
3 hari telah berlalu, mereka semua sudah menyelesaikan liburannya dan kembali kerumahnya masing masing. Hubungan Rara dan Geri semakin dekat, Sedangkan Riri masih marah dengan Dio. Namun Dio tampak seperti biasa saja, dia tidak menyadari kesalahannya
Hari ini adalah jadwal mereka untuk fitting gaun, Dio menjemput Riri dan mereka sedang dalam perjalanan kebutik milik Dio.
Butik terkenal yang sering dipercaya oleh artis dan orang orang ternama lainnya untuk acara mereka. Didalam perjalanan Riri tidak bersuara dan menyumpal telinganya itu dengan headset. Sementara Dio hanya diam dan fokus menyetir
Setelah sampai di butik, mereka disambut oleh para pekerja disitu, Riri mengagumi dalam hati betapa mewah nya butik ini
"wah mewah juga ya", batin Riri
"sayang sini masuk", ucap Dio ingin menggenggam tangan Riri namun Riri mengelak dan berjalan melewati Dio.
Mereka masuk ke ruang VVIP. Disana terlihat seorang wanita muda berumur 30 an sedang menawari Riri berbagai macam gaun
"Vio, berikan calon istriku itu gaun terbaik yang ada disini", ucap Dio
"baik tuan, calon istri tuan sangatlah cantik dan menawan, memiliki postur tubuh yang indah, pasti akan sangat cocok memakai gaun jenis apapun", puji Vio
"memang aku cantik, caper amat", batin Riri
"memang cantik, mataku tidak pernah salah", jawab Dio
Vio tersenyum lalu menjelaskan dan menawarkan beberapa jenis gaun kepada Riri. namun Riri tidak menggubris perkataan wanita itu dan hanya mencari cari gaun yang menurutnya menarik
Vio menyadari bahwa sang calon pengantin sedang dalam keadaan badmood, lalu dia mendatangi Dio
"maaf tuan, bolehkah saya bertanya?", tanya Vio
"ya?", jawab Dio
"sepertinya tunangan tuan sedang dalam keadaan badmood, jika dalam mode badmood seperti itu, akan sulit mencari gaun yang menarik hatinya", ucap Vio
Dio berfikir sejenak, lalu menyadari bahwa sejak malam itu, Riri tidak pernah berbicara kepadanya ataupun tersenyum lagi, dia selalu diam dan menunjukkan ekspresi wajah yang dingin
"baiklah kalau begitu, jika tidak ada yang menyangkut dihatinya, bilang ke saya nanti, akan saya bujuk dulu", ucap Dio
"baik tuan, tuan harus hati hati jika dalam masa masa mendekati hari H, jika mood pengantin dalam keadaan buruk, akan sulit menentukan segalanya", ucap Vio
"benarkah begitu?", tanya Dio.
"benar tuan, lebih baik perbaiki dulu moodnya", jawab Vio
"baiklah", jawab Dio
Riri lalu memanggil Vio, dia asal saja memilih gaun yang ada didepan matanya, karena dia mendengar percakapan mereka berdua
"tidak perlu repot membujukku, aku bisa sendiri", batin Riri
"kau sudah menemukan yang kau sukai sayang?", tanya Dio ingin merangkul pinggang Riri, namun Riri berputar dan mengelak dari sentuhan Dio lalu masuk ke ruang ganti
"bawa ini", ucap Riri kepada Vio sambil menunjukkan gaun yang tadi
Vio pun masuk keruang ganti dan membawa gaun itu, dan membantu Riri memakainya. Sedangkan Dio baru sadar dengan sikap Riri yang tidak ingin disentuh olehnya
"mengapa dia menghindariku?", gumam Dio
"apa aku melakukan kesalahan?", tanyanya lagi
"sepertinya tidak, semua berjalan normal saja", lanjutnya
"tapi dia tidak mungkin seperti itu tanpa alasan yang jelas, aku tau Riri bukan tipe cewe yang ngambek ga jelas begitu", gumam Dio
Dia berperang dengan fikirannya sendiri dan mencoba mencari celah dimana dia melakukan kesalahannya. Beberapa menit kemudian, Riri keluar dari ruang ganti dengan memakai gaun pilihannya
Dio tertegun melihat Riri, dia terpesona dengan penampilan calon istrinya itu, walaupun Riri memasang wajah dingin dan tidak bersahabat, itu justru memberikan kesan elegan kepadanya
"kau sangat cantik dengan gaun itu sayangku", puji Dio yang tidak mengedipkan mata
"ini sangat cocok dengan anda nyonya, sangat elegan dan berkelas", puji Vio yang sama terpesonanya dengan penampilan Riri
Riri melirik sejenak kearah Vio, lalu kembali menatap dirinya didepan cermin. namun Riri tidak mendengarkan Dio, dia sangat acuh dengan lelaki itu, dia juga tidak puas dengan pilihannya dan kembali memilih gaun lain
__ADS_1
"dia benar benar marah kepadaku", gumam Dio
Riri kembali lagi ke ruang tunggu dan membenahi gaun nya yang sudah diganti
"sayang, kau sangat menawan", ucap Dio ternganga melihat Riri
"ini tidak kalah cantiknya dari yang tadi", puji Vio
Namun ntah mengapa hati Riri tidak tertarik.
