
Riri mendengar itu langsung bangkit, dan mencabut selang infusnya, semua orang terkejut melihat Riri yang bangkit dari ranjangnya, karena tak ada yang tau bahwa Riri sudah siuman dan mendengar kan cerita pak Hardi sejak tadi
Dia sangat marah mendengar kenyataan yang sebenarnya. Sekarang yang ada dikepalanya hanya ingin membunuh ayahnya 'Tio'.
"sayang kau sudah siuman?", ucap Dio yang terkejut melihat Riri bangkit tiba tiba
"sayang kau mau kemana? tenang dulu sayang", ucap Dio berusaha menghentikan Riri
"lepass!!!", teriak Riri mendorong Dio hingga tersungkur ke lantai
"nona tenang dulu non, kondisi non Riri masih belum pulih", ucap Geri menahan Riri
"aku ga peduli!! akan kubunuh manusia brengsek itu!", teriak Riri mendorong Geri dan melempar semua barang yang ada didepan matanya
"Ri tenang dulu Ri kita bicara dulu", ucap Hardi
"dimana dia sekarang?! biar aku sendiri yang ngambil nyawanya! jawabb!!!", teriak Riri
Riri kehilangan kendalinya dan memegang pisau ditangannya, dia mengamuk didalam ruangan itu dan melempar semua barang barang yang ada disitu. Lalu tak disangka psikolog terapi Riri dan dokter Fira masuk keruangan
"siapa kau?! kau kah Jiah?! sini kau! biar aku yang membunuhmu!!", teriak Riri berjalan kearah psikolog itu dan mengarahkan pisaunya
Bella yang merupakan psikolog terapi Riri sedikit panik melihat Riri mengamuk, dia tau saat ini Riri sedang marah dan ilusi karena traumanya
"Ri jangan Ri sadar Ri", ucap Dio berusaha menahan Riri
"bu Riri sadar bu, kendali diri bu Riri", ucap Bella
Dio dan 3 sekretaris itu memegang Riri dengan kuat, lalu Bella berusaha menenangkan Riri namun gagal, dia lalu memanggil Hardi dan menyuruhnya mengelus rambut Riri, saat Hardi melalukannya tiba tiba Riri berhenti berontak
"Sayang, kamu tenang ya, kita bicara baik baik ya", ucap Hardi lembut
"papa?", ucap Riri berusaha sadar
Shila juga mendekat dan memegang tangan Riri
"sayang kamu kuat, lawan trauma itu, kamu bisa, kamu bukan Riri yang lemah, kamu harus kuat supaya bisa melawan mereka", ucap Shila
"mama?", ucap Riri yang sudah tenang
"papaaa!!", teriak Riri menangis memeluk Hardi, Shila pun memeluk Riri. Riri menangis sejadi jadinya
Setelah Riri tenang, mereka semua duduk disofa, dan berkumpul. Shila masih memeluk Riri yang masih sesegukan
"sayang, kita bicara dulu ya? kamu harus kuat, kendalikan dirimu ya", ucap Shila lembut dan dibalas anggukan pelan dari Riri
Bella berbicara dengan Riri supaya Riri tenang dan bisa mengendalikan diri. Riri pun kembali normal dan mengatur nafasnya
__ADS_1
"Bella, kenapa aku ga ingat apapun tentang kejadian itu, bahkan dengan papa aku ga ingat sama sekali", tanya Riri
"sepertinya ada yang memberikan obat yang bisa merusak ingatan bu Riri, sehingga bu Riri ga bisa ingat kejadian itu lagi", ucap Bella
"obat?", beo Riri
"iya bu, namun jika kejadian dihari itu, terulang kembali, ingatan bu Riri muncul kembali, itulah sebabnya sebaiknya bu Riri segera menyelesaikan masa lalu bu Riri, lepaskan rasa bersalah di dada bu Riri dan juga, kendalikan diri bu Riri, saat trauma itu datang, lawanlah dengan kenangan kenangan manis", ucap Bella
"kamu pasti bisa sayang, kamu kuat, jangan lemah ya sayang, banyak yang sayang sama kamu", ucap Dio memeluk Riri
Bella, Fira, Hardi, Shila dan 3 sekretaris itu keluar dari ruangan
"yang dibutuhkan bu Riri adalah yang selama ini tidak pernah dia dapatkan, seperti pelukan hangat orang tua, dukungan orang orang sekitar, dan cinta dari orang yang dia sayang, jadi itu adalah jawaban kenapa bu Riri bisa tiba tiba tenang saat tuan Hardi mengelus rambut bu Riri tadi", ucap Bella menjelaskan
