CEO Cantik Pengidap Bipolar

CEO Cantik Pengidap Bipolar
2.6 Egois


__ADS_3

Suasana hati Riri kembali membaik karena tingkah suaminya dimobil tadi, kini mereka semua sudah berada didalam pesawat pribadi milik Hardi. Baby twins juga sudah tidur nyenyak dalam pengawasan baby sisternya.


*Flashback On*


Selama dimobil, Shila menceritakan kepada Hardi tentang kejadian yang dialami menantunya itu. Joi dan Harry duduk didepan, Eni dan Dilla duduk dibelakang, mereka mendengarkan dengan seksama penjelasan Shila


"mama harap kamu ngerti perasaan adik iparmu, kamu sendiri tau bagaimana Riri dulu dan apa yang dialaminya, kamu tidak bisa marah ataupun melarangnya karena cemburu dengan Jiah", ucap Shila ke Joi


"iya ma aku ngerti, aku juga ga marah kok, aku juga udah pernah ngucap janji ke Riri dan harus aku tepati", jawab Joi


"maaf nyonya, tuan, maaf kalo saya lancang karena nanya ini, tapi saya rasa kami perlu beberapa penjelasan supaya tidak menyingung perasaan nyonya muda kedepannya", ucap Eni


"kau belum memberi tau mereka Har?", tanya Joi


"maaf tuan, saya terlalu sibuk mengurus kantor dan urusan pribadi nona Riri, dan mereka direkrut oleh tuan Dio sendiri, saya tidak tau jika mereka belum tau", jawab Harry


"dasar anak itu! kenapa dia bisa ceroboh begitu? Eni dan Dila tidak tau apa apa, bagaimana kalau mereka tiba tiba melakukan kesalahan dan membuat mereka jadi korban istrinya", omel Joi kesal


Eni dan Dila saling memandang mendengar kata 'korban' yang keluar dari mulut Joi. Korban apa maksudnya?


Shila lalu menceritakan secara singkat perjalanan hidup Riri dan hubungan Riri dengan Jiah, hubungan Riri dengan orang tuanya, dan kenapa Riri sangat sensitif. Eni dan Dila sangat terkejut dan ikut iba setelah mendengar semuanya


"nyonya muda beruntung ya punya mertua seperti nyonya", ucap Dila


"tidak Dil, aku yang beruntung punya menantu seperti dia", ucap Shila


"jadi sekarang kalian mengertikan?", tanya Joi


"iya tuan" jawab Eni


*Flashback Off*


Joi dan Jiah duduk di kursi sebrang dekat dengan orang tua Riri, jauh didalam hati Joi dia sedikit merasa bersalah dengan Riri. Bukan sedikit lagi, dia mungkin sudah gelisah sejak tadi dan tidak lagi menoleh kearah Jiah, hanya sesekali saja


"mau yogurt kak?", tanya Jiah


Joi hanya menggelengkan kepalanya dan menyibukkan dirinya dengan handphone untuk mengalihkan perhatiannya dari Riri dan Jiah


"aku benar benar menjadi canggung begini", batin Joi


Jiah sendiri merasakan sedikit keanehan dari sikap Joi, dia mulai berfikir kesalahan apa yang dibuatnya hingga Joi bersikap seperti ini kepadanya. Namun Jiah tak berani bersuara dan memilih diam


"sekarang bisa cerita ke mas?", tanya Dio mengelus lembut pipi chuby istrinya.


Riri mengatur nafasnya sejenak lalu menegapkan badan menghadap suaminya, sorot matanya menangkap sorot mata suaminya. Di menit berikutnya dia lalu menceritakan permasalahannya sejak awal sambil berusaha mengontrol diri sendiri agar air matanya tidak ikut meleleh


Dio sesekali mengelus lembut tangan istrinya untuk membantu Riri mengontrol diri, tak jarang dia juga mengelus pipi dan kepala Riri. Perlakuan lembut Dio benar benar berhasil membantu istrinya untuk mengontrol diri dan emosi

__ADS_1


"andai tadi pagi aku tidak terbawa emosi juga, pasti dia tidak akan menangis seperti tadi", batin Dio


Setelah Riri selesai bercerita, dia langsung mengatur nafasnya dan membenamkan wajahnya dipelukan suaminya itu. Tangan Riri meremas erat lengan kekar suaminya, tangisnya pecah tanpa suara didalam dada bidang Dio.


