
Jiah dan Joi sampai dimansion Riri, Jiah sangat senang setelah mendengar kabar kehamilan kakaknya dan semua penjelasan dari Joi
Jiah langsung berlari kearah kamar Riri, tapi Joi menahannya
"nanti saja mungkin mereka sedang ada urusan", ucap Joi was was, karena dia tau kalau tadi pagi adiknya itu melepas semua pakaian Riri
"aku mau sekarang, aku mau peluk kakakku", bantah Jiah langsung menerobos masuk
"Jiah..", ucap Joi mengejar Jiah
Langkah Jiah terhenti saat melihat kakaknya itu sedang bercumbu mesra didepan cermin. Joi segera menutup mata Jiah dengan kedua tangannya dan menarik Jiah keluar dari sana. Joi menarik Jiah masuk kekamarnya dan meletakkan Jiah diatas ranjangnya
"apa itu tadi?", tanya Jiah masih terkejut
"sudah kubilang nanti saja", ucap Joi agak gugup
"astagaa, mataku", ucap Jiah menutup wajahnya
"dasar bocil, seperti tidak pernah ciuman saja", ucap Joi yang membuat Jiah mengerucutkan bibirnya
Jiah menarik tangan Joi dan melemparkannya keranjang, tubuh Joi jatuh keranjang seperti dihempaskan. Jiah menindih Joi dari atas dengan kedua tangannya, dia melemparkan tatapan tajam kemata Joi sambil mendekatkan wajahnya
Joi tidak melawan, dia cukup terkejut dengan gerakan Jiah yang tiba tiba, Joi merasakan sesuatu miliknya menegang saat Jiah menindihnya, apalagi saat tubuh mereka menempel
"gadis ini benar benar mewarisi kegilaan kakaknya, padahalkan mereka tidak ada ikatan darah", batin Joi menelan salivanya
Joi berusaha menahan nafsunya yang semakin menjadi karena tingkah Jiah, sudah lama dia berpuasa dan tidak menyentuh tubuh wanita, tapi pagi ini Jiah memberinya sentuhan dadakan
"aku bisa gila, aku bisa khilaf", batin Joi
"sedang apa kau ini Jiah?", tanya Joi bingung
"kakak yang sedang apa? kenapa keringatan begitu?", tanya Jiah balik
"kau kenapa menindihku begini?", tanya Joi
"aku mau tanya", ucap Jiah
"tanyalah", ucap Joi
"memangnya kakak pernah ciuman? seperti kak Karin tadi? aku lihat kakak tidak terkejut seperti ku",, ucap Jiah menyelidiki mata Joi
Joi semakin panas dingin dengan pertanyaan Jiah, hasratnya semakin membakar tubuhnya
"pertanyaan macam apa itu bocil astagaaa", teriak batin Joi
"memangnya kenapa? kau mau juga seperti kakakmu?", tanya Joi tiba tiba
"astaga mulutku kenapa", batin Joi langsung menutup bibirnya
Jiah menatap tajam ke Joi
"aku rasa kakak tidak bisa seperti kak Dio, kak Dio benar benar, wahh... berbeda jauh dengan kakak saat ini", ucap Jiah melirik Joi
"bagaimana jika aku bisa? aku bahkan lebih ahli daripada adikku itu", ucap Joi kesal
"aku rasa tidak", ucap Jiah lalu bangkit dan duduk di bibir ranjang
"ngeremehin banget ni bocah", batin Joi
Joi menarik tangan Jiah dan melemparkannya ke ranjang, dia balik menindih Jiah, dia berusaha menahan hasratnya yang semakin menggebu gebu, Joi menenggelamkan wajahnya dileher Jiah
"kakak kenapa? seperti habis lari maraton saja", ucap Jiah yang merasakan nafas hangat Joi dilehernya
"kakak deg deg'an? aku bisa merasakan itu dari dada kakak", oceh Jiah yang merasakan dada Joi yang berdebar kencang
"kakak sangat harum, aku suka wangi ini", ucap Jiah menyesap harum tubuh Joi dileher Joi membuat hasrat sang pemilik tubuh semakin menggebu gebu tidak karuan
"Jiah...", panggil Joi dengan suara nya yang berat sungguh dia hampir tidak bisa menahan lagi hasratnya
__ADS_1
"hm?", tanya Jiah
"aku laki laki", ucap Joi
"aku perempuan", tanya Jiah
