
Hari yang ditunggu Riri pun tiba, surat kelulusannya sudah keluar sejak sepekan yang lalu, dan hari ini adalah hari pengesahannya sebagai CEO dan mengklaim semua aset aset yang sudah menjadi miliknya sejak lama
Kini semua aset sudah menjadi milik Riri seutuhnya, Tidak ada yang bisa menentang wasiat dari kakek Riri. Kini Riri resmi menjadi CEO di perusahaan milik kakeknya dulu.
Riri sedang mengurus barang barangnya untuk pindah ke apartemennya. Orang tua Riri menentang kepindahan Riri setelah mengetahui segalanya tentang Riri, kecuali aset rahasia kakek Riri yang dipindahkan tangan ke Riri
"ma, yah, aku izin pindah dari rumah ini ya, aku akan belajar mandiri mulai sekarang, mama dan ayah gaperlu khawatir denganku, aku bisa menjaga diriku, aku pamit", ucap Riri bersalaman dengan mamanya, lalu menarik kopernya dan pergi dari rumah
Mama Riri menangis melihat Riri berjalan keluar, Tio pun segera memeluknya
"kalo bukan karna keserakahanmu, anakku ga akan pergi seperti ini!!", ucap Ningsih yang marah ke Tio
"sudahla, sudah terlanjur juga, kita jalani hidup kita masing masing, dia sendiri juga sangat percaya diri, aku yakin dia berhasil", ucap Tio menenangkan Ningsih
Riri sudah tiba beberapa jam lalu diapartemen miliknya, hari sudah gelap, tiba tiba ponselnya berdering, tertulis nama Dio dilayar ponsel tersebut
"halo kak?"
"hallo Ri, em lagi sibuk ga?"
"oh ngga kak, barusan sampai di apartemen, selesai pindahan, kenapa kak?",
"em pasti lagi cape ya? yaudah deh lain kali aja, kamu istirahat aja",
"emang mau kemana kak?"
",sebenarnya sih mau ngajak makan malam"
"oo gitu, yauda kakak datang aja ke apartemenku, aku sudah memasak makan malam",
"em, baiklah"
"ah iya, bawa juga bawahan kakak, kita makan bersama disini"
"baiklah, aku segera kesana", ucap Dio yang lalu mematikan telfonnya
"Ren, ayo", ucap Dio yang memanggil Rendi yang sedaritadi sibuk menaruh berkas" dimeja Rendi
"mau kemana tuan?", tanya Rendi sambil membereskan meja tuannya itu
"apa kau tidak lapar? ini sudah malam, apa kau akan bekerja terus?", ucap Dio sambil berjalan keluar ruangan diikuti Rendi
"tapi tadi kan tuan yang...", belum selesai Rendi bicara sudah terdiam dengan tatapan tajam Dio
"diamlah dan ikut saja atau ku robek mulutmu", ucap Dio
"baik tuan", jawab Rendi menunduk
Mereka bergegas pergi kerumah Riri.
Sementara dirumah Riri, Geri dan Harry masih sibuk dengan pekerjaan mereka diruang kerja Riri, Riri sengaja berbagi ruangan dengan mereka supaya lebih mudah bekerja
"Ger, kau mencium sesuatu?", ucap Harry sambil mendengus karena mencium aroma makanan
"em, sepertinya nona Riri memasak makan malam", ucap Geri
"baiklah, ayo kita keluar, aku juga sudah lapar", ucap Harry sambil membereskan berkas"nya
__ADS_1
"tapi pekerjaan kita juga masih banyak", ucap Geri yang ikut membereskan mejanya
"kita lanjutkan saja besok, nona Riri sudah memasak makan malam, apa kau ingin kejadian yang dulu terulang lagi?", ucap Harry mengingatkan ke Geri kejadian 2 tahun lalu.
