CEO Cantik Pengidap Bipolar

CEO Cantik Pengidap Bipolar
1.66 Ketulusan Hati


__ADS_3

Hari ini Riri akan mengajak Jiah jalan jalan, dia juga sudah mengalihkan semua pekerjaannya kepada Zikri. Mereka semua sedang meeting di ruang kerja Dio dimansion, dan masih terus menyelidiki tentang Tio


"sayang, kau mau kemana hari ini?", tanya Dio


"aku mau pergi, jalan jalan dengan Jiah" ucap Riri


"kau yakin sayang? bagaimana jika dia mencelakaimu", tanya Dio khawatir


"aku sudah menyuruh Geri dan Harry untuk mengawasiku dari jauh, makanya pekerjaanku aku berikan ke Zikri", ucap Riri


"oo begitu", ucap Dio


"dek, sebenarnya apa rencanamu? kenapa malah memperlakukan dia dengan baik?", tanya Joi


"aku juga masih ragu kak, dari kata kata kemarin, seperti ada sesuatu yang terjadi yang mengharuskan dia melakukan semua ini, itu sebabnya maku menyelidikinya lagi", ucap Riri


"kalau menurut ku juga begitu, tapi sayang jangan termakan omongannya mentah mentah, bisa aja dia menghasutmu", ucap Dio


"iya sayang tenang aja", ucap Riri


"lalu Jiah? kenapa kau mempercayainya?", tanya Joi


"kau tau kak? dia benar benar polos, berbeda saat pertemuan pertama dulu, kali ini dia benar benar polos gitu", ucap Riri


"nona, jika dia benar benar polos, mungkin bisa jadi ada yang memprovokasinya agar membencimu, oleh karena itu dulu dia sangat marah padamu", ucap Rendi


Riri menghentikan aktifitasnya, lalu berfikir


"jika ucapanmu benar, berarti dalang dibalik ini semua adalah satu orang itu", ucap Riri


"Alexa maksud nona?", tanya Harry


"iya, aku masih berfikir apa yang dia tahan dari ayah sampai sampai membuat ayah melakukan ini semua", ucap Riri


"non, cobalah bicara dengan Jiah, mungkin dia akan senang atau terbuka denganmu", ucap Harry


"iya non, jika benar Jiah di provokasi, lama kelamaan pasti dia akan luluh", jawab Rendi


"Geri, suruh Varel datang kesini, aku ingin mendengatkan penjelasannya lebih lanjut", ucap Riri


"baik nona", ucap Geri, lalu menelfon Varel agar datang ke mansion Riri


Sekitar 30 menit kemudian, Varel datang kemansion Riri yang mewah dengan penjagaan yang sangat ketat, semua orang orang terpecaya Riri sudah diberikan kartu scan berisi identitasnya, jadi jika ingin masuk kerumahnya, tinggal mengscan kartu itu saja


Tapi Varel belum punya kartu itu, sehingga harus menunggu beberapa menit agar Geri menjemputnya ke gerbang. Setelah masuk kedalam mansion Riri, dia dibuat lebih terkagum lagi, karena ada lift didalam mansion itu, benar benar luar biasa. Mereka pun sampai di ruang kerja Dio dan sudah ada banyak orang disana


"ada perkembangan apa lagi Varel?", tanya Riri


"nyonya, ada beberapa kabar buruk, saya mohon nyonya masih bisa mengendalikan diri", ucap Varel


"katakan", ucap Riri


"kematian alm. pak Wahid bukanlah karena serangan jantung, tetapi karena ulah Alexa", ucap Varel


Riri membelalakkan matanya


"apa maksudmu?", tanya Riri, lalu Varel memutar rekaman cctv yang ada di flashdisknya


"Alexa berencana akan membunuh pak Wahid agar semua kuasa pak Wahid jatuh kepada Tio, tapi Tio tidak menyetujui itu, lalu Tio mencoba menyelamatkan ayahnya dengan rencana akan memberikan obat penghenti detak jantung, lalu akan membawa pak Wahid pergi", ucap Varel


"lalu?", tanya Riri masih memperhatikan gerakan ayahnya sesuai dengan yang dijelaskan Varel


