
Mereka sudah sampai di rumah Riri, dan ternyata mama Riri ada dirumah dan menyambut Riri di depan pintu
"kau darimana Ri ini udah hampir gelap", tanya Ningsih selaku mama Riri. "dan ini siapa?", lanjutnya ketika melihat Dio turun dari mobil
"kakak seniorku", ucap Riri singkat
"halo tante", sapa Dio sambil menjabat tangan
"halo juga, makasih ga udah nganterin Riri pulang, maaf ngerepotin", ucap Ningsih
"iya tante ga repot kok, saya pamit dulu ya tan", jawab Dio
"oh iya iya, hati hati ya", jawab Ningsih
"iya tan", jawab Dio lalu masuk ke mobil
Mobil Dio pergi dari rumah Riri, sementara Riri masuk ke dalam rumah
"kau darimana Ri ini sudah hampir gelap, mama udah nungguin daritadi",ucap Ningsih khawatir dan memberikan minum ke Riri
"latihan", jawab Riri singkat
"kenapa kau sangat dingin ke mama mu Ri? dia itu khawatir dengan mu karena kau daritadi ga ada kabar", ucap ayah Riri
🚫warning🚫
beberapa scene dibawah ini tidak pantas ditiru ya guys
"khawatir?", tanya Riri yang sedang menahan marahnya
"iya mama khawatir denganmu Ri", ucap Ningsih sambil memegang tangan Riri. Tapi dia baru sadar tangan Riri penuh dengan perban
"Ri ini tanganmu kenapa?!", ucap Ningsih yang terkejut melihat perban itu.
"kita kerumah sakit sekarang", ucap ayah Riri yang juga melihat perban Riri
"ga perlu", ucap Riri singkat
"tapi ini sampai diperban Ri", ucap Ningsih yang masih khawatir dengan Riri
"kau ceritakan ke ayah ulah siapa ini? biar ayah bereskan dia sekarang juga", ucap Tio memegang tangan Riri yang diperban itu
"apasih peduli mama dan ayah ke aku?", ucap Riri kesal lalu melepaskan tangan nya, lalu berjalan ke arah kamarnya
"kenapa kau bilang begitu Ri kami ini khawatir", ucap Ningsih
"mama dan ayah ga perlu buang buang waktu untuk khawatir ke aku", ucap Riri pelan
__ADS_1
"kenapa kau bicara begitu ke mama mu? dia itu khawatir melihat kau luka begitu", ucap Tio
"kenapa baru sekarang kalian khawatir denganku?!", teriak Riri lalu melemparkan gelas yang di tangannya
"kemana aja kalian selama ini?!! apa kalian khawatir hanya karena melihat luka di tanganku?!!", teriak Riri
"pelankan nadamu itu! berani sekali kau bicara begitu dengan orang tuamu!", ucap Tio dengan nada tinggi
"kalian khawatir denganku karena melihat perban di tanganku dengan jelas? apa kalian bisa melihat luka di hatiku juga? apa harus ku belah dadaku supaya kalian melihat hatiku yang sudah hancur ini?!!", teriak Riri sambil memegang pisau ditangannya
"Ri jangan Ri, jangan macam macam Ri", ucap Ningsih dan Tio
"selama ini kalian tak pernah punya waktu untukku, kerja kerja kerja dan kerjaa terus sepanjang waktuu!!", teriak Riri
"pergi jam 6 pagi pulang jam 10 malam, sampai dirumah hanya tidur, lalu berangkat kerja lagi, bahkan kita udah ga pernah lagi makan bersama, jangankan untuk makan bersama, bahkan aku sangat jarang melihat kalian ada dirumah ini, padahal kita satu rumah!", ucap Riri
"kami bekerja demi kau Ri, untukmu!", jawab Tio
"hidupmu sudah enak Ri kau hanya tinggal menikmati semuanya, apalagi yang kurang, kalaupun kami sibuk bekerja harusnya kau pengertian ke kami, kami bekerja juga untukmu", ucap Ningsih
"kurang pengertian?! kurang pengertian apa aku selama ini dengan ayah dan mama!! aku ga pernah protes ke kalian tentang waktu kerjaan kalian!!"
