamar mengambil barang barang yang sudah dipersiapkan


"Heii!! ya wajar dong", teriak Riri


"siapa juga yang ga mikir aneh aneh kalo dibilang mau kekamar bareng cowo, gila kali ya dia nya", gumam Rara


Setelah mengambil bunga, balon, kue, dan juga kado, mereka kembali datang ketempat Riri yang tadi. Rara yang melihat Riri dan Dio berpelukan pun berbisik kepada Geri


"apa mereka sudah lama pacaran?",bisik Rara


"em, sudah", Jawab Geri pelan


"so sweet ya, jadi pengen juga", gumam Rara


"kau ingin dilamar juga?", tanya Geri


Rara mendengar itu terdiam sejenak, dia menjadi gugup karena pertanyaan Geri, jantungnya berdegup kencang


"kenapa? kau ingin melamarku?", tanya Rara tiba tiba berhenti didepan Geri


"baiklah", ucap Geri, lalu berjalan melewati Rara


"gila ya dia?!", ucap Rara terkejut


Mereka pun sampai ke tempat Riri dan Dio


*Flashback Off*


 


Dio pun berlutut dan mengeluarkan kotak hitam kecil dan menghadapkannya kepada Riri


"sayang, aku sangat mencintaimu, aku ingin kau menjadi istriku, aku tidak bisa berkata kata manis atau membuat puisi, aku hanya bisa berkata, 'will you marry me?'", ucap Dio lembut


Riri terkejut mendengar dan melihat aksi Dio, dia spontan menutup mulutnya menggunakan tangan, air matanya hampir menetes, terharu, bahagia, campur aduk. Jantungnya berdegup kencang tak karuan, dan senyum manis terlukis dibibirnya


Sementara Rendi sibuk mengabadikan momen ini melalui kamera yang sudah disediakannya


"bangunlah dulu, jangan begitu", ucap Riri membantu Dio berdiri. "kakak yakin mau menjadi suamiku? aku bukanlah wanita yang sempurna, aku memiliki banyak kekurangan, apakah kakak bersedia menerima semuanya?", lanjutnya


"aku bersedia sayang, aku akan menerima semua tentangmu, aku juga berjanji akan membuat mu bahagia saat bersamaku, jadilah istriku, mari kita buka lembaran baru", ucap Dio memegang tangan Riri


"coba ulangi pertanyaan tadi", ucap Riri


"will you marry me, baby?", ucap Dio


"yes baby", jawab Riri


Dio tersenyum senang, dan memeluk Riri. Lalu ingin memakaikan cincin dijari manis Riri. Ternyata Cincin hadiah dari Dio tahun lalu masih bersemayam dijari manis Riri hingga sekarang, Dio pun melepasnya dan menggantinya dengan Cincin tunangan yang dia persembahkan untuk Riri


"terima kasih sayang sudah menerimaku",, ucap Dio sambil mencium tangan Riri


"terima kasih kembali tuan sudah melamarku", ucap Riri sambil membungkukkan badan dan kepala sementara sebelah kakinya mundur kebelakang.

__ADS_1


Dio pun mengambil kue yang ada ditangan Geri


"Happy Birthday Riri, I love You", ucap Dio


"Happy birthday Riri", ucap mereka semua serentak


Riri pun berdoa sejenak lalu meniup lilinnya. Mereka semua pun bersenang senang dipantai


-_-_-_-_-_-_-_-


2 hari kemudian, tiba saatnya mereka akan pulang...


"Riri, apa aku boleh ikut dengan mu saat pulang dari sini? aku belum ingin pulang kerumah, pliss :(", ucap Rara dengan raut wajah sedih


"baiklah, aku bisa mengizinkan mu ikut denganku Rara, tapi kamu harus ingat pesanku", ucap Riri sambil tersenyum


"harus jujur, sopan, bersih dan rapi dalam segala hal termasuk dalam suatu hubungan", ucap Rara


"kau sudah hafal ternyata ya", ucap Riri tertawa


"sedikit, aku akan terus mengingatnya, aku benar benar menyayangimu dan menganggapmu sebagai adikku", ucap Rara memeluk Riri


"iya Rara, aku juga telah percaya denganmu, tolong jangan sia sia kan kepercayaanku ya", ucap Riri memeluk Rara


"aku janji, aku bisa memegang janjiku", ucap Rara


Mereka pun berangkat menuju bandara bersama sama, Dio semakin manis kepada Riri, sepanjang jalan terus mengelus kepala Riri yang sedang tidur. Sementara Geri dan Rara hampir setiap waktu selalu berdebat membuat Rendi dan Harry sakit kepala


Setelah perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan akhirnya mereka semua bisa menginjakkan kaki lagi di bandara dikotanya


"alhamdulillah", ucap Riri tersenyum


"sayang, kamu mau kerumah papa atau ke apartemen?", tanya Dio


"ke apartemen aja kak, tapi aku masih cape belum bisa masak untuk makan malam", ucap Riri


"tak apa, nanti kita beli saja sayang", ucap Dio


Mereka pun memasuki mobil yang sudah dipersiapkan Dio menuju apartemen Riri


Dio dan Riri menggunakan mobil berbeda, sementara Rara dan 3 sekretarisnya Riri dan Dio menggunakan mobil yang lain.