"ganti aja", ucap Riri datar lalu masuk ke ruang ganti lagi
Vio menatap Dio
"turuti saja mau nya, jika tidak, dia akan berubah menjadi singa liar", ucap Dio
"baik tuan", jawab Vio
Riri keluar lagi dengan gaun barunya. Kali ini dia sengaja memilih gaun yang terlihat sedikit seksi, dia ingin melihat reaksi Dio
"sayang, ini cantik... namun sedikit seksi menurutku", ucap Dio ragu, ada sedikit rasa takut kalau tunangannya itu akan meledak amarahnya disini
Riri tidak menjawab, dan justru melemparkan tatapan tajam kearah Dio. Vio melihat itu dan ada sedikit rasa was was didalam dirinya..
"sepertinya calon tuan Dio benar benar galak", batin Vio
"astagaa sungguh mengerikan, aku harus bagaimana?", batin Dio
"aku ingin yang lain", ucap Riri dingin lalu kembali memilih milih dan menunjuk beberapa gaun didepannya
"ada disini nyonya, masih banyak varian yang lain", ucap Vio berusaha ramah agar tidak terkena sasaran
Riri mencoba gaun lain, dia mencoba menatap dirinya sendiri diruang ganti
"bukankah nyonya sendiri yang memilih gaun ini?", tanya Vio bingung.
"sialan! sungguh menyebalkan! aku tidak suka! ini terlalu vulgar, bagaimana bisa aku memilih ini, ganti saja", omel Riri kesal, dia tidak sadar bahwa dia sendiri yang memilih gaun ini
"baik nyonya", ucap Vio
"bukankah tadi dia yang memilihnya? kenapa sekarang malah ngomel? sabar sabar ya ampun sabar", batin Vio
Vio pun mengganti gaun yang tadi dengan pilihan lain yang sudah dipilih Riri tadi..
"ah shitt!! mataku benar benar rusak hari ini, bagaimana bisa aku memilih gaun seperti ini astaga", umpat Riri kesal
"iya nyonya matamu benar benar sakit", umpat Vio dalam hati, ingin sekali rasanya menjambak nyonya mudanya itu
"dia benar benar tidak sadar", batin Vio
"apa benar aku yang memilih ini?", tanya Riri kesal kepada Vio
"iya nyonya benar", jawab Vio
"memangnya aku berani memilihkan untuknya? melihat wajahnya saja sudah membuat ku ingin lari dari sini", batin Vio
"baiklah, mungkin ini bisa membuat Dio membuka mulutnya itu, aku sungguh tidak tahan", batin Riri
Setelah itu Riri pun keluar dari ruang ganti, Dio yang sudah menunggu diruang tunggu, mengerutkan dahinya, dia memijat pelipisnya
"astaga dia kesurupan apa?", batin Dio
"haruskah aku protes? dia bisa meledak jika aku protes" batin Dio
"tapi inii sungguh.... arghhh", teriak Dio dalam hati, dia memijat pelipisnya, kepalanya sungguh sakit sekarang
__ADS_1
"jika ini tidak membuatnya membuka mulut, maka akan kurobek mulutnya itu sekarang juga", batin Riri
"sayang... ini sedikit... ah tidak, ini terlalu vulgar", ucap Dio ragu
"ini cantik", jawab Riri datar
"bukankah tadi dia sendiri yang mengomel saat diruang ganti?", batin Vio
"sayang, cobalah gaun lain, mungkin ada yang lebih cantik", jawab Dio pelan
Riri menurutinya lalu kembali keruang ganti, dia membawa gaun hitam yang menawan dimatanya. Lalu dibantu Vio untuk memakai gaun itu
"gila!", umpat Riri pelan saat melihat dirinya didepan cermin memakai gaun hitam itu
"nyonya, ini lebih vulgar dari yang tadi, apakah kau yakin?", tanya Vio
"em", jawab Riri
Mereka pun keluar dari ruang ganti. kali ini Dio meraup wajahnya, dia ingin teriak rasanya, disatu sisi dia sangat terpesona dengan Riri, tapi disisi lain, dia tidak mau tubuh seksi wanitanya diliat pria lain