"tetapi ternyata Alexa mengetahui itu semua, dia menyekap ayah dan mama nyonya digudang, lalu menyuntikkan obat itu kepada pak Wahid, setelah obat itu bekerja, Alexa tidak menyuntikkan penawarnya, sehingga membuat detak jantung pak Wahid berhenti total", ucap Varel


Dada Riri bagaikan tertusuk belati mendengar itu semua, ternyata selama ini dia salah, bukan ayahnya, tetapi Alexa lah dalang dibalik ini semua. Nafas Risi sesak, ada darah keluar dari hidungnya, mereka panik melihat Riri seperti ini, sudah lama sekali Riri tidak seperti ini, Riri menangis, nafasnya semakin sesak dan beberapa saat kemudian dia kehilangan kesadarannya


Dio melihat ini menjadi panik tak karuan, dia membopong Riri kekamarnya, Joi menelfon dokter Fira dan juga Bella agar datang ke mansion Riri.


30 menit kemudian...


"ada apa ini?", tanya dokter Fira


"Riri kumat lagi dok seperti dulu", ucap Dio panik memegang tangan Riri


"bukankah sudah lama sekali semenjak terakhir kali Riri seperti ini? kenapa bisa kumat lagi? apakah ada pemicunya?", ucap dokter Fira sambil memeriksa Riri


"kemungkinan besar, celah masa lalunya terbuka lagi, dia akan sadar beberapa jam lagi, tenang saja", ucap Bella


"kau yakin dia akan baik baik saja? bagaimana jika terjadi apa apa dengannya? aku tidak mau", ucap Dio panik


"tenang lah tuan dia akan baik baik saja, 3 jam lagi saya akan kesini lagi", ucap Bella


Dokter Fira dan Bella lalu pergi dari mansion Riri. Sementara Geri mendapat telfon dari Lia bahwa ada gadis yang menunggu Riri disana


"itu pasti Jiah", ucap Harry


"bawa saja kesini, mungkin dia bisa berubah pikiran jika melihat Riri seperti ini", ucap Joi


"kau benar kak, mungkin hatinya akan tergerak, tapi jangan ada yang cerita apapun, bilang saja Riri shock atau sedang sakit", ucap Dio

__ADS_1


"baik tuan", ucap Geri


"Varel, Harry, kalian amankan bukti bukti itu tadi, jangan sampai bocor ataupun hilang", ucap Dio


"tuan sebenarnya masih banyak lagi belum saya jelaskan", ucap Varel


"jelaskan nanti saja saat Riri sudah siuman, lanjutkan pekerjaanmu lagi, nanti akan kutelfon lagi", ucap Joi


"baik tuan", jawab Varel


Geri dan Rendi pergi menjemput Jiah, sedangkan Varel dan Harry berkutik di ruang kerja. Dio dan Joi sedang menunggu Riri siuman, Joi bingung, baru kali ini dia melihat adiknya menangis karena takut terjadi apa apa dengan Riri


"kau benar benar mencintainya Dio?", tanya Joi tiba tiba


"pertanyaan macam apa itu kak? apa kau fikir air mataku ini palsu? aku benar benar mencintainya kak, aku sungguh tidak ingin kehilangannya, aku takut", ucap Dio menangis sambil menggenggam tangan Riri dengan erat


"tenanglah Dio, jangan menangis terus dia akan baik baik saja, kau sudah dengar tadi kan apa kata Fira", ucap Joi


"aku takut dia akan koma lagi seperti dulu kak, lebih baik aku melihatnya marah marah daripada begini", ucap Dio


"sepertinya kita harus bongkar semua kebusukan Alexa, jika dibiarkan begini terus, Riri bisa bahaya", ucap Joi


"iya kak, kita harus bergerak, setelah Riri siuman nanti, kita akan bergerak", ucap Dio


"baiklah, berhentilah menangis, istrimu akan tertawa jika melihat wajah sembabmu itu", ucap Joi


...----------------...


Dikediaman Tio...