"sayang, hari ini aku menginap diapartemenmu ya? besok pagi kita berangkat bareng, kan besok aku kekantormu", ucap Dio


"kekantorku? ngapai kak?", tanya Riri


"apa kau lupa? beberapa hari lagi, kita akan mengadakan meeting besar, antara perusahaanmu dan perusahaanku untuk membahas tentang proyek kita, sudah 95% jadi sayangku", ucap Dio


Riri menepuk jidat


"kenapa aku bisa melupakan hal sepenting ini?", ucap Riri


"gapapa sayangku, kan sekarang udah ingat", ucap Dio mengelus tangan Riri


"sayang, menurutmu, apa aku boleh membawa Rara besok? dia akan tinggal bersamaku untuk sementara waktu, aku tak ingin meninggalkan nya dirumah sendirian, aku ingin membawanya kekantor, jika dia mau", ucap Riri


"bawa saja jika kau mau sayang", ucap Dio


"baiklah sayangku", jawab Riri


Mereka semua pun tiba di apartemen Riri


"wah Riri, ini milikmu?", ucap Rara kagum melihat apartemen Riri nan mewah dan elegan, memberikan kesan aestetic untuk siapapun yang melihatnya


"iya Ra, kenapa? kau tidak suka ya?", tanya Riri.


"tidak tidak, tidak, aku sangat suka, ini adalah impianku", ucap Rara terkagum kagum melihat seisi ruangan


"kau bisa mengagumi itu nanti, letakkan barang barangmu dikamar tamu nomor 1", ucap Riri sambil tersenyum


"baiklah, aku akan kembali sebentar lagi", ucap Rara berjalan membawa kopernya ke kamar tamu

__ADS_1


"untukmu sayang, dikamar tamu nomor 2 ya", ucap Riri kepada Dio


"baiklah sayangku, Rendi, bawakan ini kesana ya", ucap Dio


"selalu aku, terus aja tuan, aku terus", batin Rendi


"Geri, Harry, Rendi, kalian akan menginap disini juga atau gimana?", tanya Riri


"kami disini saja nona, bolehkan non? biar sekalian kita bisa bahas untuk meeting kita dengan perusahaan tuan Dio yang tinggal beberapa hari lagi", ucap Harry


"kau benar juga, aku juga belum mempelajari itu sepenuhnya", ucap Harry


"baiklah, kalian pergilah kekamar kalian ya, Rendi biar sekamar dengan kak Dio", ucap Riri


"hah? pendengaranku masih baik baik saja kan?, batin Rara


"mereka punya kamar sendiri?!", tanya Rara terkejut


"iya Rara, kan mereka sering kerja lembur dengan ku di ruang kerja, jadi mereka punya kamar juga disini", ucap Riri


"oh", jawab Rara mengangguk angguk


Dio pun sudah memesan makan malam untuk mereka semua menggunakan jasa delivery. Melihat Riri yang sudah baik baik saja membuat hatinya lega, dia sangat tau bahwa Risi sangat suka makan bersama seperti ini, walaupun dia sangat ingin makan berdua saja dengan Riri, tapi dia tak boleh egois, dia tahu betul kondisi mental Riri seperti apa


Setelah selesai makan malam, Rendi, Harry dan Geri mengambil berkas berkas yang sudah mereka persiapkan tadi diruang kerja. Mereka berlima berkumpul di ruang tv, duduk dilantai beralaskan karpet bulu empuk milik Riri


Rara yang sedikit tau tentang bisnis, pun hanya menyimak saja disofa yang terletak dipinggir karpet, dia juga menyiapkan minuman dan cemilan untuk teman temannya yang sedang bekerja


"terima kasih Rara, kau tak perlu repot", ucap Riri


"aku tamu mu Ri, jadi aku harus tau diri, masa iya goyang kaki aja", ucap Rara


"baiklah, terima kasih ya", ucap Riri


Mereka berlima melanjutkan pekerjaan mereka, Riri dan Dio saling beradu ide ide yang ada dikepala mereka, membuat 3 sekretaris nya dan juga Rara tercengang mendengarnya


"Rara, apa kau besok mau ikut denganku kekantor? akan ku ajak kau belajar tentang ini semua", ucap Riri.


"tapi aku gatau apa apa Ri, cuma tau dikit", jawab Rara pelan


"tak apa, hanya sekedar mendengarkan juga tidak apa apa, hitung hitung kau menambah ilmu", ucap Riri


"Riri benar, itu adalah kesempatan emas, yang kau tak bisa dapatkan dimana pun, jika memang kau berbakat, sedikit saja ilmu mu diasah, makanya akan timbul bakatnya", ucap Dio


"boleh kah Ri?", tanya Rara


"boleh, ikutlah denganku, tapi ya gitulah, kau akan melihat sisi lain dari diriku saat dikantor", ucap Riri.


"tak apa, aku juga sudah mendengar semua ceritamu", ucap Rara tersenyum


"aku harap jantungmu tidak lepas saat mendengar suara Riri dikantor", ucap Dio tersenyum tipis ke Riri


"diamlah!", ucap Riri kesal lalu memukulkan berkas tangannya ke Dio


"kalau begitu, Rara bisa bergabung disini agar bisa mengerti sedikit", ucap Geri


"iya Ra, sini duduk", ucap Harry


Rara pun bergabung dengan mereka berlima, lalu melanjutkan pekerjaan mereka itu,


"Sayang, besok aku ikut kekantormu juga ya, aku ingin melihatmu bekerja", ucap Dio.


"lalu kantor kakak?",, tanya Riri


"ada Rendi, kami bisa mengontrol dari laptop dan juga ada sekretarisku disana, jadi aman",, ucap Dio


"Grace?", tanya Riri.


"No, Fany, sudah kuganti sayang tenang saja", ucap Dio


"em, baiklah",, jawab Riri

__ADS_1


__ADS_2