"sayang ini lebih parah dari yang tadi, ini sangat vulgar", ucap Dio
"kenapa kau selalu protes!", ucap Riri kesal lalu masuk keruang ganti
"tuan saya mesti gimana? nyonya sendiri yang memilih gaun itu", jawab Vio
"baiklah, kau keluarlah, biarkan aku bicara dengannya", ucap Dio
"baik tuan", jawab Vio
"sepertinya mereka benar benar akan berperang, ini mengerikan", batin Vio lalu segera keluar dari ruangan itu
Riri berjongkok dan menangis diruang ganti, dia sangat kesal rasanya, dia sungguh tidak mood untuk hari ini, pikirannya sungguh kacau
"aku benar benar sudah gila", umpat Riri
"bagaimana bisa aku milih gaun ini, aarghh!",, teriak kecil Riri sambil memukul pahanya, lalu terduduk dilantai, dan meringkuk
"aku benar benar bisa gila", lirih Riri dalam tangisnya
Dio melihat dan mendengar itu, dia lalu perlahan mendekati Riri dan mengelus kepalanya
"sayang apakah aku melakukan kesalahan?", tanya Dio pelan, tapi justru membuat tangisan Riri semakin kuat
"bajingan! dia benar benar tidak ingat, sialan, aku ingin sekali menamparnya sekarang", umpat Riri dalam hati
Dio sedikit panik mendengar tangisan Riri lalu memeluknya
"sayang aku minta maaf jika aku melakukan kesalahan, bicaralah padaku, jangan seperti ini", bujuk Dio sambil mengelus rambut Riri
"aku juga ingin memarahimu, tapi aku tidak punya tenaga, kau tau?!", teriak Riri dalam hati
Riri tidak menjawab dan terus menangis. Sementara Dio terus meminta maaf dan membujuk kekasihnya itu, ini pertama kalinya mereka bertengkar setelah bersama dalam kurun waktu yang lama, dia tidak tau mesti berbuat apa, hanya bisa meminta maaf
Perlahan tangisan Riri mereda, dan mengatur nafasnya yang masih sesegukan. Dia melepaskan pelukan Dio, namun Dio memegang wajahnya dan menghapus air matanya
"sayang bicara padaku, apa salahku sayang? aku minta maaf", tanya Dio masih berusaha membujuknya
Namun Riri tidak bergeming, dia menutup tirai dibilik ruang ganti dan mengganti gaun tadi dengan bajunya
"aku mau pulang", ucap Riri datar, lalu mengambil tasnya dan keluar dari sana
Dio benar benar bingung dengan sikap Riri, dia pun menemui Vio dan meminta Vio memilihkan beberapa gaun untuk Riri, setelah masalah mereka selesai dia akan kembali lagi kesini, setelah itu dia kembali ke mobil dan terlihat Riri sudah duduk didalam mobil dengan air mata yang terus mengalir
Riri diam sepanjang perjalanan, sementara Dio juga tidak membuka suara, dia takut Riri akan marah ditengah jalan dan menimbulkan hal hal yang tidak diinginkan
Setelah sampai diparkiran gedung apartemen Riri, Riri segera turun dan menutup pintu mobil dengan kuat, lalu berlari ke lift. Dio mengejarnya dan terus menatapnya didalam lift
"sayang bicaralah denganku, jangan begini sayang", ucap Dio masih terus membujuk Riri
Dia berusaha memegang tangan Riri namun lift terbuka dan Riri segera keluar dari lift, Riri berlari masuk ke apartemennya dan menguncinya dari dalam. Sementara Dio yang mengejarnya hampir frustasi dan mengetuk pintu apartemen Riri yang sudah terkunci.
__ADS_1
Dio tidak bisa berfikir jernih, dia lalu melaju kearah rumahnya dan menelfon Rendi untuk membawakannya wine, kepalanya terasa akan pecah sekarang