"kau mau kemana pagi pagi begini Jiah?", tanya Alexa kepada Jiah yang sudah cantik dan rapi


"aku akan pergi bersama Karina hari ini, dia ingin mengajakku bermain", ucap Jiah dengan santainya


"Karina? ah anak papamu itu?", tanya Alexa


"em, benar, aku juga sudah izin dengan ayah, nanti ayah akan mengantarku", ucap Riri


"kenapa kau memanggil ayah? biasanya kan papa?", tanya Alexa sedikit kesal


"aku hanya.... suka", ucap Jiah


"baiklah, kau tetap perhatikan Karina itu, jika dia melakukan sesuatu kau harus hubungi papamu, kita harus membantu papamu merebut kuasa Karina", ucap Alexa tersenyum licik


"em", jawab Jiah lalu pergi begitu saja


Didalam mobil...


"ayah, apakah mommy benar benar membenci kak Karin? itu terdengar seperti mommy benar benar membencinya", ucap Jiah


"kau sudah melihat sendiri bagaimana Karina bukan? jadi kamu bisa menilai sendiri bagaimana karakternya, ayah memang tidak dekat dengannya, tapi ayah bisa tau jika tulus atau bohong, itu bisa dilihat dari matanya, jika berbicara dan menatapmu, itu berarti dia tulus", ucap Tio


"benarkah ayah? kak Karin selalu menatapku dan tersenyum padaku, itu berarti dia tulus denganku", ucap Jiah sambik berfikir


"kamu bisa menilainya sendiri Jiah, ayah dengar sangat sulit untuk mendapat kepercayaan dari Riri, dari ratusan orang yang melamar kerja disana, hanya sekitar 20 orang yang diterima dia, sunggguh sulit", ucap Tio


"benarkah itu ayah? namun dia sangat baik kepada kita", ucap Jiah


"em, dia hanya sekali bertemu denganmu, namun dia justru memanjakanmu dan memeperlakukanmu dengan baik, itu artinya dia menaruh kepercayaan kepadamu", ucap Tio


"lalu aku harus apa ayah? haruskah aku menghianatinya dan mendukung mommy? atau mendukung kak Karin?", tanya Jiah


"Jiah, ikutlah dengan Karin, ikuti mana yang baik, ayah yakin dengannya, ayah tidak percaya mommy mu bisa menjagamu, dengarkan ayah baik baik, dan ikut dengan Karin, percaya padanya", ucap Tio


"haruskah aku begitu ayah?", tanya Jiah ragu


"pilihan ada ditanganmu Jiah, ayah harap kau mengambil keputusan yang baik", ucap Tio memegang tangan Jiah


Mereka pun sampai gedung perusahaan Riri. Jiah lalu mencari Riri disana, tapi tidak menemukannya, dia lalu mendapatkan kabar jika Riri masih dimansionnya, lalu menunggu sekretaris Riri yang akan menjemputnya


"Yu Jiah Syahputri?", panggil seseorang dari belakang


"iya?", sahut Jiah


"perkenalkan, saya Nita, karyawan bu Karin, apakah kamu juga menunggu jemputan Geri?", tanya Nita


"Geri? siapa Geri?", tanya Jiah balik


"ah itu sekretarisnya bu Karin",, ucap Nita


"ooo iyaa, aku sedang menunggunya", jawab Jiah


"baiklah, mari ikut saya, mereka sudah menunggu dimobil", ucap Nita


Jiah hanya mengangguk dan mengikuti langkah Nita, benar saja sudah ada mobil menunggu mereka dan berisi dua orang lelaki asing bagi Jiah. Nita berpelukan dengan salah satu lelaki itu, lalu masuk ke bangku belakang, Jiah mengikutinya dan masuk juga bersama Nita, mereka berangkat menuju mansion Riri


Setelah perjalanan cukup lama, mereka tiba di sebuah mansion mewah milik Riri, Geri dan Rendi mengscan kartu miliknya, Jiah yang samgat asing dengan benda itu, tentu saja bingung


"itu kartu apa kak?", tanya Jiah kepada Geri

__ADS_1


"itu kartu masuk kemansion ini", jawab Geri


"hah? wah", ucap Jiah terkagum


..."penjagaan yang sangat ketat, kartu mewah, rumah mewah, kak Karin benar benar luar biasa", batin Jiah...


