CEO Cantik Pengidap Bipolar

CEO Cantik Pengidap Bipolar
1.94 Siapa Wanita Itu?


__ADS_3

Dio duduk disamping ranjang Riri, dia memegang erat tangan istrinya dan menangis. Dio sengaja meminta ruangan terpisah dari Geri dan Ningsih, dia juga tidak mengizinkan orang lain masuk keruangan Riri, bahkan mama dan papanya sekalipun


Dio mengelus lembut perut Riri, dia menangis lagi, pikirannya benar benar sangat kacau sekarang


"maafkan aku", lirih Riri pelan saat merasakan tangan Dio menyentuh perutnya


Dio segera menegakkan badannya dan melihat Riri, dia tidak tau Riri sudah bangun


"sayang kau sudah bangun?", tanya Dio


"maafkan aku, karena kecerobohanku hal ini terjadi", ucap Riri lalu duduk diranjangnya


Dio menangis dan memeluk


"jangan minta maaf sayang, harusnya aku yang minta maaf padamu, aku kurang perhatian dengan istriku, maafkan aku",, ucap Dio menangis


"aku memang belum berencana untuk punya anak, tapi saat aku mendengar bahwa aku mengalami pendarahan, hatiku sangat sakit, ini benar benar sakit", ucap Riri yang membuat Dio semakin menangis tak karuan


"aku bahkan belum sempat bermanja dengannya, belum sempat mengetahui kehadirannya, tapi dia sudah pergi lebih dulu, ini benar benar menyakitkan, tubuhku terasa seperti remuk tak bertulang lagi", ucap Riri


Tubuh Riri memang sangat lemas, dia juga tak membalas pelukan Dio, pandangannya kosong, mulutnya terus mengeluarkan rasa sakit dihatinya, tapi matanya tidak mengeluarkan air mata. Sementara Dio terus memeluk istrinya dan menangis mendengarkan Riri, rasa bersalah terus menghantam pundaknya


Jiah berdiri didepan pintu, melihat kedua kakaknya itu sedang berpelukan dan menangis, membuat Jiah ikut menangis. Jiah ikut merasakan sedih yang dirasakan kakaknya. Joi melihat itu, dia merangkul Jiah dan memeluknya


Kini perasaan Joi luluh dengan gadis kecil itu


"kak apa kak Karin akan baik baik saja? aku khawatir dengannya", ucap Jiah


"tenanglah, jangan khawatir, kakakmu itu kuat", ucap Joi


"kak, apa kak Dio dan kak Karin bertengkar?", tanya Jiah lagi


"kenapa?", tanya Joi


"kak Karin tidak membalas pelukan kak Dio, sepertinya mereka bertengkar", ucap Jiah polos


Joi lalu mengintip dari pintu, ternyata benar yang dibilang Jiah, Riri tidak membalas pelukan Dio


"apakah dia masih marah dengan Dio?", batin Joi


"jangan dipikirkan", ucap Joi mengelus rambut Jiah


Jiah hanya mengangguk dan menenggelamkan wajahnya didada Joi, beberapa saat kemudian, dia bertanya lagi


"kak", panggil Jiah


"hmm",, jawab Joi


"kenapa kakak memelukku?", tanya Jiah polos

__ADS_1


Joi baru sadar daritadi dia terus memeluk Jiah, pipinya menjadi merona karena pertanyaan Jiah, dia lalu salah tingkah dan ingin melepaskan pelukannya


"ah tidak usah, aku suka kakak peluk, dada kakak sangat wangi, aku suka", ucap Jiah kembali memeluk Joi dan menyesap harumnya maskulin tubuh Joi


Sedangkan Joi merasa jantungnya berdebar kencang karena tingkah Jiah


"biasanya aku hanya akan merasakan ini saat bersama Catrine, tapi kenapa sekarang? Apa aku...?", batin Joi


"no no no, ini gila, Riri akan mengamuk jika benar aku memiliki perasaan khusus dengan adiknya", batin Joi


Beberapa jam kemudian...


Riri masih terdiam menatap jendela dengan pandangan kosong, dia masih tak menyangka akan kehilangan calon anaknya. Sementara Dio berada diluar ruangan, dia duduk dilantai dan meringkuk, rasa bersalah menghantam dadanya, apalagi melihat kondisi Riri sekarang


Hardi berusaha menenangkan anaknya itu, dia tau pasti apa yang dirasakan Dio.


"bujuklah istrimu, dia pasti akan menerimanya, hanya butuh waktu saja, tenanglah", ucap Hardi


"pa, kenapa aku sangat bodoh? harusnya aku paham dengan dia", ucap Dio menangis


"wanita hamil memang sensitif, bahkan mungkin sikap mereka akan jauh berbeda dari biasanya, atau kebiasaan yang lainnya, dan kau harus hati hati menjaga ucapanmu itu, saat itu Riri sedang hamil, dia pasti sangat sensitif", ucap Hardi


Dio menangis seperti anak kecil ke Hardi, hatinya sangat sedih karena kehilangan calon anaknya yang pertama, dan juga atas kesalahannya ke Riri.