"bu Riri mengalami masa sulit di masa lalunya, dia seperti gelap malam dimusim dingin yang membutuhkan hangatnya matahari, saat matahari datang, saat itulah bu Riri mampu menepis traumanya perlahan", ucap Bella
Mereka semua mengerti, lalu Bella dan Fira pergi dari situ dan sudah memperbolehkan Riri pulang saat sudah tenang sepenuhnya, mereka kembali masuk ke ruangan Riri, kecuali 3 sekretaris itu yang harus kembali kekantor dan menghandle pekerjaan kantor
"aku mau pulang kak", ucap Riri ke Dio
"kerumah papa ya Ri? tinggal sama papa dan mama dulu, mau?", tanya Shila sambil menatap Riri
"Riri mau ke apartemen aja ma", ucap Riri pelan
"lain kali aja ma, pa, dia masih butuh waktu sendiri", ucap Dio
"iya pa, em... papa, mama, Riri minta maaf atas kejadian tadi, dan juga, maaf karena ga ingat sama mama dan papa", ucap Riri
"gapapa sayang, gapapa, itu semua bukan salahmu", ucap Shila memegang wajah chubby Riri. Riri pun tersenyum
"ya sudah, kami pulang dulu ya sayang, kamu baik baik ya", ucap Shila
"Dio, jaga Riri ya, jangan sampe kenapa kenapa calon mantu ku ini", ucap Hardi
"aman pa,", ucap Dio tersenyum
"ca-calon mantu?", tanya Riri menatap bingung
"bukankah papa sudah cerita tadi? aku sudah melamarmu sejak kau masih 3 tahun, dan kakekmu setuju, itu artinya lamaranku sudah diterima dan kau adalah tunanganku", ucap Dio tersenyum nakal
"sayang, bukankah kau sudah dengar permintaanku tadi? kau melamarku dengan kakekku bukan denganku", ucap Riri tersenyum smirk
"pokoknya kau adalah tunangan ku apapun ceritanya", ucap Dio kesal
"aku mau yang resmi!", ucap Riri kesal
Hardi dan Shila tertawa melihat perdebatan anak anak itu
__ADS_1
"dia minta yang resmi Dio", ucap Hardi tertawa
"baiklah akan kuberikan yang resmi, tunggu ya", ucap Dio gugup, pipinya memerah karna Riri
"aku tunggu, besok!", ucap Riri menahan tawa
"hah?!", ucap Dio terkejut
"haha baiklah lanjutkan perdebatan kalian itu nanti, papa dan mama pulang dulu ya, jaga dirimu ya Riri, datang lah kerumah kalau sudah membaik", ucap Hardi mengelus rambut Riri
Riri mengangguk dan tersenyum, lalu Hardi dan Shila pergi meninggalkan anak dan calon mantunya itu.
"kau yakin ingin dilamar besok?", tanya Dio
Riri tak menjawab, hanya tersenyum nakal ke Dio
Mereka pun pulang ke rumah Dio, tapi karena Riri tertidur di mobil, Dio tak tega membangunkan kekasihnya itu. Dio pun menggendong Riri ala bridal style dan berjalan masuk ke dalam rumah
Dio mengunci pintunya, lalu membawa Riri masuk kekamarnya dan merebahkannya diranjang empuk miliknya. Kekasihnya justru malah memeluk guling yang ada disebelahnya.
Dio merasa lelah, hari ini adalah hari yang panjang, dia lalu mandi dan berendam sebentar. Setelah selesai mandi, dia masuk lagi kekamar dengan balutan handuk di pahanya dan bertelanjang dada, dia tidak menemukan Riri di ranjangnya, dan ternyata sudah berdiri dibalkon kamarnya. Dio berjalan kearah Riri dan memeluknya dari belakang
"kenapa sayangku?", tanya Dio.
"kenapa kerumah kakak? ku kira ke apartemenku", jawab Riri tanpa membalik badan
"aku khawatir denganmu, aku tak ingin berpisah darimu, jadi kubawa kau kesini", ucap Dio pelan
"sayang, pakai bajumu dulu sebelum ku tarik handukmu itu disini", ucap Riri kesal lalu membalikkan badannya, dia bisa melihat dada bidang milik tunangannya itu, begitu menggugah selera
Dio justru tersenyum nakal mendengar kalimat terakhir Riri dan menggendong Riri masuk ke kamarnya
"kau menggodaku?", bisik Riri ditelinga Dio. kini Dio bisa merasakan nafas Riri, dan tangan Riri yang gerak perlahan di belakang lehernya lalu turun ke dada, membuat hasratnya bergejolak
.
.
.
.
Nantikan terus episode selanjutnya ya guys,
makasih udah mampir kesini :)
stay safety ya semua :)
__ADS_1
bye bye >•<