"aku juga punya hasrat dan *****, sama seperti adikku", ucap Joi menyungsupkan wajahnya dileher Jiah, dia menyesap harum tubuh Jiah
"geli kak", ucap Jiah tertawa kecil
"dan saat ini, kau membangunkan hasratku, kau harus tanggung jawab", ucap Joi lagi
Lidah dan tangan Joi bermain dileher dan belakang telinga Jiah, membuat suara tawa Jiah berubah menjadi ******* ******* kecil. Jiah meremas lengan Joi saat merasakan hasratnya ikut naik karena tingkah Joi
Joi tersenyum melihat respon tubuh Jiah, dia yakin sekarang bocah ini juga merasakan yang dia rasakan, Joi membuat beberapa kismark dileher belakang Jiah dengan gerakan sangat lembut, membuat ******* dari bibir Jiah terdengar lebih jelas
"bagaimana rasanya?", tanya Joi menatap Jiah
"ini... sedikit aneh, geli... tapi aku seperti...", ucap Jiah berfikir
"ketagihan?", tanya Joi tapi tidak dijawab Jiah
"kau membuat hasratku bangun, bagaimana aku menidurkannya lagi sekarang?", tanya Joi yang menempelkan hidungnya dihidung Jiah
Wajah Joi turun perlahan lalu ******* lembut bibir mungil Jiah, dia menahan tengkuk gadis itu dengan satu tangan, sementara tangannya yang lain menahan tubuhnya. Jiah hanya diam menerima ciuman itu, dia tidak pernah merasakan ini sebelumnya jadi dia tidak tau harus bagaimana
Joi sadar bahwa gadis yang bersamanya sekarang benar benar polos dan tidak pernah tersentuh, Joi lalu memberikan ciuman dengan gerakan paling lembut yang membuat mereka terbuai suasana. Joi tidak berniat untuk menyentuh bagian lain tubuh gadis yang bersamanya sekarang
Mereka berciuman cukup lama, hingga akhirnya Joi menyudahi aktifitas mereka itu. Joi tersenyum tipis melihat bibir Jiah yang sedikit lebih tebal daripada sebelum kissing
"bagaimana? aku juga ahli kan seperti adikku itu?", tanya Joi
"kakak membuatku malu", ucap Jiah dengan pipi nya yang merona
"kenapa?", tanya Joi
Joi sedikit murung mendengar itu
"maaf, aku fikir kau tidak punya pacar, maafkan aku", ucap Joi mengelus lembut wajah Jiah
Jiah menatap kesal kearah Joi, lalu memukul dada lelaki yang diatasnya itu
"aw", pekik Joi
"kakak mengejekku?!", seru Jiah kesal
"hah?", tanya Joi bingung
"aku memang tidak punya pacar dan tidak pernah pacaran, makanya aku mau cari pacar! nyebelin!", ucap Jiah mendorong tubuh Joi
Jiah bangkit dari ranjang Joi dan pergi kekamarnya dengan perasaan kesal
Sedangkan Joi tersenyum mendengar pernyataan Jiah, dia senang saat tau Jiah masih single, ini benar benar membuat hatinya senang
Dikamarnya, Jiah bercermin dan melihat kismark yang dibuat Joi tadi, dan juga bibirnya yang sedikit lebih tebal dari biasanya
"lipstikku hilang", rengek Jiah
Joi lalu mengetuk pintu kamar Jiah, dia berfikir bahwa Jiah pasti sedikit kebingungan dengan kismark tadi, tak lama kemudian Jiah membuka pintunya dan melihat Joi berdiri disana
"masuk saja", ucap Jiah langsung pergi meninggalkan pintu kamarnya terbuka dan duduk didepan meja Rias
Joi masuk dan menutup pintu, dia lalu berdiri dibelakang Jiah yang sedang bercermin
"apa kakak menggigitku tadi? leherku ada ini nih padahal sebelumnya ga ada", ucap Jiah mengikat rambutnya keatas hingga membuat lehernya terpampang jelas beserta dengan beberapa kismark disana membuat Joi menelan salivanya
"apakah sakit?", tanya Joi menyentuh leher Jiah
"tidak, tapi bagaimana cara menghilangkannya?", tanya Jiah balik
__ADS_1
"itu akan hilang sendiri nanti", ucap Joi santai
Jiah menghela nafas lega
"setelah 5-7 hari", lanjut Joi