Dokter sudah mengizinkan Riri untuk pulang, Riri bangkit sendiri dari ranjangnya, dan mencabut selang infus begitu saja tanpa bantuan dokter atau suster. Dia berjalan dengan tertatih karena perutnya masih sakit, mungkin efek benturan itu


Riri pergi keluar dari rumah sakit itu tanpa diketahui keluarganya ataupun suaminya. Dia memanggil taksi lalu pergi menuju kantornya, didalam taksi dia terus meringis kesakitan karena perutnya masih sangat sakit


"gausah pak, oiya pak, saya ga bawa uang, nanti tagihannya minta saja sama salah satu bodyguard dikantor saya ya pak",, ucap Riri


"baik bu, tapi kalau boleh saya tanya, kenapa ibu sampai ga bawa uang?",, tanya Sopir itu


"ah itu tadi saya pingsan pak, jadi dompet saya masih ketinggalan dikantor", ucap Riri


"oh begitu ya bu", ucap supir itu


"bapak jangan takut, saya bukan penipu kok pak", ucap Riri yang melihat ekspresi supir itu


"ngga kok bu, saya ga berfikir seperti itu, saya hanya sedikit khawatir melihat kondisi ibu seperti itu", ucap supir itu


"saya gapapa pak", ucap Riri sambil menahan sakit


Beberapa menit kemudian mereka sampai dikantor Riri, Riri juga menyuruh bodyguardnya membayar tagihan taksinya.


"terima kasih ya pak", ucap Riri


"makasih juga bu", ucap supir itu


Riri lalu dibantu beberapa bodyguardnya untuk masuk kedalam, sementara yang lainnya mengeluarkan uang seratus ribu beberapa lembar.

__ADS_1


"apa segini cukup pak?", tanya salah satu bodyguard memberikan uang seratus ribu sebanyak 10lembar


"ini terlalu banyak pak, selembar saja sudah lebih", ucap supir itu


"gapapa pak ambil aja, ini ucapan terima kasih karena sudah membawa CEO kami dengan selamat, beliau baru saja mengalami pendarahan, jadi dia ingin mengucapkan terima kasih ke bapak karena bersedia membawanya kesini walaupun tau bahwa dia tidak membawa uang, dia sudah 3 kali diturunkan dijalan tadi pak karena ga bawa uang, tadi bu Karin cerita ke saya", ucap bodyguard itu


Supir itu terkejut, ternyata wanita yang dia bawa tadi adalah presdir diperusahaan besar itu. Dia pun menerima uangnya dan pergi dari sana


Nita terkejut melihat Riri yang dibawa oleh beberapa bodyguard itu


"Riri?!! kau sedang apa?!", tanya Nita langsung berlari menghampiri Riri


"diam dan jangan beritahu siapapun kalau aku ada disini, aku sedang tidak ingin diganggu", ucap Riri merangkul Nita


"kau baru saja pendarahan bagaimana bisa langsung kesini? ada apa?", tanya Nita


"apa ruanganku sudah dibersihkan?", tanya Riri balik


"sudah", jawab Nita


"Fikri, tolong telfonkan Varel, suruh dia datang keruanganku, dan jangan beri tau Dio bahwa aku disini, aku ada urusan", ucap Riri


"baik", jawab Fikri


"ada apa? urusan apa? kau kenapa?", tanya Nita


"ikut aku", jawab Riri


Riri dan Nita masuk keruangan Riri lalu mendudukkan Riri dikursi kebesaran itu. Riri mencari cari sesuatu dilacinya,


"kau sedang apasih", tanya Nita


"diam", jawab Riri


"nah ketemu", ucap Riri menunjukkan map coklat, lalu memberikannya kepada Nita


"buka", lanjutnya


Nita membuka map itu, dan terlihat foto perempuan cantik dengan rambut terurai sedang menangis, dan ada tangan yang menghapus air matanya gadis itu


"siapa ini?", tanya Nita


"aku juga punya pertanyaan yang sama, siapa wanita ini?!", pekik Riri.


Nita lalu melihat foto berikutnya, yang berhasil membuat dia terkejut dan menutup mulutnya, Nita melemparkan foto foto itu dan terduduk dikursi Riri


"Ri... apakah ini?..", tanya Nita


"sepertinya begitu, dan karena memikirkan ini makanya aku jatuh dan sampai terjadi pendarahan tadi", ucap Riri menutup wajahnya

__ADS_1


Nita berjalan kearah Riri dan mengelus pundak Riri, lalu menatap tajam kearah foto itu, amarah Nita ikut naik saat melihat nya


__ADS_2