
"tidak boleh", ucap Riri dengan tatapan tajamnya saat Joi meminta izin untuk membawa Jiah ke Belanda nanti malam
"kenapa Ri? aku akan menjaganya aku janji", ucap Joi
"aku bilang tidak ya tidak kakak", ucap Riri
"Ri, pliss, aku akan kembali setelah semua urusan disana selesai", ucap Joi
"no", ucap Riri pelan dan tenang
Dio dan Rendi hanya memperhatikan dua orang itu yang terus berdebat. Kakaknya terus saja membujuk agar diberi izin sementara istrinya terus saja kekeuh pada pendiriannya untuk menolak memberi izin
"kapan kakak berangkat?", tanya Dio
"nanti malam", jawab Joi
"kenapa harus bawa adikku? pacar aja bukan malah mau bawa bawa adikku", sindir Riri dengan tatapan sinis
"aku tidak bisa jauh darinya Ri, tolong beri aku izin", ucap Joi memelas
"no way", ucap Riri mengambil tasnya
"sayang aku kekantor dulu ya", ucap Riri kepada suaminya lalu pergi dari kantor Dio
Joi menghela nafas panjang, banyak masalah bersarang dikepalanya saat ini. Dio lalu menghampiri kakaknya itu, dan menepuk nepuk pundaknya
"makanan adalah cara untuk mengambil hatinya", bisik Dio
"benarkah?", tanya Joi langsung antusias
"benar, coba saja sendiri", ucap Dio
"kalau begitu aku akan kekantor istrimu itu, aku harus mendapat izin darinya bagaimana pun caranya", ucap Joi
"haha pergilah kak, hati hati, jangan sampai dia mengamuk", ucap Dio
"oke", jawab Joi langsung pergi melesat keluar dari kantornya
Joi melajukan mobilnya menuju sebuah restoran yang dia sendiri tidak tau kalau restoran itu adalah milik adik iparnya
Joi memesan beberapa menu yang belakangan ini disukai Riri, dia duduk dan menunggu pesanannya datang. Saat sedang menunggu tiba tiba seorang gadis duduk dikursi didepannya, membuat Joi terkejut dan menatap bingung kegadis itu
"sedang apa kau disini?", tanya Joi
"kenapa kakak galak begitu?", tanya Pricilla
"cih jangan berfikir kau bisa menggodaku, dasar *******!", pekik Joi kesal
"aku masih penasaran bagaimana bisa gadis kecil itu meluluhkan hati dingin Dio", tanya Pricilla
"jangan pernah berfikir untuk merebut adikku lagi", ucap Joi dengan nada dingin
"hahaha bagaimana jika aku masih mencintainya kak?",. tanya Pricilla
"kau benar benar murahan ya, benar benar tidak punya malu, bagaimana bisa ******* seperti mu bertahan hidup hingga sekarang?", tanya Joi
"aku benar benar sangat mencintai adikmu kak, kau bahkan mendukungku dulu, tapi kenapa sekarang kau sangat mendukung gadis muda itu?", tanya Pricilla
"karena aku tau kebusukanmu, bahkan saat masih bersama adikku saja, kau berani menggodaku, bahkan sampai menjebakku dengan obat laknat itu", ucap Joi geram
"dan karena jebakan hina mu itu, adikku menjadi sangat marah padaku, tapi untungnya adikku bijak, jadi dia tau semua permasalahannya dari awal hingga akhir", ucap Joi
"tapi walaupun begitu, aku tidak tau apa yang kau gunakan hingga membuat adikku begitu tergila gila padamu", ucap Joi dengan tatapan sinisnya