Geri sepertinya mengingatnya lalu menggeleng pelan dan dengan sigap mejanya telah rapi. Mereka keluar dari ruang kerjanya, lalu menemui Riri di meja makan
"wah nona, sepertinya kami sangat lapar malam ini", ucap Geri melihat semua makanan yang sudah dipersiapkan Riri diatas meja
Riri tersenyum, dia sangat senang makanannya disambut hangat oleh bawahannya itu
"tinggalkanlah pekerjaan kalian itu dan bereskan mejanya, lalu kembali lagi duduk disini, kita akan makan malam bersama", ucap Riri sambil tersenyum senang, hatinya sangat bahagia rasanya
"sudah semua non, kami sudah bereskan ruang kerja", ucap Harry
"baiklah, kalau begitu, duduklah dulu disofa", ucap Riri, Harry segera berlari kesofa untuk bersantai, sementara Geri mengamati jumlah piring kosong dimeja
"kenapa Ger?", tanya Riri
"non, bukankah kita hanya bertiga? kenapa piringnya ada 5?", tanya Geri bingung
"ah iya, hari ini Dio dan bawahannya akan makan malam bersama kita, sebentar lagi mereka datang", ucap Riri yang masih dengan senyumannya itu
"wah ini pertama kalinya kita makan bersama dengan orang lain selain kita bertiga", ucap Geri yang hanya dibalas senyuman oleh Riri
"nona sepertinya hari ini sangat bahagia, aku melihat nona tersenyum terus sejak tadi", ucap Harry yang kembali datang ke meja makan
"aku merasa sangat bahagia melihat kalian menyambut masakanku, terakhir kali aku masak untuk orang tuaku, jangankan disambut, bahkan mereka tidak turun dan duduk dimeja makan, dan aku hanya bisa menangis lalu memakan habis semua masakanku, hatiku sangat hancur rasanya", ucap Riri terduduk lalu tanpa sadar meneteskan air mata membuat Geri dan Harry panik
"non maafkan saya non, saya salah bicara, maaf ya non, maaf", ucap Harry sambil memohon dihadapan Riri
"non kami minta maaf non, nona Riri jangan nangis lagi ya non, saya minta maaf atas nama Harry karena telah menyinggung hal hal yang menjadi privasi nona Riri", ucap Geri yang juga memohon kepada Riri
"nona Riri sama sekali ga nyusahin saya, itu semua saya lakukan ikhlas untuk non Riri, saya selalu mengabdikan diri kepada non Riri", ucap Geri sambil menyodorkan tisu ke Riri
"iya non, begitu juga saya, saya juga ga merasa disusahin sama non Riri, justru ini semua membuat saya hidup non", ucap Harry
Riri menangis lagi lalu memeluk erat kedua bawahannya itu seperti adik kakak, Geri dan Harry bisa merasakan tubuh dingin Riri karena merindukan peluk hangat orang tua, dan tanpa sadar ikut menangis
Setelah Riri kembali tenang, beberapa menit kemudian Dio dan Rendi datang ke apartemen membawa buah dan cemilan lain
"maaf kan aku, apakah aku terlambat?", ucap Dio mendatangi Riri yang sedang duduk disofa. Sementara Rendi dengan susah payah membawa semua belanjaannya ke meja, lalu disusul oleh Geri dan Harry
"ah ngga kok kak, aku juga sedikit belajar tadi sambil menunggu kakak", ucap Riri tersenyum dan menatap Dio
"apakah hari ini mood mu baik?", tanya Dio sambil tangannya melingkar di pinggang Riri.