"mari masuk", ucap Geri


Mereka semua masuk dan menuju kamar Riri


"kak kenapa kita kesini? kak Karin baik baik saja kan?", tanya Jiah yang merasa feelingnya mulai tidak enak


"Kau bisa lihat sendiri didalam", ucap Geri membuka pintu kamar Riri


Jiah masuk kedalam kamar yang mewah itu, terdapat dua lelaki lagi didalamnya, satu duduk disofa, satu lagi menangis disamping ranjang, dan ada seorang gadis berbaring diranjang,


"kak itu siapa?", tanya Jiah


"mendekatlah", ucap Geri,


Jiah berjalan kearah ranjang dan dia melihat Riri dalam keadaan yang sangat pucat dan lemah, sangat berbeda dari terakhir kali bertemu. Hati Jiah merasa sakit melihat kondisi Riri, dia tiba tiba jatuh terduduk dilantai. Mereka semua melihat itu, sedikit bingung dengan Jiah


"kak kak Karin, kenapa? dia kenapa?", tanya Jiah yang bangkit lalu naik ke ranjang Karin


"kondisinya sedang lemah, dia kecapean kerja, jadi sakit lama nya kambuh", ucap Dio


"tapi tapi kenapa, kenapa pucat begini? ada bekas darah juga di hidungnya, kak kakak kenapa?", tanya Jiah menggenggam tangan Riri


"*hatiku benar benar sakit melihatnya seperti ini, tidak mungkin aku tega menyakitinya", batin Jiah


"sepertinya dia tulus", batin Dio


"Riri benar, dia sangat polos, sungguh disayangkan jika dia ternodai oleh pikiran busuk jalang itu", batin Joi*


"sepertinya dia tulus, tidak terlihat kebohongan dimatanya", bisik Nita


"bagaimana kau tau?", bisik Rendi


"Riri pernah mengajariku cara menilai seseorang melalui mata, dan terlihat jelas dimata Jiah, dia benar benar sayang dengan Riri, walau masih sedikit ragu", bisik Nita


"ragu? apa maksudmu?", bisik Geri


"dia seperti disuruh oleh seseorang untuk berbuat jahat, tapi dirinya melawan, kau ini sarjana tapi psikologis begini tidak tau, sarjana apa kau ini", omel Nita


"mana aku tau, jurusanku buka psikolog", bisik Geri


Jiah terus mengelus tangan Riri, hatinya tidak bisa dibohongi, dia benar benar tulus kali ini, dia tidak peduli lagi dengan mommynya. Karena Riri tidak kunjung sadar, Jiah tertidur disampingnya, diranjang yang sama dengan Riri


"mereka benar benar seperti kakak adik", ucap Joi


"kau benar kak, dia sepertinya tulus dengan Riri", ucap Dio


"kalian ini benar benar bodoh ya, dia sudah menangis sampai ketiduran begitu, masih bilang 'sepertinya tulus?', kau mau ku lempar kursi?", ucap Nita emosi kepada Dio


"sarjana apa kalian ini? hah!", ucap Nita kesal lalu duduk di sofa


"kenapa pacarmu itu Rendi? sakit?", tanya Dio bingung


"aku juga tidak tau tuan", jawab Rendi


Joi hanya tertawa dan berbisik


"mungkin Rendi sudah lama tidak menciumnya", bisik Joi membuat Dio dan Geri tertawa


"Dio, dimana dapurnya? aku sungguh haus",, tanya Nita


"ada dilantai bawah, Ren, antarkan dia sana, bisa bisa dia nyasar nanti", ucap Dio


"apakah ada cemilan juga?", tanya Nita


"ads, cari sendiri dikulkas atau lemari, bawa kesini juga, mungkin Riri akan bangun jika mencium aroma macaron", ucap Dio


"em kau benar, dia pernah bilang dia memiliki obat terampuh, yang kedua adalah macaron, tapi pertama aku tidak tau", ucap Nita lalu pergi dari kamar Riri


Dio terdiam sejenak mendengar ucapan Nita, dia lalu teringat Riri pernah mengatakan bahwa segalanya tentang Dio adalah obat terampuh untuknya.


.


.


.


***Yeorobun, maap ya hari ini eps nya cuma bisa up 2 kali :(


Karena lagi ga enak badan dan lagi banyak kesibukan lain :(


Tapi aku tetep up tiap hari kok*** :)


Tungguin terus ya guys, terima kasih atas dukungan dari kalian😗

__ADS_1


__ADS_2