Pricilla tertawa puas mendengar ucapan Joi, dia benar benar berhasil karena sudah pernah memecah belah persaudaraan abang beradik ini
"tapi kak, bukankah kau menikmatinya, bahkan kau memohon padaku untuk melakukannya hingga pagi, ah itu benar benar sangat nikmat, aku ingin melakukannya lagi", ucap Pricilla dengan senyuman menggoda
__ADS_1
"cih jangan harap", ucap Joi memalingkan wajahnya
"bagaimana jika aku membuat jebakan itu lagi? bukan untukmu tapi untuk mantanku itu, ah... istrinya pasti akan mengamuk habis habisan, atau bahkan membunuhnya hahaha", ucap Pricilla yang tertawa jahat
"jangan berani menganggu Riri atau saat kau menyesal nanti, sudah tidak ada harapan lagi", ucap Joi
"baiklah aku tidak akan menganggu rumah tangga adikmu", ucap Pricilla
Pricilla mendekati Joi dan duduk dimeja dihadapan Joi, dia menyentuh dagu Joi
"tapi aku masih bisa kan? merebut lelaki yang belum berumah tangga?", ucap Pricilla tersenyum dan memberikan flying kissnya
Joi hanya diam mematung dengan tatapan sinisnya. Tapi didetik detik kritis tiba tiba ada gadis lain yang menarik rambut Pricilla dan mencampakkannya kelantai, hal itu membuat kesadaran Joi kembali lagi ke kepalanya
Pricilla marah karena dia dijambak dan dicampakkan begitu saja, dia lalu bangkit dan mencoba melawan gadis itu. Tapi tenaga Pricilla kalah oleh gadis itu, Joi melihat pertengkaran dua gadis itu, dan ternyata Joi mengenalnya
"jangan berani menyentuhnya sebelum ku buat kau mati mengenaskan", ucap gadis itu dengan mata melotot dan tangan yang masih menjambak rambut Pricilla
Joi hanya tersenyum melihatnya, gadis itu lalu mengikat tangan Pricilla
"apa kakak baik baik saja? aku harus membawa ******* satu ini, jika dibiarkan saja dia akan menjadi hama yang mengganggu", ucap Ara
"aku baik baik saja, terima kasih karena sudah menolongku", ucap Joi
"iya kak sama sama", ucap Ara
Kemudian Basree datang bersama dengan Varel
"apa tuan baik baik saja tuan? apa ada yang terluka?", tanya Varel
"tidak tidak, aku baik baik saja", ucap Joi
Basree dan Ara pergi membawa Pricilla kedalam mobil, lalu membawa gadis itu pergi dari sana
"baiklah tuan, saya akan pergi, ada beberapa orang yang harus saya urus", ucap Varel
"kami sedang menjalankan tugas dari nyonya Riri tuan, dan sepertinya ini akan berakhir seperti Alexa", bisik Varel
"apa yang terjadi? ada apa sebenarnya?", tanya Joi
"maaf tuan saya tidak bisa memberi tahu ini, nyonya sendiri yang akan memberi tahu nanti", ucap Varel
"saya permisi dulu tuan", ucap Varel mengundurkan diri
"baik, terima kasih ya", ucap Joi
Beberapa saat kemudian pesanan Joi datang, dia pun membawa makanan itu dan pergi menuju kantor adik iparnya itu
Begitu sampai dikantor Riri, ternyata Riri sedang mengadakan meeting dengan petinggi petinggi diperusahaannya. Joi pun duduk menunggu, dia tidak ingin masuk keruangan Riri dan lebih memilih mengobrol dengan Fikri, Adam dan Hafiz di departemen Riri
Beberapa menit kemudian meeting selesai, Riri kembali keruangannya, Joi melihat itupun langsung masuk mengikuti Riri.