"apa salah jika aku cemburu mas?", lirih Riri


"tidak sayang, kamu tidak salah. Mas juga akan sepertimu jika mas ada diposisimu sayang, perasaan kamu ini wajar kok, ga salah", bisik Dio menenangkan istrinya


"aku fikir aku sudah membuat kesalahan karena sudah membuka hati untuk kata 'maaf'", ucap Riri agak keras


"maafkan mas ya kurang ngertiin kamu, belakangan ini mas terlalu sibuk, maaf ya", ucap Dio lalu memeluk erat istrinya


Riri hanya bisa menangis didalam pelukan suaminya, dia benar benar sakit karena memendam ini selama 2 bulan lamanya.


"kak Karin dan kak Dio bertengkar ya kak?", bisik Jiah ke Joi


Jiah sedari tadi melihat kearah kursi kakaknya diseberang sana, telinga juga bisa mendengar beberapa kata dari mulut Riri. Jiah juga memperhatikan Joi yang tidak melepas pandangannya dari Dio dan Riri, hal ini semakin membuatnya yakin jika kakaknya sedang ada masalah


"aku tidak tau", jawab Joi singkat


"tapi bukannya daritadi kakak melihat kearah kak Karin terus?", tanya Jiah


"tidur saja Jiah, aku sedang banyak fikiran", ucap Joi


"kakak kenapa sih? kan aku cuma nanya", ucap Jiah lalu memalingkan wajahnya menghadap jendela


Jiah terdiam mencerna ucapan Joi, kata 'egois' membuatnya terganggu dan berfikir


"apa aku ada membuat kesalahan dengan kakak? apa yang egois dariku?", sahut Jiah pelan


Joi lalu menatap mata Jiah dengan tajam dan membuat Jiah memundurkan wajahnya


"Jiah, aku memang mencintaimu, aku sangat mencintaimu. Tapi aku lebih menyayangi adik adikku, aku tidak bisa mengorbankan mereka hanya demi keegoisanku", batin Joi


"tidak ada", jawab Joi singkat lalu menarik kepala Jiah kedalam pelukannya


"kau terlalu cerewet belakangan ini, aku jadi semakin pusing, tutup mulutmu dan tidurlah", ucap Joi


"bajingan!", umpatan Jiah yang sangat pelan namun bisa terdengar hingga ke telinga Joi


"aku bisa mendengarnya sayang", ucap Joi tersenyum tipis


"****!", umpat Jiah lagi


"berhenti mengumpat Jiah", ucap Joi lagi


Jiah benar benar berhenti mengumpat, dia hanya bisa memendam kesal dalam hati dan kebingungannya atas ucapan Joi tadi.

__ADS_1


Sementara dilain kursi, ada Harry yang duduk bersama dengan Rendi dan Nita yang sedang tertidur sambil menggenggam tangan kekasihnya.


"Harry",, panggil Rendi


"hm?",


"kau tidak berniat mencari pacar?", tanya Rendi


"tidak",


"kenapa?",


"belum tertarik",


"yang kemarin?",


"yang mana?",


"yang di Amsterdam kemarin", sahut Rendi yang berhasil membuat Harry mengernyitkan dahi


"ah itu... dia terlalu ribet", sahut Harry


"kalo gamau ribet ya gausa punya pacar", jawab Rendi


"ya justru itu aku gamau pacaran", sahut Harry tak mau kalah


"masih belum move on?", tanya Rendi


"dari?", tanya Harry bingung


"adiknya Geri", jawab Rendi yang membuat Harry menyemburkan kopinya


"ah ****! untung ga kena Nita", omel Rendi kesal


"kau tau darimana?", tanya Harry


"ada deh", sahut Rendi


Harry terus berperang dengan pikirannya sendiri tentang darimana Rendi tau hal ini, apa mungkin Geri yang memberi tahunya?


"aku rasa tidak. Bahkan Geri sendiri pun tidak ingin membahas ini",


"apakah Riri? tidak tidak! Riri tidak segabut itu untuk membuka kembali masa lalu ku"


"lalu siapa? apa mungkin bunda? sepertinya tidak. Untuk apa juga bunda repot repot bercerita tentang masa lalu ku"


Harry terus berperang dengan pikirannya sendiri karena ulah Rendi tadi. Masa lalu yang sudah dia buang jauh kembali muncul karena diingatkan Rendi

__ADS_1


__ADS_2