"kurang pengertian apalagi aku ma?!! dihari ulang tahunku tak satupun dari kalian memberiku ucapan selamat!! bahkan ingat pun tidak tanggal lahirku!!!", teriak Riri semakin menjadi jadi dan membanting vas bunga didekatnya
"kurang pengertian apalagi aku ma!! kalian pulang subuh, aku buatkan sarapan, mama janji akan turun supaya kita sarapan bersama, tapi justru malah tidur dan tak menyentuh makanan buatanku!! mama bilang aku kurang pengertian!!", teriak Riri melemparkan meja yang ada didekatnya
"Ri mama minta maaf, mama cape terus ketiduran, maaf ya Ri", ucap Ningsih sambil menangis
"apa yang kurang? aku kurang perhatian orang tuaku!! apa pernah kalian perhatian denganku?!", teriak Riri yang semakin menjadi jadi, kamarnya berantakan seperti kapal pecah
"apa kalian pernah tau apa yang kualami selama ini? apa yang kualami disekolah? diluar rumah? kemana aku? ngapai aja aku? apa yang kalian tau tentangku?", tanya Riri dengan nada pelan
"apa pernah kalian tau makanan kesukaanku? minuman favoritku? apa pernah kalian tanya gimana keseharianku? apa yang kalian tau tentangku,?!!", teriak Riri
"Riri!! Cukup! aku ga pernah mengajarkan mu untuk melawan orang tuamu! dia itu mamamu!", teriak Tio
"haha bahkan kalian ga pernah mengajarkan apapun padaku, hanya memberi ku uang uang uang dan uang, kalian fikir uang itu segalanya? kalian fikir uang bisa membeli perhatian orang tua untuk anaknya? kalo bisa akan kubeli sekarang juga!", ucap Riri
plak!!
sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Riri
"Riri minta maaf ke mamamu!", bentak Tio
"aku benci dengan anak yang melawan orang tua! kau sama sekali ga menghargai perjuangan kami!", lanjutnya
"aku juga benci dengan ayah dan mama yang hanya memperdulikan pekerjaannya dan hartanya, ayah lanjutkan aja pukul aku lagi, aku juga gamau hidup", ucap Riri pelan
__ADS_1
"selama ini aku hidup hanya seperti mayat yang diberi nyawa, hidup tanpa tujuan dan kasih sayang, aku memang punya tempat tinggal mewah, fasilitas bagus, tapi aku ga punya pelukan hangat dari orang tua ku", ucap Riri pelan
"coba ayah ingat, coba mama ingat, kapan terakhir kali kalian memelukku? cape aku yah aku cape yah, bukan cuma ayah dan mama yang bisa merasakan cape, aku juga bisa", ucap Riri pelan
"ayah dan mama keluar dari sini, keluar dari kamarku", ucap Riri pelan
"tapi Ri...", ucap Ningsih
"keluarr!!!", teriak Riri
Tio dan ningsih pun keluar dari kamar Riri, lalu Riri mengunci pintu. Terdengar suara tangisan Riri dari dalam kamar, dan juga barang barang yang dilempar Riri ke dinding kamar
Tio pun membawa istrinya ke kamar mereka
"aku sudah duga ini akan terjadi, bagaimana pun Riri itu anak kita mas, harusnya dia yang kita perhatikan bukan Jiah", ucap Ningsih sambil menangis
"ma sudah ma, Riri hanya marah, mungkin dia ada masalah di sekolahnya, aku akan menanyakannya ke pihak sekolah nanti", ucap Tio
"aku akan tinggal dirumah ini mulai sekarang, aku kan putuskan kontrak kita, aku gamau Riri hancur karena keserakahan kita mas", ucap Ningsih lalu berjalan mengambil handphonenya
"ma tunggu ma, kalau kontrak ini kita batalkan sekarang, mau makan apa kita? bagaimana masa depan Riri nanti?", ucap Tio menghentikan istrinya
"aku sendiri ga yakin Riri akan baik baik saja mau kontrak ini batal atau lanjut", ucap Ningsih. "Riri itu anak kita mas, kita harus lebih mikirkan dia daripada Jiah!", teriak Ningsih
"ma kita harus mikirkan rencana lain, jangan gegabah", ucap Tio menenangkan istrinya
Tiba tiba mereka mendengar suara barang barang jatuh di lantai bawah
.
.
.
wah, ada apalagi nih?
siapa yang jatuhin barang barangnya?
kontrak apa yang dimaksud orang tua Riri?
siapa itu Jiah? apa maksud dari semuanya?
nantikan terus episode selanjutnya guys
makasih banyak udah mampir kesini
tetap jaga kesehatan ya manteman
__ADS_1
bye bye >•<