"em baik, aku sangat senang hari ini", ucap Riri tersenyum, pandangan mereka bertemu, Dio bisa melihat kebahagiaan mendalam dimata Riri
"kau ingin bermanja denganku atau kita langsung makan?", tanya Dio pelan sambil mendekatkan wajahnya ke Riri
Sementara itu, bawahan mereka yang ada dimeja makan pun menyaksikan Interaksi kedua anak manusia itu
"ya tuhan, aku sudah lelah bekerja seharian, kenapa menyiksaku dengan pemandangan seperti ini", keluh Geri
"apakah ini pertama kali kau menyaksikannya? aku selalu menyaksikannya setiap kali tuan Dio bertemu dengan nona Riri", Ucap Rendi sambil menghela nafas panjang
"wah, kau pasti lebih tersiksa daripada kami", ucap Harry dengan wajah kasihan
"sangat sangat tersiksa", ucap Rendi menghela nafas. Mereka mengeluh bersama di meja makan
__ADS_1
"aku mau makan, aku sudah lapar menunggu kakak daritadi", ucap Riri manja
"padahal aku ingin memakan mu, tapi baiklah, mari kita makan", ucap Dio sambil berdiri dan menggenggam tangan Riri ke meja makan
"ayo semuanya makan, habiskan ya, aku sudah memasak ini dengan susah payah", ucap Riri tersenyum dan dibalas senyuman dari mereka semua yang ada dimeja makan
Makan malam berlangsung sangat hangat, mereka membahas topik ringan dimeja makan, dan sesi makan pun selesai, Riri berberes dan dibantu oleh Dio, sementara anggota mereka sudah berkumpul diruang TV dan duduk di bawah (lantai beralas karpet) agar lebih nyaman dan santai
Riri sedang mencuci piring sementara Dio mengangkat piring kotor dari meja untuk dicuci Riri, setelah meletakkan piring di westafel, Dio memeluk pinggang Riri dari belakang
"ternyata tubuhmu sangat mungil ya nona muda", bisik Dio
"kak ih, aku sedang mencuci piring", ucap Riri yang sedang sibuk dengan piringnya itu
"baiklah aku akan menunggu", ucap Dio melepaskan pelukannya
Dio dan Riri sudah sangat dekat sejak surat kelulusan Riri keluar, Dio juga membantu pekerjaan Riri dalam mengembangkan perusahaan Riri, dia perlahan membimbing Riri, walaupun sebenarnya Riri sudah cukup mahir, tapi dia tetap ingin suatu bimbingan untuk dirinya.
Setelah Riri selesai mencuci piring, dia hendak bergeser dari westafel, tapi tertahan tangan Dio yang sejak tadi menunggu dibelakang Riri. Dio memeluk erat tubuh mungil Riri, Riri pun berbalik badan dan berusaha melepaskan pelukan Dio
"kak ih lepas", ucap Riri berusaha melepas pelukan Dio dipinggangnya
"apa aku tidak boleh memelukmu?", tanya Dio.
"tidak, kakak kan bukan pacarku, bagaimana mungkin aku mau dipeluk orang yang bukan siapa siapaku", ceplos Riri
"kalau begitu jadilah pacarku", ucap Dio menatap wajah Riri
"hm?", tanya Riri bingung.
"em, jadilah pacarku", ucap Dio yang melihat pipi Riri sedang blushing.
"kau tidak mau?", lanjutnya
"apa tidak apa apa jika aku berpacaran dengan kakak?", tanya Riri ragu
"siapa yang akan marah? lagi pula aku sudah mencintaimu sejak lama", ucap Dio yang semakin mempererat pelukannya
"baiklah aku mau jadi pacarmu, tapi dengan beberapa syarat", ucap Riri
"ok, apa itu?", tanya Dio
"yang paling utama adalah, aku ingin menjadi satu satunya dan tidak ingin berbagi dengan orang lain apapun alasannya", ucap Riri tegas
"baiklah sayang, aku selalu mencintaimu dan tidak akan menghianati cintamu", ucap Dio tersenyum.
Riri tersenyum lalu mengalungkan tangannya di leher Dio. Dio mengecup lembut bibir pink Riri, membuat Riri terkejut dan Dio menghentikan aksinya itu
"kak ih ada anggota kita disini, No!", ucap Riri, Dio tersenyum dan melepaskan pelukannya, dan berjalan mengikuti Riri
Ternyata semua interaksi tadi disaksikan juga oleh ketiga bawahan Riri dan Dio yang sejak tadi melongo dan menelan ludahnya masing masing
"aku tidak melihat apapun", ucap Geri kembali ketempat duduknya
"aku juga", ucap Rendi mengikuti Geri
"mataku tertutup ya tuhan", ucap Harry yang juga kembali ke tempat duduknya
Mereka semua menghabiskan malam dengan tertawa penuh canda ria di apartemen Riri. Ini kali pertama Riri merasakan kehangatan keluarga lagi setelah bertahun tahun lamanya
__ADS_1