"kakak sedang apa disini?", tanya Riri yang bingung melihat Joi ada dikantornya
"sedang membujukmu agar memberiku izin untuk membawa adikmu itu", ucap Joi
"ngebet banget ni orang ye", sindir Riri
"pliss Ri pliss bangett", ucap Joi dengan muka melasnya
Riri pun menghela nafas panjang, lalu duduk disofa depan Joi dan memakan makanan yang dibawa Joi
"tapi kakak harus janji untuk menjaganya, aku tidak akan terima jika adikku terluka sedikitpun", ucap Riri
"iya aku janji, aku benar benar akan menjaganya", ucap Joi dengan senyum yang mengembang
"baiklah, bawalah dia, amankan dia dan jaga dia, aku juga ada urusan disini dan tidak bisa menjaganya untuk sementara waktu, jadi aku fikir mungkin akan lebih baik jika dia ikut dengan kakak", ucap Riri sambil mengunyah
__ADS_1
"baiklah terima kasih karena sudah percaya padaku", ucap Joi tersenyum
"tapi, kau sedang ada urusan apa? apakah ada masalah?", tanya Joi
Riri tersenyum smirk menatap kakak iparnya itu
"aku ingin menghukum gadis yang sudah berani menyentuh suamiku beberapa bulan lalu", ucap Riri santai
"Pricilla maksudmu?", tanya Joi yang dibalas anggukan dari Riri
"lalu yang tadi itu? perintah darimu juga?", tanya Joi mengingat kejadian direstoran tadi
Riri mengangguk dan tersenyum, dia terus mengunyah dan sedikit geli melihat ekspresi wajah kakak iparnya
"tapi bagaimana jika ketahuan polisi? bisa saja pemilik resto itu akan melaporkan orang orang mu", ucap Joi
"tenang saja, aku akan merekayasa rekamannya", ucap Riri
"kau kenal dengan pemiliknya?", tanya Joi
"akulah pemiliknya kakak, resto itu milikku", ucap Riri kesal
"benarkah? kenapa aku tidak tau?", tanya Joi terkejut
"karena selama ini kita hanya makan dirumah atau diresto milik mas Dio, dan belum pernah aku bawa kakak ke restoran milikku", ucap Riri santai
"benar juga", ucap Joi pelan
"lalu akan kau apakan gadis itu?", tanya Joi
"terserahku dong", jawab Riri tertawa kecil
"hati hati dalam bergerak", ucap Joi
"tenang saja, suamiku sudah mengatur semuanya", jawab Riri
"jadi Dio juga terlibat?", tanya Joi membelalakkan matanya
"tentu saja, dia juga harus bertanggung jawab, jadi dia juga terlibat disini, aku tidak akan sendirian kak, aku punya teman untuk bermain", ucap Riri lalu tertawa
"wahh... wahh... yang benar saja wahh", ucap Joi menganga
"wah aku ingin sekali melihat kolaborasi kalian berdua, tapi sayangnya aku harus pergi dari negara ini karena urusan ku di Belanda", ucap Joi
"sangat disayangkan", ucap Riri mengejek
"baiklah kalau begitu aku akan pulang, dan mempersiapkan keberangkatanku dan Jiah, kau dan adikku, berhati hatilah kalian ya, aku tidak bisa mengawasi kalian kali ini", ucap Joi
"tidak apa apa kak, cukup jaga saja adikku", ucap Riri tersenyum
"baiklah, aku permisi dulu", ucap Joi lalu pergi dari ruangan Riri
Beberapa saat kemudian handphone Riri berdering, tertera nama Varel disana
"hm bagaimana? apakah sudah diurus semuanya?", tanya Riri
"sudah nyonya, hanya tinggal menunggu pperintah nyonya selanjutnya", jawab Varel
"hm baiklah, aku akam berikan perintaj selanjutnya setelah mengantarkan kak Joi dan Jiah kebandara", ucap Riri
"baik nyonya, saya juga sudah memerintahkan Koko untuk memperketat keamanan dan memantau semuanya", ucap Varel
"thankyou, kalian memang bisa diandalkan", ucap Riri tersenyum lalu mematikan panggilan itu
Riri kembali melanjutkan pekerjaannya, dia bekerja secepat dan sedetail mungkin karena harus mengejar waktu dan mempersiapkan semuanya sebelum libur panjangnya
Begitu juga Dio yang sedang bekerja dan sibuk meeting sana sini, ia berencana akan berlibur dengan istrinya setelah semua urusan disini selesai
__ADS_1
Sementara Jiah dan Joi sedang berada dimansion nya dan mempersiapkan barang barang mereka yang penting penting saja. Mereka juga sudah izin dengan Hardi dan Shila