Jiah membelalakkan matanya, dia lalu mengejar Joi dan memukulinya
"kakak jahat, padahal aku ingin memakai pakaian terbuka minggu ini, malah digigit begini ih", rengek Jiah kesal
Joi hanya tertawa mendengar semua ocehan dan rengekan Jiah. Setelah lelah, Jiah duduk disofa dan bersandar didada Joi
"aku mengizinkanmu", ucap Joi tiba tiba
"hah?", tanya Jiah lalu mendongak kearah Joi
"tentang pertanyaanmu saat dirumah sakit beberapa minggu lalu", ucap Joi
"saat kau bertanya, apakah boleh jika kau jatuh cinta denganku? aku mengizinkanmu", ucap Joi menatap Jiah intens
"kenapa baru dijawab sekarang?", tanya Jiah
"karena aku baru sadar, kalau ternyata aku yang sudah jatuh cinta padamu lebih dulu", ucap Joi menyentuh wajah Jiah
"apakah karena kissing tadi?", tanya Jiah
"tidak, sebelum itu, sebelum kissing tadi, sebelum saat dirumah sakit itu", ucap Joi menggelengkan kepalanya
"aku tidak tau pasti kapan itu, tapi aku baru sadar sekarang kalau aku punya perasaan khusus untukmu", ucap Joi menatap mata Jiah
"lalu kenapa baru diungkapkan sekarang?", tanya Jiah lagi
"aku selalu menghindari perasaanku saat hatiku mengatakan bahwa aku menyukaimu, tapi kali ini, aku tidak bisa menghindarinya lagi", ucap Joi
"benarkah itu?", tanya Jiah
"aku bersungguh sungguh", ucap Joi
Senyum Jiah mengembang dibibir nya mendengar ungkapan hati dari Joi, ini pertama kalinya dia jatuh cinta. Tidak hanya jatuh cinta, segalanya tentang dia dan Joi adalah pertama kali bagi Jiah
"aku juga menyukai kakak, tapi aku belum jatuh cinta dengan kakak", ucap Jiah langsung to the point, dia sengaja menyembunyikan perasaannya
"why?", tanya Joi
"karena aku tau, kakak dan adik kakak itu hampir sama, hati kalian berdua belum bisa lepas dari cinta pertama kalian", ucap Jiah
Deg!
Jantung Joi kembali berdebar, tapi kali ini adalah debaran ketakutan, hati nya terasa tercubit saat mendengar Jiah mengatakan hal itu. Joi sendiri tidak menyangka bahwa Jiah mengetahui tentang masa lalunya
"darimana kau tau?", tanya Joi terkejut
"tentu saja aku tau, kak Riri pernah bercerita denganku tentang kakak dan mantan kakak, itulah sebabnya aku masih menjaga hatiku agar tidak jatuh cinta dengan kakak", ucap Jiah
"Riri menceritakan segalanya?", tanya Joi gugup, dia takut Jiah tau kalau dia dulu adalah seorang lelaki yang sering melakukan having s*x dengan mantannya
"tidak, hanya kak Riri bilang kalau kak Joi itu belum move on dari mantannya, hanya itu", ucap Jiah mengangkat kedua bahunya
Joi menghela nafas lega mendengar itu
"Jiah kakak memang meletakkan hati untukku, selesaikan dulu urusan kakak dengan masa lalu kakak, aku tidak ingin kejadian seperti kakakku juga", ucap Jiah
"asal kakak tau, semua hal yang aku lakukan bersama kakak adalah yang pertama kali", ucap Jiah menyentuh wajah Joi dan menatapnya dengan intens dan senyuman tipis
"lelaki pertama yang dekat denganku, lelaki pertama yang masuk kekamarku, lelaki pertama yang memelukku, menenangkan ku, membujukku, dan untuk kejadian hari ini, juga pertama kali dalam hidupku, untuk kali pertamanya ada lelaki yang mengutarakan isi hatinya padaku", ucap Jiah mendengus nafasnya dan tersenyum
"dan aku tidak ingin jika cinta pertamaku belum selesai dengan masa lalunya, aku ingin cinta pertamaku benar benar menaruh seluruh hatinya untukku", ucap Jiah lalu mencium pipi Joi
Jiah lalu keluar dari kamarnya meninggalkan Joi yang masih mematung disofa
__ADS_1